22 Mei 2024

7 Gejala DBD pada Anak, Kenali Fasenya, Jangan Sampai Kritis

Pastikan DBD pada anak ditangani segera dengan tepat

Penting bagi Moms untuk mengetahui tanda-tanda atau gejala DBD pada anak-anak.

Sebab, Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah sebuah penyakit serius yang berpotensi menyebabkan kematian.

Penyakit DBD pada anak tidak boleh dianggap sepele, ya, Moms!

Pernyataan ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A(K), Ketua UKK Infeksi & Penyakit Tropis, Ikatan Dokter Anak Indonesia.

"Satu dari 20 pasien dengue (demam berdarah) bisa menjadi berat sehingga fatal. Nah tentunya kita mesti hati-hati pada pasien-pasien dengue dengan komorbid dan bayi," jelas dr. Anggraini Alam.

Perjalanan klinis dengue atau demam berdarah bisa memengaruhi seluruh organ tubuh bahkan tidak hanya sekadar pendarahan, Moms.

"Artinya, bukan hanya masalah trombosit yang rendah, karena saking dinamisnya dengue diklasifikasikan oleh WHO mulai dari dengue yang tanpa adanya tanda bahaya sampai ada tanda bahaya yang kemudian bisa menjadi berat," tambah dr. Anggraini Alam.

Untuk itu, Moms perlu tahu bagaimana seseorang bisa tertular demam berdarah, gejala DBD pada anak, hingga cara mengatasinya.

Baca Juga: Infeksi Virus, Cari Tahu Jenis hingga Cara Mengatasinya

Penularan Demam Berdarah

Gigitan Nyamuk
Foto: Gigitan Nyamuk (https://www.preventionweb.net/go/53918)

Demam berdarah memang tidak dapat menyebar secara langsung dari orang ke orang.

Namun, seseorang yang terinfeksi DBD bisa menjadi sumber infeksi bagi nyamuk.

Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), demam berdarah merupakan penyakit virus yang ditularkan oleh nyamuk.

Virus ini dibawa oleh nyamuk betina, terutama dari spesies Aedes aegypti.

Seekor nyamuk menjadi terinfeksi ketika menghisap darah dari orang yang terinfeksi DBD dan menularkan virus ke orang lain saat nyamuk menggigit orang tersebut.

"Setelah 5 hingga 14 hari, virus akan matang di kelenjar liur nyamuk dan menularkan ke korban berikutnya saat menggigit orang lain," jelas Dr. Leong Hoe Nam, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena, Singapura.

Demam berdarah tersebar luas di daerah tropis, dengan variasi risiko lokal yang dapat dipengaruhi oleh curah hujan, suhu, kelembapan, dan tingkat urbanisasi cepat yang tidak terencana.

Dari data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada Desember 2020, diketahui bahwa kasus DBD tersebar di 472 kabupaten atau kota di 34 provinsi.

Kematian akibat DBD terjadi di 219 kabupaten atau kota.

Faktor Risiko DBD

Ada faktor-faktor yang meningkatkan risiko terhadap penyakit demam berdarah pada anak. Faktor risiko tersebut meliputi:

1. Tinggal atau Bepergian ke Daerah Tropis

Berada di daerah tropis dan subtropis dapat meningkatkan risiko terkena virus yang menyebabkan demam berdarah.

Beberapa di antaranya termasuk Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik Barat, Amerika Latin, dan Karibia.

2. Sebelumnya Pernah Terinfeksi Virus Demam Berdarah

Infeksi dengan virus demam berdarah sebelumnya bisa meningkatkan risiko gejala yang lebih parah jika terinfeksi lagi.

Baca Juga: Waspada Flu Singapura, Infeksi Virus yang Patut Diperhatikan

Fase Demam Berdarah

Moms, cara mengenali DBD memang terbilang cukup sulit karena mirip dengan gejala-gejala flu lainnya terlebih di masa pandemi, Moms pasti kebingungan membedakan keduanya.

Namun, sesuai dengan namanya—demam berdarah—salah satu cara mudah untuk mengenali DBD adalah adanya pendarahan.

Tapi jika sudah masuk tahap pendarahan, artinya gejala sudah parah.

Nah, Dr. Anggraini Alam menjelaskan ada tiga fase demam berdarah yang bisa dengan mudah Moms temui pada Si Kecil.

1. Fase Demam

Demam Akibat DBD
Foto: Demam Akibat DBD (Orami Photo Stocks)

Fase demam ini, merupakan salah satu gejala DBD pada anak, lho Moms!

"Demam yang timbul biasanya mendadak tinggi yang dapat berlangsung 2 sampai 7 hari," jelas Dr. Anggraini Alam.

Di fase ini, ada komplikasi yang mungkin dialami anak-anak, yaitu bisa kejang, atau Si Kecil jadi enggan untuk minum.

Ketika anak enggan untuk minum, maka berisiko dehidrasi.

Gejala yang paling umum ditemui pada fase ini adalah muka memerah.

2. Fase Kritis

Di fase ini, demam justru turun. Tapi penurunan demam ini jangan dianggap sembuh, ya, Moms!

Justru, ini merupakan fase paling berbahaya dari ketiga fase.

"Fase kritis adalah yang paling buruk karena ada perembesan plasma, terjadi syok komplikasi perdarahan, gagal hati, syok apapun yang bersifat berkepanjangan pada akhirnya gangguan organ," ungkap Dr. Anggraini Alam.

Menurut Dr. Anggraini Alam, jika sudah mengalami pendarahan hebat, maka kondisi DBD ini bisa dikatakan masuk ke fatality rate yang tinggi.

3. Fase Pemulihan

Fase pemulihan terjadi sekitar 2 sampai 4 hari. "Dalam 7 hari, 3 fase terlewati jadi sempit sekali, masa kritis hanya 24 sampai 48 jam.

Tapi fase ini yang menentukan apakah pasien selamat atau tidak," tambah Dr. Anggraini Alam.

Jadi, yang bisa Moms lakukan adalah ketahui gejala di tiap fasenya. Terlebih, jangan bahagia bilamana demam Si Kecil mendadak turun.

Jika demam Si Kecil mendadak turun, itu pertanda anak sudah masuk ke fase kritis.

Di mana seperti yang sudah disebutkan di atas, fase kritis adalah fase paling buruk yang bisa mengancam kehidupan.

Nah, ada tips dari Dr. Anggraini Alam untuk mudah mengenali gejala DBD pada anak.

Jika suhu tubuh Si Kecil rendah, tetapi aktivitasnya menurun, ia menjadi lebih diam, terlihat lemah dan gelisah, serta perilakunya tidak seperti biasa, mungkin kondisinya tidak baik.

Lalu, ada gejala lainnya, seperti tidak buang air kecil lebih dari 4 jam sampai 6 jam dan sulit untuk disuruh minum air.

Apabila menemukan gejala-gejala tersebut, Moms harus segera waspada karena bisa jadi Si Kecil sedang dalam tahap transisi dari demam ke fase kritis.

Hal terpenting adalah mencari ada/tidaknya tanda bahaya di tubuh Si Kecil.

Jika ragu, segera bawa Si Kecil berobat ke dokter atau rumah sakit, ya, Moms!

Baca Juga: Penyebab dan Cara Mengatasi Mata Berdarah, Simak!

Awal Mula Fase Kritis DBD

Gejala DBD pada Si Kecil (Orami Photo Stock)
Foto: Gejala DBD pada Si Kecil (Orami Photo Stock) (Orami Photo Stocks)

Untuk mempermudah Moms dalam mengidentifikasi dengue, berikut adalah beberapa warning signs yang perlu diperhatikan pada Si Kecil.

1. Ciri-ciri Fase Kritis

Sebagai informasi tambahan, gejala fase kritis biasanya muncul antara hari ke-2 hingga ke-7 setelah Si Kecil mengalami demam.

Kedua, waspada saat demam mulai turun (rata-rata setelah hari ketiga).

Terakhir, Moms harus memastikan untuk mengidentifikasi adanya tanda bahaya sebagai indikasi kapan Si Kecil sebaiknya segera dirawat inap di rumah sakit.

Dengan demikian, ia bisa mendapatkan penanganan yang paling tepat sebelum muncul komplikasi.

2. Warning Signs

  • Tidak ada perbaikan klinis saat demam turun.
  • Asupan minum sulit atau anak tidak ingin minum.
  • Muntah terus menerus
  • Nyeri perut
  • Letargi atau tubuh terasa lemah hingga perubahan perilaku.
  • Pucat, tangan dan kaki dingin, hingga terasa lembab.
  • Pembesaran hati lebih dari 2 cm.
  • Pendarahan, seperti epistaksis, hematemesis, melena, menoragia, hemoglobinuria atau hematuria.
  • Giddines atau pusing yang berlebihan.
  • Diuresis menurun atau penurunan zat cair di tubuh.
Tidak ingin Si Kecil mengalami kondisi kesehatan yang serius karena penyakit DBD?

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb