17 April 2018

3 Alergi yang Sering Diderita Bayi

Siapa sangka bayi bisa mengalami alergi seperti di nomor 3?

Alergi merupakan reaksi dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat asing yang dihirup, disuntik, tersentuh, maupun tertelan. Alergi juga merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh bayi. Akan tetapi menentukan alergi pada bayi bukanlah pekerjaan mudah.

Faktor genetik seringkali berperan penting dalam alergi pada bayi. Namun, faktor lainnya juga turut menjadi pemicu yang tidak bisa diabaikan begitu saja, misalnya makanan maupun lingkungan.

Alergi akibat makanan lebih sering ditemui dibandingkan alergi yang disebabkan oleh lingkungan. Beberapa makanan yang sering menyebabkan alergi adalah kerang, ikan, susu, telur, dan kacang. Sementara itu, alergi yang disebabkan lingkungan umumnya terjadi pada bayi berusia 18 bulan. Penyebab alergi tersebut biasanya benda-benda yang ada di dalam dan luar ruangan, misalnya jamur, debu tungau, bulu hewan, kecoa, dan serbuk sari.

Berikut tiga macam alergi yang sering dialami bayi:

1. Dermatitis Atopik (Eksim)

Kondisi alergi ini kebanyakan dialami bayi yang tidak mendapatkan ASI dan diberikan susu formula dengan bahan dasar susu sapi. Akan tetapi, seiring waktu, alergi susu bisa hilang mengingat saluran pencernaan bayi sudah semakin sempurna.

Beberapa gejala dermatitis atopik yang seringkali muncul di antaranya:

  • Ruam merah yang tersebar karena digaruk.
  • Gatal-gatal terutama ketika malam hari.
  • Luka melepuh yang mengeluarkan cairan, lama kelamaan akan menjadi luka terbuka jika digaruk.
  • Kulit kering, pecah-pecah, dan bersisik.

 

2. Alergi Rinitis

Alergi rinitis merupakan peradangan yang disebabkan reaksi alergi. Gejala utama alergi rinitis sendiri di antaranya bersin-bersin, beringus, dan hidung tersumbat. Gejala lainnya termasuk gatal pada mata dan hidung, gatal pada langit-langit tenggorokan, serta rasa tersumbat. Serangan asma atau sesak napas dapat terjadi pada kondisi yang tergolong berat.

Alergi rinitis dibedakan menjadi dua macam, berdasarkan pada sifat berlangsungnya, yaitu:

  • Alergi rinitis musiman (hay fever, seasonal, pollinosis)
  • Alergi rinitis sepanjang tahun (perenial)

 

Jika alergi rinitis yang diderita oleh si kecil masih tergolong ringan, Moms bisa mengobati gejala yang muncul dengan cara:

  • Menghindarkan alergen tertentu yang memicu kondisi alergi rinitis.
  • Gunakan obat untuk bayi yang berkhasiat mengurangi hidung tersumbat dan meler seperti antihistamin dan dekongestan.
  • Membilas hidung si kecil menggunakan larutan garam agar terbebas dari iritasi.

 

Moms perlu mengunjungi dokter jika gejala semakin parah atau mempengaruhi kualitus hidup si kecil. Selain itu, obat juga tidak bekerja efektif jika alergi disebabkan alergen musiman seperti halnya serbuk sari.

3. Alergi Minyak Telon

Moms pernah melihat kulit si kecil memerah, kasar, dan mengelupas setelah diolesi minyak telon? Perlu Moms ketahui bahwa mungkin si kecil menunjukkan reaksi alergi terhadap minyak telon. Untuk mengatasinya Moms perlu menghindarkan si kecil dari pencetus alergi tersebut, yakni minyak telon. Jika kulit si kecil sangat kering, Moms bisa memberikan pelembap kulit bayi yang bisa didapatkan dari apotek-apotek besar. Jangan pernah mengganti minyak telon dengan bahan kimia apapun. Biarkan si kecil tanpa minyak telon dan hangatkan tubuhnya menggunakan baju hangat.

Tiga jenis alergi di atas merupakan yang paling umum dan sering dialami oleh bayi. Moms juga pernah melihat gejala-gejalanya pada si kecil? Bagaimana tindakan Moms setelah mengetahui bahwa kondisi tersebut merupakan gejala alergi yang dialami si kecil?

Baca juga: Berbahayakah Alergi untuk Tumbuh Kembang Balita?

 

(RGW)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.