Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Rupa-rupa | Feb 13, 2018

Heboh Ibu Seret Anak dengan Motor dan Berbagai Kasus Kekerasan Ibu Pada Anak di Indonesia

Bagikan


Heboh Ibu Seret Anak dengan Motor dan Berbagai Kasus Kekerasan Ibu Pada Anak di Indonesia

Bukanlah sebuah hal yang baru bila kita mendengar kasus penganiayaan yang dilakukan oleh ibu terhadap anak sendiri, entah ibu tiri bahkan ibu kandung.

Meski bukan sebuah hal yang baru, hal tersebut tetap tak bisa memisahkan kita dari perasaan miris karenanya.

Baru-baru ini, kembali terjadi lagi kasus penganiyaan yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya, tak hanya itu kasus serupapun kerap terjadi. Berikut ulasannya:

Ibu Seret Anak dengan Motor

Santi, seorang ibu berusia 35 tahun tega menyeret putri kandungnya sendiri yang masih berusia 5 tahun. Anak perempuan tersebut diseret menggunakan sepeda motor hingga sejauh 300 meter di tempat tinggalnya di Dukuh Balong, Jawa Tengah.

Dari informasi yang beredar, diduga Santi tega menyeret putrinya karena ia tak ingin ditinggal oleh sang ibu. Rupanya hal tersebut membuat Santi langsung tancap gas sehingga membuat anaknya terseret dari depan rumah sampai perempatan jalan.

Beberapa warga yang mencoba menyelamatkannya rupanya tak dihiraukan, Santi tetap menancapkan gas sepeda motornya.

Hingga saat ini Santi masih menjalani perawatan dan observasi di RSJD Dr Soedjarwadi Klaten, sementara anaknya yang mengalami luka pada kedua lutut kakinya langsung dibawa ke rumah sakit untuk menjalani rawat jalan.

Kesal Terhadap Suami, Anak Jadi Korban

Didasari rasa kesal pada sang suami, seorang ibu tega menyiksa anak tirinya yang masih berusia 7 tahun.

Kekesalan MB (30), bermula karena faktor ekonomi, ia merasa kurang atas penghasilan sang suami yang hanya supir ojek. Selain itu MB pun mengatakan bahwa sang anak kerap terpergok mencuri uang suaminya.

Lantaran setelah penyidikan hal tersebut tidak terbukti benar ditambah hasil visum yang dilakukan terhadap bocah berusia 7 tahun tersebut menunjukkan luka-luka yang cukup serius, maka MB pun harus mendekam di balik bui Mapolres Subang, dengan ancaman 7 tahun penjara.

Penganiayaan Hingga Tewas

Hal yang lebih memilukan terjadi di Wamena, Papua. Seorang bocah berusia 9 tahun harus menghebuskan napas terakhirnya setelah menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Selama dua hari, Clarita, berjuang untuk bertahan hidup setelah ibunya yang berinisial R membawanya ke rumah sakit.

Menurut kesaksian kerabat korban, Clarita adalah korban penganiayaan yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Dia sudah tidak sadarkan diri sejak awal masuk RS hingga dua hari perawatan dan ajal menjemputnya. Bagian kepala gadis mungil itu penuh luka terbuka dan luka bakar.

Sungguh keji, saat pertama kali membawa Clarita ke RSUD, sang ibu mengatakan bahwa putrinya terkena penyakit sarampa.

Namun saat dokter memeriksa kondisi korban, ia menemukan bahwa korban mengalami penganiayaan dan luka bakar sekujur tubuh. Terkait hal ini, pihak keluargapun menyerahkan seluruhnya kepada pihak kepolisian.

Baca Juga : Hati-Hati, Kekerasan Dapat merusak Karakter Anak!

Mengapa Ibu Tega Menyiksa Anak?

Sederet kasus diatas membuat sebagian besar dari kita tentu bertanya-tanya, mengapa seorang ibu sampai hati menganiaya anaknya sendiri. Dibalik hal tersebut, rupanya ada faktor psikologis yang menjadi pemicunya.

Pada kebanyakan kasus yang terjadi, biasanya wanita yang tega menganiaya anaknya sendiri adalah mereka yang mengalami unhappy marriage. Kondisi unhappy marriage dapat berupa kondisi ekonomi rendah, suami yang tak perhatian, ditambah dengan latar belakang keluarga besar yang tak mendukung, serta tak punya teman.

Wanita dengan kondisi seperti itu biasanya akan merasa terisolir sementara dirinya sendiri bukan sosok dengan kepribadian yang kuat mentalnya, tidak dewasa, pengendalian emosinya juga tidak baik, self esteem-nya tidak tinggi, sehingga akan berujung dengan pelampiasan terhadap anaknya.

(MDP)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.