Scroll untuk melanjutkan membaca

PARENTING ISLAMI
08 Juli 2022

Hadis Tentang Menuntut Ilmu, Semoga Kita Terhindar dari Kebodohan yang Jadi Pangkal Keburukan

Ketahui pentingnya menuntut ilmu melalui hadis
Hadis Tentang Menuntut Ilmu, Semoga Kita Terhindar dari Kebodohan yang Jadi Pangkal Keburukan

Di dalam Islam, menuntut ilmu diwajibkan bagi setiap umatnya. Terdapat dalil yang menjelaskan hal ini, seperti hadis tentang menuntut ilmu.

Menuntut ilmu merupakan sebuah usaha yang dilakukan dalam memperoleh ilmu, baik itu ilmu untuk dunia maupun akhirat.

Tidak hanya bermanfaat bagi sendiri, menuntut ilmu juga dapat bermanfaat bagi orang lain.

Baca Juga: Fengshui Rumah, Ilmu Warisan Masyarakat Tionghoa Kuno

Pentingnya Menuntut Ilmu

Pentingnya Menuntut Ilmu

Foto: Pentingnya Menuntut Ilmu

Foto: hadis tentang menuntut ilmu (Orami Photo Stock)

Sebelum kita melihat hadis tentang menuntut ilmu, kita perlu juga tahu mengapa kita semua punya kewajiban menuntut ilmu.

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam termuat dalam penjelasan berikut ini.

1. Orang Berilmu Diangkat Derajatnya oleh Allah SWT

Dalam kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari mengawali pembahasan dengan ulasan tentang keutamaan ilmu, ulama, belajar, dan mengajarkan ilmu.

Beliau memaparkan beberapa dalil Alquran dan al-Hadits serta pernyataan para sahabat Nabi dan ulama yang menjelaskan hal tentang keutamaan orang yang berilmu, di antaranya beliau mencantumkan dalam ayat Alquran:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ

Artinya: “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu” (QS Al-Mujadalah ayat 11).

Ayat di atas menunjukkan betapa penting dan utamanya ilmu di sisi Allah SWT. Sampai-sampai orang yang memiliki ilmu ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.

Karena itulah, sebagai suatu risalah yang dibawa Alquran, maka pendidikan dan pengajaran seorang muslim menjadi wajib hukumnya.

Bahkan tidak hanya itu, mencari ilmu bisa jadi sangat mudah. Mendapatkan ilmu pun boleh jadi sangat gampang.

Namun yang paling penting adalah bukan hanya sekedar mencari dan memperolehnya, melainkan mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya.

2. Terpaut Derajat yang Jauh antara Orang yang Berilmu dengan yang Tidak

Selanjutnya KH Hasyim Asy’ari menjelaskan selisih derajat ulama yang berilmu dibandingkan orang Muslim pada umumnya dengan mengutip sabda Sahabat Ibnu ‘Abbas:

درجات العلماء فوق المؤمنين بسبعمائة درجة درجة ما بين الدرجتين خمسمائة عام

Artinya: “Para ulama mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang mukmin pada umumnya dengan selisih 700 derajat dan di antara dua derajat terpaut selisih 500 tahun.” 

3. Kebodohan Adalah Pangkal Keburukan

Apa yang disampaikan KH Hasyim Asy’ari tersebut senada dengan penjelasan al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith dalam kitab al-Manhaj al-Sawi.

Habib Zain menjelaskan alasan terpautnya selisih derajat yang sangat jauh antara orang berilmu dan selainnya dalam statement beliau sebagai berikut: 

قلت وذلك لأن العلم أساس العبادات ومنبع الخيرات كما أن الجهل رأس كل شر وأصل جميع البليات.

Artinya: “Aku berkata. Demikian itu karena ilmu adalah asasnya ibadah-ibadah dan sumber beberapa kebaikan, sebagaimana kebodohan adalah pangkal setiap keburukan dan sumber seluruh musibah,” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal. 77).

Dalam kitab “Al-Mawa’idh Al-‘Ushfuriyyah” karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW, yang menyebutkan:

عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنهم قال: قال رسول الله تعالى عليه وسلم: من تعلم بابا من العلم ينتفع به في آخرته ودنياه أعطاه الله خيرا له من عمر الدنيا سبعة آلاف سنة صيام نهارها وقيام لياليها مقبولا غير مردود.

Artinya: "Dari Ibrahim, dari ‘Alqomah, dari Abdulloh bin Mas’ud RA berkata: Rasululloh SAW bersabda: 

“Barang siapa mempelajari satu bab dari ilmu yang bermanfaat bagi dunianya dan akhiratnya maka Allah memberinya yang lebih baik baginya dari tujuh ribu umur dunia yang siangnya digunakan berpuasa dan menghidupkan malamnya yang ibadah tersebut diterima dan tidak ditolak”.

Dari dasar-dasar tersebut sudah sangat jelas menunjukkan bahwa ilmu merupakan hal paling penting dalam beragama setiap harinya.

Ilmu juga dijadikan sebagai warisan berharga dari para Nabi melalui para ulama.

Nabi SAW tidak mewarisi harta benda akan tetapi sesuatu yang lebih berharga dibandingkan harta benda, yaitu ilmu agama.

Baca Juga: Ukuran Meja Belajar untuk Anak yang Direkomendasikan Berdasarkan Tinggi Badannya

Hadis Tentang Menuntut Ilmu

Hadis Tentang Menuntut Ilmu

Foto: Hadis Tentang Menuntut Ilmu (smol.id)

Foto: hadis tentang menuntut ilmu (Orami Photo Stock)

Berikut hadis tentang menuntut ilmu lainnya yang membahas tentang menuntut ilmu, antara lain:

1. Menuntut Ilmu Dikehendaki Kebaikan

تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ ( رَواهُ الطَّبْرَانِيْ)

Artinya: “Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu,” (HR Tabrani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kepada kita bahwa orang yang menuntut ilmu syar’i merupakan tanda bahwa Allah Ta’ala menghendaki kebaikan untuknya baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ يُرِدْ اللَّه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدِّين

Artinya: “Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya,” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436).

Baca Juga: Ilmu Tasawuf: Pengertian, Dasar Ilmu, Aliran, dan Bentuk Ajarannya

2. Pewaris Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa para ulama yang berilmu memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah Ta’ala yang tidak diraih oleh seorang pun selain mereka.

Yaitu bahwa mereka adalah pewaris para Nabi dalam membawa agama dan menyebarkannya di dunia ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya: “Keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang.

Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Para Nabi tidaklah mewariskan dirham dan dinar, akan tetapi mereka mewarisi ilmu. 

Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil keberuntungan yang besar” (HR. Abu Dawud. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud  no. 3641).

Itu dia hadis tentang menuntut ilmu yang dapat kita terapkan di kehidupan. Semoga bermanfaat!

  • https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/keutamaan-belajar-dan-mengajarkan-ilmu-menurut-kh-hasyim-asy-ari-1-LJxd
  • https://islam.nu.or.id/hikmah/pentingnya-menuntut-ilmu-dari-dasar-tidak-melompat-nAvuu
  • https://nubanyumas.com/hadits-keutamaan-menuntut-ilmu-dalam-kitab-ushfuriyah/
  • https://arrohmahtahfizh.sch.id/portfolio/belajarlah-kalian-semua/