Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Persiapan Melahirkan | Mar 9, 2018

Bahayakah Ruptur Uteri Pada Persalinan?

Bagikan


 

Ruptur uteri atau uterine rupture adalah robekan dinding rahim (uterus), dapat terjadi selama periode antenatal (pra-persalinan) saat induksi, selama proses persalinan dan kelahiran bahkan selama stadium ketiga persalinan.

Ruptur uteri pada kehamilan, merupakan salah satu komplikasi yang sangat serius, yang potensial mengancam jiwa baik bagi ibu maupun bayi. Sekalipun pasien dapat selamat, ada kemungkinan fungsi reproduksinya terhenti dan proses penyembuhannya sering kali memakan waktu yang cukup lama.

 

Penyebab ruptur uteri sendiri ada berbagai macam. Bisa jadi karena panggul yang terlalu sempit, ada tumor pada jalan lahir, ada bekas operasi caesar di rahim, letak janin yang melintang, dan masih banyak lagi.

 

Apa Saja Gejala Ruptur Uteri?

Ruptur uteri atau robekan dinding rahim tidak dapat diprediksi atau didiagnosis secara akurat sebelum hal itu benar-benar terjadi. Gejala ini dapat terjadi tiba-tiba selama persalinan. Tanda-tanda ruptur uteri yaitu:

 

  • Perdarahan vagina
  • Nyeri luar biasa saat kontraksi
  • Kontraksi yang lambat atau kurang intens
  • Sakit perut atau nyeri yang tidak biasa
  • Resesi kepala janin (kepala bayi bergerak kembali ke jalan lahir)
  • Menggembung di bawah tulang kemaluan (kepala bayi telah menonjol di luar bekas luka uterus)
  • Rasa nyeri yang tajam di bagian bekas luka sebelumnya
  • Uterus atonia (melemahnya otot rahim)
  • Denyut jantung cepat dan hipotensi (tekanan darah rendah abnormal)

 

Apakah Risiko Ruptur Uteri Dapat Dicegah?

Meskipun tidak mungkin memprediksi wanita yang cenderung mengalami ruptur uteri saat menjalani proses persalinan pada VBAC, studi terbaru menunjukkan bahwa risiko ruptur uteri agak tinggi bila:

  • Persalinan diinduksi. Obat induksi tertentu dapat dikaitkan dengan risiko tinggi robekan dinding rahim dan tidak boleh digunakan untuk menginduksi persalinan bagi perempuan yang berencana VBAC.
  • Bekas sayatan operasi caesar ditutup dengan satu lapisan jahitan (ini sering dilakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk mempersingkat waktu di ruang operasi).
  • Wanita hamil dan ingin menjalani proses persalinan VBAC dalam waktu kurang dari 18 sampai 24 bulan setelah operasi caesar sebelumnya.
  • Wanita yang berusia lebih dari 30 tahun.
  • Sayatan uterus klasik digunakan dalam kelahiran caesar.
  • Wanita memiliki dua atau lebih kelahiran caesar.
  • Wanita menjalani proses persalinan dengan VBAC setelah minggu ke-40 kehamilan

 

Menjelang masa persalinan terutama dengan VBAC, sebaiknya Moms  berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dokter harus memberikan informasi yang komprehensif tentang manfaat dan risiko VBAC dan operasi caesar berulang.  Apakah Moms mempunyai pengalaman seputar rupture uteri ini?

 

 

<ROS>

 

 

 

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.