14 Januari 2020

Apa Bahaya Hepatitis C Bagi Ibu Hamil?

Jangan remehkan hepatitis C, infeksi ini bisa cukup berbahaya bagi kehamilan.

Tentu Moms ingin kehamilan yang selalu sehat hingga persalinan nanti kan? Sayangnya, terkadang ada banyak bahaya yang mengintai tapi tak begitu disadari. Salah satunya hepatitis C selama kehamilan.

Mari simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui kondisi dan hal yang perlu diperhatikan bila menderita hepatitis C saat hamil.

Hepatitis C Pada Ibu Hamil

pregnant-woman-waiting-for-baby-dropping.jpg
Foto: pregnant-woman-waiting-for-baby-dropping.jpg

Hepatitis C adalah penyakit infeksi serius akibat virus HCV yang menyerang hati (liver). Penyakit ini menular melalui darah yang terkontaminasi.

Kontaminasi ini mungkin terjadi pada orang yang:

  • Pernah ditato atau ditindik sebelumnya
  • Melakukan hubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi HCV
  • Memiliki penyakit HIV
  • Pernah transfusi darah sebelumnya

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam World Journal Hepatol, setidaknya ada 8% ibu hamil di dunia yang mengalami hepatitis C setiap tahunnya. Moms harus waspada karena penyakit ini bukan penyakit yang bisa diremehkan.

Umumnya, bila Moms mengalami hepatitis, beragam gejala khas akan muncul, seperti:

  • Mual dan muntah
  • Jaudince atau kulit dan mata berubah menjadi kekuningan
  • Nafsu makan menurun
  • Kaki bengkak
  • Berat badan turun

Namun, dalam beberapa kasus Moms bisa saja tak mengalami gejala apa pun.

Biasanya, ketika Moms memiliki risiko yang telah disebutkan sebelumnya dan diketahui sedang hamil, dokter akan menyarankan untuk tes hepatitis C.

Baca Juga: Apakah Hepatitis B Memengaruhi Kesuburan?

Apakah Bahaya Hepatitis C Pada Ibu Hamil?

Ibu Hamil Melakukan Kontrol ke Dokter
Foto: Ibu Hamil Melakukan Kontrol ke Dokter

Pada banyak kasus, hepatitis C pada ibu hamil tidak terlalu memengaruhi kesehatan kandungan. Namun, ada beberapa hal yang mungkin terjadi selama masa kehamilan.

1. Kadar SGPT Tidak Normal

Moms yang terinfeksi virus HCV saat hamil cenderung memiliki kadar SGPT yang rendah di trimester kedua dan ketiga. Lantas setelah melahirkan, kadar SGPT biasanya akan meningkat.

SGPT adalah salah satu nilai untuk mengetahui fungsi hati normal atau tidak. Di dalam tubuh, enzim SGPT akan berubah jika fungsi hati mengalami gangguan.

Untuk tahu apakah fungsi hati normal atau tidak, baiknya Moms konsultasikan hal ini ke dokter.

2. Kolestasis

Riset yang dilaporkan dalam Clinics and Research in Hepatology and Gastroenterology tahun 2017, mengungkapkan penyakit ini juga bisa sebabkan kolestasis.

Kolestasis ditandai dengan rasa gatal yang berlebihan di beberapa bagian tubuh. Kondisi ini terjadi akibat cairan empedu tidak mengalir dengan normal karena fungsi hati yang terganggu.

Meski begitu, biasanya hal ini akan hilang dengan sendirinya setelah persalinan.

3. Risiko Lainnya

Dalam beberapa penelitian, salah satunya riset yang dijabarkan pada jurnal Liver International, menyatakan bahwa hepatitis C pada ibu hamil dapat menyebabkan ibu mengalami berbagai kondisi tertentu.

Kondisi tersebut seperti preeklampsia dan perdarahan saat persalinan. Namun, risiko tersebut umumnya terjadi pada kasus hepatitis C yang sudh sangat parah hingga menyebabkan sirosis (gagal hati).

Jadi, tidak semua Moms mengalami hal ini meski terkena hepatitis saat hamil.

4. Memengaruhi Persalinan

Hal ini tergantung dengan kondisi masing-masing ibu. Pada kebanyakan kasus, hepatitis C pada ibu hamil tidak terlalu berdampak pada kehamilan.

Jika begitu dan kondisi Moms baik-baik saja, persalinan akan bisa dilakukan melalui vaginal alias normal.

Namun, bila ada komplikasi tertentu yang terjadi akibat infeksi HCV, operasi caesar bisa jadi solusinya.

Maka itu, tanyakan pada dokter kandungan mana cara yang harus ditempuh Moms ketika persalinan kelak.

Baca Juga: Ibu Hamil Menderita Hepatitis C, Apakah Akan Menular pada Janin?

Apakah Bayi Juga Akan Tertular Virus HCV?

Wajib Tahu, Ini Batas Normal Napas Bayi Baru Lahir 01.jpg
Foto: Wajib Tahu, Ini Batas Normal Napas Bayi Baru Lahir 01.jpg (bjornahoen.com)

Berdasarkan data dari The American College of Obstretricians and Gynecologist, sebanyak 4% Moms yang alami hepatitis saat hamil dapat menularkan virusnya pada janin. Peluangnya akan semakin tinggi jika Moms mengalami HIV.

Penularan virus hepatitis dari ibu ke bayi bisa terjadi ketika janin masih di dalam kandungan, selama masa persalinan, atau bahkan setelah Si Kecil lahir.

Menurut riset dari the International Society of Perinatal Obstetricians, infeksi ini bisa menimbulkan risiko bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian saat lahir.

Meski begitu, Moms jangan keburu khawatir dulu. Dalam sebuah jurnal Pediatric Child Health, para ahli menyebutkan bahwa tidak semua bayi akan mengalami hepatitis C meski telah memiliki virus HCV dari sang ibu.

Anak tersebut biasanya disebut dengan carrier alias pembawa virus dan tetap bisa tumbuh sehat.

Namun, anak yang terbukti membawa virus HCV di dalam tubuhnya harus melakukan pemeriksaan berkala dan diberikan vaksin supaya mencegah organ livernya rusak.

Baca Juga: Moms, Pahami Dampak Hepatitis B Pada Ibu Hamil

Bagaimana Mengobati Hepatitis C Saat Hamil?

left side pregnancy sleep 1
Foto: left side pregnancy sleep 1

Pengobatan hepatitis C tidak akan dilakukan jika Moms masih mengandung. Hal ini karena obat-obatan yang diberikan untuk penyakit infeksi tersebut dapat menyebabkan bayi lahir cacat.

Bayi juga akan diperiksa lebih lanjut apakah memiliki virus HCV di dalam tubuhnya. Namun pemeriksaan ini baru akan dilakukan ketika Si Kecil berusia 18 bulan atau lebih.

Pasalnya, bayi yang baru lahir sampai usia 18 bulan memiliki antibodi terhadap virus HCV. Jadi, pemeriksaan itu tidak akan akurat jika dilakukan sebelum bayi berusia 18 bulan.

(IA/ERW)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.