Parenting Islami

14 Juni 2021

Sejarah Perang Jamal dan Perkembangan Sejarah Islam, Yuk Ceritakan pada Si Kecil!

Perang Jamal terjadi antara pihak Ali bin Abi Thalib dan Aisyah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Ada banyak sejarah dalam agama Islam yang bisa orang tua ceritakan pada anak sebagai tambahan ilmu pengetahuan. Salah satunya mengenai perang Jamal atau perang unta di wilayah Basra, Irak pada tahuh 656 M.

Disebut dengan nama perang unta karena pada saat itu, prajurit di medan perang Jamal banyak yang mengendarai unta. Selain itu, perang Jamal juga dikenal dengan nama lain perang Basra karena terjadi di Basra, Irak.

Pemicu utama perang Jamal adalah adanya adu domba oleh seseorang tak bertanggungjawab pada pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan yang berpihak kepada Aisyah. Padahal saat itu, keduanya berusaha bekerja sama untuk mengusut pembunuhan yang menimpa Utsman bin Affan.

Perang yang terjadi akibat ulah oknum provokator tersebut menyisakan duka yang mendalam dalam sejarah Islam karena banyaknya korban jiwa. Pasukan Ali bin Abi Thalib dan Aisyah sama-sama banyak dan kuat sehingga saat perang Jamal terjadi, pertumpahan darah tak terelakan lagi.

Baca Juga: 3 Serial dan Film Kartun Yang Mengajarkan Anak Tentang Agama Islam

Penyebab Perang Jamal

Penyebab Perang Jamal

Foto: Pexels/Tomáš Malík

Awalnya, terjadi suatu peristiwa yang menghebohkan kaum muslimin pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, yaitu terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Beliau terbunuh saat sedang membaca Alquran, darahnya bercucuran dalam mushaf yang beliau baca.

Saat itu, Ali bin Abi Thalib yang menggantikan khilafah dituntut untuk mengusut pembunuhan yang terjadi pada Utsman bin Affan.

Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam lah yang mulanya berbaiat kepada pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Aisyah, yang dikenal mempunyai analisa yang tajam terhadap teks-teks keagamaan, menuntut hal yang sama seperti Muawiyyah, supaya Ali mengusut tuntas siapa pembunuh Utsman.

Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam yang saat itu berada di Madinah, meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Makkah dalam rangka menunaikan umrah.

Namun, setelah tiba di Makkah dan bertemu dengan Aisyah, kedua sahabat itu akhirnya sepakat untuk sama-sama menuntut Ali agar mengusut dan menghukum para pembunuh Utsman.

Baca Juga: Kisah Nabi Yusuf dan Berbagai Nilainya yang Bisa Diajarkan pada Anak

Terjadinya Perang Jamal

akhir dari perang jamal.png

Foto: al-ibar.net

Bagi mereka, persoalan qishash terhadap pembunuh Utsman harus segera diselesaikan, sebab khawatir kejadian serupa akan terulang kembali di masa yang akan datang.

Ali sebenarnya paham dan memaklumi tuntutan para sahabat itu. Namun, saat itu Ali berada dalam posisi terjepit sehingga qishash pun ditangguhkan.

Ali kelihatannya ingin membentuk kekuatan terlebih dahulu dari kalangan kaum muslim, terutama dari para pembesar sahabat. Jika itu sudah terbentuk, maka kekuatan hukum untuk mengusut tuntas siapa pembunuh khalifah Utsman akan dapat dilaksanakan dengan lancar.

Bagi Ali, persoalan qishash baru dapat ditegakkan manakala situasi politik sudah tenang dan kaum muslimin sudah bersatu pada dalam satu pemerintahan yang kokoh.

Kemudian ada pengaduan dan tuntutan dari pihak keluarga yang jadi ahli waris Utsman. Sebab, pembunuhan Khalifah Utsman bukanlah kriminal biasa melainkan tragedi politik yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Lagi pula jumlah pembunuh Utsman yang sebenarnya belum diketahui secara pasti, sementara para pendukung yang terlibat di dalamnya datang dari berbagai kabilah dan suku yang berbeda. Sangat rawan bagi Ali dan bagi keutuhan umat jika ia ceroboh menetapkan qishash kepada para tersangka tanpa menunggu situasi yang tepat.

Bagaimanapun, fanatisme kelompok akan menjadi dasar bagi tiap kabilah untuk membela anggota kabilahnya yang dituntut hukuman qishash meskipun umpamanya terbukti benar-benar terlibat. Pada akhirnya penegakkan qishash itu malah akan menimbulkan peperangan baru antar kabilah dari keluarga penuntut dengan kabilah dari keluarga terdakwa.

Adanya perbedaan pandangan antara kedua kubu itulah yang membuat peperangan pun tidak dapat dihindari.

Baca Juga: 11+ Keutamaan Membaca Alquran, Salah Satunya Mendapat Kedudukan Tinggi di Surga!

Banyak Korban Syahid Berguguran

terjadinya perang unta.jpg

Foto: syakal.iainkediri.ac.id

Pada hari Kamis pertengahan bulan Jumadil Akhir, Perang Jamal meletus. Sebelum pertempuran dimulai, Sahabat Ali membacakan salah satu mishaf dan berharap perang tidak jadi dilakukan.

Namun, pihak Aisyah tidak mau mendengarkannya. Salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib justru terbunuh, dan pasukannya juga dihujani menggunakan anak panah.

Akhirnya Ali mengatakan kepada pasukannya bahwa perang sudah boleh dilakukan dengan beberapa ketentuan. Mereka tidak boleh menyerang terlebih dahulu, tidak boleh membunuh yang terluka, tidak boleh melukai anak-anak dan wanita, serta ketentuan lainnya.

Sedangkan Aisyah telah siap di atas unta dengan pakaian besi yang lengkap.

Ibnu Katsir menyebut kurang lebih dari sepuluh ribu orang dari kedua belah pihak perang Jamal menjadi korban. Abu Khatsamah dari Wahab bin Jarir meriwayatkan bahwa jumlah pasukan Basrah yang terbunuh mencapai 2500 orang.

Sedangkan riwayat lain menyebutkan bahwa jumlah korban dalam Perang Jamal berkisar antara 2500 – 6000 orang.

Di sisi lainnya lagi, pasukan Ali ibn Abi Thalib RA kehilangan 400 – 600 sebagai korban.

Bahkan dua tokoh sahabat, Thalhah dan Zubeir yang oleh Rasulullah SAW dijamin masuk surga, meninggal dunia.

Thalhah mendapatkan serangan anak panah di kakinya. Ia dirawat di salah satu rumah warga di Basra karena mengalami pendarahan yang hebat. Akhirnya Thalhah meninggal karena telah kehabisan banyak darah.

Sementara Zubair melarikan diri dengan kembali ke Madinah setelah perang Jamal selesai. Namun, Amru bin Jurmuz yang mengetahui bahwa Zubair melarikan diri mengikutinya kembali ke Madinah. Amru pun membunuh Zubair di tengah perjalanan.

Baca Juga: 11+ Ide Nama Bayi Perempuan Islami dari Istri Nabi Muhammad SAW

Akhir Perang Jamal

Akhir Perang Jamal

Foto: Pexels/Miroshnichenko

Perang itu sendiri dimenangkan oleh Ali bin Abi Thalib. Ali beserta pengikutnya kemudian mengurusi para korban, menyolati, dan menguburkannya.

Ketika itu, Aisyah segera turun dari pelana unta setelah perang selesai. Ia pun dibuatkan tenda di sekitar tempat peperangan.

Usai tinggal di Basra selama beberapa hari, Ali memulangkan Aisyah ke Madinah dengan penuh penghormatan.

Perang Jamal yang terjadi membuka mata Aisyah karena banyak provokator yang sengaja menyelendup baik ke pihak Ali maupun Aisyah hingga perang tak terelakkan.

Sejak kejadian tersebut, Aisyah menghabiskan umurnya untuk beribadah dan mengajarkan hadits kepada para penuntut ilmu di Madinah.

Ia menjauhkan diri dari hiruk pikuk percaturan politik yang terus bergejolak sampai akhir hayatnya. Ia juga banyak merenung dan menyesali perbuatannya karena ikut terlibat dalam peperangan.

Adapun dampak dari perang Jamal, yaitu banyaknya korban syahid yang berjatuhan dan kerugian materil lainnya. Padahal, seharusnya perang ini dapat dihindari, tetapi karena adanya provokasi, perang Jamal terjadi.

Itulah informasi singkat mengenai perang Jamal dalam sejarah agama Islam yang dapat Moms ceritakan pada anak. Semoga bermafaat, ya.

  • https://www.selasar.com/perang-jamal/
  • http://p2k.unugha.ac.id/id3/1-3050-2947/Perang-Jamal_34663_unugha_p2k-unugha.html
  • https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/24863/1/AHMAD%20RIDHAWI.pdf
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait