28 Desember 2017

Ungkap 4 Fakta Seputar Epidural

Rasa deg-degan dan takut merasa sakit menghantui sebagian besar wanita saat akan melahirkan

Jika ditanya tentang apa yang pertama kali terbayang dalam benak ketika mendengar kata ‘melahirkan’, apa jawaban Moms? Jika yang langsung terbayang adalah rasa deg-degan dan takut merasa sakit, berarti ini saat tepat untuk membaca artikel ini.

Berbicara tentang rasa nyeri saat melahirkan, berbagai penelitian terus dilakukan terkait hal tersebut. Salah satu temuan ilmiah populer yang bisa mengurangi nyeri saat bersalin dan kerap digunakan sampai saat ini adalah suntikan epidural.

Pada tahun 2004, tercatat hampir dua pertiga wanita yang akan bersalin diberikan epidural, dengan 59 persennya adalah mereka yang melahirkan normal. Epidural sendiri pada dasarnya adalah bius lokal yang disuntikkan pada punggung bawah ibu atau lewat infus dan waktu pelepasannya diatur.

Metode pembiusan ini dilakukan setelah ibu mulai kontraksi. Setelah disuntikkan selama 3-5 menit, sistem saraf dari rahim sampai dengan jalan lahir akan mati rasa. Moms akan benar-benar mati rasa setelah 10 menit pada area tersebut.

Rasanya belum lengkap jika belum memahami berbagai fakta seputar epidural sebelum Moms memutuskan untuk menggunakannya dalam persalinan. Cek beberapa di bawah ini!

Baca Juga : Melawan Rasa Takut Menjelang Persalinan

1. Mengurangi nyeri

Menurut studi, dari sudut pandang para ibu, epidural diperhitungkan sebagai metode efektif untuk meringankan nyeri saat bersalin. Hal ini ditemukan dalam studi yang dilakukan oleh Nystedt, Edvardsson, dan Willman di tahun 2004 dan dimuat dalam Journal of Cinical Nursing. Studi ini juga menyatakan bahwa dokter dan bidan pun menyarankan penggunaan metode ini untuk meringankan nyeri.

2. Menurunkan risiko pergeseran otot

Suatu penelitian yang dilakukan terhadap 400 perempuan menyatakan bahwa kerusakan pada otot panggul selama persalinan merupakan factor risiko kunci terhadap pergeseran organ. Berbagai gejala seperti tidak bisa menahan buang air kecil dan buang air besar, konstipasi kronis, serta masalah seksual dapat timbul.

Fakta dari studi yang diterbitkan dalam BJOG, jurnal obstetric dan ginekologi internasional ini juga menyatakan bahwa epidural bisa menurunkan risiko terjadinya itu semua karena epidural menurunkan risiko pergeseran otot.

Baca Juga : Berapa Usia yang Tepat untuk Hamil dan Melahirkan?

3. Tetap bisa mengejan

Jangan khawatir, kendati menggunakan obat bius untuk meredakan nyeri, Moms tidak akan kehilangan kesadaran ataupun kekuatan sehingga mengejan tetap dapat dilakukan dengan bimbingan dokter.

4. ASI tetap lancar

Ada mitos yang beredar bahwa epidural membuat ASI menjadi tidak lancar. Namun studi oleh Chang ZM dan Heaman MI, 2005, dalam Journal of Lactation yang meneliti tentang hubungan antara suntikan epidural dengan inisiasi dan efektivitas ASI, tidak menemukan perbedaan signifikan antara mereka yang diberi suntikan epidural dengan yang tidak disuntik.

Hal ini tidak ditemui pada efektivitas pemberian ASI selama 8-12 jam, status neuro behavioral bayi selama 8-12 jam, serta proporsi ibu yang terus menyusui bayinya pada minggu ke-4.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.