04 November 2022

Perdarahan Subarachnoid: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Perdarahan subarachnoid mampu mengancam nyawa penderitanya

Perdarahan subarachnoid terjadi karena adanya penumpukan darah dalam lapisan pelindung otak.

Kondisi tersebut umumnya ditandai dengan sakit kepala berat secara tiba-tiba.

Seorang penderita perlu mendapatkan penanganan medis segera agar kerusakan otak permanen dapat dihindari.

Jika tidak, kehilangan nyawa menjadi komplikasi paling parah yang bisa saja terjadi.

Baca Juga: 10 Manfaat Kurma Muda, Bantu Cegah Perdarahan dan Menambah Energi Ibu Hamil

Apa Itu Perdarahan Subarachnoid?

Ilustrasi Otak Manusia (Orami Photo Stocks)
Foto: Ilustrasi Otak Manusia (Orami Photo Stocks)

Dilansir dari Johns Hopkins Medicine, perdarahan subarachnoid adalah perdarahan yang terjadi dalam ruang subarachnoid.

Ruang tersebut terletak di antara dua selaput meninges, atau lapisan membran yang membungkus otak.

Selaput tersebut terdiri dari 3 lapisan, yaitu:

  1. Pia meter, yaitu lapisan bagian dalam.
  2. Arachnoid, yaitu lapisan bagian tengah.
  3. Dura meter, yaitu lapisan bagian luar.

Ruang tersebut berisi cairan otak dan pembuluh darah, yang berada di bawah lapisan arachnoid dan di atas pia meter.

Pembuluh darah tersebut berfungsi untuk membawa nutrisi dan oksigen menuju otak.

Ketika pembuluh darah tersebut pecah, ruang dalam otak akan terisi dengan darah yang bercampur dengan cairan serebrospinal.

Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan pada otak. Akibatnya, koma, kelumpuhan, cacat fisik, bahkan kematian pada penderitanya.

Bisa dibilang, kondisi tersebut menjadi salah satu jenis stroke akibat perdarahan pada otak, yang dikenal dengan stroke hemoragik.

Baca juga: Penyebab dan Cara Mengatasi Pendarahan Saat Hamil

Penyebab Perdarahan Subarachnoid

Berikut ini beberapa kondisi yang menjadi penyebab perdarahan subarachnoid:

1. Aneurisma

Dilansir dari National Health Service, sebagian besar kasus perdarahan subarachnoid terjadi karena pecahnya aneurisma otak.

Aneurisma sendiri adalah pembengkakan pembuluh darah karena kelemahan pada dinding pembuluh darah.

Ketika terjadi peningkatan tekanan, pembuluh darah akan mengembang, sehingga berisiko tinggi untuk pecah.

Kondisi tersebut biasanya ditemukan pada pembuluh darah arteri yang berfungsi untuk menyuplai darah ke otak.

Pada beberapa orang, aneurisma dapat terjadi akibat adanya kelainan genetik.

Pada penderita lainnya, aneurisma terjadi akibat merokok, mengonsumsi alkohol berlebihan, dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.

2. Malformasi Arteri Vena

Malformasi arteri vena adalah gangguan kesehatan yang sudah ada sejak lahir.

Penderita kondisi ini memiliki arteri dan vena yang tidak normal, sehingga memengaruhi pembuluh darah di saraf tulang belakang, batang otak, atau otak.

Gangguan kesehatan ini tidak menimbulkan gejala berarti di awal kemunculannya. Gejala baru akan dirasakan ketika terjadi perdarahan.

Selain dua penyebab umum tersebut, perdarahan juga dapat dipicu oleh beberapa faktor risiko.

Berikut ini beberapa di antaranya:

Baca juga: Abortus Imminens, Kondisi Pendarahan Vagina sebelum Usia Kandungan 20 Minggu

Gejala Perdarahan Subarachnoid

Gejala utama perdarahan subarachnoid ditandai dengan sakit kepala parah yang terjadi secara tiba-tiba.

Rasa sakit yang sangat parah biasanya dialami di bagian belakang kepala.

Selain sakit kepala parah secara tiba-tiba, berikut ini gejala perdarahan subarachnoid lainnya dilansir dari Cleveland Clinic:

  • Penurunan kesadaran
  • Penurunan kewaspadaan
  • Mata terasa tidak nyaman saat menatap cahaya
  • Perubahan suasana hati dan kepribadian
  • Nyeri otot pada leher, bahu, atau punggung
  • Mual dan muntah
  • Kelemahan atau mati pada tubuh
  • Kejang
  • Pusing
  • Leher kaku
  • Kesulitan bicara
  • Penglihatan ganda atau kehilangan penglihatan di salah satu mata

Sejumlah gejala yang telah disebutkan hampir mirip dengan gangguan kesehatan lain.

Untuk memastikan diagnosis, Moms disarankan untuk segera memeriksakan diri agar langkah penanganan dapat dengan tepat dilakukan.

Apalagi, perdarahan subarachnoid adalah kondisi gawat darurat medis yang perlu segera mendapat penanganan.

Diagnosis Perdarahan Subarachnoid

MRI Scan (Orami Photo Stocks)
Foto: MRI Scan (Orami Photo Stocks)

Awalnya, diagnosis dilakukan berdasarkan gejala yang dialami penderita. Untuk memeriksanya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik.

Jika informasi terkait penyakit dirasa belum lengkap, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang.

Dilansir dari Mayo Clinic, berikut ini beberapa pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan:

1. CT-Scan

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi adanya perdarahan di otak, dengan menyuntikkan pewarna kontras untuk melihat pembuluh darah secara detail.

2. MRI

Pemeriksaan dilakukan dengan menyuntikkan pewarna ke dalam pembuluh darah untuk melihat arteri dan vena secara detail.

3. Angiografi Serebral

Angiografi serebral dilakukan dengan memasukkan tabung panjang dan tipis (kateter) ke dalam arteri kaki dan menyambungkannya ke otak.

Sama seperti pemeriksaan sebelumnya, dokter akan menyuntikkan zat pewarna agar gambar dapat terlihat lebih detail.

Baca juga: Ini Penyebab Pendarahan Subkorionik saat Hamil, Waspada!

Pengobatan Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan subarachnoid adalah kondisi gawat darurat medis.

Penanganan dilakukan untuk menghentikan perdarahan, dan menurunkan risiko kerusakan otak permanen.

Agar tujuan tersebut dapat terlaksana, prosedur yang umumnya dipilih oleh dokter operasi atau pembedahan.

Operasi tersebut bertujuan untuk menyingkirkan penumpukan darah, sehingga tekanan pada otak pun berkurang.

Jika penyebabnya adalah aneurisma, pembedahan dilakukan untuk memperbaiki pembuluh darah yang mengalami aneurisma.

Berikut ini 2 metode operasi yang umum dilakukan untuk mengatasi perdarahan subarachnoid:

1. Prosedur Clipping

Prosedur ini dilakukan dengan operasi kraniotomi, yaitu membuat sayatan di kepala dan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak sementara.

Kemudian, klip logam dipasang di area sekitar dasar atau leher aneurisma guna menghentikan aliran darah.

2. Endovascular Coiling

Prosedur ini dilakukan dengan menempatkan gulungan logam dalam aneurisma.

Kemudian, dokter akan memasang kantong untuk membungkus atau menopang gulungan logam tersebut.

Gulungan logam ini akan dimasukkan ke dalam tubuh menggunakan kateter melalui arteri di kaki ke arteri di otak.

Tujuannya untuk mengurangi perdarahan agar tidak semakin parah. Namun, tidak semua aneurisma dapat diatasi dengan metode ini.

Metode ini dinilai lebih sering digunakan karena waktu pemulihan yang terbilang cukup singkat.

Baca Juga: 6 Manfaat Minyak Rosemary, Dapat Meningkatkan Fungsi Otak!

Selain Operasi, Pemberian Obat Juga Disarankan

Obat Herbal (Orami Photo Stocks)
Foto: Obat Herbal (Orami Photo Stocks)

Di samping prosedur operasi, dokter juga memberikan beberapa resep obat guna menunjang kesembuhan penderita.

Berikut ini beberapa jenis obat yang umum diberikan:

  • Obat untuk mengontrol tekanan darah melalui infus.
  • Obat untuk mencegah kejang arteri.
  • Obat pereda nyeri untuk meredakan sakit kepala. Obat berfungsi untuk mengurangi tekanan pada tengkorak.
  • Obat untuk mencegah atau mengobati kejang.
  • Obat pencahar agar penderita tidak mengejan saat buang air besar.

Selain operasi dan obat-obatan, kesembuhan dapat ditunjang dengan beristirahat total.

Aktivitas yang dilakukan mampu meningkatkan tekanan dalam kepala, seperti gerakan membungkuk atau mengubah posisi badan tiba-tiba.

Bagi penderita yang kehilangan kesadaran atau koma, perawatan khusus biasanya akan diberikan dokter.

Beberapa hal yang dilakukan, seperti:

  1. Menempatkan tabung penguras dalam otak.
  2. Metode tertentu agar penderita dapat bernapas dengan baik.
  3. Teknik penunjang lain untuk meningkatkan kualitas hidup penderita.

Pengobatan untuk mengatasi perdarahan subarachnoid perlu dilakukan dalam jangka panjang. Tujuannya adalah mengurangi risiko perdarahan di kemudian hari.

Setelah menjalani serangkaian pengobatan di rumah sakit, Moms perlu mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.

Beberapa hal yang harus dilakukan, seperti berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, konsumsi makanan sehat bergizi seimbang, dan mengontrol tekanan darah, gula darah, serta kolesterol dalam tubuh.

Baca Juga: Kanker Otak: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Demikian sekilas fakta tentang perdarahan subarachnoid.

Jika Moms curiga mengalami kondisi ini, jangan tunda untuk segera berobat ke dokter, ya!

  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/subarachnoid-hemorrhage
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17871-subarachnoid-hemorrhage-sah
  • https://www.nhs.uk/conditions/subarachnoid-haemorrhage/causes/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/subarachnoid-hemorrhage/diagnosis-treatment/drc-20361014

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.