13 Februari 2023

Penyebab dan Risiko Diabetes pada Anak yang Kini Meningkat!

Diabetes tipe 1 beda dengan diabetes tipe 2, lho

Seperti apa sebenarnya penyakit diabetes pada anak? Berikut ulasan lengkapnya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan bahwa kasus diabetes pada anak meningkat 70 kali lipat per Januari 2023, dibandingkan tahun 2010.

Penderita diabetes pada anak menurut IDAI ada 1.645 pasien yang tersebar di 13 kota, yakni Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Surabaya, Malang, Denpasar, Makassar, dan Manado.

Diabetes pada anak paling banyak menyerang anak usia 10-14 tahun dengan persentase 46,23 persen.

Lalu, 31,05 persen berusia 5-9 tahun, 19 persen usia 0-4 tahun, dan 3 persen sisanya diderita anak usia lebih dari 14 tahun.

Selama ini yang banyak dibicarakan adalah diabetes tipe 2 atau diabetes melitus. Padahal, ada pula diabetes tipe 1 yang justru kerap dialami anak-anak.

Karena itu, Moms perlu mengetahui apa saja gejala diabetes pada anak, khususnya diabetes tipe 1.

Diabetes tipe 1 adalah penyakit yang disebabkan oleh insulin. Insulin dibutuhkan agar glukosa (gula dari makanan) dapat berpindah dari aliran darah ke sel untuk digunakan sebagai energi.

Tubuh penderita diabetes tipe 1 tidak dapat menghasilkan insulin. Akibatnya, glukosa terjebak di aliran darah dan membuat kadar glukosa dalam darah tinggi.

Menurut situs Healthy Children's, diabetes tipe 1 menyerang 1 dari 400 anak, remaja, dan dewasa muda di bawah usia 20 tahun.

Persentase balita yang mengalami penyakit tersebut lebih rendah lagi. Diabetes tipe 1 paling banyak dialami anak usia lima tahun ke atas.

Namun, menurut jurnal Paediatrics Child Health edisi Januari-Februari 1999, tampak kecenderungan diabetes tipe 1 terdiagnosis pada anak-anak yang lebih belia.

Diabetes tipe 1 beda dengan diabetes tipe 2 yang sering dikaitkan dengan obesitas dan banyak dialami orang dewasa (walau bisa juga terjadi pada anak usia di atas 10 tahun).

Baca Juga: Gejala Diabetes Pada Anak dan Pengobatannya

Penyebab Diabetes pada Anak Tipe 1

Diabetes pada Anak
Foto: Diabetes pada Anak (Parenting.firstcry.com)

Penyebab pasti dari diabetes pada anak tipe 1 tidak diketahui.

Namun, pada kebanyakan orang dengan diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh yang biasanya melawan bakteri dan virus berbahaya secara keliru menghancurkan sel penghasil insulin (pulau kecil) di pankreas.

Faktor genetik dan lingkungan tampaknya berperan dalam proses ini.

Setelah sel-sel pulau kecil di pankreas dihancurkan, anak Moms akan menghasilkan sedikit atau tidak sama sekali insulin.

Insulin melakukan pekerjaan penting untuk memindahkan gula (glukosa) dari aliran darah ke sel-sel tubuh. Gula memasuki aliran darah saat makanan dicerna.

Tanpa cukup insulin, gula menumpuk di aliran darah anak, yang dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa jika tidak ditangani, termasuk mengalami diabetes pada anak.

Baca Juga: Yuk Ketahui 5 Mitos dan Fakta Seputar Diabetes Pada Anak

Gejala Diabetes pada Anak Tipe 1

Gejala Diabetes Tipe 1 pada Anak
Foto: Gejala Diabetes Tipe 1 pada Anak (Rd.com)

Gejala diabetes pada anak tipe 1 kebanyakan karena kurangnya energi akibat ketidakmampuan tubuh menggunakan zat gizi yang masuk.

Tingginya kadar gula dalam aliran darah juga menarik air dari tubuh ke aliran darah lalu turun ke urin, sehingga menyebabkan dehidrasi.

Gejala diabetes tipe 1 pada anak dan bayi bisa terjadi mendadak, tapi seringkali sulit terdiagnosis.

Contohnya seeprti perilaku aneh mendadak, seperti orang mabuk, napas berbau seperti buah, manis, atau seperti wine, sulit bernapas.

Si Kecil juga bisa mendengkur saat bernapas, luar biasa mengantuk atau tidak berenergi, merasa haus yang hebat dan terus menerus, nafsu makan besar dan rasa lapar ekstrem, turun berat badan secara tiba-tiba.

Selain itu, gejalanya juga bisa Si Kecil lebih sering buang air kecil (popok lebih cepat penuh atau anak lebih sering mengompol), rewel, dan perubahan mendadak pada penglihatan, misalnya pandangan kabur (jika kadar gula sangat tinggi).

Anak perempuan mungkin mengalami infeksi jamur. Penurunan berat badan seringkali merupakan gejala umum sebelum diagnosis.

Diabetes UK mendorong orang untuk waspada terhadap "4 T" pada anak-anak:

  • Toilet: Sering menggunakan kamar mandi, bayi yang popoknya lebih berat, atau mengompol setelah dikeringkan selama beberapa waktu.
  • Thirsty: Minum lebih banyak cairan dari biasanya, tetapi tidak mampu memuaskan dahaga.
  • Tired: Merasa lebih lelah dari biasanya.
  • Thinner: Penurunan berat badan.

Menurut survei tahun 2012 dari Diabetes U.K., hanya 9 persen orang tua yang dapat mengidentifikasi empat gejala utama diabetes tipe 1. Pada 2013, angka ini meningkat menjadi 14 persen.

Beberapa kondisi diabetes pada anak tidak menerima diagnosis sampai gejala mereka sudah parah, dan, dalam beberapa kasus, berakibat fatal.

Penderita diabetes pada anak dan remaja biasanya mengalami empat gejala utama, tetapi banyak anak hanya memiliki satu atau dua gejala.

Dalam beberapa kasus, mereka tidak akan menunjukkan tanda-tanda.

Jika seorang anak tiba-tiba menjadi lebih haus atau lelah atau buang air kecil lebih sering dari biasanya, orang tua mungkin tidak menganggap bahwa ini adalah gejala dari diabetes.

Dokter juga, karena diabetes lebih jarang terjadi pada anak-anak yang masih sangat kecil, mungkin menghubungkan gejala-gejala tersebut dengan penyakit lain yang lebih umum.

Karena alasan ini, mereka mungkin tidak mendiagnosis diabetes sekaligus.

Penting untuk mewaspadai kemungkinan tanda dan gejala diabetes pada anak agar bisa mendapatkan diagnosis dan pengobatan secepatnya.

Baca Juga: Anak IVF Berisiko Diabetes dan Hipertensi

Faktor Risiko Diabetes pada Anak Tipe 1

Faktor Risiko Diabetes pada Anak
Foto: Faktor Risiko Diabetes pada Anak (Freepik.com)

Faktor risiko diabetes tipe 1 pada anak-anak bisa terjadi karena:

  • Sejarah keluarga. Siapapun yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes tipe 1 memiliki sedikit peningkatan risiko terkena kondisi tersebut.
  • Genetika. Gen tertentu menunjukkan peningkatan risiko diabetes tipe 1.
  • Ras. Di Amerika Serikat, diabetes tipe 1 lebih umum di antara anak-anak kulit putih keturunan non-Hispanik daripada di antara anak-anak dari ras lain.
  • Virus tertentu. Paparan berbagai virus dapat memicu kerusakan autoimun dari sel-sel pulau kecil.

Diagnosis dan Penanganan Diabetes pada Anak Tipe 1

Diabetes Tipe 1 pada Anak
Foto: Diabetes Tipe 1 pada Anak (Dailymail.co.uk)

Diagnosis diabetes pada anak dibuat ketika Si Kecil mengalami gejala-gejala tadi disertai kadar gula darah dan keton dalam urin yang tidak wajar tingginya.

Selain itu, diabetes juga bisa didiagnosis dengan tes hemoglobin A1c (HbA1c) yang menunjukkan rata-rata gula darah selama tiga bulan terakhir. Jika hasilnya lebih dari sama dengan 6,5%, berarti Si Kecil menderita diabetes.

Diabetes tipe 1 adalah penyakit seumur hidup yang tidak dapat disembuhkan. Namun, pemberian insulin sangat efektif untuk penderita kondisi ini.

Tantangan penanganan diabetes tipe 1 pada anak-anak adalah harus menyeimbangkan pola makan dan aktivitas fisik anak yang aktif dengan kontrol metabolik yang cukup.

Sebab, kontrol metabolik yang terlalu ketat bisa membuat anak mengalami hipoglikemia berat. Hal ini bisa menyebabkan masalah kognitif kelak.

Baca Juga: Apakah Anak yang Minum Susu Cokelat Berisiko Terkena Diabetes?

Gejala Diabetes pada Anak Tipe 2

Diabetes tipe 2 pada anak-anak adalah penyakit kronis yang memengaruhi cara tubuh anak memproses gula (glukosa).

Tanpa pengobatan, kelainan ini menyebabkan gula menumpuk di dalam darah, yang dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang yang serius.

Walau dulu lebih sering terjadi pada orang dewasa, tapi kini diabetes tipe 2 pada anak terus meningkat karena dipicu oleh epidemi obesitas. Lalu, apa saja tanda anak mengalami diabetes tipe 2?

1. Tingkat A1C lebih tinggi dari 6,5 Persen

Dikutip dari Mayo Clinic, tanda anak mengalami diabetes tipe 2 biasanya bisa didiagnosis menggunakan tes darah A1C.

Jika tingkat A1C menunjukkan angka 6,5 persen atau lebih tinggi pada dua tes terpisah berarti anak menderita diabetes.

Selain tes darah A1C, Moms juga bisa memeriksakan kondisi anak dengan tes gula darah acak, tes gula darah puasa, dan tes toleransi glukosa oral.

2. Terus Merasa Haus

Anak Merasa Haus
Foto: Anak Merasa Haus (Freepik.com)

Anak yang mengalami diabetes tipe 2 akan terus merasa haus dan sering buang air kecil.

Kelebihan gula yang menumpuk dalam aliran darah anak dapat menarik cairan dari jaringan-jaringan di dalam tubuhnya.

Akibatnya anak menjadi mudah haus dan jadi lebih sering buang air kecil daripada biasanya.

3. Mudah Lelah

Saat anak mengalami kekurangan gula dalam tubuhnya, maka ia akan sangat mungkin untuk mengalami kelelahan.

Kenapa? Ini terjadi karena pankreas penderita diabetes tidak menghasilkan cukup insulin, atau bahkan tubuhnya tidak menggunakan insulin secara efektif.

Padahal, sel-sel dalam tubuh mereka membutuhkan insulin untuk menyerap glukosa dari darah.

Jika sel-sel tidak dapat mengambil cukup glukosa, maka glukosa atau gula dapat menumpuk di dalam darah. Sedangkan sel-sel tubuh anak membutuhkan glukosa untuk menyediakan energi.

Baca Juga: Moms, Ini 8 Penyebab Tubuh Mudah Lelah dan Tips Mengatasinya

4. Penglihatan yang Kabur

Penglihatan Kurang Jelas
Foto: Penglihatan Kurang Jelas (Freepik.com)

Tanda anak mengalami diabetes tipe 2 yang paling umum adalah penglihatan yang kabur. Ini mengacu pada hilangnya ketajaman penglihatan anak dan ketidakmampuan anak untuk melihat detail halus.

Namun, penglihatan kabur ini tidak bersifat permanen. Penglihatan Si Kecil tetap dapat kembali normal setelah kadar glukosa darahnya kembali pada angka kisaran normal.

5. Daerah Kulit yang Gelap

Apakah Moms menemukan kulit berwarna gelap di sekitar area kulit leher atau ketiak anak? Ini juga merupakan tanda anak mengalami diabetes tipe 2.

"Bercak kulit gelap di leher, di bawah lengan, dan di paha bagian dalam adalah kondisi yang disebut acanthosis nigricans.

Kondisi ini menyebabkan kulit di daerah yang terkena menjadi lebih gelap, lebih tebal, dan sering terasa lembut saat disentuh," jelas dokter Joel Schlessinger, M.D., dokter kulit bersertifikat dan presiden LovelySkin.

Acanthosis nigricans ini bisa menjadi tanda adanya resistensi insulin dalam tubuh, yang merupakan prekursor untuk mengembangkan diabetes tipe 2.

6. Penurunan Berat Badan

Tanpa energi yang disuplai gula, jaringan otot dan simpanan lemak akan menyusut.

Anak dengan diabetes mengalami kekurangan insulin yang dapat membuat tubuhnya tidak mendapatkan cukup glukosa untuk digunakan sebagai energi.

Akibatnya, tubuh mulai membakar lemak dan otot untuk energi, yang menyebabkan penurunan berat badan secara keseluruhan.

Namun, penurunan berat badan lebih jarang terjadi pada anak-anak dengan diabetes tipe 2 daripada pada anak-anak dengan diabetes tipe 1.

Baca Juga: Kanker Prostat: Gejala, Penyebab, hingga Pencegahannya

Cara Mengatasi Diabetes pada Anak

Makanan Sehat
Foto: Makanan Sehat (Freepik.com/master1305)

Meskipun tidak ada obat untuk diabetes pada anak, anak-anak dengan penyakit ini dapat menjalani masa kanak-kanak dan remaja yang hampir normal jika diabetes mereka dapat dikendalikan.

Penting untuk mengontrol diabetes dengan benar untuk menghindari komplikasi.

Mengutip The British Diabetic Association, Si Kecil perlu memeriksa kadar glukosa darah agar tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi dengan menggunakan alat penguji glukosa darah beberapa kali sehari.

Saat anak mulai mengonsumsi insulin, ia akan mulai merasa lebih baik dan kadar glukosa darah akan turun.

Penatalaksanaan berfokus pada pemantauan gula darah rutin, terapi insulin, diberikan sebagai beberapa suntikan per hari atau melalui pompa insulin, dan regulasi ketat dari diet sehat.

Mempertahankan gula darah dalam kisaran normal dapat mengurangi kemungkinan gejala gula darah tinggi atau rendah dan menurunkan risiko masalah kesehatan jangka panjang yang terkait dengan kontrol diabetes yang buruk.

Selain diet sehat, olahraga setidaknya tiga puluh menit sehari dapat membantu anak Moms mengelola penyakitnya juga.

Dengan bekerja bersama dan mendukung anak saat mereka belajar menjadi lebih mandiri, Moms dapat membantu mereka secara bertahap mulai mengambil tanggung jawab untuk merawat diabetes mereka sambil mempertahankan kemandirian.

Anak-anak di atas usia tujuh tahun biasanya memiliki keterampilan motorik halus untuk dapat mulai memberikan suntikan insulin dengan pengawasan orang dewasa.

Mereka juga dapat memeriksa gula dalam darah mereka beberapa kali sehari, menggunakan strip tes sederhana yang diolah secara kimiawi dan meteran gula darah.

Namun, tugas perawatan diri ini perlu diawasi oleh orang dewasa yang memahami perawatan diabetes untuk memastikan Si Kecil merawat diabetesnya dengan benar sesuai dengan pedoman dokter kita.

Jika anak mengonsumsi terlalu banyak insulin, maka gula darahnya bisa menjadi terlalu rendah (hipoglikemia), menyebabkan gejala, termasuk gemetar, detak jantung cepat, mual, kelelahan, kelemahan, dan bahkan kehilangan kesadaran.

Jika anak mengonsumsi terlalu sedikit insulin, gejala utama diabetes pada anak yang dirasakan adalah penurunan berat badan, peningkatan buang air kecil, haus, dan nafsu makan), dapat kembali.

Mengembangkan kebiasaan manajemen diabetes pada anak yang baik ketika seorang anak masih kecil dapat berdampak dramatis pada kebiasaan manajemen mereka seiring bertambahnya usia.

Banyak komunitas juga memiliki kelompok orang tua aktif yang tersedia di mana orang tua dari anak-anak penderita diabetes dapat bertemu untuk membahas masalah bersama mereka. Minta rekomendasi dari dokter.

Baca Juga: 3 Ide Makanan Manis yang Aman untuk Anak Diabetes

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Anak Sakit
Foto: Anak Sakit (Orami Photo Stock)

Diabetes pada anak tipe 1 dapat memengaruhi organ utama di tubuh kita.

Menjaga kadar gula darah kita mendekati normal sebagian besar waktu dapat secara dramatis mengurangi risiko banyak komplikasi yang terjadi karena diabetes tipe 1 ini.

Komplikasi yang terjadi bisa meliputi:

  • Penyakit jantung dan pembuluh darah. Diabetes meningkatkan risiko anak Moms terkena kondisi seperti pembuluh darah yang menyempit, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan stroke di kemudian hari.
  • Kerusakan saraf. Kelebihan gula dapat melukai dinding pembuluh darah kecil yang menyehatkan saraf Si Kecil. Hal ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, rasa terbakar atau nyeri. Kerusakan saraf biasanya terjadi secara bertahap dalam jangka waktu yang lama.
  • Kerusakan ginjal. Diabetes dapat merusak banyak kelompok pembuluh darah kecil yang menyaring limbah dari darah anak Moms.
  • Kerusakan mata. Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina, yang dapat menyebabkan masalah penglihatan.
  • Osteoporosis. Diabetes dapat menyebabkan kepadatan mineral tulang yang lebih rendah dari biasanya, meningkatkan risiko buah hati kita terkena osteoporosis setelah tumbuh dewasa.

Baca Juga: 5 Hal yang Harus Dilakukan Penderita Diabetes saat Hamil

Jenis Makanan Manis yang Cocok Dikonsumsi untuk Anak Diabetes

Cookies Cokelat
Foto: Cookies Cokelat (Freepik.com)

Jika diabetes tipe 1 lebih sulit untuk disembuhkan karena rusaknya sistem produksi insulin, anak dengan diabetes tipe 2 lebih bisa dijaga kondisinya karena pankreas.

Untuk anak dengan diatebes tipe 2, dokter akan memberikan obat sekaligus menyarankan pentingnya gaya hidup sehat untuk menjaga kadar gula darah.

Akan tetapi, makanan manis adalah makanan yang sulit untuk dijauhkan dari anak-anak. Hampir semua anak-anak sangat menyukai makanan manis.

Moms tidak perlu khawatir karena ada banyak makanan manis yang aman untuk dikonsumsi anak dengan diabetes, contohnya adalah olahan buah-buahan.

Berikut ini beberapa ide makanan manis yang bisa Moms buat untuk Si Kecil dengan diabetes, yaitu:

  • Makanan dengan selai buah
  • Yogurt rendah lemak
  • Whipped cream non diary
  • Cookies coklat rendah gula
  • Olahan ubi

Ada berbagai jenis makanan lain yang bisa dikonsumsi oleh anak penderita diabetes. Yang terpenting, pastikan anak mengonsumsi makanan sesuai anjuran dokter ya, Moms.

Baca Juga: 9 Gaya Hidup yang Memengaruhi Kesuburan, Wajib Tahu!

Mencegah Diabetes pada Anak

Makanan Sehat
Foto: Makanan Sehat (Freepik.com)

Saat ini tidak ada cara yang diketahui untuk mencegah diabetes pada anak, tetapi masih terus dikembangkan.

Dokter dapat mendeteksi antibodi yang terkait dengan diabetes tipe 1 pada anak-anak yang berisiko tinggi mengalami gangguan tersebut.

Antibodi ini dapat dideteksi berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sebelum gejala pertama diabetes tipe 1 muncul, tetapi saat ini tidak ada cara yang diketahui untuk memperlambat atau mencegah penyakit saat antibodi ditemukan.

Penting juga untuk diketahui bahwa tidak semua orang dengan antibodi ini terus mengembangkan diabetes tipe 1.

Meskipun tidak ada yang dapat Moms lakukan untuk mencegah diabetes tipe 1 pada Si Kecil, tapi Moms dapat membantu untuk mencegah komplikasi diabetes pada anak.

Misalnya, dengan membantu anak Moms mempertahankan kontrol gula darah yang baik sebanyak mungkin.

Bisa juga mengajari Si Kecil pentingnya makan makanan yang sehat dan berpartisipasi dalam aktivitas fisik secara teratur.

Moms juga dapat menjadwalkan kunjungan rutin dengan dokter diabetes anak dan pemeriksaan mata tahunan dimulai tidak lebih dari lima tahun setelah diagnosis diabetes awal atau pada usia 10 tahun.

Jika Moms mendapati gejala diabetes pada anak tipe 1 seperti di atas, berkonsultasilah ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

  • https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/chronic/Pages/Diabetes-Mellitus-Type-1-Diabetes.aspx
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2828228/
  • https://www.diabetes.org.uk/diabetes-the-basics/what-is-type-1-diabetes
  • https://www.kompas.com/hype/read/2022/01/24/143237566/matthew-white-sakit-diabetes-sebelum-meninggal-dunia

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.