04 Januari 2024

6 Jenis-Jenis Bullying serta Dampaknya terhadap Korban

Ada penindasan fisik, relasional, emosional, seksual hingga perundungan siber

Bullying tidak hanya sebatas menghina fisik maupun lisan. Ada juga jenis-jenis bullying lain yang perlu Moms ketahui.

Pada dasarnya, sekolah dan lingkungan bermain anak seharusnya menjadi tempat yang aman bagi Si Kecil.

Sayangnya, hingga saat ini, berbagai jenis-jenis bullying atau penindasan masih kerap terjadi dalam kehidupan anak-anak.

Baik itu di sekolah, lingkungan pergaulan, atau bahkan di dalam keluarga Moms sendiri.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, mari kenali lebih lanjut terkait perundungan sosial yang sering terjadi di sekitar kita.

Baca Juga: 13 Rekomendasi Parfum untuk Anak Sekolah, Bikin Wangi Sepanjang Hari!

Apa Itu Bullying?

Wanita Menangis
Foto: Wanita Menangis (Orami Photo Stocks)

Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang disengaja dan dilakukan berulang oleh pelaku terhadap seseorang.

Kondisi bullying dapat terjadi di sekolah, lingkungan kerja, pertemanan, atau bahkan lingkup terdekat seperti keluarga.

Terkadang, anak yang menjadi korban bullying tidak berani memberi tahu orang tua atau keluarga terdekatnya.

Hal ini entah karena takut semakin ditindas atau karena merasa dirinya pantas diperlakukan secara tidak adil.

Penting bagi Moms dan Dads untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak guna mencegah bullying dan dampak buruknya.

Menurut Steven Pastyrnak, Ph.D., Kepala Divisi Psikologi di Rumah Sakit Anak Helen DeVos di Grand Rapids, orang tua perlu mengajukan pertanyaan kepada anak.

Buatlah anak-anak berbicara secara terbuka tentang situasi sosial yang mereka alami.

Orang tua juga perlu mengetahui teman yang baik dan tidak untuk anak, guna mencegah perundungan sosial.

Selain itu, orang tua juga harus peka melihat ciri-ciri bullying di sekolah, lingkungan sekitar, atau keluarga yang bisa saja dialami oleh anak-anak secara tidak disadari.

Baca Juga: Peran Penting Orang Tua dalam Perilaku Bullying Anak

Jenis-Jenis Bullying

Perlu Moms ketahui, tidak semua pelaku bullying itu sama.

Setiap jenis-jenis bullying memiliki gaya yang berbeda. Pelaku juga akan menggunakan taktik yang berbeda untuk mengintimidasi dan mengendalikan korbannya.

Yuk, pahami jenis-jenis bullying lewat penjelasan di bawah ini, Moms!

1. Penindasan Verbal

Kekerasan pada Anak
Foto: Kekerasan pada Anak (Orami Photo Stocks)

Perundungan verbal adalah ketika Si Kecil dicemooh secara lisan oleh orang lain, misalnya dengan dipanggil "si bodoh", "si gendut", "si jelek", dan sebagainya.

Makian atau ejekan yang menyakitkan hati juga termasuk perundungan verbal, lho, Moms.

Biasanya, perundungan verbal akan menggunakan penghinaan tanpa henti untuk meremehkan, merendahkan, dan menyakiti orang lain.

Perundung memilih target mereka berdasarkan caranya melihat, bertindak, atau berperilaku.

Penindas verbal juga biasanya menargetkan anak-anak dengan kebutuhan khusus, misalnya pengidap down syndrome.

Bullying verbal sangat sulit untuk diidentifikasi, karena 'serangan' hampir selalu terjadi ketika orang dewasa tidak ada.

2. Penindasan atau Kekerasan Fisik

Jenis-jenis bullying ini memiliki dampak buruk yang terlihat dengan jelas oleh 'mata telanjang'.

Bullying di sekolah yang berkaitan dengan fisik terjadi ketika seseorang melakukan tindak kekerasan untuk mendapatkan kendali atas targetnya.

Contoh intimidasi fisik atau tindak kekerasan yang dimaksud, termasuk menendang, memukul, meninju, menampar, mendorong, dan lainnya.

Anak mungkin mengalami memar atau luka. Ketika ditanya, ia akan memberikan alasan yang tidak jelas, seperti jatuh dari tangga.

Meski begitu, korban perundungan fisik juga terkadang tidak mengalami bekas-bekas yang dapat dilihat mata.

Di sini, orang tua berperan penting dalam memerhatikan tingkah laku Si Kecil.

Moms bisa memperhatikan tanda-tanda lain, seperti anak tidak mau pakai baju yang agak terbuka, atau Si Kecil merasa kesakitan ketika Moms menyentuh bagian tubuh tertentu.

Biasanya anak yang bertubuh kecil atau fisiknya lemah rentan mengalami jenis bullying yang satu ini.

Baca Juga: 6 Penyebab Anak Suka Marah, Salah Satunya karena Perilaku Orang Tua Juga

3. Pengucilan atau Bullying Relasional

Hindari Kekerasan pada Anak
Foto: Hindari Kekerasan pada Anak (Orami Photo Stocks)

Meskipun tidak diejek langsung atau disakiti secara fisik, pengucilan juga termasuk dalam jenis perundungan sosial.

Anak mungkin difitnah atau disudutkan sehingga tak ada yang mau berteman dengannya.

Terkadang, pengucilan juga disebut sebagai intimidasi emosional atau agresi relasional.

Pengganggu relasional atau pelaku bullying jenis ini sering mengucilkan orang lain dari suatu kelompok.

Mereka pun dapat menyebarkan desas-desus, memanipulasi situasi, dan menghancurkan kepercayaan orang lain terhadap targetnya.

Tujuan dari pelaku pengucilan adalah untuk meningkatkan status sosial dirinya sendiri, dengan mengendalikan atau menindas orang lain.

Perhatikan jika anak lebih senang menyendiri dan sibuk main video game daripada bermain bersama teman-temannya.

Anak yang dikucilkan juga cenderung tidak percaya diri dan mudah tersinggung.

Baca Juga: Kenali Dampak Jangka Panjang dan Jangka Pendek Bullying pada Korban

4. Cyberbullying

Maraknya penggunaan media sosial dan internet perlu ditanggapi dengan bijak.

Pasalnya, penindasan pada anak juga bisa terjadi di dunia maya. Penindasan ini dikenal dengan istilah cyberbullying.

Misalnya, ketika akun media sosial anak dibanjiri komentar negatif yang menyakitkan atau data pribadi seperti foto dan video disebarkan tanpa seizin anak.

Pelaku cyberbullying sering mengatakan hal-hal yang tidak berani mereka katakan secara langsung.

Teknologi membuat mereka merasa anonim, terisolasi, dan terlepas dari situasi.

Hingga tak heran, pelakunya mungkin menggunakan nama samaran untuk mengelabui targetnya.

Baca Juga: Anak Ussy Sulistiawaty Dibully di Medsos, Begini 7 Cara Hadapi Cyberbullying Pada Anak

5. Penindasan Seksual

Ilustrasi Kekerasan
Foto: Ilustrasi Kekerasan (Freepik.com/doidam10)

Jenis bullying yang satu ini lebih sering dialami anak perempuan daripada anak laki-laki.

Penindasan seksual terdiri dari tindakan berulang, berbahaya, dan memalukan yang menargetkan seseorang secara seksual.

Biasanya si korban menerima ejekan atau julukan yang bernada seksual atau melecehkan.

Misalnya, tubuh anak sudah lebih dewasa dari anak perempuan seusianya.

Termasuk juga pemanggilan nama secara seksual, komentar kasar, gerakan vulgar, sentuhan tanpa diundang, proposisi seksual, dan materi pornografi.

Seorang penindas mungkin membuat komentar kasar tentang penampilan, daya tarik, perkembangan seksual, atau aktivitas seksual teman sebayanya.

Selain itu, sexting juga dapat menyebabkan intimidasi dan penindasan seksual.

Jika seorang gadis mengirim foto dirinya ke pacar, dia mungkin membagikan foto itu secara luas jika mereka putus.

Dia menjadi sasaran intimidasi seksual karena orang-orang mengolok-olok tubuhnya, memanggilnya dengan nama yang kasar, dan membuat komentar vulgar tentang dirinya.

Penindasan secara emosional mengacu pada tindakan nonfisik yang bertujuan untuk merusak status...

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb