03 Oktober 2019

Ternyata Sedih Tidak Selalu Berarti Depresi Lho Moms

Ketika Moms mulai berpikir untuk bunuh diri, bisa jadi itu depresi

Jutaan orang di seluruh dunia pasti pernah mengalami kesedihan yang sangat dalam atau depresi. Namun, tidak sedikit yang kebingungan mengenali keduanya.

Menurut Guy Winch, psikolog klinis dari New York University, Amerika Serikat (AS), banyak orang yang berjuang dengan depresi, namun mereka menganggap hanya sedih.

"Saya juga bertemu banyak orang yang sangat sedih dan khawatir mereka mungkin depresi. Karena kita mengaitkan depresi dengan gejala utamanya yaitu kesedihan yang meluas, banyak dari kita yang berjuang untuk membedakan antara dua kondisi psikologis yang umum ini," paparnya seperti dikutip dari psychologytoday.com.

Kebingungan membedakan keduanya, kata Winch, bisa menjadi masalah besar. Karena kebingungan tersebut dapat menyebabkan kita mengabaikan suatu kondisi serius yang memerlukan perawatan khusus seperti depresi atau, bisa juga bereaksi berlebihan terhadap keadaan emosi normatif yang sebenarnya hanya kesedihan.

"Inilah mengapa perbedaan itu penting, jika kita mengalami depresi, maka memiliki implikasi besar bagi kesehatan mental jangka panjang, kesehatan fisik, dan umur panjang kita," urainya.

Asosiasi Anxiety and Depression of America (ADAA) mencatat bahwa depresi adalah salah satu penyakit kesehatan mental yang paling umum di AS. Merasa sedih adalah bagian integral dari depresi, tetapi mereka tidak sama.

Untuk itu, mengenali perbedaan antara diagnosis depresi dan emosi kesedihan dapat membantu seseorang mengenali kapan harus mencari perawatan. Simak ulasannya di bawah ini yuk Moms.

Baca Juga: Moms, Kenali Lebih Dekat 6 Gejala Depresi Pada Anak

Kesedihan

Sadness.jpg
Foto: Sadness.jpg

Kesedihan adalah emosi manusia normal yang akan dialami setiap orang pada saat-saat yang penuh tekanan atau menyedihkan.

Sejumlah peristiwa kehidupan dapat membuat orang merasa sedih atau tidak bahagia. Kehilangan atau ketidakhadiran orang yang dicintai, perceraian, kehilangan pekerjaan atau penghasilan, masalah keuangan, atau masalah di rumah semuanya dapat memengaruhi suasana hati secara negatif.

Namun, seseorang yang mengalami kesedihan biasanya dapat merasa lega setelah menangis, melampiaskan, atau berbicara tentang frustrasi yang dialami. Kesedihan biasanya berlalu seiring waktu.

Namun jika fase sedih tersebut tidak juga berlalu atau jika orang tersebut tidak dapat melanjutkan kehidupan dengan normal, ini bisa menjadi tanda depresi.

Jika suasana hati yang buruk menjadi lebih buruk atau berlangsung lebih dari 2 minggu, maka harus segera menemui dokter.

Depresi

Depresi 3.jpg
Foto: Depresi 3.jpg

Depresi adalah gangguan mental yang memiliki efek sangat kuat pada banyak bagian kehidupan seseorang. Ini dapat terjadi pada orang-orang dari segala jenis kelamin atau usia. Depresi bisa mengubah perilaku dan sikap seseorang.

Gejala- gejala depresi biasanya meliputi:

  • perasaan putus asa
  • kesedihan
  • keputusasaan
  • kurangnya motivasi
  • hilangnya minat pada aktivitas yang dulunya menyenangkan bagi orang tersebut

Dalam kasus yang parah, orang tersebut mungkin berpikir atau mencoba bunuh diri. Mereka tidak lagi merasa senang menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman dan mungkin berhenti mengejar hobi mereka.

Bahkan sampai merasa tidak mampu masuk kerja atau sekolah.

Jika perasaan ragu-ragu ini bertahan lebih dari 2 minggu, seorang profesional kesehatan dapat mendiagnosis orang dengan gangguan depresi mayor (MDD).

Gejala MDD meliputi:

  • Suasana hati yang tertekan setiap hari yang berlangsung hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, dengan tanda-tanda putus asa dan sedih yang nyata
  • hilangnya minat dalam aktivitas sehari-hari untuk waktu yang lama
  • penurunan atau kenaikan berat badan yang signifikan dan tidak disengaja
  • insomnia, sulit tidur, atau peningkatan jumlah tidur yang memengaruhi jadwal sehari-hari
  • kelelahan dan tidak berenergi
  • perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan setiap hari
  • ketidakmampuan untuk berkonsentrasi atau membuat keputusan
  • pikiran kematian yang berulang, pikiran untuk bunuh diri, atau usaha atau rencana bunuh diri

Seorang dokter akan mempertimbangkan seseorang yang mengalami lima dari gejala-gejala ini selama lebih dari 2 minggu dipastikan memiliki masalah medis alias depresi. Jadi bukan lagi sekedar kesedihan yang berkepanjangan.

Untuk diagnosis MDD, dokter harus menghubungkan gejala hanya dengan depresi dan bukan dengan diagnosis medis lain, seperti penyalahgunaan zat atau kondisi yang mendasarinya.

Baca Juga: Kenali Gejala Depresi Saat Hamil dan 7 Cara Mudah Mengatasinya

Penanganan Depresi

Depresi2.jpg
Foto: Depresi2.jpg

Jika seseorang memiliki gejala depresi selama lebih dari 2 minggu, mereka harus mencari bantuan profesional. Seorang dokter dapat membantu menentukan tingkat perawatan yang diperlukan untuk mengelola gejala.

Setelah diagnosis, perawatan yang mungkin dilakukan termasuk pengobatan, konseling, dan psikoterapi. Untuk pengobatan, biasanya pasien dengan gejala depresi menerima obat-obatan yang termasuk selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs), atau sejenis antidepresan. Ini berfungsi dengan meningkatkan kadar serotonin di otak.

Sedangkan konseling dan psikoterapi melibatkan tenaga profesional terlatih. Seorang terapis dapat membantu mengidentifikasi area masalah, mengajarkan mekanisme koping atau cara menyelesaikan masalah dan mendidik seseorang tentang realitas kondisi tersebut.

Baca Juga: Suami Mengalami Depresi? Kenali Tanda-tandanya!

Nah jadi ternyata beda ya Moms kesedihan dan depresi. Kesedihan adalah emosi yang dialami semua orang, biasanya setelah mengalami stres atau peristiwa kehidupan yang mengecewakan.

Sedangkan depresi adalah gangguan kesehatan mental yang sangat kuat dan berkelanjutan yang dapat secara drastis berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Jika kesedihan yang dialami berkepanjangan dan mulai mengkhawatirkan, sebelum berkembang menjadi depresi, segera cari rujukan medis ya Moms. Jangan dianggap enteng karena dampaknya bisa jadi sangat besar.

(SERA)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.