08 Juni 2019

Gemas, Ternyata Ini Alasan Mengapa Bayi Sering Tersenyum Saat Tidur

Ini bedanya senyum responsif dan senyum sosial

Salah satu momen yang membahagiakan bagi orang tua adalah ketika melihat buah hati terlelap sambil tersenyum. Duh, lucunya, ya! Sebagian orang tua lalu mengabadikan momen indah nan menggemaskan itu.

Nah, saat menemaninya tidur nyenyak, mungkin muncul berbagai pertanyaan dibenak Moms. Termasuk soal kenapa, ya, bayi tersenyum saat tidur? Apakah ia bermimpi? Apakah karena merasa nyaman dan bahagia? Atau, apakah benar kata orang, bayi senyum karena diajak bercanda oleh malaikat? Hmm, tentu hal itu menarik untuk diketahui.

Baca Juga : Ini Cara Agar Bayi Tidur Nyenyak dan Manfaatnya

Menurut Pamela Garcy, PhD., seorang psikolog klinik di Dallas, saat bayi berusia 0-6 minggu, Moms akan melihat senyuman pertamanya ketika ia tidur.

“Saat tidur dalam tahap REM (Rapid Eye Movement) dimana kondisi otak sangat aktif, tubuh mengalami perubahan fisiologis yang mengaktifkan refleks tertentu, salah satunya adalah senyum. Jadi, senyum itu adalah reaksi fisik, bukan suatu reaksi emosi. Inilah yang disebut senyum refleksif. Senyuman bayi adalah refleksi aktivitas otak.”

Baca Juga : Cara Meningkatkan Kualitas Tidur Bayi

Ya, dalam kondisi terlelap, otak bayi akan tetap bekarja mengolah data atau memori. Secara refleks, hal tersebut berefek pada otot orbikularis okuli di mata. Walau matanya terpejam, namun pipi akan sedikit terangkat dan tampak seperti sedang tersenyum.

Bila Moms perhatikan pula, selain tersenyum, ketika terlelap Si Kecil juga mungkin berteriak atau bahkan menangis. Perilaku ini terbilang normal dan wajar karena merupakan bentuk ekspresi atau pikirannya di alam mimpi.

Meski begitu, coba cek kondisi Si Kecil bila sering nangis atau merengek. Apakah ia demam, popok atau bajunya basah, suhu udara di kamar terlalu dingin atau panas, dan berbagai bentuk ketidaknyamanan lain.

Baca Juga : Bayi Tidur Tanpa Digendong? Bisa, Kok!

Senyum Responsif

Seiring waktu, pada usia 6-8 minggu, bayi akan tersenyum sebagai respons terhadap sesuatu yang membuatnya senang, misalnya melihat wajah, mendengar suara, atau bahkan pelukan orang tuanya. Inilah yang disebut senyum responsif.

Senyuman ini sebagai reaksi terhadap pengalaman indranya, bukan suatu respons sosial. “Pada usia ini, bayi belum mampu mengetahui dengan jelas siapa Anda sebenarnya. Jadi, jangan berharap terlalu banyak pada tahap ini,” kata Charlotte Cowan, MD, seorang dokter anak di Boston.

Meski begitu, kita tetap dapat mencoba membuatnya tersenyum. “Coba pelajari suara atau ucapan apa yang bisa membuatnya tersenyum,” kata Julie Segal, MD, seorang dokter anak di Rumah Sakit Northside di Atlanta.

Selain itu, beri kesempatan pada Si Kecil untuk memerhatikan wajah Anda saat diajak berbicara secara perlahan-lahan. Mungkin ia akan berusaha meniru apa yang Anda katakan.

Pada usia ini, senyum bayi sebagai ekspresi rasa senang yang dilakukannya secara sadar. Meski sebenarnya senyum Si Kecil belum sepenuhnya terarah karena daya penglihatannya masih terbatas. Namun, lama-kelamaan, setelah jarak pandangnya semakin jauh, ia tersenyum sebagai respons atas senyum ibunya.

Baca juga: 5 Trik Mudah Atur Pola Tidur Bayi Baru Lahir Tanpa Perlu Bergadang

Senyum Sosial

Nah, barulah pada usia 2-3 bulan, bayi mengembangkan senyum sosial. Senyum bayi ini merupakan respons atas hal-hal yang menarik perhatiannya. Misal, ia akan tersenyum ketika mendengar suara lucu yang Moms ucapkan.

“Dia akan menjerit dan tertawa saat bermain dengan Anda,” kata Mary Ellen Renna, MD, seorang dokter anak di Woodbury, New York. Dia juga akan merespons stimulasi yang Anda berikan dengan cara menggerak-gerakan tangan bahkan kakinya.

Cobalah untuk mengajaknya bermain atau menyanyikan lagu-lagu lembut nan riang agar ia tersenyum. Walaupun ia belum mengerti perkataan Moms, ia bisa merasakan kegembiraan Moms dan membuatnya tersenyum.

Oh ya, perlu Moms tahu juga, bila Si Kecil belum bisa tersenyum sama sekali selama 12 minggu, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter untuk diperiksa akan kemungkinan ada masalah keterlambatan perkembangan.

(HIL)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.