Pengasuhan Anak (Parenting)

"Mama Sudah Bilang Jangan, Kok Malah Diulang...??!!"

Seri: Mengenali Gaya Belajar Balita
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh IDEplus
Disunting oleh Orami

Cerita Pengantar

Braak..!

Suasana makan siang dipecahkan oleh suara mainan kayu yang terjatuh ke lantai.

“Wah mainan Tommy jatuh ya, sini Mama ambilkan”, ujar Mama Emi sambil memungut balok mainan yang jatuh ke lantai dan memberikannya kembali kepada Tommy yang sedang duduk di atas highchair.

“Mainannya jangan dijatuhin ya Tom,” kata Mama Emi lembut.

“Yuk sekarang makan lagi,” Mama Emi menyendok makanan dan menyuapkannya ke mulut Tommy.

Braakk..! Tommy kembali menjatuhkan mainan balok kayunya ke lantai.

“Tom, kan Mama sudah bilang, jangan dijatuhin ya mainannya. Pegang baik-baik ya,” suara Mama Emi meninggi.

Namun, baru saja Mama Emi meletakkan kembali balok tersebut di atas meja, Tommy langsung menyambarnya dan melemparkannya kembali ke lantai.

Duh Tommy, Mama sudah dibilang jangan dijatuhin, kok malah diulang, sih!” Mama Emi berseru kesal.


Halo Moms and Dads!

Pasti Moms and Dads banyak yang bertanya-tanya, kenapa anak pada usia balita kok terkesan bertindak seenaknya ya? Padahal sudah diberitahu berkali-kali tetap saja ngeyel.

Sebenarnya apa sih yang ada dalam pikiran mereka? Bagaimana ya strategi efektif mengajarkan anak balita agar mereka paham?

Moms and Dads akan mendapatkan jawabannya di dalam Parenting Eduseries, Seri Mengenali Gaya Belajar Balita. Ini dia yang akan Anda pelajari:

  1. Apa sih yang ada di pikiran balita?
  2. Mengapa anak balita seolah suka bertindak seenaknya?
  3. Anak balitaku suka melempar dan menjatuhkan barang, wajar nggak sih?
  4. Tips mengajarkan sesuatu kepada balita

Bagian 1: Apa Sih yang ada di Pikiran Balita?

2.jpg

Moms and Dads, pada tahap perkembangan fisik, bayi tidak bisa langsung berjalan, mereka akan mulai dari mengangkat kepala, belajar duduk, berdiri sendiri baru perlahan bisa berjalan tanpa bantuan.


Demikian juga dengan perkembangan proses berpikir. Anak-anak tidak langsung bisa berpikir logis dan konseptual seperti kita. Ada tahapan yang perlu dilalui. Jean Piaget, seorang psikolog perkembangan dari Swiss menjelaskan tentang fase perkembangan kognitif atau kemampuan berpikir pada balita:

  1. Fase Sensorimotor (0-2 tahun)
    Pada masa ini, anak belajar untuk memahami lingkungan lewat panca inderanya. Gambaran dunia bagi anak hanyalah sebatas apa yang bisa dilihat, didengar, disentuh, dirasa dan dibaui olehnya.

    Tonggak penting perkembangan tahap ini ditandai dengan kemampuan anak untuk mengetahui bahwa sebuah benda masih ada meskipun tidak terlihat olehnya. Sebagai contoh adalah si kecil yang sudah mencoba mencari bonekanya yang disembunyikan di balik bantal. Hal ini menunjukkan bahwa anak mampu menyimpan skema tentang boneka dalam pikirannya.

  2. Fase Pra-Operasional (2-7 tahun)
    Moms and Dads, memasuki usia 2 tahun, perkembangan bahasa anak semakin meningkat. Si kecil mulai mengembangkan kemampuan simbolik dan sudah bisa bermain pura-pura. Misalnya, menggunakan sapu dan berpura-pura sedang naik sepeda.

    Meski demikian, pemahaman anak akan dunia masih terbatas pada sudut pandangnya sendiri. Anak masih belum bisa untuk memahami bahwa Moms and Dads atau orang lain memiliki sudut pandang yang berbeda dari dirinya.


Catatan Kecil:

Moms and Dads, proses berpikir pada bayi dan balita masih begitu sederhana. Namun, inilah periode emas dimana anak belajar dan menyerap segala informasi dengan kecepatan super. Yuk, kita manfaatkan momen ini untuk menanamkan fondasi kuat bagi masa depan anak!


Bagian 2: Mengapa Anak Balita Seolah Suka Bertindak Seenaknya?

3.jpg

Moms and Dads,

Egosentris adalah ciri pemikiran pada balita. Dunia seakan hanya terpusat pada dirinya namun bukan berarti si kecil egois. Hal ini terjadi karena balita belum bisa memahami sesuatu dari sudut pandang lain. Menurutnya, apa yang orang lain lihat, dengar, dan rasakan, adalah sama seperti yang dia alami.


Sebagai contoh, ketika Tommy terus menerus menjatuhkan mainannya, hal ini karena semata ia merasa seru dengan suara yang ditimbulkan oleh mainan yang jatuh. Tommy masih belum bisa mengerti bahwa Mama Emi merasa kesal.


Begitupun ketika kita berbicara kepada balita. Balita cenderung langsung menimpali dengan hal yang dianggap berhubungan, berdasarkan pengalamannya. Hal ini dikarenakan ia belum bisa memahami informasi yang diberikan secara utuh.


Catatan Kecil:

Moms and Dads, inilah saatnya untuk mengajarkan konsep-konsep baru kepada anak. Misalkan, Moms and Dads ingin memperkenalkan konsep baru mengenai perasaan, bisa dengan berkata, "Mama lagi nyuapin Tommy, eh Tommy jatuhin mainan terus menerus. Lihat nih, kan Mama jadi kesal... Mainannya jangan dilempar lagi ya, Nak… Setelah makan selesai kita bisa lanjut bermain."


Bagian 3: Anak Balitaku Suka Melempar dan Menjatuhkan Barang, Wajar Nggak Sih?

4.jpg

Moms and Dads, balita akan terus melakukan eksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Mainan yang dijatuhkan akan menimbulkan suara. Kemunculan suara inilah yang membuat anak merasakan keseruan bermain dan mengulang melempar mainan.


Pada fase melempar mainan ini, anak sedang belajar bahwa suatu benda tetap ada meskipun tidak terlihat olehnya. Benda tersebut hanya tersembunyi atau jauh dari dirinya.


Namun, jika Moms and Dads mendapati balita melempar barang dengan ekspresi marah, alihkan aktivitas melempar barang dengan menghentakkan kaki. Dengan demikian Anak akan belajar bahwa melempar barang dilakukan untuk kegiatan bermain, bukan dilakukan karena sedang marah atau kesal.


Catatan Kecil:

Moms and Dads, pada fase ini anak sedang merasa senang dengan keterampilan barunya, yaitu melempar sesuatu. Meskipun demikian, cobalah untuk memberikan aturan bermain kepada anak, mainan apa yang boleh dilempar dan dimana tempat yang aman untuk bermain lempar barang.

Usahakan mengatur kondisi rumah yang ramah anak dan jauhkan barang-barang berbahaya dari jangkauan si kecil. Jika perlu, berikan satu lokasi khusus untuk Anak bermain, tidak perlu luas, yang penting lingkungannya sudah terjamin aman untuk si kecil.


Bagian 4: Tips Mengajarkan Sesuatu Pada Balita

5.jpg

Moms and Dads, ini dia tips EKSIS yang dapat diterapkan dalam mengajarkan sesuatu kepada balita dengan efektif:

  1. Eksplorasi multisensori
    Balita memahami sesuatu berdasarkan informasi yang diterima panca inderanya. Ajak si kecil untuk beraktivitas yang dapat mengoptimalkan fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan serta keseimbangannya.

    Misalkan, mengenalkan A, B , C pada si kecil melalui gambar (penglihatan) atau menambah kosakata anak melalui kegiatan mendongeng dan bernyanyi (pendengaran).

  2. Kendalikan screen time
    Tahukah Moms and Dads, terlalu banyak screen time (waktu yang digunakan untuk bermain gadget) justru membuat anak pasif dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan aspek motorik dan bahasanya?

    Oleh sebab itu, Moms and Dads perlu mengetahui rekomendasi American Academy of Pediatrics terkait penggunaan gawai (gadget) dan screen time untuk anak:

    Usia anak di bawah 18 bulan
    Tidak direkomendasikan untuk menggunakan gawai/gadget selain video call.

    Usia anak 18 - 24 bulan
    Harus didampingi saat menggunakan gadget. Si kecil harus dibantu untuk memahami apa yang sedang ditonton. Moms & Dads pilih dan seleksi program / aplikasi yang sesuai usianya anak ya.

    Usia anak 2 - 5 tahun
    Direkomendasikan hanya menggunakan gadget 1 (satu) jam sehari dengan program/ aplikasi yang berkualitas. Moms & Dads, tetap dampingi anak saat menggunakan gawai (gadget), ya. Hal ini dilakukan untuk membantu anak memahami apa yang mereka lihat dan bagaimana penerapannya di dunia nyata.

    Sebaiknya dibuat aturan “waktu tanpa gadget”, misalnya saat makan. Atau menerapkan aturan “lokasi tanpa gadget” di rumah, misalnya kamar tidur.

  3. Sediakan contoh dengan praktik
    Moms and Dads, anak belajar dengan meniru. Jadi, jika Moms and Dads ingin mengajarkan anak untuk membereskan mainannya, tunjukkan bagaimana caranya dan ajak anak melakukannya bersama-sama. Moms and Dads juga bisa membuat pembelajaran menjadi aktivitas bermain yang seru agar anak tertarik untuk terlibat.

  4. Ingat, beri pujian
    Moms and Dads, jangan lupa berikan pujian setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu, ya. Pujian mampu menguatkan hubungan emosional antara anak dan Anda. Selain itu, pujian juga membuat si kecil termotivasi untuk terus menerapkan hal yang sudah dipelajari.

  5. Susun kebiasaan
    Moms and Dads, pernah dengan pepatah: Bisa karena biasa?
    Jangan menyerah ketika anak tidak lantas menunjukkan kemajuan. Tetap sabar untuk ajari si kecil, berikan contoh, ajak si kecil untuk membangun kebiasaan. Percayalah, anak akan paham dan konsisten melakukannya hingga menjadi kebiasaan.


Catatan Kecil:

Moms and Dads, tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor fisik dan lingkungan. Keduanya saling berpengaruh.

Hati-hati dengan mitos, "Ah, nanti kalau sudah besar juga bisa." "Ntar juga ngerti sendiri”. Stimulasi dari luar juga dibutuhkan untuk membantu kematangan proses berpikir anak.

Moms and Dads, mengajarkan anak sejak dini bagaikan investasi untuk jangka panjang. Manfaatnya akan kita tuai di masa depan nanti. Tetap semangat ya 😊


Quote Mengenal Gaya Belajar Balita.png


Moms and Dads, jadilah yang pertama mereview Orami Parenting Eduseries!

Klik di sini!


Baca seri Orami Parenting Eduseries lainnya!


Seri ini bekerjasama dengan IDEplus (Lembaga Pendidikan Soft Skill untuk Anak dan Remaja):

Website: www.ideplus.co.id/

Instagram: @ideplus.id


Pranala Luar/Referensi

  • Santrock, J. W. (2001). Child Development (9th Ed.). Boston : McGraw-Hill
  • Santrock, J. W. (2015). Life-Span Development (15th Ed.). Boston : McGraw-Hill
  • www.aap.org
Artikel Terkait