07 April 2022

Cari Tahu Fakta-Fakta Penting Fogging untuk Basmi Nyamuk DBD

Apakah berbahaya bagi manusia?

Ketika maraknya penyakit demam berdarah (DBD) di satu lingkungan, biasanya akan dilakukan fogging.

Fogging DBD pun menjadi salah satu rutinitas yang dilakukan dinas kesehatan untuk mengurangi penyebaran kasus demam berdarah.

Di sejumlah tempat baik perumahan atau tempat umum pun menjadi titik penyemprotan fogging.

Apakah asap kabut ini berbahaya bagi manusia? Berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk melakukan ini? Yuk, telaah bersama, Moms!

Baca Juga: Chikungunya, Penyakit yang Berasal dari Virus yang Ditularkan lewat Nyamuk

Biaya Fogging

Biaya Fogging DBD
Foto: Biaya Fogging DBD

Foto: istockphoto.com

Biaya fogging yang dilakukan di tempat umum atau perumahan tanpa permintaan pun terbilang gratis.

Ini termasuk kegiatan rutin yang diselenggarakan dinas kesehatan untuk setiap wilayah.

Beda halnya apabila fogging DBD dilakukan karena permintaan khusus dari warga, maka akan dikenakan biaya.

Biaya yang dikeluarkan pun berbeda dan tergantung luasnya wilayah yang dijangkau.

Saat ini pun sudah ada jasa penyemprotan fogging DBD dengan biaya bervariasi, mulai dari Rp300-Rp800 ribuan untuk sekali datang.

Bahkan saat ini sudah ada berbagai jenis fogging untuk membunuh nyamuk lebih optimal. Adapun jenis-jenis fogging tersebut meliputi:

  • Hot fogging: Diperuntukkan untuk fogging di luar ruangan atau tempat umum.
  • Misting: Pengasapan dengan metode pengembunan dan dilakukan untuk di dalam rumah kaca.
  • Cold fogging: Metode pengasapan membunuh nyamuk yang lebih aman untuk di dalam rumah.

Diperlukan beberapa persiapan sebelumnya untuk melakukan fogging DBD ini.

Baca Juga: Kenali 6 Gejala DBD pada Anak dan Cara Mengatasinya

Berapa Kali Dilakukan Fogging ?

Fogging DBD bagi Manusia
Foto: Fogging DBD bagi Manusia

Foto: istockphoto.com

Umumnya, fogging DBD perlu dilakukan sebanyak 2 kali dalam sebulan. Ini dengan jeda waktu 1 minggu.

Mengutip Dinas Kesehatan Jombang, pelaksanaan pengasapan ini idealnya dilakukan pagi atau sore hari untuk membunuh nyamuk Aedes aegypti.

Sasaran fogging adalah bangunan, halaman, atau perkarangan di sekitarnya.

Kecepatan gerak pengasapan ini seperti orang jalan biasanya, yakni 2 km/jam dan menjangkau seluruh wilayah.

Kegiatan ini pun tak bisa dilakukan secara spesifik untuk satu tempat tertentu.

Dilakukan dengan radius 200 meter dengan tujuan membunuh nyamuk dewasa yang melewati siklus pertumbuhan.

Asap fogging akan menghilang sekitar 1-2 jam pasca penyemprotan. Oleh karena itu, jendela ataupun pintu perlu dibuka sepenuhnya agar asap cepat hilang.

Baca Juga: 7+ Cara Mengusir Kelelawar di Rumah, Mudah Kok, Moms!

Persiapan Fogging DBD

Persiapan Fogging
Foto: Persiapan Fogging

Foto: istockphoto.com

Sebelum pelaksanaan fogging DBD, diperlukan penyuluhan atau pemberitahuan kepada masyarakat setempat.

Pada hari pelaksanaan sebelum fogging dilaksanakan, sebaiknya semua tempat penampungan air dikosongkan.

Mesin yang dipakai pun harus berstandar SNI atau WHO. Ini pun meliputi zat aktif atau insektisida yang sesuai.

Persiapan yang perlu dilakukan yakni dengan menutup atau menyimpan makanan di tempat lebih aman.

Kompor ataupun barang berbahan dasar minyak di rumah perlu dipastikan dalam keadaan mati.

Hewan peliharaan seperti ayam, kucing, anjing, dan burung perlu ditempatkan di wilayah lebih aman agar tak mencium aroma asap secara langsung.

Mainan-mainan Si Kecil pun perlu disimpan agar tak terkena asap dari fogging DBD, lho.

Baca Juga: Cari Tahu Serba-serbi Rontgen: Persiapan, Prosedur, hingga Biaya

Fakta-Fakta Penyemprotan Fogging

fogging
Foto: fogging (iStockphoto.com)

Foto: iStockphoto.com

Berikut adalah beberapa fakta-fakta menarik terkait proses penyemprotan fogging, antara lain:

1. Wilayah Penyemprotan Cukup Luas

Petugas melakukan penyemprotan untuk memberantas nyamuk penyebab demam berdarah dengan wilayah cukup luas.

Ini harus menggunakan pengasapan di dalam hingga luar rumah.

Menurut Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) FKM UNDIP, fogging dinilai efektif menurunkan kepadatan jentik-jentik nyamuk, terlebih bila dilakukan sampai ke dalam rumah.

Ini agar dapat membunuh nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus.

Kedua nyamuk tersebut dikenal sebagai penyebab penyakit demam berdarah. Jadi, harus diberantas hingga tuntas.

Menurut WHO, Aedes aegypti suka beristirahat di dalam rumah atau bangunan. Sedangkan, Aedes albopictus suka beristirahat di luar rumah.

Karena itu, penting untuk dilakukan penyemprotan di dalam dan luar rumah agar dapat membunuh kedua nyamuk tersebut.

Baca Juga: 17 Makanan Penambah Trombosit, Bantu Pemulihan DBD!

2. Dosis Insektisida Harus Tepat

dosis fogging
Foto: dosis fogging (vaniman.com)

Foto: vaniman.com

Tak hanya itu, dosis yang terkandung dalam pengasapan pun harus tepat.

Ini agar penyemprotan yang dilakukan efektif dalam pencegahan demam berdarah.

Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dosis efektif untuk membunuh nyamuk Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus (kaki gajah) adalah 500 dan 625 ml/ha.

Kandungan aktif ini perlu dilarutkan dalam 10 liter solar.

Penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa insektisida piretroid dengan bahan aktif malation 95% juga cukup efektif.

Ini dengan dosis 500 dan 625 ml/ha yang dilarutkan bersama 10 liter solar dalam pengasapan (thermal fogging).

3. Cara Fogging Harus Benar

Moms mungkin berpikir bahwa pelaksanaan fogging DBD hanya sekadar melakukan pengasapan saja.

Namun sebenarnya, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar hasilnya maksimal, di antaranya:

  • Kadar malation sebagai bahan pengasapan yang digunakan adalah 4-5 %.
  • Nozzle (mesin penyemprotan) yang dipakai harus sesuai dengan bahan pelarut yang digunakan dan debit keluaran yang diinginkan.
  • Jarak moncong mesin dengan target maksimal 100 m dan jarak efektifnya sekitar 50 m.
  • Kecepatan berjalan ketika menyemprot, untuk swing fog kurang lebih 500 m2 atau 2-3 menit untuk satu rumah dan halamannya.

Waktu penyemprotan disesuaikan dengan kepadatan atau aktivitas puncak dari nyamuk, yaitu pukul 09.00-11.00 pagi.

Hal ini perlu diperhatikan agar nyamuk-nyamuk yang diberantas akan lenyap dengan sempurna.

Baca Juga: Jenis-Jenis Penyakit yang Disebabkan oleh Virus dan Menyerang Sistem Pernapasan Juga Kelamin

4. Ventilasi Rumah Perlu Dibuka Setelah Pengasapan

Pantangan Flek Paru pada Anak ventilasi yang buruk.jpg
Foto: Pantangan Flek Paru pada Anak ventilasi yang buruk.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Memang rasanya tidak nyaman saat petugas penyemprotan datang, bukan? Bau asap yang menyengat juga ditambah suara mesin fogging yang berisik.

Biasanya, rumah yang disemprot harus ditutup selama kurang lebih 1 jam. Ini agar nyamuk-nyamuk yang berada dalam rumah dapat terbunuh menyeluruh.

Tak hanya itu, hal ini karena malation atau mesin bekerja secara knock down untuk membunuh nyamuk.

Penting untuk tak langsung menutup ventilasi setelah proses pengasapan berlangsung.

Bukalah pintu lebar-lebar agar sirkulasi udara dapat dengan cepat menghilangkan zat-zat kimia.

5. Hindari Konsumsi Makanan yang Terpapar

Perlu lebih perhatian terhadap makanan atau minuman yang telah terkena asap fogging DBD ya, Moms.

Hindari mengonsumsi makanan yang tidak sengaja terpapar asap fogging.

Sebaiknya, makanan tersebut dibuang dan jangan sampai anak mengonsumsinya. Ini karena sudah terkontaminasi zat kimia.

Keracunan zat kimia yang berbahaya bisa saja terjadi apabila mengonsumsi makanan terpapar asap fogging tersebut.

Baca Juga: Tren Kembali! Intip Cara Membuat Vas Bunga Estetik dari Tanah Liat

6. DBD Tetap Bisa Menyerang Meski Telah Fogging

fogging
Foto: fogging

Foto: Orami Photo Stocks

Serutin apapun jadwal penyemprotan di lingkungan rumah, ini tak menjanjikan akan membasmi nyamuk DBD dengan efektif.

Sebab bukan hanya nyamuk yang menjadi sumber penyakit, tapi juga lingkungan rumah tak sehat.

Demam berdarah akan mengintai jika masih banyak jentik nyamuk di tempat penampungan air yang tidak tertutup.

Serta adanya banyak tumpukan barang yang menjadi sarang nyamuk.

Gaya hidup yang kurang sehat juga bisa membuat daya tahan tubuh menurun sehingga rentan terserang penyakit.

7. Fogging Bisa Picu Nyamuk Kebal

Perlu Moms ketahui bahwa nyamuk penyebab demam berdarah pun bisa menjadi resisten, sehingga lebih kebal terhadap fogging.

Resistensi atau kebal bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti:

  • Jumlah atau konsentrasi insektisida
  • Frekuensi penyemprotan
  • Luas penyemprotan

Paparan insektisida yang terus menerus menyebabkan nyamuk beradaptasi, sehingga jumlah nyamuk yang kebal bertambah banyak.

Bahkan, nyamuk yang kebal tersebut dapat membawa sifat resistensinya terhadap keturunannya.

Nyamuk yang sudah kebal terhadap satu jenis insektisida tertentu biasanya akan terus mengembangkan diri.

Ini agar nyamuk-nyamuk tersebut bisa kebal terhadap jenis insektisida yang lain, lho.

Baca Juga: 13 Jenis Tanaman Pengusir Nyamuk, Efektif untuk di Rumah

Dampak Fogging bagi Manusia

Fogging DBD
Foto: Fogging DBD (Orami Photo Stock)

Foto: istockphoto.com

Fogging adalah kegiatan pengasapan dengan bahan pestisida yang bertujuan untuk membunuh nyamuk.

Seringnya, nyamuk yang menyebabkan demam berdarah menjadi tujuan pembasmian.

Demam berdarah disebabkan oleh nyamuk bernama Aedes aegypti serta lingkungan yang kurang sehat.

Di samping itu, apakah ini berbahaya bagi manusia? Berikut penjelasannya;

1. Aman dengan Aturan Tertentu

Melakukan tindakan pengasapan, ini memang dipercaya bisa membasmi nyamuk tersebut.

Namun, asap yang tebal dengan bau menyengat terkadang bisa cukup menganggu bagi manusia.

Melansir World Health Organization (WHO), pengasapan dengan konsentrasi rendah dan tidak berbau cukup aman bagi manusia.

Tak perlu terlalu khawatir dengan fogging DBD. Cukup memastikan ventilasi rumah terbuka selama penyemprotan terjadi.

Ini agar nyamuk di dalam rumah dapat terbunuh dengan sempurna.

2. Sebabkan Reaksi Kimia

nyamuk aedes aegypti
Foto: nyamuk aedes aegypti (Vaniman.com)

Foto: neha.org

Sebelum penyemprotan dilakukan, biasanya ada surat pemberitahuan di lingkungan rumah.

Dalam jurnal Universitas Muhammadiyah Surakarta disarankan setiap masyarakat sebaiknya berada di luar rumah ketika proses pengasapan berlangsung.

Oleh karena itu, evakuasi diri dan keluarga ketika penyemprotan diadakan.

Pastikan anak-anak, ibu hamil, atau orang sakit terhindar dari reaksi kimia yang tidak diinginkan.

3. Risiko Timbulkan Gangguan Pencernaan

Bahan yang paling sering digunakan dalam fogging massal adalah organophosporester insectisida dan jenis malation.

Biasanya untuk pengencer malation, sering menggunakan bensin solar atau minyak tanah.

Tentu saja, bahan-bahan tersebut membahayakan anak-anak, ibu hamil, atau orang sakit yang menghirupnya.

Hasil pembakaran malation akan mengikat hemoglobin dalam darah,.

Ini juga bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, diare, serta muntah-muntah.

Baca Juga: Moms, Ini Ide Desain Pantry yang Cantik untuk Diaplikasikan di Rumah!

Itu dia Moms informasi seputar fogging DBD yang perlu diketahui.

Apakah lingkungan sekitar rumah Moms rutin melakukan penyemprotan untuk mencegah demam berdarah?

  • https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/1094/3.%20AMBARWATI.pdf;sequence=1
  • https://media.neliti.com/media/publications/18506-ID-menilai-efektivitas-fogging-fokus-menggunakan-thermalfog-dan-ultralow-volume-ulv.pdf
  • https://media.neliti.com/media/publications/53250-ID-pengaruh-pengasapan-thermal-fogging-inse.pdf
  • https://www.who.int/westernpacific/about/how-we-work/pacific-support/news/detail/05-05-2014-mosquito-fogging-will-not-harm-you-reminds-who-and-solomon-islands-ministry-of-health
  • https://dinkes.jombangkab.go.id/prosedur-tetap-fogging-mandiri

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.