10 Februari 2020

6 Fakta Usus Buntu yang Tidak Banyak Diketahui

Jangan asal dibuang, barangkali usus buntu ada gunanya...

Kita semua akrab dengan fakta bahwa ada organ bernama usus buntu di dalam tubuh yang letaknya dekat dengan usus.

Fakta lain yang lebih penting lagi adalah usus buntu itu dapat menyebabkan beberapa pengalaman menakutkan ke UGD.

Tapi adakah yang tahu apa sebenarnya usus buntu? Bagaimana fungsi dan manfaatnya, serta hal-hal di balik penyakit radang usus buntu?

Secara historis, usus buntu telah dianggap sebagai organ sisa yang murni dan tidak berguna. Namun belakangan ini, dokter mulai bertanya-tanya apakah usus buntu sebenarnya memiliki tujuan yang bermanfaat.

Niket Sonpal, MD, clinical assistant professor at Touro College of Medicine in New York, mengatakan baru-baru ini, beberapa bukti baru menunjukkan bahwa usus buntu mungkin berperan dalam mengisi kembali bakteri baik dalam tubuh.

Baca Juga: Nyeri Perut Mendadak, Bisa Jadi Gejala Usus Buntu

“Usus buntu dianggap sebagai tempat penyimpanan bakteri dan flora yang baik, seperti membantu mengurai makanan. Namun sejumlah besar bakteri itu mati pada saat terserang penyakit. Ini terjadi misalnya karena antobiotik," katanya seperti dikutip dari health.com.

Sementara itu, penyakit radang usus buntu hanyalah peradangan pada usus buntu, sebuah kantong tipis berbentuk cacing yang melekat pada usus besar.

Dilansir dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, salah satu gejala radang usus yang paling sering dirasakan adalah rasa sakit di sekitar pusar yang menyebar sampai ke bawah.

Rasa sakit ini bisa sangat tidak tertahankan dan semakin parah dalam beberapa jam, apalagi jika kita bergerak, berguling, menarik napas, batuk, atau bersin.

Fakta Usus Buntu

Berikut ini adalah beberapa fakta usus buntu yang seringkali tidak diketahui banyak orang.

1. Rasa Sakit yang Berhenti Tidak Selalu Pertanda Baik

Usus buntu pecah
Foto: Usus buntu pecah (https://scopeblog.stanford.edu/2012/07/13/a-story-of-a-burst-appendix-and-its-owner-who-lived/)

Kadang-kadang orang memang memiliki rasa sakit yang khas, tetapi hal itu berubah ketika usus buntunya pecah dan rasa sakitnya hilang sehingga yang ada justru perasaan lega atau baik-baik saja.

Eugene Shapiro, MD, Deputy Director Investigative Medicine PhD Yale School of Medicine, menjelaskan bahwa ketika usus buntu pecah, cairan dapat meresap ke dalam perut dan menyebabkan infeksi yang disebut peritonitis dan dapat mengancam jiwa.

Usus buntu yang pecah membutuhkan pembedahan segera untuk mengangkat jaringan dan membersihkan rongga perut.

"Jika usus buntu pecah, rasa sakit dapat berkurang sebentar dan pasien mungkin merasa lebih baik. Namun, begitu lapisan rongga perut meradang dan terinfeksi (suatu kondisi yang disebut peritonitis), rasa sakitnya bertambah buruk dan pasien menjadi lebih sakit. Nyeri perut mungkin lebih buruk saat berjalan atau batuk. Pasien mungkin lebih suka berbaring diam karena bergerak akan menyebabkan rasa sakit," katanya seperti dikutip dari health.com.

2. Bisa Menyerang yang Muda

Usus buntu anak
Foto: Usus buntu anak (https://www.simplemost.com/7-appendicitis-symptoms-kids-shouldnt-ignore/)

Fakta usus buntu berikutnya adalah orang-orang antara usia 10-30 tahun adalah penderita paling umum usus buntu dan usis lansia lebih memungkinkan untuk menderita penyakit ini.

Menurut sebuah studi tahun 2012 dalam Journal of Surgical Research, setiap tahunnya tercatat penderita usus buntu pada semua orang di Amerika naik dari 7,62% kasus untuk setiap 10.000 orang, menjadi 9,38% antara tahun 1993 dan 2008.

Tercatat 6,3% kasus meningkat setiap tahunnya untuk penderita berusia 30-69 tahun, dimana usus buntu banyak dialami pria.

3. Mengherankan! Usus Buntu Sebenarnya Bermanfaat

Usus buntu
Foto: Usus buntu (https://www.readersdigest.co.uk/health/health-conditions/10-things-you-didnt-know-about-the-appendix)

Selama bertahun-tahun, dokter tidak yakin apakah usus buntu itu memiliki tujuan nyata.

Mereka mengira mungkin itu adalah bagian dari usus yang tersisa dari tahap awal dalam perjalanan evolusi kita. Tetapi para peneliti saat ini telah menemukan bahwa usus buntu mungkin ada gunanya.

Dalam sebuah studi 2007 di Journal of Theroetical Biology, para peneliti menilai bahwa usus buntu adalah "rumah yang aman" untuk mikro-organisme yang ramah, yang berarti itu adalah tempat di mana bakteri baik ini dapat tumbuh dan bergaul.

4. Usus Buntu Adalah Organ Spesial

Usus buntu
Foto: Usus buntu (https://thebrainbank.scienceblog.com/2013/05/27/the-mystery-of-the-appendix/)

Fakta usus buntu selanjutnya, organ ini sangat terspesialisasi dengan suplai darah yang kaya dan ditempatkan secara strategis sesuai fungsinya. Usus buntu diposisikan di persimpangan antara usus kecil dan besar.

Usus besar dipenuhi dengan bakteri, yang harus dijauhkan dari usus kecil yang lebih steril. Usus buntu dalam posisi ini berperan utama sebagai anti bakteri.

5. Berguna Sejak Dulu

Janin
Foto: Janin (Blog.pregistry.com)

Usus buntu rupanya memainkan peran penting sejak awal. Perkembangannya dimulai pada saat ia berada di usia janin memasuki lima bulan dan setelah itu menunjukkan perkembangan yang sangat cepat di awal kehidupan.

Hadir sejak masa kanak-kanak dan berkurang dari segi ukuran ketika seseorang sudah dewasa.

Panjangnya bervariasi dari 5-10cm, usus buntu yang paling panjang ditemukan di Kroasia pada tahun 2006 dengan ukuran 26cm.

6. Usus Buntu Mungkin Tidak Perlu Dioperasi

Operasi usus buntu
Foto: Operasi usus buntu (Orami Photo Stock)

Sementara operasi telah lama menjadi pengobatan utama untuk radang usus buntu, sebuah studi baru-baru ini dari Journal of American Medical Association menunjukkan bahwa antibiotik mungkin dapat menyelamatkan sebagian besar penderita dari pada masuk ke ruang operasi.

Bagaimana bisa? Ternyata sebenarnya ada dua jenis radang usus buntu.

Pertama adalah usus buntu yang lebih serius dan selalu membutuhkan operasi, lalu kedua usus buntu yang lebih ringan dan dapat diobati dengan antibiotik. Bentuk yang lebih ringan ini biasanya lebih umum terjadi atau sekitar 80% kasus dari keseluruhan.

Sebuah penelitian dari Harvard University juga menunjukkan bahwa pasien dengan usia di bawah 20 tahun yang menjalani pengangkatan usus buntu pada kasus usus buntu ringan, bisa jadi memicu kolitis ulseratif.

Kolitis ulseratif adalah peradangan kronis yang terjadi pada usus besar (kolon) dan rektum. Pada kelainan ini, terdapat tukak atau luka di dinding usus besar sehingga menyebabkan tinja bercampur dengan darah.

Namun, penelitian lain lagi juga menunjukkan bahwa pengangkatan usus buntu dapat meningkatkan risiko penyakit Crohn.

Oleh karena itu, melakukan CT scan untuk mengungkapkan jenis usus buntu apa yang diderita, adalah pilihan bijak bagi penderita usus buntu.

(RIE/ERW)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.