Scroll untuk melanjutkan membaca

PARENTING ISLAMI
26 April 2022

Ketahui Arti Idulfitri, Hikmah, Keutamaan serta Amalan yang Bisa Dilakukan di Hari yang Suci

Ada makna mendalam di hari kemenangan bagi umat muslim setelah sebulan berpuasa
Ketahui Arti Idulfitri, Hikmah, Keutamaan serta Amalan yang Bisa Dilakukan di Hari yang Suci

Arti Idulfitri bagi umat Islam adalah sebagai penutup bulan Ramadan yang dilakukan dengan melakukan salat Idulfitri.

Selain semarak merayakan Lebaran karena menjadi momen berkumpul keluarga, terdapat sederet amalan Idulfitri untuk umat Islam agar menambah keberkahan hari raya.

Arti Idulfitri, Sebuah Hari Penuh Makna bagi Umat Islam

Arti Idulfitri

Foto: Arti Idulfitri

Foto: unsplash.com/@javaistan

Agar lebih menghayati ketika merayakannya, berikut ini arti Idulfitri yang paling utama bagi umat muslim.

1. Idulfitri Berarti Kembali Suci

Berasal dari bahasa Arab, kata "id" berasal dari akar kata "aada –yaudu" yang memiliki arti "kembali".

Sedangkan "Fitri" memiliki arti bersih, kembali suci dari segala dosa dan keburukan. Sehingga arti Idulfitri yaitu kembali lagi dalam kesucian seperti saat dilahirkan.

2. Idulfitri Merupakan Hari Kemenangan dan Perayaan Penuh Rasa Syukur

Menurut studi tahun 2021 di laman Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, arti Idulfitri adalah kemenangan karena telah melakukan ibadah yaitu berpuasa.

Hari raya Idulfitri merupakan hari kemenangan bagi seluruh umat muslim di dunia, karena menjadi puncak ibadah puasa Ramadan bagi umat muslim.

Ini merupakan hari di mana setiap umat Islam berbondong-bondong menyemarakkan salah satu anjuran yang dilakukan setelah melewati bulan Ramadan, yaitu salat sunah berjamaah Idulfitri.

Dilansir dari Islam.nu.or.id, salat sunah yang dilakukan pada hari Idulfitri, dalam Islam dikenal sebagai penutup dan ungkapan syukur atas selesainya ibadah puasa yang dilakukan selama satu bulan penuh.

Arti Idulfitri juga merupakan perayaan yang dilakukan atas keberhasilan dalam menahan diri dari rasa lapar, haus, dan nafsu.

Perlu diperhatikan bahwa pada hari tersebut seluruh umat Islam diharamkan berpuasa lagi.

Pada awalnya, hari raya Idulfitri mulai dilaksanakan pada tahun ke-2 Hijriah, di mana bertepatan dengan kemenangan Islam dalam perang Badar.

Hal ini secara tidak langsung bahwa hari Idulfitri merayakan dua kemenangan sekaligus.

Selain itu, pada masa Islam belum hadir, orang Arab jahiliyah memiliki dua hari perayaan yang dirayakan dengan sangat meriah.

Namun, setelah Islam masuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti dua hari perayaan meriah tersebut dengan Idulfitri dan Iduladha.

Berikut penjelasannya dalam sabda Rasulullah SAW berikut ini.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Artinya: "Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, kaum jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain.

Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, Rasulullah bersabda: kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idulfitri dan Iduladha," (HR Abu Dawud & an-Nasa’i).

Baca Juga: 5+ Makanan Khas Lebaran yang Wajib Ada, Lengkap dengan Resepnya!

Hikmah dan Keutamaan Idulfitri

Hikmah dan Keutamaan Idulfitri

Foto: Hikmah dan Keutamaan Idulfitri

Foto: freepik.com

Selama bulan Ramadan, umat muslim diwajibkan untuk berpuasa, menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah.

Tidak terlalu banyak tidur, namun tetap bekerja dengan baik saat berpuasa.

Selain itu juga mengurangi perilaku-perilaku buruk yang dulu sering dilakukan saat sebelum berpuasa.

Oleh karena itu setelah puasa Ramadan berakhir, terdapat hikmah serta keutamaan dari arti Idulfitri dalam Islam, seperti:

1. Kemenangan Melawan Hawa Nafsu

Saat puasa berakhir, Allah SWT memerintahkan kepada umat muslim untuk merayakannya.

Ini menjadi bentuk syukur bahwa selama satu bulan, umat Islam mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu.

Puasa telah menjadi menjadi alternatif yang diberikan oleh Allah SWT belajar menjauhi perbuatan buruk. Merayakan keberhasilan menahan hawa nafsu ini menjadi makna dan arti Idulfitri.

2. Kembali ke Fitrah

Karena menjadi momen kembali ke fitrah, banyak arti Idulfitri adalah sebagai momen pengembalian diri seolah seperti bayi yang suci dan baru dilahirkan.

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala (dan ridha Allah), maka niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Baca Juga: Jelang Idul Fitri, Tengok Ide Hampers Lebaran Menarik untuk Keluarga dan Kerabat!

3. Menjadi Ajang Silaturahmi

Orang yang menyambung silaturahmi menjadi ciri orang-orang yang beriman. Berkaitan dengan ini, Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِۗ

(Wallażīna yaṣilụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yakhsyauna rabbahum wa yakhāfụna sū`al-ḥisāb)

Artinya: "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk," (QS Ar-Ra'du: 21).

Seperti sudah menjadi tradisi, momen Idulfitri menjadi ajang silaturahmi seluruh keluarga.

Bahkan, mudik menjadi cara banyak orang untuk dapat berkumpul bersama keluarga saat Lebaran.

Itu menjadi makna dan arti Idulfitri sebagai momen perekat silaturahmi yang sangat dinantikan.

4. Pengingat untuk Terus Bersyukur

Hari Raya Idulfitri menjadi momen penuh makna dan hikmah yang mengingatkan umat Islam untuk terus bersyukur, karena masih memiliki kesempatan untuk hidup.

Juga bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati berkah bulan Ramadan. Bersyukur masih dapat bertemu dengan hari raya Idulfitri.

Salah satu kebaikan yang menunjukkan rasa syukur adalah bersedekah seperti berbagi melalui zakat fitrah. Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

(Khuż min amwālihim ṣadaqatan tuṭahhiruhum wa tuzakkīhim bihā…)

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka,” (QS At-Taubah: 103).

Baca Juga: Berhubungan saat Malam Lebaran, Apakah Diperbolehkan?

Amalan Idulfitri Sesuai Sunah

pertanyaan basa-basi lebaran

Foto: pertanyaan basa-basi lebaran

Foto: Orami Photo Stock

Terdapat beberapa amalan Idulfitri yang bisa dilakukan saat lebaran, yakni:

1. Mengisi Malam dengan Ibadah

Memperbanyak amalan di malam Idulfitri bisa dilakukan dengan membaca Alquran, membaca takbir, membaca tasbih, dan istigfar.

Ini bisa dilaksanakan setelah salat Isya sampai salat Subuh. Selain itu, dapat juga dengan melakukan salat Isya berjamaah.

Atau juga melakukan salat Subuh berjamaah. Hal ini sesuai dengan salah satu hadis saat Rasulullah SAW saat bersabda:

من قام ليلتي العيد، محتسباً لله تعالى، لم يمت قلبه يوم تموت القلوب

Artinya: “Barang siapa yang mengisi malam hari raya dengan memperbanyak ibadah maka Allah akan menghidupkan hatinya di saat semua hati manusia mati,” (HR Ibnu Majah).

6. Mandi

Mandi hari raya sunah untuk dilakukan, meski tidak bertujuan untuk menghadiri salat Id, misalnya bagi perempuan yang sedang haid atau nifas.

Waktu sunahnya mandi tersebut mulai dari pertengahan malam, sampai terbenamnya matahari pada hari raya.

Namun, yang lebih utama adalah mandi yang dilakukan setelah salat Subuh.

Dari riwayat dari Ibnu ‘Umar RA:

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

Artinya: “Dari Nafi’, (ia berkata bahwa) ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang,” (HR Malik).

Baca Juga: Susah-Susah Gampang, Ini 4 Cara Mengatur Keuangan Pasca Libur Lebaran

7. Berangkat Pagi dan Berjamaah

Habib Syekh Hasan al Kaff berkata:

ويندب تطويله ليكثر الاجر بكثرة الخطا

Artinya: “Disunahkan memanjangkan jalan berangkat ke tempat salat Idulfitri, untuk memperbanyak coretan pahala di sisi Allah.”

Bagi selain imam, disunahkan untuk berangkat awal setelah salat Subuh ke lokasi salat Id.

Sedangkan bagi imam, disunahkan berangkat pada saat masuknya waktu salat.

Berangkat salat Id berjamaah dengan berjalan kaki dengan tenang melalui jalan yang jauh, dan ketika pulang melalui rute jalan berbeda yang lebih pendek.

8. Memperhatikan Kebersihan Diri

Mencukur rambut, memotong kuku, dan menghilangkan bau yang tidak sedap juga menjadi amalan Idulfitri.

Ini dimaksudkan untuk mengutamakan kebersihan saat akan salat.

Mengunakan memakai wangi-wangian dan pakaian yang bagus juga disunahkan, tapi tidak memaksakan. Yang utama adalah berada dalam keadaan bersih.

Terdapat hadis tentang pakaian khusus Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Jabir RA, dia berkata:

كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ

Artinya: “Nabi SAW memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idulfitri dan Iduladha, juga untuk digunakan pada hari Jumat.” (HR Ibnu Khuzaimah).

9. Makan Sebelum Salat Idulfitri

Ini termasuk ke dalam amalan Idulfitri sesuai sunah lainnya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid:

أجمَعوا على أنه يُستحبُّ أن يُفطر في عيد الفطر قبل الغُدوِّ إلى المصلَّى، وألَّا يُفطرَ يومَ الأضحى إلَّا بعد الانصرافِ من الصَّلاة

Artinya: “Mayoritas ulama sepakat bahwa hukumnya sunah bahwa makan terlebih dahulu pada pagi sebelum pergi ke salat Idulfitri, sedangkan untuk salat Iduladha sebaliknya, makan sunah hukumnya setelah salat Iduladha.”

Hal ini juga sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

عَنْ أَنَسٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

Artinya: “Dari Anas bin Malik RA berkata, ‘Rasulullah tidak berangkat pada Idulfitri hingga beliau memakan beberapa kurma,” (HR Bukhari).

Baca Juga: 5 Trik Tetap Sehat Menyantap Hidangan Lebaran

10. Bertakbir dari Rumah Menuju Tempat Salat

Dalam suatu riwayat disebutkan:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ المصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

Artinya: “Nabi SAW biasa keluar hendak salat pada hari raya Idulfitri sambil bertakbir sampai di lapangan dan sampai salat hendak dilaksanakan.

Ketika salat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir,” (Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf).

11. Saling Mengucapkan Selamat

Ini menjadi amalan Idulfitri berikutnya. Para ulama Salaf terdahulu biasanya mengucapkan selamat dengan kalimat doa:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

(Taqabbalallahu minna wa minkum)

Artinya: “Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian.”

Dari Jubair bin Nufair berkata: “Bahwa jika para sahabat Rasulullah SAW berjumpa dengan hari Id (Idulfitri atau Iduladha), satu sama lain saling mengucapkan: ‘Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian),” (Fath Al-Bari).

Namun, ucapan selamat di hari raya sebenarnya tidak memiliki aturan khusus. Apapun ucapan selamatnya, selama maknanya tidak keliru bisa dipakai.

Inilah amalan dan arti Idulfitri sesuai sunah yang bisa dilakukan untuk menambah keberkahan dalam momen hari raya penuh kemenangan.

  • https://dalamislam.com/akhlaq/amalan-shaleh/sunnah-nabi-di-hari-raya-idul-fitri
  • https://bincangsyariah.com/khazanah/berikut-tujuh-amalan-sunah-shalat-idul-fitri/
  • http://repository.uin-suska.ac.id/31715/
  • https://jabarekspres.com/berita/2021/05/12/ini-dia-enam-amalan-sunah-agar-ibadah-salat-idul-fitri-lebih-sempurna/
  • https://www.dompetdhuafa.org/id/berita/detail/hikmah-idul-fitri
  • https://islam.nu.or.id/syariah/hari-raya-idul-fitri-sejarah-keutamaan-dan-maknanya-dalam-islam-ZYJms