Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Keamanan Bayi | Apr 1, 2018

Bayi Calista Meninggal Akibat Disiksa Ibunya, Kenapa Ada Ibu yang Tega Menyiksa Anaknya?

Bagikan


Kabar duka datang dari Karawang, Calista, bayi berusia 15 bulan meninggal dunia pada Minggu, 25 Maret 2018. Diduga ia menjadi korban penganiayaan oleh ibunya sendiri, Sinta. Dilansir dari Kompas.com, Sinta diduga menganiaya Calista untuk melampiaskan kekesalannya pada sang pacar. Pacarnya juga beberapa kali menyiksa Calista.

Calista sering mengalami kejang-kejang akibat penganiayaan ini. Bayi ini mengalami infeksi korena mata dan radang otak, kondisi ini terjadi karena Sinta membenturkannya ke dinding, namun ia terjatuh ke rak piring. Saat ini Sinta sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Sedihnya, kejadian seperti ini tidak asing di telinga kita, sebab sudah beberapa kali kita mendengar dan membaca berita mengenai ibu yang menyiksa anaknya sendiri. Terdapat beberapa faktor pemicu kenapa ibu tega menganiaya anaknya sendiri.

Baca juga: Ini 5 Dampak Hukuman Kekerasan Pada Mental Anak

Faktor Pemicu Kekerasan Terhadap Anak

Ekonomi

Sebagian besar faktor kekerasan terjadi karena faktor ekonomi, di mana kondisi keluarga merasa tertekan hingga menjadikan anak sebagai sumber mata pencaharian. Moms tentu sering melihat anak-anak yang masih sangat kecil harus berada di pinggir jalan untuk mengemis atau mengamen. Tak hanya itu, merekapun tak disekolahkan, bahkan menerima kekerasan bila tak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pengalaman Masa Lalu

Faktor lain yang dapat menjadi pemicu orang tua tega menganiyaya anak mereka adalah ketika mereka merasakan penganiyayaan di masa lalu. Mereka cenderung ingin balas dendam pada anak mereka karena merasa terisolasi secara sosial. Selain itu, faktor sebagai orang tua tunggal juga kerap jadi pemicu karena mereka merasa mendominasi setiap keputusan penting.

Baca juga: Heboh Ibu Seret Anak dengan Motor dan Berbagai Kasus Kekerasan Ibu Pada Anak di Indonesia

Kurangnya Pengetahuan

Tak jarang orang tua merasa ilmu parenting adalah sebuah hal yang tidak penting. Kondisi seperti ini sangat memengaruhi pola dan cara mereka mendidik anak, karena perasaan dan emosinya lebih dominan ketimbang pengetauannya.

Seperti halnya jika sang anak melakukan kesalahan, dengan mudahnya orang tua akan menghukum mereka dengan kekerasan secara fisik. Hal semacam ini bukan malah akan mendidik anak, melainkan menimbulkan trauma hingga dendam.

Baca juga: Kekerasan Verbal Bisa Berpengaruh Buruk Ke Anak!

Gangguan Psikologis

Selain tiga faktor di atas, gangguan psikologis atau gangguan secara kejiwaan memang menjadi salah satu penyebab seseorang tak dapat menjadi orang tua secara efektif. Efek dari gangguan kejiwaan tersebut berujung pada sulitnya mengendalikan emosi dan perilaku agresif.

Gangguan kejiwaan yang terjadi pada salah satu dari orang tua tentu akan membawa dampak bagi tumbuh kembang jiwa anak-anaknya. Hal itu pula akan mempengaruhi pola interaksi dan komunikasi yang terjalin dalam keluarga. Berdasarkan sebuah teori sistem, bila salah seorang anggota keluarga mengalami gangguan kejiwaan, makan anggota keluarga yang lain akan terpengaruh dan mengalami perubahan dalam berbagai aspek. Karena pada titik ini, orang tua akan sulit membedakan mana permasalahan yang merupakan masalah dirinya dan anaknya, serta apa yang menjadi kebutuhannya dan kebutuhan anaknya.

Baca juga: Perlukah Waspada Terhadap Bahaya Postpartum Psychosis?

Dampak yang dihasilkan oleh gangguan kejiwaan ini membuat sang anak kerap merasa beban karena perasaan bersalah yang ditimbulkan oleh masalah yang dialami orang tua. Tak hanya itu, mereka juga dibebani tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan orang tua yang sedang bermasalah tersebut, baik kebutuhan emosional maupun jasmani. Akibatnya sang anak dipaksa untuk menjalankan peranan layaknya orang dewasa.

Orang tua yang mengalami gangguan jiwa juga kerap menyalahkan anak mereka karena dianggap sebagai sumber masalah. Sehingga anak-anak sering menjadi sasaran pelampiasan secara agresif dari orang tuanya. Anak–anak kerap menerima perlakuan kasar dan kejam dan dijadikan sasaran mudah bagi pelampiasan dorongan agresif orang tua dengan gangguan kejiwaan.

Gangguan jiwa yang dialami orang tua terlebih yang bersifat agresif seringkali mendatangkan suasana teror dalam kehidupan sang anak, terutama jika kekejaman atau pun kekerasan tersebut terjadi secara tiba-tiba. Dampaknya tentu saja sulit bagi anak untuk bisa mengembangan rasa percaya diri dan kepercayaan pada orang lain dikarenakan sulitnya mereka menemukan lingkungan yang memberikan rasa aman.

(MDP)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.