20 Maret 2019

Jangan Sepelekan, Ini 3 Dampak Patah Hati Pada Otak

Ternyata, patah hati mempengaruhi fisik termasuk aktivitas otak!

Kisah cinta tak selamanya manis. Banyak orang yang kisah percintaannya harus berakhir, Moms.

Walau ada yang merasa biasa dengan berakhirnya kisah cinta, banyak juga orang yang merasa sangat kecewa, marah, kesal bahkan gara-gara putus cinta bisa menyebabkan seseorang memutuskan untuk bunuh diri.

Bagi sebagian orang, patah hati merupakan sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan.

Saking tidak menyenangkannya, kejadian yang mengganggu jiwa ini juga bisa mempengaruhi fisik.

Salah satu organ yang paling terpengaruh saat terjadinya patah hati adalah jantung. Jantung bisa berdebar hingga menyebabkan sesak di dada.

Sebenarnya ada satu lagi yang kerap terlupakan, yaitu otak.

Apa yang sebenarnya yang terjadi pada otak saat patah hati?

Menurut Guy Winch, Ph.D., seorang psikolog berlisensi dan penulis Emotional First Aid: Healing Rejection, Guilt, Failure, dan Other Everyday Hurts, ada tiga dampak patah hati terhadap otak.

Apa sajakah? Yuk, Moms, kita simak bersama.

1. Menyebabkan Rasa Sakit Fisik

headache
Foto: headache

Foto: medicalnewstoday.com

Dalam sebuah penelitian fMRI, disimpulkan adanya suatu mekanisme yang sama dalam otak saat patah hati dengan sakit fisik.

Namun, di beberapa penelitian lain, terlihat jika sakit hati digambarkan lebih sakit dari sakit fisik biasanya.

Untuk anda yang mengalami patah hati, perlahan mulai perbaiki emosi, supaya otak Moms tidak bekerja keras.

Sebab, efek patah hati bisa terjadi berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Baca Juga: 3 Cara Mengobati Kesedihan Mendalam Setelah Suami Meninggal Dunia

2. Ketidakstabilan Emosi

woman pointing angry stock today 150910 tease 8faf7a21fb27451f6d7f581a2d0b027a
Foto: woman pointing angry stock today 150910 tease 8faf7a21fb27451f6d7f581a2d0b027a

Foto: today.com

Dalam sebuah studi fMRI lainnya, ditemukan bahwa otak mekanisme yang sama dengan para pecandu zat adiktif.

Alhasil, patah hati bisa mengganggu proses berpikir.

Begitu hebatnya efek patah hati pada otak, sehingga tidak jarang orang yang sedah patah hati emosinya tidak stabil.

Terlihat dari kebiasaan-kebiasaannya yang jadi tak biasa, misalnya lebih sering meluapkan kemarahan.

Baca Juga: Benarkah Ibu Hamil Sedih, Bayi di Perut Ikut Sedih? Lihat Juga 4 Efek Buruk Lainnya

3. Menyebabkan Perdebatan di Otak

confused woman
Foto: confused woman

Foto: madamenoire.com

Orang yang patah hati seakan terjebak dalam pikirannya sendiri, Moms.

Saat terjadi perasaan kecewa, bagian otak saling berebutan untuk menyelesaikan masalah.

Bagian otak depan yang berfungsi mengendalikan emosi, berusaha menyelesaikan masalah, namun otak sisi lain berusaha melakukan kebalikannya.

Saat teringat mantan, bisa jadi muncul luka lama, lalu membuka kembali kesedihan. Hal ini bisa terus berulang dalam otak, bahkan hingga menjadi pusing dan berputar.

Patah hati ternyata efeknya sangat berat. Bagian otak yang berfungsi untuk mengelola emosi sekaligus kemampuan berpikir menjadi kacau.

Baca Juga: Tenangkan Anak yang Sedang Sedih dengan 4 Cara Ini

Peningkatan berbagai hormon bukan saja melelahkan otak, namun juga menjadikan seluruh tubuh tidak nyaman.

Patah hati efeknya bisa dirasakan berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Jika ini tidak segera diatasi, efeknya akan berakhir lebih mengerikan.

Bisa jadi seseorang berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Penting untuk Moms menemani atau menjadi teman yang memberi penyemangat seseorang yang patah hati, supaya tidak terjadi hal-hal yang akan merugikan atau mencelakai orang yang patah hati.

Untuk Moms yang mengalami patah hati, tersenyumlah. Tataplah masa depan yang lebih baik, menanti Moms.

Apakah Moms pernah melewati masa sedih saat patah hati? Yuk, bagi ceritanya.

(MNM)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.