Scroll untuk melanjutkan membaca

FASHION & BEAUTY
19 Desember 2022

12 Ragam Pakaian Adat Yogyakarta yang Anggun Berwibawa

Dari kebaya hingga batik khas Yogyakarta
12 Ragam Pakaian Adat Yogyakarta yang Anggun Berwibawa

Masyarakat Yogyakarta dikenal sangat memegang teguh adat istiadatnya, termasuk dalam melesterarikan pakaian adat Yogyakarta.

Selain untuk upacara adat dan pernikahan, pakaian adat Yogyakarta juga dikenakan oleh mereka yang berada di destinasi wisata seperti keraton, maupun pagelaran acara budaya.

Pakaian adat Yogyakarta memiliki tampilan yang unik sehingga mudah dikenali dan dibedakan dengan busana adat dari daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Baca Juga: Contoh Perilaku Sila ke-2, Yuk Ajarkan pada Si Kecil!

Deretan Nama Pakaian Adat Yogyakarta dan Ciri Khasnya

Pakaian adat Yogyakarta yang punya kemiripan dengan pakaian adat Jawa Tengah, dibedakan atas 2 kelompok, yaitu pakaian adat untuk pria dan pakaian adat untuk wanita.

Sementara menurut fungsinya, melansir Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta pakaian adat Yogyakarta terbagi atas pakaian sehari-hari, upacara adat dan busana pengantin.

Untuk lebih mengenal wujud dan gambaran pakaian adat Yogyakarta, simak penjelasan lengkapnya berikut!

1. Kebaya Yogyakarta

Kebaya Yogyakarta

Foto: Kebaya Yogyakarta

Kebaya merupakan busana tradisional Jawa yang digemari perempuan Indonesia karena tampilannya yang anggun.

Sebenarnya, bukan hanya Yogyakarta saja yang memiliki kebaya, melainkan daerah-daerah lain di Indonesia seperti Solo, Jawa Barat, Bali dan lainnya.

Dulunya, kebaya Yogyakarta umumnya dipakai oleh perempuan priyayi dan bangsawan.

Kalau sekarang, siapapun bisa mengenakannya. Sebagai pelengkap, kebaya ditambah perhiasan, sanggul, dan alas kaki.

2. Surjan

Surjan

Foto: Surjan

Surjan merupakan pakaian adat Yogyakarta yang biasanya dikenakan kaum pria.

Esensinya surjan adalah lurik atau model kemeja berlengan panjang.

Kainnya memiliki tekstur tebal dengan motif vertikal, berwana gelap dan dilengkapi dengan kancing.

Namun, dalam perkembanganya motif lurik ternyata tidak hanya garis-garis membujur saja, tetapi terdapat motif kotak-kotak sebagai hasil kombinasi garis vertikal dengan horisontal.

Selanjutnya muncul surjan ontrokusuma yang bermotif bunga.

Jenis dan motif kain yang digunakan untuk membuat surjan ontrokusuma terbuat dari kain sutra bermotif hiasan berbagai macam bunga.

Biasanya surjan jenis ini dipakai pejabat dan kalangan bangsawan keraton.

Ketika dikenakan, surjan dipadukan dengan jarik dan blangkon.

Baca Juga: 10 Manfaat Me Time Ibu, Penting untuk Meringankan Stres, Bikin Lebih Berenergi dan Bahagia!

3. Pinjung

Pinjung

Foto: Pinjung

Pinjung adalah pakaian adat Yogyakarta yang umum dikenakan oleh Abdi Dalem keraton Kasultanan Yogyakarta.

Pinjung adalah kain yang digunakan sebagai penutup sampai ke dada.

Biasanya kain pinjungan dilengkapi dengan kemben atau kain penutup dada.

Selain itu, bisa juga dipadukan dengan baju batik atau lurik sebagai penutup terluar.

Di masa sekarang, pinjung sudah dikenakan oleh hampir semua kalangan perempuan Yogyakarta, dilengkapi dengan selendang, perhiasan dan alas kaki.

4. Busana Pranakan

Busana Pranakan

Foto: Busana Pranakan

Busana pranakan adalah pakaian dinas harian yang dikenakan para Abdi Dalem jaler atau pria.

Mengutip Kraton Jogja, busana ini konon terinspirasi dari baju kurung yang dikenakan para santri putri di Banten ketika Sultan berkunjung ke sana pada abad ke-19.

Bahan yang digunakan untuk membuat baju pranakan berupa kain lurik berwarna biru tua dan hitam, dengan kombinasi corak garis berjumlah 3-4 atau disebut telupat (telu-papat).

Pranakan memiliki potongan bagian depan yang berhenti di ulu hati, serta belahan di bagian lengan yang mempermudah saat akan wudhu.

Terdapat 6 kancing di leher depan yang dikaitkan dengan keenam rukun iman dan 5 kancing di setiap ujung lengan yang dikaitkankan dengan kelima rukun Islam.

Baca Juga: 22 Nama Bayi Perempuan Cantik dan Lembut, Yuk Pilih untuk Putri Kecil Moms dan Dads!

5. Janggan Hitam

Janggan Hitam

Foto: Janggan Hitam

Kalau busana pranakan dikenakan oleh Abdi Dalem jaler (pria), janggan hitam dipakai oleh Abdi Dalem estri (perempuan) dalam menjalankan tugas di Kraton Yogyakarta.

Janggan merupakan baju dengan model menyerupai surjan yang dilengkapi kancing hingga menutup leher. Warna kain yang digunakan harus hitam.

Janggan sendiri berasal dari kata 'jangga' berarti leher, yang melukiskan keindahan dan kesucian kaum perempuan keraton, dan perempuan Jawa pada umumnya.

Sementara warna hitam janggan menggambarkan simbol ketegasan, kesederhanaan, dan kedalaman, juga sifat kewanitaan yang suci dan bertakwa.

6. Blangkon

Blangkon

Foto: Blangkon

Ketika mengenakan pakaian adat untuk acara resmi, pria Jawa kerap mengenakan tutup kepala berupa blangkon.

Dikenal 2 jenis blangkon, yaitu blangkon Yogkarta dan Solo.

Ada beberapa perbedaan blangkon Yogyakarta dan Solo, salah satunya pada bagian belakang atau mondolan blangkon.

Mondolan blangkon Solo berbentuk datar, sementara blangkon Yogyakarta berbentuk monjol.

Selain itu, blangkon Solo terbuat dari kain batik berwarna kecoklatan, sedangkan blangkon Jogja dibuat dengan kain batik yang warnanya senderung putih.

Melansir UPT Perpustaan Universitas Sebelas Maret blangkon dengan gaya Yogyakarta terdiri atas bermacam-macam motif yang memiliki makna di baliknya, yaitu:

  • Motif Modang memiliki makna kesakitan meredam angkara morko
  • Motif Celengkewengen menggambarkan keberanian juga berarti sifat kejujuran dan kepolosan
  • Motif Kumitir menyimbolkan tidak mau berdiam diri dan selalu berusaha keras dalam kehidupan
  • Motif Blumbangan, berasal daari kata blumbang yang berarti kolam atau tempat yang penuh dengan air, sumber kehidupan
  • Motif Jumputan berarti mengambil beberapa unsur yang baik
  • Motif Taruntum bermakna bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari 2 hal, seperti gelap terang, bungah susah, kaya miskin
  • Motif Wirasat memiliki makna pengharapan supaya dikabulkan semua permohonnnya secara materi
  • Motif Sido Asih, bermakna harapan mendapat perhatian dari sesama dan saling mengasihi

Baca Juga: 10 Buah untuk Radang Tenggorokan yang Bisa Dicoba, Lebih Cepat Pulih!

7. Batik Yogyakarta

Batik Yogyakarta

Foto: Batik Yogyakarta

Batik merupakan salah satu identitas Yogyakarta, sehingga sering disebut sebagai Kota Batik.

Awalnya batik yang merupakan seni gambar atau lukis di atas kain, hanya dikerjakan terbatas dalam lingkungan keraton saja.

Hasilnya digunakan untuk pakaian raja, keluarga kerajaan serta para pengikutnya.

Di masa sekarang siapapun bisa mengenakannya, bahkan sudah diakui menjadi warisan budaya oleh UNESCO

Motif batik Yogyakarta memiliki ciri khas, yaitu banyak bidang putih bersih dan motif geometrisnya dibuat besar-besar.

Jauh lebih besar dibandingkan motif geometris batik Surakarta.

Selain itu, berlatar belakang putih, hitam, coklat dan abu-abu.

Motif batik Yogyakarta terdiri dari beberapa jenis, antara lain:

  • Motif Parang Rusak Barong

Motif ini hanya boleh digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono, dan digunakan untuk menerima tamu utusan dari berbagai negara atau untuk upacara perkawinan.

  • Motif Slobog

Batik ini bermotif kotak-kotak yang membentuk segitiga.

Kain batik yang khas dengan unsur geometris jenis ini umumnya digunakan dalam acara pelantikan pejabat ataupun melayat.

  • Motif Sidomukti

Ini adalah motif batik khas dari keraton. Sesuai dengan namanya Sidomukti yaitu sejahtera dan mulia.

Sehingga, diharapkan orang yang memakai batik ini dapat mencapai kebahagiaan, kesejahteraan lahir batin, dan selalu berkecukupan.

  • Motif Ceplok Kesatrian

Motif ini memiliki makna filosofis menerima kritikan dari segala arah yang diperuntukkan untuk Sultan dan kerabatnya.

  • Motif Truntum

Ini adalah motif batik Yogyakarta yang digunakan untuk akad nikah.

  • Motif Sido Asih

Sementara, motif Sido Asih digunakan untuk resepsi.

Baca Juga: Asli Jawa, Ini Dia Anggota Keluarga Arya Saloka yang Inti dan dari Bali

8. Sabukwala

Sabukwala

Foto: Sabukwala

Dalam budaya masyarakat Yogyakarta, terdapat upacara adat tetesan yaitu upacara sunat untuk anak perempuan.

Dalam upacara adat ini, anak perempuan akan mengenakan pakaian adat Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan sabukwala.

Komponen dari pakaian tradisional sabukwala ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu kain cindhe, lonthong atau sabuk, ikat pinggang yang disebut kamus bludiran, dan slepe.

Selanjutnya, dalam pemakaiannya dilengkapi juga dengan ditambahkan aksesori di antaranya subang, gelang kana, dan kalung susun.

Hal ini dilakukan agar semakin mempercantik anak perempuan tersebut.

9. Semekan

Semekan

Foto: Semekan (Kratonjogja.id)

Pakaian adat Yogyakarta selanjutnya adalah Semekan.

Pakaian tradisional Semekan merupakan nama pakaian adat Yogyakarta yang berupa kain khusus dengan ukuran sebesar 250 cm x 60 cm.

Kain panjang ini biasanya dikenakan oleh para abdi dalem keparak.

Cara penggunaan kain Semekan adalah dengan cara dililitkan ke badan tepat di bawah ketiak sampai ke atas pinggul.

Melilitkan kain khas Yogyakarta ini juga ditentukan arahnya, yakni dari arah kiri ke kanan.

Sebelum mengenakan semekan ini, biasanya dikenakan pula ubet-ubet yang merupakan salah satu komponen dalam semekan.

Ubed-ubed ini dilipat ke arah dalam supaya tidak terlihat dari luar.

Lantas, untuk memperkuat kain tradisional semekan, di kenakanlah udet atau tali yang dipakai melingkar di bawah dada.

Tali ini berfungsi sebagai sabuk agar semekan lebih kuat dan dapat memperindah penampilan.

Beberapa perempuan Yogyakarta juga mengenakan kalung tradisional untuk menutupi atau menyamarkan bagian dada mereka yang tidak tertutupi kain semekan, atau sekedar aksesoris tambahan untuk memperindah penampilan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Arena Gokart di Jabotabek untuk Liburan Bersama Keluarga

11. Abdi Dalem

Abdi Dalem

Foto: Abdi Dalem (Jbbudaya.jogjabelajar.org)

Abdi dalem merupakan sebutan untuk pegawai keraton.

Mereka biasanya menggunakan pakaian khusus yaitu sikep alit dan langeran.

Sikep alit terdiri dari kain batik sawitan, baju berwarna biru tua dengan kancing baju yang terbuat dari tembaga atau kuningan, destar sebagai penutup kepala, serta keris yang diletakkan di bagian pinggang kanan belakang.

Sedangkan langeran merupakan pakaian yang terdiri dari kain batik, baju yang terbuat dari bahan laken, kemeja putih dengan model kerah berdiri dan tambahan dasi kupu-kupu, keris model gayman atau ladrangan, serta selop berwarna hitam.

Pakaian adat Yogyakarta ini biasanya dikenakan pada pertemuan khusus atau saat jamuan makan malam.

12. Baju Ageng

Baju Ageng

Foto: Baju Ageng (Kratonjogja.id)

Baju ageng merupakan pakaian adat Yogyakarta yang dikenakan oleh pejabat keraton yang sedang dalam tugas.

Pakaian adat Yogyakarta ini terdiri dari jas laken berwarna hitam disertai motif keemasan pada bagian pinggir dan di bagian tengah terdapat motif keris serta batik.

Baju ini juga dilengkapi dengan celana kain berwarna hitam dan dililitkan kain batik dalam pemakaiannya.

Selain itu, pejabat keraton juga menggunakan topi memanjang saat mengenakan baju ageng.

Topi setinggi 8 cm ini memiliki motif berwarna keemasan.

Sepatu yang juga berwarna keemasan membuat pakaian ini terlihat begitu mewah.

Baca Juga: Mengenal Eco Enzyme dan Cara Membuatnya, Cairan Organik yang Punya Banyak Manfaat

Selain busana-busana di atas, ada beberapa ragam pakaian adat Yogyakarta lainnya yang sering dikenakan dalam acara adat di keraton.

Selain itu, juga memiliki macam-macam busana pengantin yang tak kalah unik.

  • http://repositori.kemdikbud.go.id/12697/1/PAKAIAN%20ADAT%20TRADISIONAL%20DAERAH%20ISTIMEWA%20YOGYAKARTA.pdf
  • https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/465-pakaian-adat-di-provinsi-diy
  • http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article
  • https://staff.blog.ui.ac.id/tari05/files/2018/05/BATIK-YOGYA_OK.pdf