01 Februari 2021

7 Masalah Kesehatan Gigi yang Sering Terjadi, Jangan Anggap Enteng!

Ternyata pemakaian behel atau kawat gigi terlalu lama dapat merusak gigi, lho!

Gigi tidak rapi membuat rasa kurang percaya diri dan sebagian orang merasa minder. Apalagi jika sedang tersenyum atau berbicara.

Selain membuat rasa percaya diri menurun, gigi tidak rapi juga dapat mengakibatkan berbagai bahaya gigi yang serius.

Penggunaan kawat gigi atau behel menjadi tren hingga saat ini. Bahkan untuk penampilan dan kebutuhan profesional, beberapa orang memakai kawat atau behel untuk keperluan penampilan bukan kesehatan. Terlebih jika ia seorang public figure.

Behel adalah bagian dari alat ortodontik yang digunakan untuk memperbaiki struktur gigi yang berantakan atau terganggu. Ini juga meningkatkan kemampuan berbicara serta untuk mengunyah makanan.

“Ortodontik adalah salah satu cabang kedokteran gigi yang menangani maloklusi, yaitu kondisi gigi yang tidak diposisikan dengan benar saat mulut ditutup serta perawatan dimulai dari anak-anak hingga dewasa,” ucap drg. Benny Mulyono Soegiharto, M.Sc, MorthRCS, Ph.D, Sp.Ort - Dokter Gigi RS Pondok Indah - Puri Indah pada konferensi pers Kenali Perawatan Ortodontik Gigi Melalui Zoom pada Selasa, 12 Januari 2021.

Perawatan dapat berupa estetika untuk meningkatkan penampilan seseorang, tetapi seringkali bertujuan untuk meningkatkan fungsi mulut juga. Namun ternyata, kawat gigi juga dapat memberikan gangguan kesehatan gigi yang serius jika tidak diperhatikan kebersihannya.

Ada banyak macam masalah kesehatan gigi selain penggunaan kawat gigi, gigi berlubang atau karies yang perlu Moms tahu.

Baca Juga: 5 Alasan Perlunya Merawat Gigi Susu Bayi

Jenis-jenis Masalah Kesehatan Gigi

XX Masalah Kesehatan Gigi
Foto: XX Masalah Kesehatan Gigi

Foto: Orami Photo Stocks

Semakin banyak orang dewasa yang memiliki masalah kesehatan gigi yang tidak disadari.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyatakan bahwa proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi rusak, berlubang dan sakit yakni 45,3 persen.

Sedangkan masalah kesehatan mulut yang mayoritas dialami penduduk Indonesia adalah gusi bengkak atau keluar bisul (abses) sebesar 14 persen.

Masalah kesehatan gigi dan mulut khususnya karies gigi merupakan penyakit yang dialami hampir dari setengah populasi penduduk dunia.

Penyakit pada gusi menjadi urutan ke 11 penyakit yang paling banyak terjadi terkait kesehatan gigi dan mulut. Sementara di Asia Pasifik, kanker mulut menjadi urutan ke 3 jenis kanker yang paling banyak diderita.

1. Gigi Berantakan

Gigi berantakan adalah masalah umum yang sering terjadi hampir di setiap orang. Tentu perawatan yang diberikan juga berbeda tergantung masalahnya.

Sebagian orang tumbuh dengan gigi bengkok, tumpang tindih, atau berantakan. Ada juga yang mengalami mulut terlalu kecil untuk pertumbuhan gigi atau bahkan sebaliknya.

Penyebab gigi berantakan juga bisa dari banyak hal. Menurut Orthodontics Australia, masalah ortodontik seperti gigi berantakan, gigi bengkok sebagian besar dipengaruhi dari genetika.

Masalah pertumbuhan gigi dan wajah yang tidak simetris dapat dilihat sejak usia anak 7-8 tahun. Semakin dini diketahui maka akan semakin mudah untuk dirawat pada fase pertumbuhan pubertas anak-anak.

2. Plak Gigi

Mengatasi Plak Gigi pada Anak, Tak Cukup dengan Sikat Gigi.jpg
Foto: Mengatasi Plak Gigi pada Anak, Tak Cukup dengan Sikat Gigi.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Ketika plak, lapisan lengket yang dibentuk oleh bakteri, merusak email gigi, Moms akan mengalami kerusakan gigi. Plak dapat berasal dari sisa-sisa makanan yang mengendap pada gigi.

Bakteri menghasilkan asam yang menggerogoti enamel dan dapat menyebabkan banyak masalah gigi seperti gigi berlubang, gigi nyeri dan lainnya.

Untuk menghindari plak gigi, kurangi minum soda atau gula berlebih serta makanan dengan kandungan asam tinggi.

“Sikat gigi sebaiknya 2-3 kali apalagi di malam hari itu yang terpenting,” ucap drg. Benny. Dokter gigi biasanya akan mengikis plak-plak yang menempel jika dibutuhkan.

3. Gigi Berlubang

Satu dari empat orang dewasa memiliki gigi berlubang yang disebabkan tidak merawat gigi dengan baik. Hampir setiap orang dewasa akan mengalami kerusakan gigi di beberapa titik.

Gigi berlubang akan terasa sakit dan nyeri jika sedang makan atau mengunyah. Sebab, sisa makanan akan tertinggal dan mengenai gigi yang berlubang.

Makanan akan tersangkut di gigi, gigi terasa kasar di lidah, atau sakit saat makan sesuatu yang dingin atau manis.

Melansir Mouth Healthy, bergantung pada tingkat keparahannya, gigi berlubang dapat dirawat dengan tambalan, crown, atau root canal. Crown adalah teknik untuk pemasangan selubung gigi palsu di atas gigi yang rusak atau berlubang. Layaknya memberikan perlindungan mahkota untuk melindungi gigi dari kerusakan yang lebih parah.

Root canal adalah perawatan saluran akar gigi yakni dilakukan dengan bedah kecil ketika infeksi penyebab pembusukan sudah terlanjur merusak gigi. Dokter gigi akan mengangkat pulpa dan serabut saraf yang terinfeksi dari pusat gigi dan mengisi rongga pulpa.

Jika kerusakan terlalu parah atau melibatkan kerusakan saraf, gigi mungkin perlu dicabut. Untuk mengurangi kemungkinan timbulnya gigi berlubang, sikat gigi dua kali sehari, minum air dengan fluorida, gunakan pasta gigi berfluoride, jauhi makanan dan minuman manis dan temui dokter gigi secara teratur.

Baca Juga: Apa Semua Gigi Bungsu Harus di Operasi?

4. Gigi Kering

sakit gigi - mulut kering.jpg
Foto: sakit gigi - mulut kering.jpg (Pixabay)

Foto: Orami Photo Stocks

Mungkin masalah kesehatan gigi satu ini jarang Moms sadari, tapi ternyata gigi kering bisa mengakibatkan kondisi serius pada masalah kesehatan gigi dan mulut.

Gigi kering atau bruxism kemungkinan besar terjadi saat sedang tidur, meskipun dapat terjadi kapan saja sepanjang hari apalagi jika sedang stres. Memiliki tambalan atau perawatan crown juga dapat membuat gigi kering.

Dalam jangka waktu yang lama, permukaan gigi akan menjadi haus serta bisa mengalami sakit gigi hingga sakit kepala dan nyeri pada telinga serta rahang.

Gigi mungkin juga tampak lebih kuning karena lapisan luar putihnya sudah terkikis. Hindari stres yang berlebih serta tidur cukup untuk mencegah terjadinya gigi kering.

5. Radang Gusi

Harvard Health Publishing menjelaskan, dua dari tiga orang dewasa berusia 65 atau lebih memiliki masalah kesehatan gigi yakni radang gusi ( penyakit periodontal). Ini adalah peradangan pada gusi yang dapat menyebabkan gigi lepas dan banyak masalah lainnya.

Penyakit ini dimulai dengan penumpukan plak yang mengiritasi gusi. Tahap awal ini (radang gusi) menyebabkan gusi bengkak yang mudah berdarah.

Jika tidak diobati, radang gusi bisa meluas hingga ke bawah garis gusi.

Sistem kekebalan tubuh seseorang memicu kondisi tersebut, karena sel darah putih untuk menyerang bakteri akhirnya merusak jaringan gusi juga.

"Itu dapat menginfeksi gusi sampai ke ligamen yang menahan gigi di tulang, menembus ligamen, menghancurkan tulang, dan menyebabkan kehilangan gigi dan abses," kata Dr. Lisa Thompson Spesialis Kedokteran Gigi Geriatri di Harvard School of Dental Medicine.

Paling buruk, bakteri dari penyakit gusi bisa masuk ke aliran darah dan menginfeksi katup jantung, serta komplikasi yang berpotensi mematikan.

Orang dengan radang gusi lebih mungkin menderita tekanan darah tinggi, diabetes, rheumatoid arthritis, osteoporosis, penyakit Alzheimer, dan pneumonia.

6. Maloklusi atau Gigi Tonggos

Maloklusi Dan Gigi Berdesakan Pada Anak, Apa Penyebabnya 3.jpg
Foto: Maloklusi Dan Gigi Berdesakan Pada Anak, Apa Penyebabnya 3.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Maloklusi adalah bentuk oklusi gigi yang menyimpang dari pertumbuhan normal. Oklusi adalah hubungan kontak antara gigi geligi bawah dengan gigi atas waktu mulut ditutup.

Maloklusi atau gigi tonggos dapat merubah bentuk estetika dan fungsi gigi. “Kesulitan dalam mengunyah sangat dirasakan bagi seseorang yang mengalami maloklusi,” tambah drg. Benny

Gigi tonggos sering dikaitkan dengan faktor genetik. Sebab, bentuk rahang dan wajah kita merupakan warisan turunan genetik dari generasi ke generasi.

Namun selain faktor genetik, ada beberapa penyebab gigi tonggos yang perlu Moms tahu:

  • Mengedot terlalu lama. Journal of American Dental Association memaparkan apabila sejak kecil dibiasakan mengedot susu terlalu lama, ini akan menyebabkan gigi tonggos. Sebab, dot yang tertahan pada gigi dalam waktu lama akan menganggu pertumbuhan gigi.
  • Kebiasaan mengisap jempol. Anak-anak paling senang apabila mengisap jempol baik ketika tidur ataupun sedang bermain. Hal ini dapat menekan gigi ke depan dan menyebabkan gigi menjadi lebih maju dan tidak rata.
  • Menggigit bibir. Jika Si Kecil memiliki kebiasaan menggigit bibir, sebaiknya dihentikan ya Moms. Ini dapat membuat gigi anak tonggos atau maju ke depan.
  • Tumor mulut. Tumbuhnya tumor di mulut dapat merusak posisi gigi dan bentuk rahang seseorang. Pertumbuhan jaringan tidak normal dalam mulut membuat gigi tidak beraturan dan salah satunya yakni maloklusi.

7. Resopsi Akar Gigi

“Pemakaian kawat gigi jika tidak dibarengi kebersihan yang memadai, akan menimbulkan resorpsi akar gigi,” menurut penjelasan drg. Benny. Resorpsi adalah proses akar gigi memanjang dan terjadi kerusakan atau menghancurkan struktur gigi yang normal.

Hal ini disebabkan oleh kerja sel tubuh yang menyerang bagian dari gigi. Bila kerusakan meluas ke seluruh gigi, dinamakan resorpsi gigi.

Resopsi akar gigi yang bisa disebabkan dari pemakaian kawat terlalu lama atau penumpukan kotoran, dibedakan menjadi dua jenis, antara lain:

  • Panjang akar lebih pendek. Selama pergerakan gigi, sebagian tulang di jalur gigi yang bergerak akan larut, sementara tulang baru diletakkan di belakangnya. Kehilangan permanen panjang akar gigi dapat terjadi selama proses ini, yang dapat menyebabkan gigi kurang stabil. Namun, dalam banyak kasus, ini tidak menimbulkan masalah.
  • Stuktur gigi tidak membaik. Jika Moms tidak mengikuti instruksi ortodontis dengan hati-hati setelah kawat gigi dilepas, terutama saat menggunakan alat yang disebut retainer, mungkin stuktur gigi tidak membaik atau bahkan semakin parah.

Baca Juga: Ngilu Akibat Sakit Gigi? Ini 5 Cara Alami untuk Meredakannya!

Tips Merawat Gigi

tipis merawat tulang dan gigi
Foto: tipis merawat tulang dan gigi

Foto: Orami Photo Stocks

Untuk menghindari berbagai masalah kesehatan gigi, ada banyak cara yang bisa Moms lakukan untuk pencegahan. Memang, ini terlihat mudah dilakukan namun masih banyak orang yang tidak menerapkannya.

Berikut tips merawat gigi yang perlu diikuti bersama Si Kecil, antara lain:

  • Rajin sikat gigi. Sikat gigi sehari dua hingga tiga kali sangat dianjurkan untuk mencegah gigi berlubang atau gigi rusak. Sikat gigi setelah sarapan pagi dan sebelum tidur. Dianjurkan sikat gigi 2-3 kali untuk mengurangi dan membersihkan sisa makanan dan plak pada rongga mulut.
  • Pasta gigi yang mengandung fluoride. Beragam merek pasta gigi bisa ditemukan di pasaran. Namun, pasta gigi yang mengandung fluoride dianjurkan untuk memperkuat lapisan terluar gigi. Fluoride membantu membersihkan sisa plak dan kotoran pada gigi.
  • Sikat gigi yang pas. Banyak orang tidak menaruh perhatian penuh pada sikat gigi yang dipakainya. Pastikan bentuk dan jenis sikat gigi yang sesuai denga struktur gigi. Mulai dari yang lembut, medium dan keras. Sesuaikan dengan kebutuhan Moms, ya.
  • Kurangi makanan manis. Makanan manis biasanya mengandung gula tinggi yang dapat mempercepat terbentuknya lubang pada gigi. Mulai saat ini batasi makanan manis untuk mencegah gigi berlubang. Selalu sikat gigi setelah mengonsumsi makanan manis.
  • Rutin Periksa ke dokter gigi. Periksakan gigi asecara rutin 6 bulan sekali ke dokter gigi untuk mendeteksi adanya lubang gigi atau tidak. Selain itu, Moms dapat berkonsultasi seperti karang gigi, merapikan gigi dan lainnya. Dokter gigi akan memberikan perawatan sesuai diagnosa kasus.

Baca Juga: Penting Memasang Behel untuk Anak Remaja! Bukan Sekadar Tren!

Itu dia Moms jenis-jenis masalah kesehatan gigi yang perlu Moms tahu agar selalu waspada setiap nyeri atau sakit yang dirasakan. Selalu rutin periksakan gigi ke dokter gigi ya Moms!

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.