Pernikahan (Marriage)

PERNIKAHAN (MARRIAGE)
11 Januari 2021

“Bulan Depan Anakku Lahir, Siap Nggak Ya Aku Jadi Orang Tua?”

Seri: Mempersiapkan Diri Menjadi Orang Tua
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Orami

Cerita Pengantar

“Dess….HPL kamu bulan depan kan ya? Wahhhh gimana nih rasanya mau jadi seorang Ibu?” Tanya Tika kepada sahabatnya.
“Aku deg-degan bangeettUdah nggak sabar ketemu sama dedek bayi…” Jawab Desi sambil mengelus perutnya.

“Aku udah nyiapin tas bersalin yang isinya sudah lengkap, kain bedong, baju-baju bayi, popok, minyak telon, gendongan, pokoknya siap angkut deh kalau sudah waktunya ke rumah sakit nanti!” Desi menambahkan dengan semangat.

“Hmmmm, tapi sudah siap belum ya aku jadi seorang ibu?” tanya Desi.

“Des, sambil menunggu kelahiran si kecil, coba deh ajak pasangan untuk cari bacaan tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan calon orang tua sebelum si kecil lahir, siapa tahu bisa menjawab kekhawatiranmu. Aku ada referensi nih… Parenting Eduseries dari Orami, coba baca deh!” Saran Tika kepada sahabatnya.


Moms and Dads,

Apakah merasa familiar dengan cerita di atas? Atau saat ini Moms and Dads sedang mengalaminya? Sebenarnya, apa sih yang perlu dipersiapkan untuk menjadi orang tua untuk si kecil? Dalam Parenting Eduseries Seri Mempersiapkan Diri Menjadi Orang Tua ini, Moms and Dads akan belajar mengenai:

  1. Memaknai perjalanan menikah dan memiliki Anak
  2. Kenapa perlu mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua?
  3. Perubahan apa saja yang akan Moms and Dads hadapi setelah memiliki Anak?
  4. Persiapan yang bisa Moms and Dads lakukan untuk menjadi orang tua


Bagian 1: Memaknai Perjalanan Menikah dan Memiliki Anak

beautiful-young-couple-is-talking-smiling-while-walking-beach-sunny-day.jpg

Moms and Dads,

Setiap pasangan yang menikah, pasti kemudian mendambakan untuk memiliki anak. Menikah dan memiliki anak seolah menjadi dua hal yang dianggap sebagai satu paket lengkap bagi seseorang yang akan membangun sebuah keluarga. Hal ini sejalan dengan dengan tahapan psikososial Erik Erikson (1963), yaitu Generativity vs Stagnation, dimana pada tahapan ini salah satu cara pencarian makna hidup adalah melalui adanya kesempatan untuk terlibat langsung dalam mengembangkan, mengasuh ataupun membimbing keturunannya.

Namun, nyatanya, menikah dan memiliki anak tidak semudah yang dibayangkan ya, Moms and Dads. Ada pasangan yang harus melampaui masa penantian terlebih dahulu karena alasan medis atau yang lain. Ada juga pasangan yang bisa langsung segera memiliki anak setelah menikah, seperti yang diharapkan.

Bagi Moms and Dads yang sebentar lagi akan menyambut kelahiran si kecil, gunakan waktu bersama pasangan untuk membuat diri lebih siap menjalankan peranan baru sebagai orang tua.

Catatan Kecil:

Moms and Dads, selain membuat daftar dan ceklis persiapan untuk kelahiran si kecil, Anda dan pasangan juga bisa mulai mendiskusikan mengenai kesiapan lain yang tak kalah penting, seperti menyiapkan diri menjadi orang tua sampai dengan pemilihan pola asuh yang akan diterapkan.


Bagian 2: Kenapa Perlu Mempersiapkan Diri untuk Menjadi Orang Tua?

happy-young-parents-with-little-daughter-stand-blooming-pink-tree-outside.jpg

Moms and Dads, tahukah bahwa ketidaksiapan orang tua untuk memiliki anak berdampak buruk bagi tumbuh kembang seorang anak? Dan sayangnya ketidaksiapan ini hadir dalam bentuk seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual maupun kekerasan emosi.


Berdasarkan laporan KPAI (tahun 2011 – 2016) bahwa 4.294 kasus kekerasan pada anak usia 1 – 14 tahun dilakukan oleh keluarga dan pengasuh, dikamuflase sebagai salah satu teknik pendisiplinan agar anak mengikuti arahan orang tua.


Jadi, akan menjadi sangat penting bagi calon orang tua untuk mempersiapkan dirinya. Selain itu, sudah semestinya keluarga merupakan tempat utama buat anak untuk mendapatkan rasa aman, cinta, dukungan dan penerimaan tanpa syarat yang akhirnya akan menjadi bekalnya untuk bertumbuh menjadi orang dewasa yang sehat.

Catatan Kecil:

Moms and Dads, tentunya Anda tidak dituntut untuk sempurna. Anda hanya perlu memahami dan menyadari bahwa menjadi orang tua itu juga merupakan proses belajar seumur hidup.

Yang paling penting adalah bukan berusaha untuk menjadi orang tua yang sempurna, tetapi berusahalah untuk menjadi orang tua yang mau berkembang dan bertumbuh bersama dengan anak-anak kita. Tetap semangat ya Moms and Dads!


Bagian 3: Perubahan Apa Saja yang Akan Moms and Dads Hadapi Setelah Memiliki Anak?

concerned-new-parents-holding-rocking-crying-baby.jpg

Moms and Dads, hadirnya seorang anak mampu memberikan perubahan pada dinamika relasi dalam pernikahan. Mulai dari perubahan yang terlihat cukup remeh seperti jadwal, kegiatan atau kesukaan hingga yang lebih besar yaitu keputusan hidup seperti pindah rumah. Berikut ini adalah perubahan-perubahan yang akan Moms and Dads hadapi bersama:

  1. Perubahan Dinamika Relasi dengan Pasangan
    Salah satu yang sering menjadi sumber tantangan adalah perubahan dinamika relasi dengan pasangan. Awalnya, Moms and Dads hanya memiliki fokus pada pasangan. Namun fokus akan berubah sejak hadirnya anak di tengah pernikahan. Jika Moms and Dads tidak mampu memberikan respons secara cepat, hal ini maka dapat menimbulkan ketimpangan dalam relasi pernikahan.

    Bahkan, pada budaya tertentu di Indonesia, kehadiran seorang anak dengan jenis kelamin tertentu mampu menjadi penentu sukacita dan kebahagiaan dalam sebuah pernikahan.

  2. Perubahan Gaya Hidup
    Ketika anak hadir jadi bagian dari kehidupan keluarga, maka ada sebuah perubahan gaya hidup yang mengikutinya. Hal-hal yang menjadi kesukaan saat masih belum memiliki anak, menjadi hilang tergantikan dengan gaya hidup yang baru. Misalnya, dulu jika weekend datang biasanya Moms akan pergi ke salon untuk menikmati me-time, setelah punya anak kebiasaan ke salon berganti menjadi membawa anak pergi ke taman bermain.

    Perubahan-perubahan kebiasaan jika tidak diantisipasi dengan baik, bisa membuat Moms and Dads merasa tidak memiliki ruang untuk menjadi pribadinya sendiri setelah memiliki anak. Padahal, pertumbuhan ruang pribadi tetap masih diperlukan agar anak bisa memiliki orang tua yang sehat.

    Diperlukan kerjasama yang baik antara Moms and Dads untuk saling mengerti kebutuhan pasangan. Misalkan, Dads bisa menggantikan Moms menjaga si kecil agar Moms bisa me-time di salon. Atau Sebaliknya, Moms bisa memberi waktu kepada Dads untuk bermain games favoritnya.

  3. Perubahan Fokus Kehidupan
    Bagi orang tua kehadiran anak merubah fokus kehidupan. Rencana-rencana yang awalnya sudah ditetapkan akan berubah karena kehadiran si kecil, misalnya, ketika Moms harus memutuskan untuk berhenti bekerja karena anak membutuhkan perhatian penuh agar bisa tumbuh berkembang dengan baik. Hal ini bisa menjadi salah satu sumber tekanan baru bagi orang tua, terutama ketika orang tua tidak cukup siap untuk menghadapi perubahan besar yang terjadi karena kehadiran anak-anak mereka.



Catatan Kecil:

Moms and Dads, perubahan selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Namun, jika Moms and Dads bisa saling terbuka satu sama lain, paling tidak sudah menyelesaikan 50% dari proses adaptasi ini. Yang paling penting adalah untuk selalu saling bergandengan tangan, dan mendukung satu sama lain karena memiliki anak adalah perjalanan bersama.


Bagian 4: Persiapan Apa Saja yang Bisa Moms and Dads Lakukan untuk Menjadi Orang Tua

pregnant-couple.jpg

Moms and Dads, berikut adalah hal yang perlu dipersiapkan menjelang kehadiran si kecil:

  1. Kesiapan Fisik & Mental Menjelang Waktu Persalinan
    Pemeriksaan medis diperlukan untuk bisa memastikan bahwa Moms and Baby yang ada di dalam kandungan dalam keadaan sehat. Moms and Dads juga akan diskusi dengan dokter untuk menentukan metode persalinan, apakah normal, caesar, atau bahkan hypnobirthing?

    Dads yang menemani Moms melakukan kontrol ke dokter kandungan secara rutin, akan menjadi dukungan mental yang luar biasa bagi Moms. Selain itu, dengan mengikuti perkembangan kandungan dan persiapan persalinan, secara tidak langsung juga membuat Dads berlatih dan lebih siap secara mental.

    Mengikuti kelas persiapan melahirkan juga menjadi opsi yang baik untuk Moms. Selain akan belajar mengenai senam hamil, belajar teknik yang diperlukan saat melahirkan (teknik bernafas, teknik mengejan), Moms juga dapat menguatkan mental dan mengurangi kekhawatiran dengan terhubung dan saling support dengan calon ibu lainnya.

  2. Kesiapan Finansial
    Moms and Dads, walaupun ada pepatah yang menyatakan bahwa setiap anak memiliki rezekinya masing-masing namun ada baiknya jika Moms and Dads sudah memiliki pondasi finansial yang cukup, agar keluarga tetap stabil saat menyambut kehadiran si kecil sebagai anggota keluarga baru.

    Moms and Dads perlu memilih tempat bersalin yang sesuai dengan kondisi finansial namun memiliki kelengkapan fasilitas medis yang diharapkan. Selain biaya persalinan, Moms and Dads juga perlu mengingat bahwa harga kebutuhan hidup (barang dan jasa) akan terus mengalami kenaikan sebesar 3% - 5% setiap tahunnya. Oleh sebabnya, perencanaan finansial keluarga perlu dilakukan dengan bijak dan hati-hati.

  3. Kesiapan Psikologis Sebagai Orang Tua
    Orang tua yang matang secara psikologis akan mampu untuk memenuhi kebutuhan anaknya, tanpa merasa tersaingi. Salah satu yang biasanya menjadi tantangan adalah kemampuan orang tua untuk mengatur prioritas.

    Pada anak-anak yang masih kecil, kehadiran orang tua selama 24 jam menjadi sangat penting. Di sisi lain, pasti Moms and Dads memiliki hal-hal / prioritas lain yang harus diselesaikan. Apakah ini artinya, orang tua tidak boleh memiliki kebutuhan sendiri? Tentu tidak, namun pada orang tua yang belum matang secara psikologis maka kebutuhan anak lebih sering diabaikan.

    Orang tua yang matang secara psikologis akan lebih mampu untuk menjaga kesehatan mental dirinya dengan menyadari munculnya tanda-tanda kelelahan psikis, sehingga akan berusaha untuk mengatasi hal tersebut sebelum mempengaruhi dinamika interaksi dengan pasangan maupun anak-anak. Kesiapan psikologis tidak hanya untuk calon orang tua baru, Moms and Dads yang akan menambah anak pun masih perlu untuk mempersiapkan kondisi psikologis.

  4. Kesiapan Penerapan Pola Asuh
    Salah satu sumber rasa aman dari anak adalah dapat bertumbuh dan berkembang dalam satu ritual tertentu, baik dalam bentuk ritual keagamaan atau budaya tertentu. Oleh karena itu, ada baiknya jika Moms and Dads sudah sepakat terlebih dahulu dalam menetapkan fondasi nilai anak agar dapat bertumbuh menjadi pribadi yang aman.

    Beberapa hal yang bisa menjadi topik diskusi adalah mengenai nilai agama yang mau diterapkan, dinamika keterlibatan orang tua (ayah dan ibu) dalam pengasuhan, atau nilai-nilai kehidupan yang ingin dikembangkan.



Catatan Kecil:

Menjadi orangtua adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Sesempurna apapun persiapan yang dilakukan, namun pasti akan ada kejutan baru yang menyertai. Nikmatilah setiap perjalanan, jangan hanya mengejar kesempurnaan sebagai orangtua. Anak lebih membutuhkan orangtua yang mau memperbaiki diri, karena dari situlah Anak belajar mengenai kehidupan yang sesungguhnya.


QUOTE - Sudah Siapkah Aku Jadi orangtua01.jpg


Moms and Dads, jadilah yang pertama mereview Parenting Eduseries!

Klik di sini!


Baca seri Parenting Eduseries lainnya!


Pranala Luar/Referensi

  • http://jabar.bkkbn.go.id/
  • https://www.verywellmind.com/erik-eriksons-stages-of-psychosocial-development-2795740
  • https://tirto.id/737-persen-anak-indonesia-mengalami-kekerasan-di-rumahnya-sendiri-cAnG
Artikel Terkait