07 Juni 2024

Fatmawati, Istri Soekarno yang Menjahit Bendera Merah Putih

Meninggal di Kuala Lumpur saat transit dari umrah
Fatmawati, Istri Soekarno yang Menjahit Bendera Merah Putih

Foto: Wikimedia Commons

Nama Fatmawati tentunya sudah tidak asing lagi di telinga apalagi dalam sejarah Indonesia.

Ia adalah istri ketiga Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno yang menikah pada 1943.

Dengan begitu, ia otomatis menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga 1967.

Fatmawati merupakan istri ketiga dari Soekarno dan merupakan ibunda dari presiden kelima Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

Namun, namanya lebih dikenal sebagai penjahit Bendera Merah Putih yang dikibarkan pada saat upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Profil 9 Istri Soekarno, Fatmawati Hingga Ratna Sari Dewi

Biodata Fatmawati

Fatmawati
Foto: Fatmawati (Wikipedia.org)

Berikut biodatanya, Moms.

  • Tanggal lahir: 5 Februari 1923
  • Tempat lahir: Bengkulu, Hindia Belanda
  • Tanggal meninggal: 14 Mei 1980 (umur 57)
  • Tempat meninggal: Kuala Lumpur, Malaysia
  • Suami: Soekarno
  • Anak: Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.
  • Orang tua: Hasan Din (ayah) dan Siti Chadijah (ibu).

Baca Juga: 8 Cucu Soekarno, Mayoritas Terjun ke Dunia Politik Indonesia

Fakta Seputar Fatmawati

Simak juga biografi dan perjalanan hidupnya di bawah ini, ya Moms.

1. Masa Kecil

Biografi Fatmawati
Foto: Biografi Fatmawati (Kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Fatmawati adalah anak tunggal dari pasangan H. Hassan Din dan Siti Chadidjah.

Meski terlahir sebagai anak tunggal, kehidupannya tidak terbilang mewah. Bahkan, situasi ekonomi orang tuanya tidak semudah yang terlihat.

Akibat kesulitan ekonomi tersebut, ia harus pindah-pindah sekolah dan tempat tinggal.

Beliau pernah menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS), Sekolah Tingkat II, lalu pindah ke Palembang.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya menetap di Curup, sebuah kota di antara Lubuk Linggau dan Bengkulu.

Saat masih kecil, ia sudah ditanamkan dengan nilai-nilai agama oleh keluarganya.

Ia pun terampil dalam melantunkan ayat suci Al-Quran. Sejak dulu, dirinya dikenal sebagai sosok yang pandai bergaul.

Istri pertama Soekarno ini juga aktif dalam mengelola organisasi Muhammadiyah.

Nah, dari organisasi itulah ia akhirnya bertemu dan mengenal dengan Soekarno.

2. Pertemuan Fatmawati dengan Soekarno

Fatmawati dan Soekarno
Foto: Fatmawati dan Soekarno (Garystockbridge617.getarchive.net)

Di 1938, Soekarno bertemu dengan Fatmawati di Bengkulu. Saat itu, Soekarno diasingkan oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Ia dipindahkan dari Enda, Flores, ke Bengkulu. Di sana, Soekarno menjalin persahabatan dengan Hasan Din dan diminta untuk mengajar di sebuah sekolah Muhammadiyah.

Kala itu, ia baru berusia 15 tahun dan menjadi salah satu siswa di sekolah tempat Soekarno mengajar.

Suatu hari, Soekarno memberikan tawaran kepada Fatmawati untuk melanjutkan sekolah bersama Ratna Juami, anak angkat Bung Karno, setelah ia lulus.

Beliau akhirnya tinggal di rumah keluarga Soekarno di Bengkulu.

Sebelum menikah dengan Fatmawati, presiden pertama Indonesia ini lebih dulu menikah dengan Inggit Garnasih.

Namun pernikahannya berakhir pada 1943. Setelah berpisah, Soekarno menikahi Fatmawati.

Pernikahan keduanya terjadi pada masa Jepang mulai menghadapi kesulitan melawan Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya, juga dikenal sebagai Perang Dunia Kedua.

Pada saat ini, peluang kemerdekaan Indonesia mulai terbuka lebar.

Baca Juga: Mengenal 11 Anak Soekarno dan Kisah Hidup serta Kariernya!

3. Perannya di Kemerdekaan Indonesia

Namun, seperti yang Moms ketahui, untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, perjuangannya tidaklah mudah.

Setelah menghadapi rangkaian perdebatan, para pejuang kemerdekaan Indonesia akhirnya sepakat untuk membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Kendala demi kendala terjadi, seperti kata-kata yang tepat untuk teks proklamasi, hingga memilih siapa yang akan menjahit bendera merah putih.

Apalagi, saat itu Soekarno tengah sakit dan kesulitan untuk mencari kain untuk menjahit bendera.

Dengan bantuan Hitoshi Shimizu, orang Jepang yang bersimpati dengan perjuangan Indonesia, melalui perantara Chairul Basri, seorang nasionalis, akhirnya kain untuk bendera merah putih berhasil sampai ke tangan Fatmawati.

Sayangnya, hanya ada satu kain yang bisa digunakan untuk dijahit menjadi bendera.

Fatmawati yang penuh semangat, menjahit kain dengan mesin jahit tangan karena ia tidak diizinkan menjahit dengan kaki karena sedang hamil tua.

4. Setelah Kemerdekaan

Namanya kemudian digunakan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati.

Hal ini berawal dari keprihatinan ayah Fatmawati, H. Hassan, yang menderita asma.

Melihat kondisi anak-anak yang terserang penyakit TBC di daerah pemukiman padat penduduk, ayah Fatmawati memutuskan untuk membantu pengobatan anak-anak dengan mendirikan sanatorium khusus anak.

Gagasan mulia itu mendorong rekan-rekannya untuk mengumpulkan dana, dan akhirnya terkumpul Rp28 juta, sebuah jumlah yang memiliki nilai cukup besar di tahun tersebut.

Uang tersebut memiliki nilai cukup besar di tahun tersebut, Moms. Nah,uang tersebut dijadikan modal untuk mendirikan Yayasan Rumah Sakit Ibu Soekarno.

Tanggal 20 Mei 1967, Rumah Sakit Ibu Soekarno diubah namanya menjadi RSUP Fatmawati.

Perubahan ini diusulkan oleh Direktur Rumah Sakit saat itu, yaitu Soehasim, dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, atas persetujuan masyarakat.

Pada 1996, bunga teratai menjadi simbol dari RSUP Fatmawati.

Anak sulung Fatmawati dan Soekarno, Guntur Soekarnoputra, juga menciptakan sebuah himne untuk RSUP yang berjudul Padma Puspita setahun setelahnya.

Baca Juga: Biografi Ratna Sari Dewi, Istri Soekarno Berdarah Jepang

Pada 1980, ia menjalankan umrah. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh Dien Soemaryo, kakak ipar...

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.