15 Januari 2020

Solusi Intoleransi Laktosa untuk Anak dan Orang Dewasa, Simak Penjelasannya

Tidak semua anak bisa mengonsumsi susu sapi karena satu dan lain hal.

Wah, bagaimana ya Moms, menemukan solusi intoleransi laktosa? Padahal susu sangat baik untuk nutrisi, apalagi bila hamil dan menyusui.

Dikutip dari jurnal Nutrients, intoleransi laktosa merupakan keadaan dimana tubuh seseorang tidak dapat memproduksi laktase (enzim untuk mencerna laktosa menjadi glukosa dan galaktosa), sehingga produksi enzim laktase menjadi berkurang.

Susu sapi pada umumnya memiliki kandungan protein A1 dan protein A2.

Awalnya sapi di seluruh dunia hanya menghasilkan protein A2 saja, namun seiring berjalannya waktu dan adanya mutasi genetik, saat ini semakin banyak sapi yang menghasilkan susu dengan kandungan protein A1.

Namun, susu dengan kandungan protein A1 sendiri disebut menyebabkan efek samping ketika mengonsumsinya

"Efeknya muncul gejala mual, kembung, atau diare setelah mengonsumi susu terjadi karena kandungan protein beta casein A1 dalam susu yang bereaksi dengan protein pencernaan lainnya di dalam tubuh," kata Dr Harish Khumar, konsultan, pediatri, Aster CMI Hospital, Bengaluru

Sebenarnya, di Indonesia, sebagian besar orang mengalami reaksi pada tubuhnya sesaat setelah mengonsumsi susu dan menganggap hal itu adalah normal.

Reaksi yang dirasakan diantaranya adalah rasa tidak nyaman di perut seperti rasa kembung, eneg, bahkan mulas.

Baca Juga: Mengenal Intoleransi Laktosa dan Cara Menanganinya

Apakah Berbahaya?

Unknown-1.jpeg
Foto: Unknown-1.jpeg

Foto: cbsnews.com

Intoleransi laktosa tidak berbahaya, ujar Dr. Khumar. Namun, jika penderita tetap nekat minum susu atau makan keju, kemungkinan akan ada konsekuensi jangka panjang. Tapi, itu bukan hal yang pasti 100 persen akan terjadi.

"Ada beberapa orang yang mengalami kerusakan mikrovili permanen ketika mereka minum atau mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa. Mikrovili adalah bagian usus halus yang berfungsi menyerap nutrisi dan menyalurkannya ke darah," kata Dr Khumar.

Jika mikrovili rusak, Moms berisiko menderita malnutrisi. Tapi jangan panik, itu adalah kondisi yang sangat langka, hanya kurang dari satu persen dari populasi yang mengalaminya.

Sebagian besar dari mereka yang intoleransi laktosa, hanya mengalami gejala seperti di atas. Dalam waktu 12 sampai 24 jam kemudian, gejala akan mereda.

Baca Juga: 3 Resep Sorbet Tanpa Susu untuk Balita dengan Intoleransi Laktosa

Solusi Intoleransi Laktosa

1296x728_Soy_Milk.jpg
Foto: 1296x728_Soy_Milk.jpg (Orami Photo Stock)

Foto: Healthline

Jika Moms memiliki intoleransi laktosa dan tetap ingin menikmati susu atau produk terbuat dari susu, solusi intoleransi laktosa seperti pil Lactaid dan produk sejenis seperi Dairy-ease bisa membantu. Mereka mengandung enzim laktase yang akan membantu mencerna laktosa.

“Pastikan Anda meminumnya sebelum mengonsumsi susu. Jika diminum sesudahnya, mereka tidak dapat bekerja dengan optimal,” tandas Dr Khumar.

Meski membantu, jangan mengandalkan pil laktase 100 persen. Ada orang yang tetap mengalami diare atau mual meski sudah minum pil sebelum mengonsumsi susu. Pasalnya, suplemen enzim laktase tidak dapat memecah semua laktosa yang dikonsumsi. Terutama saat Moms mengonsumsi dalam jumlah banyak.

Pilihan solusi intoleransi laktosa lainnya? Jangan minum susu sapi! Moms bisa memilih alternatif lain selain susu sapi, misalnya susu almond atau susu kedelai yang juga nikmat dan bergizi tinggi.

Baca Juga: Moms, Berikut Serba-serbi Intoleransi Laktosa Pada Bayi

(RYO/DIN)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.