3-5 tahun

3-5 TAHUN
24 Januari 2020

Cara Mengajarkan Budi Pekerti Kepada Balita

Selain memberi contoh, orang tua bisa mengajarkan budi pekerti balita dengan cara-cara berikut
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Dina Vionetta

Orang tua perlu tahu bahwa proses mengajarkan budi pekerti balita tidak sebentar. Namun, setiap orang tua pasti ingin anaknya bersikap sopan di mana pun.

Dibutuhkan latihan, kesabaran, dan dorongan positif dalam mengajarkan budi pekerti balita.

Yuk, simak penjelasannya di sini.

Mengikuti Sifat Orang Tua

toddlers-making-friendsnarrow.jpg

Foto: raisingchildren.net.au

Menurut dr. Bill Sears, dokter anak dan pakar perilaku anak dalam situsnya, perilaku anak merupakan cerminan dari perilaku orang tuanya. Itu sebabnya, ada anak yang cepat menyerap budi pekerti baik, dan ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama.

Sejak bayi, anak memperhatikan dan meniru perilaku orang tua. Bila Moms dan Dads konsisten dalam menerapkan sikap-sikap positif yang mencerminkan budi pekerti baik, maka Si Kecil pun akan mengikutinya.

Dikutip dari situs web American Academy of Physician, tidak ada satu cara ampuh untuk mengajarkan budi pekerti balita. Cara yang efektif adalah yang sesuai dengan usia Si Kecil.

Mengajarkan Budi Pekerti Balita

blog_sec_01_1.png

Foto: nuluv.com

Berikut beberapa cara mengajarkan budi pekerti balita yang dapat Moms dan Dads praktikkan sehari-hari:

  • Dorong anak untuk selalu bersikap sopan dan berperilaku baik. Bila Moms melihat ia mempraktikkan sikap tersebut, berikan imbalan berupa pujian alih-alih barang untuk menyemangatinya.
  • Berikan perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada anak, namun diimbangi dengan disiplin dan ketegasan.
  • Bersikap dan berbicaralah kepada anak dengan cara yang Moms dan Dads ingin Si Kecil tiru.
  • Konsisten dalam menegur sikap atau perilaku yang buruk.
  • Saat anak bersikap atau berperilaku buruk, katakan bahwa sikap atau perilaku seperti itu jelek dan tidak boleh diulangi.
  • Hindari mengomel saat anak bersikap atau berperilaku buruk karena tidak akan didengar oleh Si Kecil. Fokuslah dengan hanya mengucapkan kata-kata yang Moms ingin Si Kecil dengar dan lakukan.
  • Hindari memberi label atau julukan yang bersifat negatif kepada Si Kecil. Misalnya, saat anak tidak berani belajar bersepeda karena takut jatuh, jangan menyebutnya penakut atau tidak berani. Sebagai gantinya, dukung dan semangati Si Kecil dengan bilang “Enggak apa-apa, besok kita coba lagi”.

Berkelanjutan Hingga Dewasa Nanti

razvitie-rebenka-v-3-goda-3.jpg.png

Foto: fr2.htgetrid

Hasil dari mengajarkan budi pekerti balita memang tidak serta merta akan terlihat. Bahkan, terkadang anak akan melakukan tindakan berlawanan dengan apa yang orang tua ajarkan. Bila ini yang terjadi, Moms dan Dads tidak perlu terlalu khawatir.

Dalam mengajarkan empati, misalnya, menurut Michele Borba, EdD, penulis buku 12 Simple Secrets Real Moms Know, meski sudah diajari, kadang anak tidak paham kenapa mereka harus bersikap baik terhadap orang lain sebelum mereka mengalami kejadian tidak enak dan merasa sedih.

Ahli dan pelatih etiket Emily Post pernah berkata, “Sopan santun adalah kesadaran yang peka terhadap perasaan orang lain. Orang yang memiliki kesadaran itu otomatis memiliki sopan santun”.

Anak perlu memiliki budi pekerti yang baik agar mereka dapat membaur dengan baik di masyarakat saat dewasa.

Artikel Terkait