05 September 2018

Tanda, Risiko, dan Perawatan Kista Ovarium Saat Hamil

Tanpa disadari tak sedikit ibu hamil yang mengabaikan gejala kista ovarium

Saat hamil pada beberapa perempuan dapat terjadi risiko mengalami kista ovarium. Kista ovarium adalah kista sejenis tumor jinak di indung telur. Umumnya, kista muncul pada indung telur yang posisinya adalah di bagian kanan dan kiri rahim.

Nah, kista ini telah terbentuk sebelum terjadinya pembuahan. Namun kista tersebut belum terdeteksi sampai ibu hamil melakukan tes ultrasound (USG) untuk pemeriksaan kehamilan.

Baca Juga : Menemukan Kista Ovarium Saat Hamil, Tindakan Apa yang Harus Dilakukan?

Bahkan tak sedikit ibu hamil yang mengabaikan gejala kista ovarium. Karena gejalanya mirip dengan kondisi ibu hamil pada umumnya seperti :

  • Nyeri panggul, terutama jika kista bengkok atau pecah
  • Kram seperti menstruasi (bisa salah persepsi sebagai indikasi keguguran)
  • Rasa sakit saat melakukan hubungan seksual
  • Kembung atau pembengkakan pada perut
  • Mual atau muntah
  • Nyeri di bahu

Baca Juga : Miom Pada Kehamilan, Apakah Berbahaya?

Biasanya kista terjadi pada trimester kedua kehamilan. Bahkan kemunculan kista tidak disadari dan akan hilang dengan sendirinya.

Tak perlu khawatir Moms, keberadaan kista ini tidak membahayakan ibu hamil atau janin. Kebanyakan kista indung telur berukuran kurang dari 5 cm tidak menghambat kehamilan dan dapat hilang sendiri secara alami sebelum atau segera setelah melahirkan.

Bila kista ovarium pada bumil berukuran relatif kecil dan tidak memicu bahaya, Moms Cuma disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan.

Selain itu juga dianjurkan menjalani tes  USG untuk melihat apakah ukuran kista sudah mengecil atau hilang seluruhnya. 

Namun untuk ukuran kista lebih dari 12 cm, biasanya dianggap perlu adanya perawatan untuk mencegah adanya masalah atau komplikasi pada kehamilan.

Kemudian, bila kista ovarium pecah ternyata berukuran relatif besar (yaitu di atas 8 sentimeter), bumil akan merasa sakit yang luar biasa secara tiba-tiba.

Tak jarang kejadian ini sering dikira sebagai proses keguguran. Kenyataannya, janin dalam kandungan tidak akan terganggu saat kista di indung telur pecah atau terpuntir.

Jika kista ini sudah terdeteksi maka dokter kandungan akan terus memantau perkembangan kista, lokasi, ukuran dan jumlahnya. Jika mereka tidak tumbuh atau berganda, sangat mungkin tidak diperlukan pengobatan.

Dengan munculnya teknik pemindaian seperti USG resolusi tinggi, MRI dan Doppler , USG Transvaginal, maka  perawatan pada penderita kista ovarium menjadi lebih mudah.

Baca Juga : 4 Penyebab Kista yang Wajib Diketahui

Perlu kita tahu Moms, masalah utama kista ovarium selama kehamilan adalah kemungkinan kista ini tumbuh besar dan pecah atau berliku pada diri mereka sendiri (dikenal sebagai torsi ovarium).

Pada seorang wanita telah didiagnosis dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS). Risiko torsi ovarium dapat meningkat 5 kali selama kehamilan dan ada kejadian 5 per 10.000 kehamilan.

Terbentuknya kista ovarium sering kali tidak terduga. Hal ini karena pembentukannya memiliki gejala yang tidak mudah dideteksi.

Bahkan, ada yang tidak memperlihatkan adanya gejala.

Perempuan yang berisiko cukup tinggi terhadap keberadaan kista ovarium ini di antaranya:

  • Memiliki riwayat kista ovarium
  • Siklus menstruasi yang tidak lancar
  • Kegemukan (obesitas)
  • Menstruasi pertama yang terlalu dini (pada usia kurang dari 11 tahun) dan
  • Ketiadaan keturunan
  • Usia, terutama dengan wanita yang telah mengalami menopause. Faktor ini akan lebih berisiko bila ternyata Moms terpapar kanker ovarium
  • Kebiasaan merokok.

(HIL)

Sumber: womens-health-advice.com, webmd.com

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.