12 Agustus 2019

Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Bereaksi saat Melihat Nilai Ulangan Anak yang Kurang?

Jangan memarahai anak, karena akan memperburuk keadaan

Pertengahan tahun dan akhir tahun adalah masa-masa yang mendebarkan untuk kita para orang tua. Pasalnya, di waktu-waktu ini, sekolah akan membagikan hasil akhir pelajaran Si Kecil selama satu semester masa belajar.

Akan sangat membahagiakan dan menenangkan jika ternyata nilai anak baik-baik saja. Namun agak mengkhawatirkan jika hasilnya menunjukkan bahwa nilai ulangan anak kurang.

Baca Juga: Yang Harus Dilakukan Ketika Nilai Anak Jelek

Nilai ulangan anak kurang memang bukan berarti dunia akan segera berakhir. Namun pendidikan adalah hal yang penting untuk buah hati kita dan memang menjadi sangat kompetitif seiring dengan berjalannya waktu.

Lalu apa yang harus orang tua lakukan ketika mendapati nilai ulangan anak kurang?

Jelaskan Mengapa Nilai Itu Penting

nilai ulangan anak kurang
Foto: nilai ulangan anak kurang

Foto: webmd.com

“Orang tua sebaiknya jangan memarahi atau memaki anaknya,” tutur Jane Cindy Linardi, psikolog anak RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.

Katika melihat nilai ulangan anak yang kurang, reaksi pertama yang biasanya akan para orang tua berikan adalah menghukum atau memarahi si anak. Seolah-olah jika hal ini dilakukan, maka nilai ulangan anak akan membaik ke depannya.

Padahal hal tersebut justru dapat memperburuk situasi yang ada. Apa yang orang tua lakukan, termasuk perilaku buruk orang tua kepada anak, akan berpengaruh pada pikiran kecil mereka dan menghalangi mereka untuk berkembang dalam berbagai aspek kehidupan ketika tumbuh dewasa nantinya.

Baca Juga: Hati-hati, Ini 4 Dampak Buruk Menuntut Anak Mendapat Nilai Bagus

Menurut Sarah Patricia, pendidik perkembangan anak, orang tua perlu menjelaskan kepada anak-anak bahwa nilai digunakan sebagai alat untuk membantu para guru dalam mengevaluasi kemajuan setiap muridnya.

Ini membantu para guru mengetahui bidang atau mata pelajaran apa yang siswa butuhkan lebih banyak bantuan, dan bukan sebagai alat untuk menilai tingkat kecerdasan mereka.

Fokus pada Proses, Jangan pada Hasilnya

nilai ulangan anak kurang
Foto: nilai ulangan anak kurang

Foto: dailymail.uk

Carol Dweck, Psikolog, memiliki terobosan baru pada penelitiannya yang menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus merubah perspektif kita pada pola pikir anak yang tumbuh dengan pola pikir tetap dan pola pikir pertumbuhan.

Pola pikir tetap hanya berfokus pada hasilnya. Misalnya nilai 8 dari 10 dipuji sebagai nilai yang bagus. Tapi apa yang terjadi saat nilai ulangan anak kurang? Saat itulah mindset berubah dan kita mengabaikan proses yang telah dilalui Si Kecil.

Baca Juga: Anak Tidak Mau Sekolah Karena Takut Dengan Guru?

Anak Moms mungkin mendapat nilai 6 dari 10 dalam sebuah mata pelajaran, tetapi memuji kerja kerasnya akan meningkatkan moral anak dan menunjukkan kepadanya bahwa selalu ada ruang untuk memperbaiki nilai.

Belajar Bersama Anak

nilai ulangan anak kurang
Foto: nilai ulangan anak kurang

Foto: medium.com

Menurut Jane, di samping memarahi Si Kecil, orang tua harus menguatkan dan membesarkan hati si anak agar tetap semangat. Katakan bahwa ia pasti dapat berusaha lebih baik di kesempatan berikutnya.

“Selain itu tanyakan juga apa yang menjadi kesulitan anak pada ulangan tersebut. Dengan begitu orang tua bisa membantu anak dan mulai menjalani waktu belajar bersama,” kata Jane.

Ini adalah kesempatan terbaik bagi orang tua untuk membantu anak memperbaiki nilainya. Diskusikan mata pelajaran apa yang membuatnya kesulitan mendapat nilai bagus, kemudian pelajari bersama dengan anak.

Ingatkan kembali pada anak untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi atau belajar lebih giat lagi dalam menghadapi ulangan yang akan datang.

Itu dia beberapa cara yang bisa orang tua lakukan jika nilai ulangan anak kurang. Jangan menjadi orang tua jadul yang hanya berpaku pada nilai. Ingat bahwa proses juga tidak kalah pentinya.

https://www.smartparenting.com.ph/parenting/preschooler/bad-grade-no-future-a00041-20190125

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.