20 Juni 2022

Kenali 8 Gangguan Sistem Pencernaan serta Penanganannya

Gejalanya sering kali sama, namun butuh penanganan berbeda

Gangguan sistem pencernaan pada manusia ada banyak jenisnya dan bisa terjadi pada siapa saja.

Melansir WebMD, kondisi gangguan sistem pencernaan dapat disebabkan bakteri dalam makanan, infeksi, stres, obat-obatan tertentu.

Bisa juga merupakan gejala kondisi medis kronis seperti kolitis, penyakit Crohn, dan irritable bowel syndrome (IBS).

Mengetahui berbagai gangguan sistem pencernaan yang umum terjadi, bisa membantu Moms untuk mengidentifikasi kondisi yang dialami dengan lebih mudah.

Berikut ini adalah beberapa jenis gangguan sistem pencernaan beserta gejalanya yang sudah dirangkum oleh Orami. Yuk disimak, Moms!

Baca Juga: Serba-Serbi Cimory Riverside, Bisa Jalan-Jalan di Tengah Hutan dan Pinggir Sungai!

Berbagai Gangguan Sistem Pencernaan

Dalam pencernaan, makanan dan minuman dipecah menjadi bagian-bagian kecil yang dapat diserap tubuh dan digunakan sebagai energi dan bahan pembangun sel.

Saluran pencernaan terdiri dari kerongkongan (tabung makanan), lambung, usus besar dan kecil, hati, pankreas, dan kantong empedu.

Oleh karea itu, gangguan sistem peencernaan adalah masalah kesehatan yang terjadi pada saluran pencernaan.

Ada banyak jenis gangguan sistem pencernaan yang bisa terjadi pada manusia. Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

gangguan sistem pencernaan
Foto: gangguan sistem pencernaan (Momlovesbest.com)

Foto Gangguan Sistem Pencernaan GERD (Orami Photo Stock)

Gangguan sistem pencernaan yang pertama dan sering ditemui adalah GERD.

Ketika asam lambung naik ke kerongkongan, kondisi ini yang disebut dengan GERD atau refluks asam.

Alhasil, Moms mungkin merasakan sakit yang membakar di tengah dada.

Gangguan pada sistem pencernaan ini terjadi akibat katup antara esofagus dan lambung tidak bisa menutup dengan baik (longgar).

Melansir StatPearls Journal, kondisi GERD bisa menyebabkan asam dari lambung memicu iritasi pada esofagus.

Saat GERD kambuh, penderita dapat mengalami sensasi panas di dada (heartburn), nyeri dada, mual, muntah, kesulitan menelan, suara menjadi parau, dan batuk.

Perubahan gaya hidup seperti meninggikan kepala tempat tidur, tidak berbaring setelah makan, menghindari pakaian ketat, dan berhenti merokok dapat mengatasi kondisi ini.

Namun, beberapa kasus GERD memerlukan perawatan yang lebih intensif, seperti pengobatan atau pembedahan.

2. Diare

Diare adalah gangguan sistem pencernaan yang diakibatkan oleh banyak faktor.

Beberapa penyebab diare yang paling umum di antaranya keracunan makanan (kontaminasi bakteri), alergi makanan tertentu, atau makan pada saat yang tidak tepat.

Moms bisa didiagnosa diare bila mengalami buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali dalam sehari dengan tekstur feses yang encer.

Gejala gangguan sistem pencernaan ini juga dapat disertai dengan:

  • Rasa ingin segera BAB
  • Mual dan/atau muntah
  • Sakit perut melilit
  • Perut terasa tidak nyaman

Diare dapat menyerang segala kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Penyakit ini sebenarnya sangat umum dan mudah diobati.

Namun, diare parah yang tidak ditangani dengan baik dapat berakibat fatal, terutama pada anak-anak.

Diare yang parah dapat mengakibatkan demam, turunnya berat badan, hingga feses berdarah.

Jika Moms tidak mendapatkan asupan cairan selama diare, buang air besar terus-menerus juga dapat membuat dehidrasi dan kehilangan nutrisi.

Baca Juga: Syair dan Puisi Jalaludin Rumi Cinta dalam Diam yang Sangat Romantis

3. Batu Empedu

gangguan sistem pencernaan
Foto: gangguan sistem pencernaan

Foto Gangguan Sistem Pencernaan Batu Empedu (Orami Photo Stock)

Batu empedu adalah tumpukan material keras yang terbentuk di kantong empedu.

Kantong berukuran kecil dan berbentuk mirip buah pir ini berfungsi melepaskan empedu untuk fungsi pencernaan.

Melansir Medline, batu empedu bisa terbentuk karena cairan empedu mengandung terlalu banyak kolesterol dan limbah sisa metabolisme.

Gangguan sistem pencernaan ini juga bisa terjadi bila pelepasan empedu terhambat.

Adanya batu dalam kantung empedu dapat menyebabkan nyeri hebat pada perut bagian kanan atas.

Namun kondisi ini bisa diatasi dengan pemberian obat-obatan hingga langkah operasi.

4. Crohn’s Disease/Penyakit Crohn

Crohn’s disease atau penyakit Crohn adalah bagian dari sekelompok kondisi gangguan sistem pencernaan yang disebut penyakit radang usus.

Kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit di perut, tubuh terasa lemah, bahkan dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam nyawa penderitanya.

Berikut ini adalah gejala-gejala umum yang muncul akibat Crohn’s disease, dilansir dari Mayo Clinic, yaitu:

  • Sakit perut
  • Diare
  • Mual dan muntah
  • Tidak nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Tinja bercampur lendir dan darah
  • Sariawan
  • Demam
  • Gejala Anemia
  • Munculnya saluran lain yang abnormal di sekitar dubur (fistula ani)

Sebagai penyakit kronik yang terjadi dalam jangka waktu panjang dan dapat kambuh kembali, penderita kondisi ini perlu rutin kontrol kesehatan ke dokter.

Ini guna memantau perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya komplikasi.

Baca Juga: Perbedaan dari Kegunaan Sanadryl DMP dan Sanadryl Expectorant

5. Irritable Bowel Syndrome (IBS)

gangguan sistem pencernaan
Foto: gangguan sistem pencernaan (Freepik.com)

Foto Gangguan Saluran Pencernaan IBS (Orami Photo Stock)

Ini adalah gangguan sistem pencernaan kronis pada usus besar.

Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi sejumlah faktor memengaruhi risiko seseorang untuk mengalaminya, seperti kontraksi otot usus, peradangan, infeksi berat, hingga perubahan bakteri di usus.

Gejala IBS yang umum terjadi adalah nyeri atau kram perut, kembung, diare atau sembelit, dan adanya lendir pada feses.

Gejala-gejala tersebut umumnya dipicu oleh konsumsi makanan tertentu, stres, maupun perubahan hormon.

6. Sembelit

Melansir Canadian Journal of Gastroenterology and Hepatology, konstipasi atau sembelit adalah perubahan frekuensi BAB menjadi lebih jarang dan disertai dengan kesulitan BAB.

Hal ini bisa disebabkan oleh menurunnya pergerakan usus.

Umumnya seseorang dianggap mengalami sembelit ketika frekuensi buang air besarnya kurang dari 3 kali dalam seminggu.

Di samping frekuensi buang air besar yang menurun, gejala gangguan sistem pencernaan ini lainnya meliputi:

  • Feses keras
  • Harus mengejan saat buang air besar
  • Merasa ada penyumbatan di rektum, sehingga tinja sulit dikeluarkan
  • Merasa tidak tuntas setelah buang air besar
  • Perlu bantuan untuk mengeluarkan feses, misalnya menekan perut atau menggunakan jari tangan untuk mengeluarkan feses dari anus

Sembelit bukan termasuk gangguan sistem pencernaan yang serius, tapi kondisi ini akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

Moms bisa mencegah dan mengatasi sembelit dengan memperbanyak konsumsi makanan berserat, minum air, dan berolahraga.

7. Radang Usus Buntu (Apendisitis)

Mengenal Radang Usus - gejala radang usus.jpg
Foto: Mengenal Radang Usus - gejala radang usus.jpg (Orami Photo Stocks)

Foto Gangguan Saluran Pencernaan Radang Usus (Orami Photo Stock)

Radang usus buntu atau apendisitis adalah gangguan sistem pencernaan yang ditandai dengan peradangan pada apendiks alias usus buntu.

Hal ini bisa disebabkan karena usus buntu tersumbat oleh tinja, benda asing, kanker, atau infeksi.

Gejala umum dari radang usus buntu meliputi:

  • Nyeri di dekat area pusar
  • Mual dan muntah
  • Demam
  • Susah kentut
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Perut kram
  • Tidak nafsu makan

Apendisitis perlu ditangani dengan operasi pengangkatan usus buntu. Tanpa usus buntu, Moms tidak akan mengalami masalah berarti.

Apendisitis yang dibiarkan justru berbahaya karena dapat pecah dan menyebabkan infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum).

8. Ambeien

Ambeien adalah peradangan pada pembuluh darah di akhir saluran cerna (area anus). Kondisi ini juga disebut wasir atau hemoroid.

Penyebab gangguan sistem pencernaan ini meliputi sembelit kronis, diare, kebiasaan mengejan terlalu keras saat BAB, dan kurangnya serat dalam menu makan harian.

Ambeien bisa ditandai dengan adanya darah saat BAB, proses BAB terasa nyeri, dan gatal pada area dubur atau anus.

Penyakit pencernaan ini dapat diatasi dengan menjalani pola hidup sehat dan mengonsumsi makanan kaya serat.

Baca Juga: 10 Potret Rumah Tasya Farasya, Bak Disneyland dan Ada Kamar Nyi Roro Kidul!

Deteksi dengan Endoskopi Ultrasound

Endoskopi Ultrasound  2
Foto: Endoskopi Ultrasound 2 (istockphoto.com)

Foto Deteksi Gangguan Pencernaan dengan Endoskopi Ultrasound (istockphoto.com)

Saat ini ada teknologi bernama endoscopic ultrasonography atau endoskopi ultrasound (EUS).

Cara ini bisa dianggap jauh lebih efektif mendeteksi gangguan pencernaan lebih akurat.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH menjelaskan, endoscopic ultrasonography bisa lebih detail melihat apa yang terjadi dalam sistem pencernaan.

Hal tersebut, menurut Rino Alvani Gani, karena EUS dapat memberikan pandangan yang lebih jelas pada saluran cerna dan organ-organ di sekitarnya.

“Kalau kita menggunakan alat USG di perut atau kulit, maka untuk sampai ke organ-organ perut seringkali harus melewati udara atau gas yang menutupi organ tersebut,” kata dokter Rino dalam webinar, Rabu (17/6/2022).

Rino memaparkan, EUS dapat melihat lubang esofagus atau kerongkongan, dinding esofagus, struktur di luar dinding esofagus seperti:

  • Pembuluh darah dan jantung
  • Isi lambung
  • Dinding lambung
  • Pankreas
  • Kantong empedu
  • Hati
  • Limpa
  • Ginjal
  • Kelenjar adrenal
  • Usus 12 jari

EUS dilakukan untuk menganalisis, evaluasi, dan menilai gangguan saluran cerna yang tidak bisa dilihat dengan menggunakan endoskopi atau pun USG.

Misalnya mendeteksi penyebaran kanker atau tumor, terapi mengalirkan cairan pankreas ke usus, hingga ablasi tumor.

EUS banyak digunakan untuk penyakit hati dan empedu. Namun menurut dokter Rino, alat ini paling membantu dalam penanganan gangguan di pankreas.

Baca Juga: 20 Jajanan Pasar, Ada Kue Cubit, Bolu Kukus, Onde-onde, Dadar Gulung, Lezatnya Tak Tertandingi!

Prosedur Endoskopi Ultrasound

Endoskopi Ultrasound  2
Foto: Endoskopi Ultrasound 2 (istockphoto.com)

Foto Prosedur Endoskopi Ultrasound (istockphoto.com)

Dokter Rino mengatakan, durasi tindakan EUS tergantung dengan tujuannya.

Jika hanya untuk diagnostik, memerlukan waktu 15-20 menit, sedangkan jika melakukan tindakan yang lebih jauh seperti biopsi atau pemasangan ring, waktu yang dibutuhkan bisa 1-2 jam.

Berikut langkah-langkah prosedur Endoskopi Ultrasound:

  • Dokter akan memasang infus ke pembuluh darah vena pasien untuk memasukkan cairan dan obat bius.
  • Pada endoskopi ultrasound saluran cerna atas, dokter akan memberikan obat bius (anestesi) pada tenggorokan. Pasalnya, endoskop akan dimasukkan melalui mulut.
  • Pada endoskopi ultrasound untuk saluran cerna bawah, dokter akan memasukkan alat endoskop melalui dubur.
  • Dokter lalu mengamati gambar yang ditampilkan pada layar monitor.
  • Bila diperlukan, dokter akan mengambil sampel jaringan (biopsi) untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Efek Samping Endoskopi Ultrasound

Perdarahan Tidak Berbahaya saat Hamil, Ini Dia Penjelasannya.jpg
Foto: Perdarahan Tidak Berbahaya saat Hamil, Ini Dia Penjelasannya.jpg

Foto Perdarahan Efek Samping Endoskopi Ultrasound (Orami Photo Stock)

Mengenai efek samping EUS, dokter Rino mengatakan tak jauh berbeda dengan endoskopi biasa, seperti:

  • Perdarahan atau infeksi karena adanya cedera pada saluran pencernaan
  • Gangguan paru-paru atau jantung karena efek dari obat bius

Meski demikian, risiko tersebut sangat jarang terjadi.

Risikonya relatif kecil karena sampai saat ini, alat yang digunakan sudah didesain dengan baik. Jika untuk diagnostik, risikonya 1 di antara 10 ribu.

"Sedangkan jika dilakukan penusukan misalnya, tentu lebih besar. Namun, tindakan yang dilakukan dengan EUS lebih kecil risikonya jika dibandingkan operasi," jelasnya.

Baca Juga: 8 Film Elle Fanning yang Wajib Masuk Watch List, Catat Moms!

Itu dia Moms 8 jenis gangguan sistem pencernaan serta pengobatan menggunakan teknologi Endoskopi Ultrasound.

Semoga sehat selalu ya, Moms!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441938/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3206564/
  • https://www.webmd.com/digestive-disorders/features/daily-tips
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/crohns-disease/
  • https://www.nhs.uk/live-well/eat-well/common-digestive-problems-and-how-to-treat-them/
  • https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-health-tips
  • https://www.everydayhealth.com/digestive-health/common-digestive-conditions-from-top-bottom/
  • https://www.chiropractor-schaumburg.com/6-root-causes-of-digestive-problems/
  • https://medlineplus.gov/ency/article/007447.htm

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.