Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
04 Oktober 2022

Intoleransi Laktosa: Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

Kondisi ini umumnya terjadi karena genetik hingga infeksi usus
Intoleransi Laktosa: Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

Pernahkah Moms mendengar tentang intoleransi laktosa? Intoleransi laktosa merupakan sebuah kondisi kekurangan tingkat enzim pada tubuh yang dikenal dengan laktase.

Gejala ini dimulai dari gejala ringan hingga berat, tergantung pada jumlah laktase yang diproduksi itu sendiri.

Intoleransi laktosa sering kali dianggap sebagai alergi susu, tetapi kedua hal tersebut sebenarnya berbeda.

Meski hampir mirip, alergi susu terjadi ketika sistem kekebalan tubuh memberikan respons yang tidak normal setelah seseorang mengonsumsi susu atau produk-produk olahan susu.

Sementara itu, intoleransi laktosa adalah masalah yang terjadi di pencernaan.

Mari kenali lebih jauh mengenai intoleransi laktosa dan cara menanganinya, Moms!

Baca Juga: 7 Rekomendasi Wisata Palangkaraya, Mulai dari Museum hingga Wisata Alam yang Eksotis!

Apa itu Intoleransi Laktosa

Intoleransi Laktosa

Foto: Intoleransi Laktosa (Istockphoto.com)

Intoleransi laktosa adalah keadaan saat Moms merasakan dampak aneh pada tubuh setelah mengonsumsi dairy product alias makanan serta minuman yang terbuat dari susu sapi, misalnya susu, es krim, dan keju.

Umumnya hal ini terjadi karena faktor genetik dan masalah pencernaan penyakit, alergi makanan, radang hingga infeksi usus.

Mengenali intoleransi laktosa pun tidak sulit, 30 menit sampai 2 jam setelah makan produk susu sapi, biasanya tubuh akan merasakan beberapa gejala.

Misalnya, kram, diare, buang gas yang menyakitkan, bagian tubuh bengkak, dan mual.

Kadar intoleransi laktosa pada setiap orang berbeda-beda, ada yang langsung merasa sakit meski hanya makan sedikit produk susu sapi, tetapi juga ada yang bisa makan dalam jumlah banyak, baru mereka merasakan efeknya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Critical Reviews in Food Science and Nutrition, mengatakan bahwa rata-rata seseorang dengan intoleransi laktosa hanya dapat menerima sebesar 12 gram laktosa saja yang kira-kira sama dengan jumlah dalam 1 cangkir (230 ml) susu.

Namun kembali lagi bahwa kondisinya akan berbeda-beda pada setiap tubuh.

Setelah intoleransi tersebut membaik, maka mulai kembali secara perlahan memasukkan susu atau keju ke dalam makanan.

Jangan mengonsumsi terlalu banyak, hal ini guna menakar seberapa jauh laktosa yang dapat diterima tubuh.

Baca Juga: Peringatan Hari Jantung Sedunia 2022, Sayangi Jantung untuk Diri Sendiri, Kemanusiaan, dan Alam

Intoleransi Laktosa pada Bayi

Intoleransi Laktosa Bayi

Foto: Intoleransi Laktosa Bayi (Istockphoto.com)

Tidak hanya pada dewasa, intoleransi laktosa pun bisa dialami bayi dan anak-anak.

Biasanya memang anak di bawah usia 1 tahun tidak mengonsumsi susu sapi, tapi ternyata laktosa juga terdapat pada beberapa MPASI.

Penanganan intoleransi laktosa pada Si Kecil sebaiknya memang melalui pengamatan khusus.

Moms harus mampu memperhatikan makanan atau minuman yang menyebabkan gejala-gejala yang muncul dari pencernaan.

Sebaiknya Moms menyimpan catatan harian makanan guna mencatat apa yang ia konsumsi.

Setelahnya selalu perhatikan gejala yang terjadi untuk kemudian menemukan penyebab dan cara mengatasinya.

Moms bisa mengamatinya dengan cara, tidak memberikan susu atau produk olahan susu kepada anak selama 2 minggu.

Sepanjang waktu itu, perhatikan apakah gejala intoleransi laktosa anak menghilang.

Setelah 2 minggu berlalu, cobalah untuk kembali memasukkan susu atau olahan susu ke dalam makanan atau minuman harian anak dalam jumlah kecil.

Jika gejala intoleransi laktosa anak kembali muncul, sebaiknya Moms membawa Si Kecil ke dokter untuk menjalani tes yang benar-benar dapat memastikan anak memiliki kondisi tersebut.

Meski gejala intoleransi laktosa anak menimbulkan ketidaknyamanan, namun, akibatnya tidak sampai fatal seperti kondisi alergi.

Intoleransi laktosa ini memang tidak bisa “disembuhkan”, tetapi bisa dikelola agar gejalanya tidak muncul.

Pada akhirnya, Si Kecil nantinya akan bisa memperkirakan sendiri seberapa banyak laktosa yang bisa ditolerir oleh tubuhnya.

Baca Juga: Film Beirut Bergenre Action Crime yang Menampilkan Pemain Jon Hamm dan Rosamund Pike

Gejala Intoleransi Laktosa

Perut Kembung

Foto: Perut Kembung (Istockphoto.com)

Dikutip dari situs American College of Gastroenterology, laktosa adalah komponen utama yang ada secara alami pada susu sapi, susu kambing, dan ASI.

Secara struktur kimia, komponen ini terdiri dari gabungan dua jenis gula sederhana (disakarida), yakni glukosa dan galaktosa.

Glukosa banyak ditemukan pada jenis makanan lain. Akan tetapi, galaktosa hanya ada pada produk susu.

Dalam laman US News, Dr. Kadakkal Radhakrishnan, MBBS, MD (Peds), DCH, MRCP (UK), MRCPCH, FAAP, dokter spesialis gastroenterologi dan hepatologi anak menjelaskan, jika pada anak yang memiliki kondisi intoleransi laktosa, tubuhnya tidak menghasilkan laktase dalam jumlah yang cukup.

Laktase adalah enzim alami yang berfungsi memecah laktosa menjadi gula sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa.

Saat kadar enzim laktase tidak mencukupi, tubuh manusia tersebut tidak mampu menyerap laktosa ataupun memecahnya menjadi gula sederhana.

Kondisi ini yang kemudian memicu sejumlah reaksi atau gejala intoleransi laktosa seperti berikut:

Baca Juga: Hepatitis E: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, dan Pencegahannya

Penyebab Intoleransi Laktosa

Kelahiran Prematur

Foto: Kelahiran Prematur (Istockphoto.com)

Penyebab kondisi ini bisa bermacam-macam. Berikut ini adalah berbagai penyebab intoleransi laktosa berdasarkan jenisnya:

1. Intoleransi Laktosa Primer

Intoleransi laktosa primer disebabkan oleh faktor genetik yang diturunkan dari orang tua.

Kondisi ini terjadi ketika produksi laktase menurun seiring bertambahnya usia.

Biasanya, intoleransi laktosa primer mulai terjadi pada usia 2 tahun, tetapi keluhan baru muncul saat memasuki masa remaja atau dewasa.

2. Intoleransi Laktosa Sekunder

Intoleransi laktosa sekunder terjadi akibat penurunan produksi laktase yang disebabkan oleh penyakit celiac, penyakit Crohn, infeksi usus, atau radang usus besar.

Penurunan produksi laktase juga bisa terjadi akibat efek kemoterapi atau penggunaan antibiotik dalam jangka panjang.

Baca Juga: Keindahan Danau Batur di Bali, dengan Pemandangan Gunung dan Hutan Hujan Tropis

3. Intoleransi Laktosa dalam Masa Perkembangan

Intoleransi laktosa jenis ini terjadi akibat belum sempurnanya perkembangan usus bayi saat dilahirkan.

Biasanya, kondisi ini terjadi pada bayi dengan kelahiran prematur.

Akan tetapi, intoleransi laktosa jenis ini hanya berlangsung sementara dan membaik seiring bertambahnya usia bayi.

4. Intoleransi Laktosa Bawaan

Intoleransi laktosa bawaan disebabkan oleh kelainan genetik yang diturunkan dari kedua orang tua.

Bayi dengan kondisi ini terlahir dengan sedikit atau tanpa enzim laktase sama sekali.

Intoleransi laktosa jenis ini sangat jarang terjadi.

Baca Juga: Benarkah Paracetamol untuk Gusi Bengkak Bekerja Efektif? Ini Faktanya!

Diagnosis Intoleransi Laktosa

Tes Toleransi Laktosa

Foto: Tes Toleransi Laktosa (Istockphoto.com)

Untuk mendiagnosis intoleransi laktosa, dokter akan menanyakan gejala yang dialami, makanan atau minuman yang terakhir dikonsumsi, riwayat pengobatan pasien, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa kondisi pasien dan mendeteksi jika ada penyakit lainnya.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan, seperti:

1. Tes Toleransi Laktosa

Dalam tes ini, pasien akan diminta untuk mengonsumsi minuman tinggi laktosa (gula).

Setelah itu, 2 jam setelahnya, dokter akan melakukan tes darah untuk mengukur kadar glukosa dalam darah pasien.

Jika kadar glukosa dalam darah tidak meningkat, artinya tubuh pasien tidak menyerap laktosa dengan baik.

2. Tes Toleransi Susu

Tes toleransi susu bertujuan untuk mengukur kadar gula darah pasien.

Sebelum tes ini dilakukan, pasien akan diminta untuk mengonsumsi segelas (500 ml) susu.

Jika kadar gula darah pasien tidak meningkat setelah mengonsumsi susu, dapat diduga pasien menderita intoleransi laktosa.

Baca Juga: Kenali Struktur Anatomi Jantung serta Fungsi Setiap Bagiannya dan Cara Kerjanya dalam Tubuh

3. Tes Kadar Hidrogen

Dokter akan meminta pasien untuk berpuasa beberapa jam sebelum tes, lalu pasien akan diminta untuk mengonsumsi minuman dengan kadar laktosa tinggi.

Setelah itu, dokter akan mengukur kadar hidrogen dalam napas pasien setiap 15 menit selama beberapa jam.

Jika kadar hidrogen dalam napas pasien tinggi, ada kemungkinan pasien mengalami intoleransi laktosa.

Hal ini terjadi karena laktosa yang tidak tercerna terfermentasi di dalam usus besar dan menghasilkan hidrogen yang melebihi jumlah normal.

4. Tes Keasaman Feses

Tes ini biasanya digunakan untuk mendiagnosis intoleransi laktosa pada bayi atau anak-anak, karena tes lain akan lebih sulit diterapkan pada mereka.

Tes keasaman feses dilakukan dengan mengukur kadar asam laktat pada sampel tinja pasien.

Asam laktat tersebut dapat terbentuk akibat proses fermentasi laktosa yang tidak tercerna.

Dengan kata lain, jika terdapat asam laktat di feses, dapat diduga pasien mengalami intoleransi laktosa.

Baca Juga: Hadits Tentang Sedekah, untuk Hidup yang Lebih Berkah

Cara Mengatasi Intoleransi Laktosa

Greek Yogurt

Foto: Greek Yogurt (Istockphoto.com)

Hingga saat ini, pengobatan terbaik untuk mengatasi intoleransi laktosa hanyalah dengan membatasi konsumsi terhadap asupan susu sapi, produk susu sapi, dan makanan lain yang mengandung laktosa.

Jangan sampai terlena dengan makanan-makanan yang tanpa disadari mengandung laktosa, seperti sereal, sup, hingga pancake.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meringankan intoleransi laktosa, antara lain:

1. Coba Konsumsi Yoghurt

Moms bisa mencoba untuk mengonsumsi yoghurt probiotik atau yang mengandung kultur hidup lactobacillus.

Menurut studi di jurnal ISRN Nutrition, probiotik adalah mikroorganisme yang memberikan manfaat kesehatan saat dikonsumsi.

Kultur bakteri hidup dan aktif ini dapat membantu memecah laktosa dan meringankan gangguan pencernaan.

2. Mencoba Susu Lain

Karena tubuh tak dapat menerima susu sapi, maka carilah pengganti susu yang lain, seperti:

Jika Moms tidak terbiasa dengan rasa susu tersebut, Moms dapat mengolahnya bersama makanan lain sehingga lebih mudah dikonsumsi.

Baca Juga: Obat Herpes Genital Salep dan Alami, Ampuh Redakan Gejala!

3. Cuka Sari Apel

Cuka apel ternyata dapat membantu mengurangi intoleransi laktosa karena membantu pencernaan.

Hal ini karena cuka sari apel bekerja sebagai obat yang efektif untuk menetralkan asam lambung dan masalah pencernaan lain yang disebabkan oleh intoleransi laktosa.

4. Pastikan Cukup Nutrisi

Susu dan produk sejenisnya adalah sumber utama dari nutrisi, terutama kalsium.

Dengan kata lain, bila membatasi asupannya malah akan mengurangi untuk kebutuhan gizi. Kalsium sangat penting untuk kesehatan gigi dan tulang.

Untuk itu gantilah kebutuhan yang seharusnya didapatkan dari susu dengan mengonsumsi:

  • Gandum utuh
  • Buncis
  • Lentil
  • Sayuran hijau, seperti bayam, sawi, dan brokoli
  • Produk kedelai
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian
  • Buah-buahan kering
  • Jus yang diperkaya kalsium
  • Ikan bertulang, seperti sarden atau ikan teri yang mengandung kalsium yang tinggi

Baca Juga: Mengenal Medan Magnet dan Penggunaannya dalam Kehidupan

5. Suplemen Enzim

Suplemen enzim adalah tablet yang bisa dikonsumsi dengan cara oral atau tetes yang bisa Moms tambahkan ke makanan dan minuman.

Mengonsumsi suplemen enzim bertujuan untuk membantu mencerna laktosa.

Meski efektivitas produk ini tampaknya bervariasi pada setiap orang, tetapi suplemen enzim laktase mungkin sangat efektif bagi sebagian orang.

Sebuah studi dari Clinical Trial meneliti efek dari 3 jenis suplemen laktase yang berbeda pada orang yang tidak toleran laktosa yang mengonsumsi 20 atau 50 gram laktosa.

Dibandingkan dengan plasebo, ketiga suplemen laktase tersebut yang ternyata dapat mengurangi gejala intoleransi laktosa secara keseluruhan saat dikonsumsi dengan 20 gram laktosa.

Namun, suplemen enzim ini tidak bekerja efektif pada dosis 50 gram laktosa atau yang lebih tinggi.

Itu dia informasi seputar intoleransi laktosa. Apakah Moms atau Si Kecil juga mengalami kondisi ini? Mari share pengalaman Moms di kolom komentar!

  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26713460/
  • https://gi.org/topics/lactose-intolerance-in-children/
  • https://www.healthline.com/nutrition/lactose-intolerance-101#TOC_TITLE_HDR_9
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26713460/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24959545/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lactose-intolerance/symptoms-causes/syc-20374232
  • https://www.nhs.uk/conditions/lactose-intolerance/