23 Februari 2021

Positif Covid-19, Saya Tetap Aktif dan Produktif selama Isolasi Mandiri di Rumah

Buat saya yang terpenting adalah menerima dan menjaga kesehatan mental

Oleh Agnes Aprilia (36 th), ibu dari Abigail Meaya (7 th), seorang mompreneur.

Pandemi Covid-19 tidak bisa kita pungkiri memang membuat orang dari segala usia kewalahan.

Baik itu anak-anak maupun orang dewasa, merasakan banyak dampak dari Covid-19 yang tidak kunjung pergi ini.

Terlebih lagi bagi mereka yang ternyata didiagnosi positif Covid-19, pasti aktivitas dan kesehariannya akan terganggu.

Namun hal ini agaknya tidak dirasakan oleh Moms Agnes.

Meskipun dirinya positif terinfeksi Covid-19, masih tetap produktif bekerja dan membagikan ceritanya di media sosial. Tentunya sambil melakukan isolasi mandiri ya.

Bagaimana kisah Moms Agnes? Yuk kita simak di bawah ini.

Baca Juga: Saya Positif COVID-19, Kami Sekeluarga Jalani Karantina Mandiri

Sejak Awal Sudah Menyiapkan Budget untuk Rutin Tes Covid-19

tes covid-19
Foto: tes covid-19

Foto: Orami Photo Stock

Jadi selama pandemi, sejak Maret tahun lalu, banyak hal dan ketakutan yang saya hadapi, mungkin kalian juga sama ya.

Banyak yang kita pikirkan karena tengah menghadapi sesuatu yang sebelumnya kita tidak pernah tahu ataupun kenal.

Saya adalah seorang mompreneur. Semua pegawai, saya berlakukan Work From Home (WFH).

Karena hal inilah saya sangat kepikiran tentang bagaimana cara mempertahankan bisnis di masa sulit ini?

Ditambah lagi saya harus tetap sehat dan waras bersama suami dan anak di rumah, selama 24 jam.

Ada beberapa hal besar yang saya putuskan sejak pandemi, salah satunya adalah mempersiapkan budget rutin untuk saya dan keluarga melakukan tes berkala, SWAB antigen dan SWAB PCR.

Kenapa ini jadi keputusan besar?

Karena harga tesnya tidak murah, makanya perlu mengurangi beberapa pengeluaran supaya bisa menyiapkan budget untuk rutin melakukan tes ini.

Lalu saya juga melakukan upgrade asuransi pegawai dan keluarga supaya bisa menutupi biaya perawatan Covid-19 untuk berjaga-jaga.

Sungguh ini salah satu cara mengurangi kekhawatiran saya, amit-amit, jadi kalau sakit tidak perlu lagi memikirkan soal biaya.

Padahal Sudah Rutin Tes...

positif Covid-19
Foto: positif Covid-19

Foto: instagram.com/hepi_mommy

Sedikit cerita, suami saya WFH juga dan seperti yang kita tahu, bahwa WFH itu malah lebih rumit karena kadang batas waktunya tidak ada.

Selama 24 jam harus aktif. Jadi kerjasama tim di rumah itu sangat diperlukan, apalagi saya dan suami sama-sama bekerja.

Singkat cerita, tim di kantor saya juga ada giliran untuk Work From Office (WFO), tapi hanya untuk mereka yang membawa kendaraan pribadi saja, yang lain tetap WFH.

Jadi biasa kita satu bulan sekali pasti rutin tes untuk mencegah yang tidak diinginkan dan setiap hari cek kondisi mulai dari suhu badan, tekanan darah, dan tekanan oksigen, kita catat bagi tim yang WFO.

Baca Juga: Dinyatakan Positif Covid-19, Saya, Suami, dan Si Bungsu Rawat Isolasi di RS selama 10 Hari

Nah, kemarin tanggal 4 Januari 2021, kebetulan hari pertama masuk kantor. Jadi kami langsung tes, tim saya SWAB antigen, saya dan keluarga tes PCR. Dan hasilnya saya positif!

Apa yang saya lakukan pertama kali?

  1. Info kepada semua pegawaiku untuk WFH. Lalu saya juga meminta mereka yang bertemu dengan saya di tanggal 4 Januari untuk tes PCR, meyakinkan hasil dari SWAB antigen mereka yang negatif.
  2. Saya menginfokan kepada semua orang yang bertemu dengan saya, untungnya sangat sedikit ya, karena memang tidak ke mana-mana. Hanya jalan pagi sama ibu saya dan di rumah saja.
  3. Menginfokan ke agen asuransi saya juga, supaya jika saya butuh bantuan, mereka sudah siap.

Dan yang paling berat adalah bicara dengan anak saya.

Pastinya anak saya nangis heboh, tapi untung karena selama ini kita memang sering membicarakan tentang Covid-19 ini, anak saya jadi paling tidak sudah paham cuma ya.

Karena harus pisah tidak bisa pelukan, ciuman, main bersama dia, pasti lah ia sedih.

Saya bersyukur ada suami dan mama yang masih sehat, atas keputusan bersama juga karena saya tidak bergejala, hanya melakukan isolasi mandiri di apartemen yang sama, tapi di unit yang berbeda.

Sebenarnya saya juga dapat jatah isolasi mandiri di hotel dari asuransi dan kantor suami.

Cuma karena diskusi bersama suami, mama, dan anak, kami memilih isolasi sendiri tapi sudah dengan informasi dari agen asuransi dan juga kantor suami tentang biaya dokter yang bisa kita hubungi kalau ada apa-apa.

Kalau bisa saya ibaratkan, pengalaman Covid-19 ini seperti pengalaman hamil.

Kita bisa belajar dari cerita orang lain, tapi yang kita rasakan bisa jadi berbeda.

Disclaimer, bahwa apa yang saya bagikan di tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman saya, kalau ada yang dirasa tidak cocok dengan apa yang kalian percaya atau alami, adalah sebuah hal yang wajar.

Baca Juga: Sedih Sekeluarga Didiagnosis COVID-19, ASI Saya Berhenti Mengalir

Menerima Kondisi Ini dan Tidak Memusingkan Hal Lain

positif Covid-19
Foto: positif Covid-19

Foto: Dok. Agnes Aprilia

Hal yang pertama kali saya persiapkan saat menerima surat pemberitahuan positif Covid-19 ini adalah mental.

Jadi sehabis saya perpisahan kecil dengan keluarga, saya melakukan “silent sit” selama 10 menit.

Bukan bermaksud untuk jadi motivator terkenal hahaha, tapi memang benar setelah tahu kalau positif Covid-19, yang perlu dilakukan adalah menerima.

Menerima, bahwa “oke saya positif”.

Saya harus kuat dan semangat supaya daya tahan tubuh saya terus naik.

Jujur, saya memilih tidak mempermasalahkan “terinfeksi di mana” atau “kok bisa ya?”, “ga percaya deh, mau tes lagi aja.” Karena saat kita dengan “menerima keadaan” kita cenderung lebih bisa mengontrol emosi dan tidak panik.

Saya bersyukur karena positif Covid-19 di saat saya memang sudah sering membaca tentang penyakit ini.

Ada beberapa teman juga sudah pernah mengalaminya, jadi let’s fight this Covid away!

Selayaknya emak-emak yang selalu banyak urusan, terutama mengurus keluarga, pegawai, dan pesenan makanan (kebetulan saya jualan makanan juga), kenapa penerimaan tadi jadi penting, ya karena kalau kita kena Covid-19, yang harus dipikirkan dan jadi prioritas ya diri kita sendiri dulu.

Saya bisa bilang, hey yang lain semua mundur dulu sementara.

Sulit pasti buat saya yang biasa aktif, trus tiba-tiba harus ada di satu ruangan sebesar 3 x 3 meter saja.

Lalu yang lebih sulit adalah melawan rasa tidak enak dan ngrepotin karena biasanya saya mengurus segala hal, sekarang saya bergantung sama suami dan mama untuk bantu mengurus rumah dan menyiapkan makanan.

Karena hal ini juga, sempat ada pertengkaran kecil dengan suami di awal ya, karena berselisih pendapat mengenai hal ini.

Tapi untuk yang sudah kenal saya, mereka pasti tahu kalau saya anaknya tidak pernah menyerah dalam keadaan apapun di hidup, apalagi tentang isoladi mandiri Covid-19 ini.

Intinya usaha dulu, Tuhan yang urus sisanya.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Drama Korea untuk Ditonton selama Pandemi COVID-19

Isoman Ditemani Benda-benda Favorit

positif Covid-19
Foto: positif Covid-19

Foto: Dok. Agnes Aprilia

Modal saya bertahan saat isoman adalah buku, laptop, handphone, sabun mandi yang harum dan skincare! Haha.

Cerita tentang obat dan multivitamin nanti dulu ya, ini cerita tentang modal mental happy dulu.

Saya minta waktu ke tim selam dua hari untuk tidak melihat kerjaan dulu, karena saya ingin benar-benar bisa “menerima” dan adaptasi dengan isoman saya ini.

Saya tuh merasa “hidup” kalau bisa berguna untuk orang lain, jadi menantang untuk diri saya sndiri. Bagaimana nanti saat isoman saya tetap berguna bagi orang lain.

Jadi kalau amit-amit ada apa-apa, saya tidak ada penyesalan.

Saya sering sekali memikirkan kematian karena saya pernah kehilangan pasangan hidup di saat muda, ditambah pandemi ini, pemikiran tentang kematian seakan jadi intropeksi rutin, dan saya tidak mau saat saya bertemu Tuhan nanti, ditanya “apa yang sudah kamu lakuin dalam hidup?”

Saya hanya menjawab, ”Hmmm cape Tuhan, cari duit doang.”

Hahahhaha jangan heran ya, saya memang begini orangnya, mikirnya “jauh” sampai kadang suka digodain suami saya.

Jadi selama isolasi mandiri saya tetap aktif dengan apa yang membuat saya bahagia.

  1. Saya selalu menganggap media sosial adalah buku harian yang nanti bisa dilihat lagi oleh anak cucu saya, jadi saya ingin meninggalkan konten yang berguna, tapi juga tidak terlalu serius. Sesuai dengan kepribadian srimulat saya ini. Jadi saya aktif sharing di media sosial (Instagram saya @hepi_mommy) tentang banyak hal, bukan tentang Covid-19 ya, karena aku hanya mau cerita saat aku sudah negatif, jadi bisa lengkap dibacanya seperti sekarang ini.
  2. Bekerja, sejak memutuskan jadi mompreneur 7 tahun lalu, kenikmatan bekerja sambil membuka lapangan pekerjaan bisa dibilang jadi modal semangat setiap hari. Lalu diskusi bersama tim juga membawa kebahagiaan sendiri untuk saya.
  3. Ngobrol, lewat handphone atau virtual meeting, dengan anak, suami, teman-teman. Sungguh dengan bicara dan tertawa, saya merasa recharged. Kalau teman kalian ada yang sedang isolasi mandiri juga atau dirawat karena Covid-19, tolong hindari obrolan masalah itu, terutama jika kamu hanya bertanya habis itu tidak dilanjutkan. Duh, keponya bisa baca di artikel online saja, teman kamu butuh cinta dan suntikan semangat nih.
  4. Me time yang sangat hakiki. Kapan lagi bisa baca buku, nonton Netflix tanpa harus memikirkan “masak apa ya”, “besok PR Meaya apa ya.”

Baca Juga: Beruntung Bahan Makanan Selalu Tersedia, Ini Cerita Kami Melewati Pandemi COVID-19 di Thailand

Bener kata meme yang beredar bahwa untung pandemi terjadi di masa sekarang, saya bisa menjalin komunikasi dengan lancar dengan orang-orang tersayang lewat WhatsApp, video call tau cuma teleponan.

Kalau terjadi di 2003 ya memang lagi main games Snake aja di handphone Nokia.

Sempat Demam dan Tidak Bisa Mencium Bau, Tapi Tidak Lama

multivitamin untuk sistem kekebalan tubuh
Foto: multivitamin untuk sistem kekebalan tubuh

Foto: Dok. Agnes Aprilia

Lalu apakah ada gejala yang aku rasakan?

Di hari ke-2 isolasi mandiri, saya agak demam tapi karena lagi hujan terus-terusan juga, untungnya hanya satu malam, sisanya hanya bersin-bersin.

Kemudian di hari ke-4, saya menyadari bahwa saya tidak bisa mencium bau, karena kebetulan kebiasaan habis mandi selalu semprot parfum. Nah, tiba-tiba tidak mencium bau apapun.

Tapi syukurlah hanya berlangsung 24 jam, setelah itu saya sudah bisa mencium bau tempe goreng yang disiapkan mama untuk sarapan.

Bagaimana persiapan obat-obatan dan multivitamin?

Di pengalaman saya sendiri, tidak terlalu heboh walaupun kita pasti kita sering ya dapat WhatsApp blast mengenai obat-obatan apa aja yang perlu diminum saat Covid-19.

Sesuai konsultasi dengan dokter, berikut stock yang saya konsumsi harian, tapi saya tidak langsung kalap beli lagi karena sebenarnya ada beberapa multivitamin yang sudah saya konsumsi harian, jadi tidak hanya saat isolasi saja.

Sebagai informasi jika penasaran, berikut jadwal saya seharian saat menjalani isolasi:

  1. Pagi jam 6.00, buka jendela dulu, lalu membuat air hangat, peras 1 butir lemon, ditambah 1 sendok madu. Saya minum sambil menikmati udara pagi di jendela.
  2. Lalu lanjut stretching atau meditasi 10-15 menit. Jujur jangan tanya meditasi gaya apa, saya cuma meditasi sederhana, fokus pada napas, dan cari lagu di YouTube.
  3. Minum air putih segelas dan Propolis.
  4. Lalu jam 8.00, sarapan kemudian mandi.
  5. Minum air putih dan konsumsi vitamin D 5000 iu.
  6. Jam 9.00, buka website kuliah online yang saya lagi jalanin, mendengarkan video ulangan dari dosen karena perbedaan waktu, jadi sebenarnya online-nya tengah malam.
  7. Jam 10.00, saya mulai kerja, meeting, seperti biasa.
  8. Jam 14.00, saya makan siang, minum Zinc and habattusauda (jinten hitam).
  9. Lalu lanjut kerja lagi sampe jam 18.00, trus saya santai nonton Netflix atau baca buku atau membuat konten Instagram sambil ngemil buah atau roti, apa aja yang disiapin oleh mama saya dan suami atau kiriman teman-teman, lalu minum Imboost.
  10. Jam 21.00, sikat gigi, cuci muka, pakai skincare dan minum Imunku kiriman dari sahabatku, mbak Wulan Tilaar.
  11. Tidur deh sambil dengerin lagu yang enak.

Baca Juga: Suami Pindah Tugas ke Jerman, Saya Harus Ekstra Hati-hati Bawa Bayi Terbang Jauh di Tengah Pandemi

Itu saja yang saya lakukan setiap hari selain kebiasaan cuci tangan, cuci hidung berulang kali, dan setiap mandi juga saya sambil cuci baju yang saya pakai.

Saya selalu percaya, segala hal di alam semesta ini berkaitan, jadi kita bisa mengusahakan yang terkait dari kita adalah hal yang baik.

Saya bisa lulus 17 hari isolasi mandiri dengan mulus juga karena dukungan suami, anak dan mama saya.

Juga teman-teman yang tidak pernah saya beri tahu kalau saya positif tapi mereka menerka sendiri dari Instagram Story saya, jadi semua cinta dan semangat yang mereka berikan ke saya apapun bentuknya adalah “obat” utama saya.

Dan ternyata masih direstui Tuhan untuk saya melanjutkan hidup di masa pandemi ini.

Menuliskan pengalaman Covid-19 saya di Orami mungkin menjadi salah satu saluran energi, dari saya yang sudah berhasil sembuh, untuk kalian yang sedang berjuang atau untuk para Moms yang sedang menemani yang tersayang berjuang.

Karena hidup memang cuma sementara, jadikan perhentian kita menyenangkan dan bermakna.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.