Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Rupa-rupa | Feb 6, 2018

Tradisi Sunat Pada Bayi Perempuan di 5 Negara

Bagikan


Tradisi Sunat Pada Bayi Perempuan di 5 Negara

Tradisi sunat pada bayi perempuan memang masih sering dijumpai, khususnya di beberapa wilayah di Indonesia. Namun, sunat untuk bayi perempuan rupanya bukan hanya dilakukan di Indonesia.

Baca Juga : Apakah Bayi Perempuan Harus Disunat?

Beberapa negara berikut ini juga diketahui masih menjalankan praktik sunat pada bayi perempuan:

1. Malawi

Di Malawi fenomena bayi perempuan disunat sebagian besar ditemukan di Malawi Selatan (Thyolo, Mulanje, Mangochi, sebagian distrik Chiradzuro dan Machinga) dan Malawi Utara (Nkhatabay).

Tradisi sunat bayi perempuan di Malawi sudah dilakukan sejak zaman dahulu oleh suku Yao, suku Tonga, dan suku Lomwe.

Di beberapa desa, praktik sunat bayi perempuan sangat berbeda dibandingkan dengan yang lain. Namun, motifnya tetap sama. Praktik ini tergolong terselubung di Malawi.

Bahkan, otoritas pemerintah tidak bisa melacak akarnya karena kekuatan yang tinggi yang diberikan kepada pemerintah daerah desa dan klan.

2. Mali

Sunat bayi wanita lazim terjadi di Mali. Pada tahun 2006, WHO menemukan sekitar 85,2% wanita berusia 15-49 tahun di Mali sudah menjalani sunat.

Menurut sebuah laporan pada tahun 2007, sekitar 92% dari semua wanita di Mali yang berusia diantara 15-49 tahun telah menjalani sunat.

Tingkat tradisi sunat bayi perempuan di Mali yang terendah ditemukan hanya pada kalangan Sonrai (28%), Tamacheck (32%) dan orang Bozo (76%).

Hampir setengah dari praktik sunat bayi perempuan di Mali merupakan pemindahan klitoris atau preputium secara parsial atau total.

Sementara setengah lainnya menerapkan pembuangan labia bagian dalam secara total atau parsial, dengan atau tanpa pengangkatan kelenjar klitoris dan labia luar.

3. Pakistan

Sunat pada bayi perempuan masih lazim dipraktikkan oleh beberapa komunitas di Pakistan, berdasarkan sumber-sumber yang berasal dari tahun 1990-an hingga 2000-an.

Gibeau melaporkan, tradisi sunat bayi perempuan di Pakistan umumnya terjadi di Bohra Muslim Pakistan, Komunitas Muslim Sheedi di Pakistan, yang dianggap berasal dari Arab-Afrika. Praktik tersebut juga ditemukan dilakukan oleh komunitas Muslim di dekat perbatasan Iran-Balochistan Pakistan.

Baca Juga : Bagaimana Cara Tepat Merawat Organ Intim Bayi?

4. Rusia

Sebuah studi mengenai pemotongan alat kelamin perempuan yang dipraktikkan di Dagestan, diumumkan pada tahun 2016 oleh Inisiatif Hukum untuk Rusia, mengungkapkan bahwa tradisi sunat pada bayi perempuan tersebar luas di Dagestan.

Gadis-gadis di wilayah tersebut mengalami sunat pada usia dini, sebelum berusia 3 tahun. Praktik ini bahkan telah disetujui publik di wilayah Dagestan yang mayoritas penduduknya Muslim, disahkan oleh para pemimpin agama seperti Mufti Ismail Berdiyev. Kemudian seorang pastor Kristen Ortodoks juga diketahui mendukung ulama tersebut.

Baca Juga : Cara Tepat Membersihkan Kemaluan Bayi Laki-laki dan Perempuan

5. Uni Emirat Arab 

WHO menyebutkan sebuah studi yang mendokumentasikan tradisi sunat bayi perempuan di Uni Emirat Arab. Namun, dokumentasi tersebut tidak menyediakan data yang cukup memadai. Praktik sunat bayi perempuan dilaporkan lazim dilakukan di pedesaan dan perkotaan UEA.

Dalam sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2011, sebanyak 34% responden wanita Emirati mengatakan bahwa sunat perempuan telah dilakukan terhadap mereka. Bahkan mereka juga menjelaskan bahwa praktik tersebut merupakan bagian dari adat dan tradisi setempat.

Hingga saat ini, sunat perempuan merupakan topik yang kontroversial di UEA. Orang-orang masih memperdebatkan apakah ini merupakan persyaratan Islam atau tradisi suku.

Sejumlah warna negara UEA mengikuti jejak orang tua dan leluhur mereka tanpa mempertanyakan praktik tersebut. Hasilnya, UEA memiliki prevalensi terhadap sunat pada bayi perempuan sebesar 31%, sebagaimana yang tercantum dalam laporan skor pemerintah UEA pada tahun 2012 silam. 

Selain lima negara di atas, tradisi sunat bayi perempuan juga masih lazim dilakukan di beberapa negara Timur Tengah, Afrika dan Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara lainnya.

(RGW) 

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.