11 Juni 2019

Mengenal Gangguan Sensorik pada Balita dan Pengaruhnya dalam Aktivitas Sehari-hari

Bisa menghambat aktivitas dan pembelajaran anak

Balita yang sering menangis atau mengamuk tanpa sebab tidak selalu berarti rewel atau mengalami gangguan perilaku lho, Moms. Hal tersebut juga ternyata bisa disebabkan oleh sensory processing disorder (SPD) atau gangguan sensorik.

Gangguan sensorik sendiri adalah sebuah kondisi neurologis yang mengganggu kemampuan otak untuk memproses dan memberikan reaksi atas informasi yang diterima dari panca indra. Jadi tak heran bila balita yang mengalaminya sering mengalami kendala dalam menjalankan aktivitas keseharian.

Yuk, Moms, baca lebih lanjut untuk mengenal lebih dekat tentang gangguan sensorik pada anak.

Gejala Gangguan Sensorik pada Balita

mengenal gangguan sensorik pada balita 1
Foto: mengenal gangguan sensorik pada balita 1

Foto : Romper.com

Tidak setiap anak yang mengalami gangguan sensorik itu sama ya, Moms.

Ada yang hanya merasakannya di satu panca indera seperti pendengaran, perasa, atau peraba saja, tapi ada pula yang mengalaminya di beberapa indra sekaligus.

Tingkat keparahannya pun berupa spektrum, sehingga ada yang sangat sensitif (hipersensitif) atau sama sekali tidak responsif (hiposensitif) terhadap stimulasi pada indra tertentu.

Pada umumnya, gejala yang diperlihatkan oleh anak dengan gangguan sensorik adalah:

  • Kolik, GERD, dan nyeri kembung saat bayi.
  • Torticollis dan plagiocephaly.
  • Sering mengalami sembelit dan masalah pencernaan.
  • Sering mengalami infeksi telinga dan sinus.
  • Terlambat berbicara.
  • Perkembangan kemampuan motorik yang tidak biasa
  • Keseimbangan dan koordinasi tubuh yang kurang baik.

Baca Juga : 6 Gangguan Perilaku Pada Anak yang Tak Boleh Diabaikan

Gejala gangguan sensorik hipersensitif pada anak, ditambah dengan beberapa hal seperti:

  • Menunjukkan respon ekstrim pada suara keras, bernada tinggi, atau mengandung metal seperti bunyi sendok garpu, kembang api, atau petir.
  • Sering merasa terganggu oleh suara kecil yang sulit didengar orang lain.
  • Sering menghindari sentuhan atau pelukan, bahkan dari orang dewasa yang sudah akrab.
  • Merasa takut saat berada di dalam kerumunan atau tidak suka berdiri terlalu dekat dengan orang lain.
  • Sangat takut jatuh, bahkan tidak suka mengangkat kaki dari lantai.

Baca Juga : 5 Hal yang Harus Dilakukan Saat Si Kecil Dikasari Anak Lain

Sedangkan gejala gangguan sensorik hiposensitif pada anak, adalah:

  • Harus selalu bersentuhan dengan orang atau menyentuh tekstur tertentu.
  • Sering melewati ruang pribadi orang lain.
  • Ceroboh dan memiliki koordinasi gerakan yang kurang baik.
  • Memiliki toleransi sangat tinggi terhadap rasa sakit atau tidak bisa merasakan sakit.
  • Sering menyakiti anak lain atau binatang, karena tidak bisa mengukur kekuatannya sendiri.
  • Selalu bergerak dan sulit diam.
  • Sering mencari tantangan dan suka melakukan hal berbahaya.

Baca Juga : Gangguan Perilaku dan Emosi pada Anak, Haruskah ke Dokter?

Penyebab Gangguan Sensorik pada Anak

mengenal gangguan sensorik pada balita 2
Foto: mengenal gangguan sensorik pada balita 2

Foto : Tncp.net

Moms, para peneliti saat ini masih terus melakukan penelitian untuk mencari tahu lebih detail tentang penyebab gangguan sensorik pada anak.

Berikut adalah beberapa hal yang dianggap berpotensi menjadi penyebabnya:

  • Anak yang lahir dari orang tua dengan spektrum autis memiliki risiko gangguan sensorik yang lebih tinggi.
  • Asperger dan autisme diduga mempertinggi risiko gangguan sensori pada anak.
  • Cedera lahir traumatis di bagian leher atas dan area batang otak. Contohnya terjatuh saat bayi atau perkembangan kurang sempurna karena penggunaan baby walker, jumper, atau kursi mobil yang berlebihan saat bayi.

Perawatan Gangguan Sensori pada Anak

mengenal gangguan sensorik pada balita 3
Foto: mengenal gangguan sensorik pada balita 3

Foto : Prayatna.net

Saat ini dunia medis memang belum mengakui gangguan sensorik sebagai kondisi yang berdiri sendiri, tapi para ahli psikoterapi biasanya akan memberikan terapi khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Secara umum, terapi yang diberikan bertujuan untuk membantu anak membiasakan diri pada berbagai pemicu yang biasanya membuat mereka terganggu, agar bisa beraktivitas dengan lebih baik dalam keseharian. Terapi ini biasa disebut dengan integrasi sensori.

Dalam terapi yang ringan dan menyenangkan, anak serta orang tua diajak untuk melewati beberapa tantangan sensori yang akan membantu buah hati menguasai kemampuan penting dalam area:

  • Hubungan dengan orang lain
  • Komunikasi
  • Berpikir

Gangguan sensorik pada anak memang tidak berbahaya, tapi Moms harus tetap jeli melihat gejalanya, karena bisa mengganggu aktivitas serta pembelajaran buah hati.

Baca Juga : Ini Cara Memaksimalkan Motorik Kasar Bayi

Bagaimana menurut Moms, apa yang harus dilakukan orang tua untuk membantu anak dengan gangguan sensorik?

(WA)

Sumber: parents.com, webmd.com, ascentchs.com

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.