Di atas 5 tahun

5 Juli 2021

Jangan Panik! Gigi Anak Patah Apa Bisa Tumbuh Lagi?

Jangan panik, gigi patah akibat jatuh biasanya bukan kondisi serius
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Pada balita yang sedang senang-senangnya belajar berjalan dan berlari, jatuh dan cedera sudah jadi makanan sehari-hari. Terkadang, jatuh yang begitu keras menyebabkan gigi balita patah. Nah Moms pasti penasaran, gigi anak patah apa bisa tumbuh lagi?

Gigi patah tidak selalu serius. Namun, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi gigi, terutama pada anak-anak yang belum bisa menjaga kebersihan gigi atau berbicara dengan lancar.

Nah, untuk mengetahui tentang gigi anak patah apa bisa tumbuh lagi beserta penanganannya, yuk Moms simak artikel di bawah ini!

Baca Juga: Cegah Kerusakan Gigi Anak Dengan Makanan Tinggi Serat

Gigi Anak Patah Apa Bisa Tumbuh Lagi?

Maloklusi Dan Gigi Berdesakan Pada Anak, Apa Penyebabnya 2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Untuk mengatasi gigi anak yang patah, Moms harus menyesuaikannya dengan usia Si Kecil.

Saat gigi anak patah baik karena terjatuh, kecelakaan, atau benturan pada gigi harus dipastikan terlebih dahulu apakah gigi merupakan gigi susu saat anak pertama kali tumbuh gigi, atau gigi permanen.

Karena jika gigi permanen yang patah maka gigi tersebut tidak dapat tumbuh kembali. Umumnya pada usia 13 tahun, rata-rata anak sudah memiliki gigi permanen hampir keseluruhan.

Gigi susu bisa berganti dengan gigi permanen seiring berjalannya waktu. Umumnya, terjadi saat usia anak sudah di atas 5 tahun.

Seperti halnya perkembangan tubuh secara umum, ada perbedaan besar dalam kecepatan pertumbuhan gigi antara anak perempuan dan anak laki-laki.

Baca Juga: Ini Yang Bisa Moms Lakukan Saat Gigi Susu Anak Mulai Tanggal

Anak perempuan cenderung mengalami pubertas dan perubahan seksual lebih awal daripada anak laki-laki. Dengan demikian, anak perempuan cenderung mengganti gigi permanen mereka sedikit lebih awal daripada anak laki-laki.

Bila gigi anak rusak, sebaiknya gigi jangan dicabut dan sebisa mungkin dirawat. Perawatannya juga bergantung pada seberapa banyak jaringan mahkota gigi yang masih tersisa, dan patahnya di bagian mana.

Bila garis patahan horizontal, namun hanya kira-kira sepertiga bawah mahkota, kemungkinan gigi tersebut masih vital. Namun bila gigi tersebut patah cukup banyak hingga lebih dari setengah mahkota hilang, besar kemungkinan pulpa gigi yang berisi jaringan syaraf dan pembuluh darah telah terekspos.

Bila memang demikian, gigi tersebut sudah tidak dapat ditambal seperti biasa namun harus terlebih dahulu dirawat saluran akarnya. Baru setelah itu dibuatkan restorasinya.

Baca Juga: Ini Yang Bisa Moms Lakukan Saat Gigi Susu Anak Mulai Tanggal

Penanganan Saat Gigi Balita Patah

gigi balita patah.jpg

Foto: drlisafeldman.com

Setelah tahu gigi anak patah, berikut beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa Moms lakukan, seperti direkomendasikan oleh situs web Stanford Children’s Health:

  • Tetap tenang dan buat Si Kecil nyaman.
  • Jika berdarah, tempelkan kain bersih kecil atau kain kasa dan tekan dengan agak kuat untuk menghentikan perdarahan.
  • Berikan air dingin, kompres dingin, atau es loli untuk mengurangi bengkak dan nyeri.
  • Jika gigi Si Kecil patah, kumpulkan patahannya. Pastikan tidak ada yang menancap di bibir, lidah, atau gusi.
  • Bawa Si Kecil ke dokter gigi anak. Gigi yang runcing mungkin perlu dikikir agar halus dan memerlukan perawatan agar tetap sehat. Selama perjalanan, minta anak menggigit kain basah untuk mencegah gigi tajamnya melukai bibir atau lidahnya sendiri.
  • Jika Moms tidak dapat menemukan patahan gigi Si Kecil dan ia tampak kesulitan bernapas, bawa ia ke ruang gawat darurat di rumah sakit untuk memastikan Si Kecil tidak menelan patahan gigi.

Baca Juga: 5 Masalah Gigi Pada Balita

Jika tidak ada masalah yang terlalu urgent seperti pada poin 6, sebaiknya Moms membawa Si Kecil ke dokter gigi anak, bukan dokter umum atau ke ruang gawat darurat. Sebab, dokter gigilah yang mengerti penanganan gigi patah.

Selain itu, sebaiknya datangi dokter gigi anak, bukan dokter gigi umum, karena ia lebih memahami cara menghadapi anak-anak yang sulit duduk diam atau mengamuk dan memiliki peralatan yang sesuai. Karena itu, penting untuk Moms menyimpan nomor telepon dokter gigi anak agar bisa berkonsultasi di luar jam praktiknya.

Selama 1-2 hari setelah gigi anak patah, berikan makanan lunak kepada Si Kecil. Kalau ia masih merasakan sakit, coba berikan ibuprofen.

Perubahan Warna pada Gigi yang Patah

perubahan warna di gigi balita patah.jpg

Foto: arcticdental.com

Terbentur keras bisa membuat gigi Si Kecil berubah warna menjadi cokelat, hitam, merah, atau abu-abu. Ini karena pembuluh darah di gigi pecah, seperti memar di kulit ketika terkena benda tumpul dengan keras.

Perubahan warna ini sementara, kok, Moms. Setelah pembuluh darah sembuh dan lebam menghilang, warna gigi akan kembali seperti semula.

Meski gigi patah pada balita biasanya bukan masalah serius, tampilannya mungkin jadi kurang bagus.

Jika Moms atau Si Kecil tidak sabar menunggu sampai gigi susu yang rusak tersebut tanggal sendiri, menurut situs web Children’s Dental, Moms bisa berkonsultasi kepada dokter gigi anak tentang opsi memperbaiki gigi Si Kecil.

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Balita Rewel Karena Tumbuh Gigi

Pada kasus gigi tanggal karena jatuh, gigi permanen biasanya disarankan segera dipasangkan lagi di tempatnya. Namun, gigi susu sebaiknya dibiarkan saja, Moms.

Sebab, menanamnya kembali dikhawatirkan bisa mengganggu gigi permanen yang akan tumbuh di bawahnya. Bagaimanapun, prioritas utama ketika gigi Si Kecil rusak adalah menjaga gigi permanen yang nanti akan tumbuh.

Tanda Gigi Anak Harus Segera Diperiksakan ke Dokter

dokter gigi balita patah.png

Foto: nelsonsbooks.com

Retakan yang sangat kecil di gigi pun bisa menyebabkan bakteri masuk ke pulpa gigi, sehingga menimbulkan abses. Nah, Moms harus mewaspadai tanda abses gigi sedini mungkin. Jika dibiarkan, abses bisa menyebar ke jaringan lain di wajah, bahkan bisa menyebabkan kerusakan otak atau kebutaan.

Seperti dikutip dari situs web childrensdent.com, berikut beberapa tanda bahaya yang harus Moms waspadai setelah gigi balita patah:

  • Gigi tetap berwarna hitam atau abu-abu. Dokter akan mengecek tanda infeksi atau nekrosis.
  • Sakit di wajah. Cek apakah gusi di area gigi patah berwarna merah atau bernanah
  • Bengkak, biasanya di bibir, leher, dan rahang.
  • Demam.
  • Ada darah di mulut, tapi bukan karena tidak sengaja tergigit atau menggosok gigi terlalu keras. Bisa jadi itu abses yang berdarah.
  • Perubahan kebiasaan makan. Karena gigi yang patah terasa tidak nyaman, Si Kecil jadi enggan menggunakannya. Tandanya, Si Kecil mengunyah di satu sisi gigi, menggigit dengan gigi samping dan bukan gigi depan, atau menghindari makanan yang panas dan dingin.
  • Tidur terganggu karena nyeri dari abses.

Baca Juga: Ini 3 Hal yang Harus Dilakukan Ketika Balita Suka Menggigit

Itu dia Moms informasi seputar gigi patah apa bisa tumbuh lagi.

Sayangnya, gigi yang mengalami trauma hebat kemungkinan tidak dapat pulih sepenuhnya. Kekuatan benturan bisa menyebabkan gigi perlahan mati dalam beberapa bulan, bahkan meski tanpa perubahan warna.

Jadi, kalau gigi balita patah setelah terjatuh, konsultasikan ke dokter gigi anak, ya, Moms, untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait