15 April 2020

3 Mitos Seputar Memanjakan Anak, Tidak Perlu Dipercaya Lagi ya!

Perlukah mengajarkan mandiri sejak bayi?

Memanjakan anak bisa jadi salah satu cara mengasuh orang tua yang disalahkan ketika ia sudah di usia sekolah, atau remaja.

Anak sekolah atau remaja, yang masih tergantung pada pertolongan orang tua, sering disebut sebagai dampak terlalu dimanjakan ketika balita.

Ilana Hever, terapis perkawinan dan keluarga di Upper West Side, New York mengatakan, orang tua yang memanjakan anaknya, cenderung bernegosiasi untuk campur tangan, bukannya membiarkan anak mengatasi masalahnya sendiri.

Padahal Moms, Ilana memberi tahu bahwa anak-anak perlu belajar bahwa seseorang tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, dan bahwa hidup kadang tidak adil.

“Mereka yang belajar untuk mengatasi dan membuat yang terbaik dari kekecewaan hidup, adalah mereka yang pada akhirnya akan lebih bahagia dan lebih puas,” ujarnya, seperti dilansir Nymetroparents.com.

Namun, bukan berarti Moms tidak boleh memanjakan anak sama sekali. Seperti yang disarankan Sandy Bailey, Ph.D., CFLE, Montana State University Extension Office, dalam artikelnya di BabyCenter.com.

Baca Juga: 4 Alasan Orang Tua Memanjakan Anak, Kadang tidak Disadari

Mitos seputar Memanjakan Anak

Terdapat juga sejumlah mitos seputar memanjakan anak, yang biasa Moms temui di luar sana. Tapi pengaruhnya tidak bisa sepenuhnya baik lho. Apa saja mitos seputar memanjakan anak? Perlukah kita percayai? Simak ulasannya di bawah ini.

Mitos #1 Latih Kemandirian Anak sejak Bayi

3 Mitos Memanjakan Anak
Foto: 3 Mitos Memanjakan Anak (Time.com)

Foto: Orami Photo Stock

Mungkin orang yang lebih tua, atau kerabat di sekitar Moms pernah berpendapat, “mengajarkan mandiri itu harus dimulai saat masih bayi.”

Ada kalanya, Moms perlu sangat responsif memberikan tuntunan ketika ia bertanya, mencari tahu, berusaha mengambil sesuatu atau menangis.

Dengarkan suara hati Moms, kapan perlu benar-benar terlibat dalam urusannya. Bahkan ketika sang anak menangis, dan perlu menenangkannya.

Mitos #2 Jangan Buru-buru Merespons Tangisan

3 Mitos Memanjakan Anak
Foto: 3 Mitos Memanjakan Anak

Foto: Orami Photo Stock

Mitos seputar memanjakan anak berikutnya, berangkat dari anggapan bahwa memanjakan anak adalah dengan buru-buru memberikan yang anak mau ketika menangis.

“Nanti anaknya menjadikan tangisan sebagai senjata lho, Moms.”

Tetapi ketika bayi, itu usia yang terlalu dini, untuk melabeli anak menjadikan tangisan sebagai senjata.

Ketika anak, baik bayi maupun balita menangis, itu ia lakukan karena belum mampu berkata-kata. Untuk mengomunikasikan kebutuhannya, apakah itu ingin susu, camilan, ganti popok, atau sedikit berpelukan, responslah.

Baca Juga: Kenali 6 Tanda Anak Terlalu Dimanja, Salah Satunya Mudah Tantrum

Dikutip dari US National Library of Medicine, tangisan adalah cara yang digunakan bayi untuk berkomunikasi. Saat Anda merespons tangisan dengan cepat, Moms ternyata sedang membangun harga dirinya.

Moms juga membangun fondasi kepercayaan yang dapat bertahan selama bertahun-tahun yang akan datang.

Konon katanya, memanjakan anak, akan membuatnya tidak berani.

Semakin ia besar, Moms akan lebih memahami, mana tangisan yang membutuhkan tanggapan cepat, atau hanya menuntut Moms ada bersamanya, tidak lebih.

Mitos #3 Jangan Selalu Memberikan yang Ia Mau

3 Mitos Memanjakan Anak
Foto: 3 Mitos Memanjakan Anak

Foto: Orami Photo Stock

Benarkah jika kita memberikan semua yang anak mau, artinya sedang memanjakan anak? Sebenarnya pada saat bayi berusia 6 hingga 8 bulan saja, dia sudah bisa memperhatikan sebab dan akibat.

Misalnya, ia akan tahu mainannya jatuh ketika ia menjatuhkannya dari kursi tinggi. Kemudian ia akan merengek atau menangis kencang demi mendapatkan kembali mainannya.

Dia juga akan mulai melihat kaitan langsung antara tindakannya dan respons Moms. Dia akan merengek dan menangis pada hal-hal yang tidak benar-benar mau, hanya untuk melihat reaksi Moms.

Pada titik ini tidak apa-apa untuk menetapkan beberapa batasan. Jika bayi mulai menangis untuk mendapatkan sesuatu yang tidak ia butuhkan, pegang tangannya dan peluklah dia sampai dia tenang.

Demikian pula, berikan pelukan dan pujian untuk perilaku yang baik dan arahkan dia dengan lembut ketika dia melakukan sesuatu yang berbahaya.

Baca Juga: Ini Cara Mengatasi Anak Nakal dan Manja

Nah, itulah beberapa mitos tentang memanjakan anak yang tidak perlu lagi Moms percayai. Jadi tetap beri kemanjaan ya Moms, karena kata Sandy, perpaduan yang tepat antara cinta dan bimbingan pada akhirnya akan membantu anak memahami tempatnya di dunia.

Tetapi untuk usia balita, fokuslah pada begitu banyak perhatian dan kenyamanannya. “Tidak peduli berapa banyak yang Anda berikan, itu tidak lebih dari yang dia butuhkan,” kata Sandy.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.