2-3 tahun

5 Juni 2020

Apakah Gangguan Tidur Obstructive Sleep Apnea pada Balita Berbahaya?

Bisa menyebabkan masalah perilaku di siang hari
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Gangguan tidur sleep apnea ternyata tidak hanya bisa dialami orang dewasa, tapi juga anak-anak. Sebenarnya apa penyebab, faktor risiko, dan gejala obstructive sleep apnea pada balita?

Obstructive sleep apnea (OSA) adalah kondisi medis berupa kesulitan bernapas pada anak-anak ketika mereka tidur. Terhentinya napas biasanya terjadi karena ada sumbatan di saluran udara.

Menurut situs web Children’s Hospital of Philadelphia, OSA paling sering dialami anak-anak usia 2-6 tahun. Si Kecil mendengkur dan napasnya berhenti sebentar saat tidur. Sebenarnya mendengkur dialami 15-20% anak-anak, tapi OSA hanya memengaruhi 2-3% anak.

Gangguan tidur balita ini bisa membuat Si Kecil lelah di siang hari serta dapat menimbulkan masalah pembelajaran, perilaku, maupun medis.

Baca Juga: Balita Susah Tidur? Ini Cara Efektif Agar Anak Tidur Nyenyak

Penyebab Gangguan Tidur Balita

Penyebab Gangguan Tidur Balita.jpg

Foto: sonashomehealth.com

Pada anak-anak, penyebab paling umum dari OSA adalah membesarnya amandel (tonsil) di belakang tenggorokan, adenoid di belakang hidung, serta turbinate (struktur tulang kecil) di saluran pernapasan. Amandel dan adenoid memang tumbuh paling cepat antara usia 2-7 tahun.

Ketika Si Kecil tidur, otot mereka berelaksasi. Termasuk pula otot di saluran pernapasan atas yang bisa tertutup sebagian atau sepenuhnya oleh adenoid dan amandel.

Udara sulit mengalir dan bernapas menjadi lebih susah, bagaikan bernapas lewat sedotan kecil dan lemas yang terkadang kempis sehingga menutup jalan udara. Muncullah suara dengkuran dan napas yang terhenti sesaat.

Perhentian napas yang singkat tersebut (beberapa detik) menyebabkan Si Kecil terbangun sekilas. Kekencangan otot meningkat, sehingga saluran udara terbuka. Si Kecilpun bisa bernapas kembali dan tertidur lagi.

Meski jumlah menit terbangunnya Si Kecil tak banyak, gangguan berulang tersebut bisa menurunkan kualitas tidur sehingga menimbulkan masalah di siang hari pada Si Kecil. Bayangkan saja seperti dicolek 15-30 kali dalam sekali tidur malam. Tidurnya tampak sangat gelisah, tapi biasanya Si Kecil tidak sadar kalau terbangun.

Baca Juga: Yuk, Latih Balita Tidur Sendiri Dengan 5 Cara Ini

Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea pada Balita

Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea pada Balita.jpg

Foto: neurologyadvisor.com

Anak-anak dengan ciri berikut lebih berisiko mengalami gangguan tidur balita:

  • Anak yang gemuk, meski anak yang amandel atau adenoidnya membesar bisa jadi berat badannya di bawah normal
  • Memiliki rahang kecil
  • Memiliki wajah datar
  • Menderita alergi jangka panjang
  • Mengalami sindrom kraniofasial
  • Menderita lemah otot
  • Menderita sindrom Down

Baca Juga: Latih Balita Tidur Tepat Waktu dengan Cara Ini

Gejala Gangguan Tidur Balita

Gejala Gangguan Tidur Balita.jpg

Foto: stine moe engelsrud from Pixabay

Berikut gejala paling umum obstructive sleep apnea pada balita, meski gejalanya bisa bervariasi pada setiap anak:

  • Mendengkur kencang atau napasnya berisik saat tidur
  • Tidak bernapas selama beberapa detik. Meski dinding dada bergerak, tidak ada udara yang bergerak dari hidung atau mulut ke paru-paru.
  • Bernapas lewat mulut karena saluran pernapasan lewat hidung tertutup amandel dan adenoid yang membesar
  • Sesak napas, mendengus, atau megap-megap saat tidur
  • Gelisah dan berkeringat saat tidur
  • Tidur dengan posisi aneh, seperti melengkungkan leher ke belakang, tidur duduk, atau menopang kepala dengan bantal tinggi untuk membuka saluran udara
  • Mengompol saat tidur
  • Masalah perilaku atau mengantuk. Misalnya lelah, mudah marah, rewel, frustrasi, hiperaktif, dan sulit memperhatikan
  • Masalah di sekolah, sering disebut lamban atau malas
  • Hidung tersumbat, sakit kepala, nafsu makan buruk, atau sulit menelan
  • Sering mengalami infeksi, termasuk memiliki riwayat masalah kronis dengan amandel, adenoid, dan/atau infeksi telinga

Baca Juga: Jangan Dipaksa, Ini 4 Tanda Balita Belum Siap Tidur Sendiri

Menurut situs web The Royal Children’s Hospital Melbourne, terkadang masalah yang ditunjukkan anak penderita OSA hanya sulit memperhatikan, masalah perilaku, dan kesulitan belajar.

Pengangkatan amandel dan adenoid bisa menyembuhkan obstructive sleep apnea pada 80-90% balita. Jika adenoid tumbuh lagi dan gejala terasa kembali, Si Kecil mungkin perlu dioperasi lagi.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait