18 Oktober 2022

Cara Mencegah DBD pada Anak di Musim Hujan, Apakah Bisa Pakai Vaksin?

Nyamuk DBD memiliki perilaku multi-bite atau menggigit berkali-kali

Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok di Indonesia.

Terlebih, memasuki musim hujan kasus DBD turut meningkat dari segala usia.

Penyakit akibat nyamuk ini bisa berakibat fatal, terutama pada anak-anak.

Oleh karena itu, Moms perlu mengetahui cara mencegah DBD pada anak.

Berdasarkan data dari Takeda Indonesia dalam acara Waspada Penyebaran Dengue di Tengah Musim Hujan pada Senin, 17 Oktober 2022.

Saat ini terdapat 27.657 kasus DBD di Jawa Barat, diikuti dengan 8.760 di Jawa Tengah, 8.356 di Jawa Timur.

Sementara di DKI Jakarta, sebesar 5.632 sebaran kasus DBD di Indonesia kumulatif sampai dengan minggu ke-39 tahun 2022.

Angka kasus yang cukup besar ini tentu menjadi perhatian bagi banyak pihak.

Terlebih, Indonesia juga masih bergelut dengan pandemi COVID-19.

Nah, sayangnya, kebanyakan kasus yang parah hingga menimbulkan kematian, terjadi pada anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Demam dengue ini disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes betina.

Ada 4 gejala klinis besar dengue, yakni demam, demam dengue, demam berdarah dengue (DBD), dan sindrom syok dengue.

Simak selengkapnya di sini, ya Moms!

Baca Juga: Ketahui Tempat Nyamuk Demam Berdarah Bersarang dan Cara Membasminya

Mengenal DBD di Musim Hujan

Ilustrasi Nyamuk DBD
Foto: Ilustrasi Nyamuk DBD

Nah, seperti yang sudah disinggung di atas, saat musim hujan DBD semakin berisiko.

Nyamuk Aedes akan meletakkan telurnya di air jernih yang tergenang, tak terkena sinar matahari, dan tidak bersentuhan dengan tanah.

Inilah mengapa kasus DBD menjadi lebih berisiko saat musim hujan, Moms.

Namun, menurut pakar kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, PhD, SpPD, K-PTI, DBD tidak hanya terjadi di musim hujan.

''Sejak 10 tahun terakhir terjadi perubahan iklim. Maka, wabah demam berdarah tidak lagi dengan siklus akibat ada naik turun curah hujan sepanjang waktu," jelasnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang praktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini juga menambahkan, DBD bisa datang saat pergantian musim.  

"Penyakit ini muncul saat pergantian musim karena pada musim kemarau nyamuk bertelur dan pada musim hujan, saat terendam air bersih, telur berubah menjadi larva," tambahnya.

Kemudian, nyamuk dewasa dalam hitungan hari bertumbuh dengan cepat dan jumlahnya sangat banyak.

Hal ini juga senada dengan penjelasan Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), Spesialis Anak.

Ia menyebutkan nyamuk ini menggemari air tergenang dan tidak terkena sinar matahari.

"Kenapa di musim hujan meningkat? Karena perilaku nyamuk hidupnya di daerah tropis," jelasnya dalam acara Waspada Penyebaran Dengue di Tengah Musim Hujan pada Senin, 17 Oktober 2022.

"Ada air tergenang karena dia meletakkan telurnya di air jernih yang tergenang yang tidak berhubungan dengan tanah. Di musim hujan, air tergenang lebih banyak," lanjutnya.

Bahkan menurut Prof. Dr. dr. Hindra, nyamuk ini menggigit lebih dari sekali atau multi-bite. Itulah mengapa nyamuk ini berbahaya.

Baca Juga: 6 Gejala DBD pada Anak, Jangan Sampai Terlambat Mengatasinya, ya Moms!

Fase DBD

Ilustrasi Digigit Nyamuk
Foto: Ilustrasi Digigit Nyamuk

Guna mengenali DBD, Moms bisa mengacu pada fase umum dari DBD yaitu fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan.

Terlebih, mengenal DBD bisa terbilang sulit dan sering membuat orang tua terkecoh.

Berikut fase demam berdarah dengue agar lebih waspada terhadap wabah ini!

1. Fase Demam

Fase demam merupakan fase yang pertama yang sudah harus Moms waspadai. Biasanya demam yang muncul langsung mendadak tinggi.

Demam ini bisa berlangsung 2 sampai 7 hari dan tidak kunjung sembuh meski sudah diobati dengan mengonsumsi parasetamol.

Gejala yang paling mudah ditemui adalah muka memerah akibat demam.

2. Fase Kritis

Pada fase ini, kebanyakan orang mulai terkecoh karena dianggap demam mulai turun. Fase kritis memang menunjukkan adanya penurunan demam.

"(Fase ini) muncul ketika demam membaik, gejala klinis membaik, kayak udah sehat tapi hasil lab-nya adanya gangguan yang terlihat akibat infeksi virus," jelas Dr. dr. Erni.

"Bahkan bisa jadi sudah syok akibat pembuluh darah yang bocor," lanjutnya dalam acara yang sama.

Nah, fase ini berbahaya ya, Moms dan bisa menyebabkan kematian jika tidak segera di bawa ke rumah sakit.

3. Fase Pemulihan

Untuk bisa mencapai fase pemulihan, tentu pasien harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan mulai dari pemberian cairan infus dan lain-lain.

Maka, yang harus orang tua sadari adalah ketika demam turun. Jadi, jangan terkecoh, ya Moms!

Terlebih, tingkat bahaya dengue hanya bisa ditentukan dengan pemeriksaan di laboratorium rumah sakit dan tidak bisa hanya perawatan di rumah.

Baca Juga: Gejala dan Fase DBD yang Wajib Diwaspadai

Mencegah DBD pada Anak

mencegah DBD pada anak
Foto: mencegah DBD pada anak

Peneliti masih berupaya menciptakan vaksin untuk mencegah demam dengue.

Untuk saat ini, pencegahan dengue masih bergantung pada pengendalian nyamuk Aedes aegypti di rumah dan sekitarnya sebagai tempat penyebaran penyakit yang paling umum, serta melindungi Si Kecil dari gigitan nyamuk.

Menurut jurnal Clinical Microbiology Reviews edisi Juli 1998, risiko infeksi bisa dikurangi secara signifikan dengan memahami perilaku dasar dan kebiasaan menggigit nyamuk.

Aedes aegypti betina lebih suka menggigit di dalam ruangan.

Aktivitas puncak menggigit terjadi selama 2-3 jam setelah fajar dan selama 3-4 jam sebelum senja atau biasanya nyamuk ini menggigit di waktu jam kerja, seperti siang hari.

Risiko terkena gigitan nyamuk lebih tinggi pada jam-jam tersebut, ya Moms.

Meski demikian, nyamuk bisa menggigit kapan saja di dalam ruangan maupun di luar ruang pada siang hari, terutama saat mendung.

Beberapa langkah yang bisa Moms lakukan untuk mencegah DBD pada anak adalah:

  1. Membuang, membersihkan, atau menutup wadah berisi air atau genangan yang menjadi habitat larva Aedes aegypti di lingkungan rumah. Sebab, cara paling efektif mengendalikan nyamuk penyebar dengue adalah dengan menghentikan perkembangbiakan nyamuk melalui pengurangan sumber larva.
  2. Menyemprot ruangan dengan obat antinyamuk untuk membunuh nyamuk dewasa di dalam ruangan
  3. Menggunakan kelambu
  4. Mengoleskan losion penolak nyamuk pada kulit Si Kecil yang terbuka
  5. Memakaikan Si Kecil pakaian tertutup seperti baju lengan panjang dan celana panjang pada waktu nyamuk aktif menggigit (pagi dan sore hari).
  6. Pemberian larvasida pada penampungan air yang sudah dikuras untuk membuat nyamuk "mandul"
  7. Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi
  8. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar
  9. Menanam tanaman pengusir nyamuk
  10. Periksa tempat-tempat penampungan air
  11. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk

Baca Juga: Ini Tanda DBD (Demam Berdarah Dengue) yang Bisa Terjadi pada Anak

Vaksin Dengue untuk Mencegah DBD

Ilustrasi Vaksin Dengue
Foto: Ilustrasi Vaksin Dengue

Salah satu upaya pencegahan dengue adalah pemberian vaksin. Saat ini, Indonesia tersedia vaksin dengue tetravalen yang sudah disetujui BPOM RI pada 19 Agustus 2022.

Kegunaan vaksin ini untuk pencegahan penyakit dengue yang disebabkan oleh semua serotipe virus dengue pada individu usia 6 hingga 45 tahun.

Namun, vaksin ini belum dibuat sebagai program oleh pemerintah dan dalam informasi yang diberikan, program ini masih dalam proses.

"Masih menunggu dari ITAGI bagaimana rekomendasinya. Sekali mengambil kebijakan harus dihitung benar efikasi, cost-nya, dan lain-lain," kata Prof. Dr. dr. Hindra.

Nah, itu dia Moms informasi seputar DBD yang semakin berisiko di tengah pergantian musim dan di musim hujan ini.

Dengan melakukan cara mencegah DBD pada anak di atas, Si Kecil dapat terlindungi dari risiko terkena demam berdarah.

Semoga bermanfaat ya, Moms!

  • https://cegahdbd.com/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.