27 Desember 2017

Induksi Dalam Proses Melahirkan

Perhatikan hal ini

Setiap ibu hamil tentu menginginkan ketika saatnya persalinan nanti tiba semuanya berjalan lancar dan normal. Bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan pun dapat terlahir dengan selamat dan sempurna.

Namun, adakalanya persalinan normal yang diharapkan terjadi karena salah satunya dibantu oleh tindakan induksi. Induksi persalinan adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan, yaitu dari tidak ada tanda-tanda persalinan, kemudian distimulasi menjadi ada dengan menimbulkan mulas/his. Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim secara normal.

Pada umumnya persalinan dengan induksi dilakukan untuk bayi yang terlambat lahir, yaitu bayi yang sudah dikandung lebih dari 41 minggu. Bayi tidak boleh lebih dari 42 minggu berada di dalam rahim karena plasenta tidak dapat lagi memberikan makanan yang cukup untuk bayi setelah jangka waktu tersebut.

Bila ketuban sudah pecah dan proses persalinan belum juga dimulai, dokter akan mempertimbangkan untuk menunggu persalinan terjadi secara alami atau melakukan induksi. Keputusan ini tergantung dari berbagai faktor, misalnya berapa lama ketuban sudah pecah, apakah mulut rahim (serviks) sudah matang, resiko infeksi, dan juga perasaan dan kondisi ibu yang hamil.

Selain alasan keterlambatan, persalinan dengan induksi juga kadang dilakukan pada kehamilan yang tidak terlambat, yaitu 40 minggu atau sebelumnya. Induksi dilakukan pada kondisi ini karena beberapa alasan medis, misalnya :

  • Ketuban sudah pecah sebelum waktunya namun persalinan belum juga dimulai
  • Ibu mengalami tekanan darah tinggi yang semakin memburuk
  • Ibu mengidap penyakit diabetes yang tidak dapat dikendalikan
  • Ada tanda-tanda pertumbuhan bayi yang kurang baik
  • Ada pertimbangan medis lainnya yang mengharuskan bayi segera dilahirkan
  • Ada keadaan yang mengancam keselamatan janin jika terlalu lama didalam kandungan, diantaranya oligohidramnion (air ketuban sediki), IUGR (Intrauterine Growth Retardation-hambatan pertumbuhan janin), atau janin lewat waktu.
  • Pergerakan janin dirasakan lemah, dan itu disadari pula oleh dokter, meski beberapa pemeriksaan normal, kadang tetap akan melakukan induksi.

Ada dua cara yang biasanya dilakukan oleh dokter untuk melalui proses induksi, yaitu kimia dan mekanik. Namun pada dasarnya, kedua cara ini dilakukan untuk mengeluarkan hormon prostaglandin yang berfungsi sebagai zat penyebab otot rahim berkontraksi.

Secara kimia, Anda akan diberikan obat-obatan khusus. Ada yang diberikan dengan cara diminum, dimasukkan ke dalam vagina, atau diinfuskan. Biasanya, tak lama setelah salah satu cara kimia itu dilakukan, Anda akan merasakan datangnya kontraksi.

Secara mekanik, biasanya dilakukan dengan sejumlah cara, seperti menggunakan metode stripping, pemasangan balon keteter, (oley chateter) dimulut rahim, serta memecahkan ketuban saat persalinan sedang berlangsung.

Induksi memakan waktu cukup lama. Skenario terburuk dari proses induksi, akan memakan waktu setidaknya satu hari, dan mungkin bisa lebih lama dalam beberapa kasus melahirkan. Jadi, siapkan diri Anda dari kemungkinan akan melahirkan setidaknya selama 24 jam. Bawalah laptop atau komputer tablet sebagai hiburan.

Induksi tidak memungkinkan ibu untuk dapat makan banyak. Alasan dokter atau bidan melarang makan selama persalinan karena bisa mengakibatkan mual muntah dan meningkatkan risiko bedah caesar (dalam operasi apapun, pasien tidak diperbolehkan makan karena isi perut bisa bermuara di paru-paru selama operasi dan bisa menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia).

Jika memungkinkan makan sarapan sebelum Anda melakukan induksi untuk menjaga energi . Tanyalah pada dokter makanan apa yang boleh dimakan selama persalinan. Perlu dikatahui setelah diinduksi proses persalinan masih akan berjalan panjang dan akan menguji kesabaran pasien. Jika setelah induksi belum melahirkan selama 12 jam, pasien dibolehkan menyantap makanan ringan seperti buah dan kaldu sup.

(HEI)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.