07 Juni 2023

Cara Mencegah Penyakit DBD yang Bisa Moms Lakukan, Catat!

Lebih baik mencegah daripada mengobati

Penting bagi Moms untuk mengetahui cara mencegah penyakit DBD guna melindungi kesehatan anggota keluarga di rumah.

Seperti diketahui, Indonesia adalah salah satu negara tropis sehingga sering menjumpai kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Nyamuk Aedes Aegypti akan menyebar dengan lebih cepat di saat musim panas, karena suhu dan kelembaban yang tinggi.

Dilansir dari mountelizabeth.com.sg, Dr. Leong Hoe Nam, Infectious Disease Specialist at Mount Elizabeth Novena Hospital menjelaskan tentang hal ini.

Dirinya mengatakan bahwa seekor nyamuk menjadi terinfeksi ketika memakan darah dari orang yang terinfeksi penyakit DBD dan menyebar ketika nyamuk kemudian menularkan virus ke orang lain yang mereka gigit.

“Setelah 5-14 hari, virus akan matang di kelenjar liur nyamuk dan menyebar ke korban berikutnya selama nyamuk berikutnya makan atau menggigit orang lain. Begitulah penyakit DBD meluas,” katanya.

Nyamuk Aedes dapat terbang hingga 400 meter mencari wadah berisi air untuk bertelur dan lebih suka berkembang biak di air bersih dan stagnan yang mudah ditemukan di rumah.

"Sangat penting untuk melakukan pencegahan di dalam dan luar rumah untuk menghindari nyamuk berkembang biak,” kata Dr. Chua Ying Ying, Consultant, Department of Infectious Diseases, Singapore General Hospital (SGH), yang dikutip dari HealthXchange.sg.

Baca Juga: Trombosit Turun Tapi Bukan DBD, Waspada Infeksi Serius Berbahaya

Cara Mencegah Penyakit DBD

Ada beberapa cara yang dianjurkan Dr. Chua untuk mencegah penyakit DBD dirumah. Apa saja? Yuk kita cari tahu Moms!

1. Gunakan Anti Nyamuk Mengandung Diethyltoluamide (DEET)

Lotion Anti Nyamuk
Foto: Lotion Anti Nyamuk (Orami Photo Stock)

Menurut Center of Disease Control and Prevention, hingga saat ini, tidak ada vaksin atau obat yang bisa mencegah dan menyembuhkan DBD.

Satu-satunya cara untuk mencegah DBD adalah dengan melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Gunakan anti nyamuk yang setidaknya mengandung DEET untuk mencegah penyakit DBD.

DEET adalah sebuah zat yang mampu mengusir hama yang bisa menggigit. Oleskan pada kulit dan gunakan secukupnya untuk menutupi seluruh area.

Jangan mengaplikasikannya di bawah pakaian dan pada luka atau kulit yang teriritasi, ya, Moms.

Selain itu, Moms juga dilarang mengoleskannya di sekitar mata atau mulut.

DEET terdaftar di United States Environmental Protection Agency sebagai bahan aktif pada obat nyamuk yang aman, termasuk untuk ibu hamil dan menyusui.

Namun, harus diingat bahwa anti nyamuk seperti ini tidak boleh digunakan langsung ke tangan Si Kecil serta belum boleh digunakan bayi di bawah usia dua bulan.

“Jika Anda atau anak Anda terkena ruam atau reaksi negatif lainnya dari obat nyamuk, cucilah dengan sabun dan air, lalu hentikan penggunaan produk. Konsultasikan dengan dokter jika kondisinya berlanjut, ” kata Dr Chua.

2. Kenakan Pakaian Tertutup

Digigit Nyamuk
Foto: Digigit Nyamuk (bbc.com)

Cara mencegah penyakit DBD yang selanjutnya adalah dengan mengenakan pakaian tertutup.

Baju dan celana panjang yang bisa menutupi tubuh secara maksimal sangat bermanfaat untuk menghindari gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Menggunakan kaos kaki juga dapat menjadi pilihan terbaik apabila kondisi lingkungan memungkinkan.

Baca Juga: 9 Obat Demam Berdarah Alami untuk Bantu Naikan Trombosit, Catat!

3. Kelambu atau Tirai

Kelambu
Foto: Kelambu (Unsplash.com)

Cara mencegah penyakit DBD yang selanjutnya adalah menggunakan kelambu atau tirai.

Gunakan tirai jendela atau kelambu berinsektisida karena jaring yang telah diobati dengan insektisida jauh lebih protektif.

Insektisida tidak hanya membunuh nyamuk dan serangga lainnya, tetapi juga menghalangi nyamuk masuk ke dalam ruangan sehingga meminimalisir penyebaran penyakit DBD.

4. Periksa Tempat Potensial Aedes Berkembang Biak

Jentik Nyamuk
Foto: Jentik Nyamuk (News.vanderbilt.edu)

Cara mencegah penyakit DBD yang selanjutnya adalah memeriksa tempat perkembangbiakan nyamuk.

Dalam rumah, nyamuk Aedes biasanya berkembang biak di nampan pot tanaman dan juga vas bunga.

Moms harus sering mengganti air di dalam vas bunga dan juga rajin membuang air di nampan pot tanaman dalam rumah.

Untuk area tak terlihat, gelap atau sudut ruangan serta tumpukan barang, gunakan semprotan insektisida.

Menggunakan anti nyamuk bakar juga boleh Moms lakukan.

Tampungan air dari unit pendingin ruangan juga wajib dibuang setiap minggu. Sementara untuk bak air di kamar mandi, dapat lebih sering dikuras dan diberi insektisida tabur.

Pada bagian luar rumah, nyamuk senang berkembang biak di saluran perimeter, selokan, tumpukan sampah dan wadah terbuka yang digenangi air.

Oleh karena itu, jangan biarkan sampah terlalu lama menumpuk sehingga berpotensi menjadi tempat genangan air.

Selokan juga tidak boleh dibiarkan tersumbat karena kotoran dedaunan ataupun sampah.

Insektisida tabur juga bisa digunakan pada selokan minimal satu kali setiap bulannya.

Baca Juga: Mengenal Bintik Merah DBD, Timbul saat Demam di Hari Ke-2

Penanganan dari Pemerintah

Fogging Nyamuk DBD
Foto: Fogging Nyamuk DBD (Orami Photo Stock)

Sempat menjadi kejadian luar biasa (KLB), kasus DBD di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat.

Kepadatan populasi nyamuk juga dapat terjadi karena banyaknya tempat berkembang biak yang biasanya terjadi pada musim penghujan yang menimbulkan banyak genangan, seperti talang air, ban bekas, dan sebagainya.

Pada awal 2019, data yang masuk ke Kemenkes RI sampai 29 Januari 2019 tercatat jumlah penderita DBD sebesar 13.683 penderita, dilaporkan dari 34 Provinsi dengan 132 kasus diantaranya meninggal dunia.

Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan Januari tahun sebelumnya (2018) dengan jumlah penderita sebanyak 6.167 penderita dan jumlah kasus meninggal sebanyak 43 kasus.

Pada awal 2019, tercatat beberapa daerah melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD diantaranya Kota Manado (Sulawesi Utara) dan 7 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu Sumba Timur, Sumba Barat, Manggarai Barat, Ngada, Timor Tengah Selatan, Ende dan Manggarai Timur.

Sedangkan beberapa wilayah lain mengalami peningkatan kasus namun belum melaporkan status kejadian luar biasa.

Untuk mengantisipasinya, pemerintah dalam hal ini Kemenkes telah menghimbau kepada seluruh jajaran pemerintah daerah melalui surat edaran Menteri Kesehatan RI nomor PV.02.01/Menkes/721/2018 tanggal 22 November 2018 perihal Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus DBD.

Dalam surat tersebut Menteri Kesehatan menghimbau pemerintah daerah untuk:

  • Meningkatkan upaya penggerakan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui kegiatan menguras, menutup dan memanfaatkan kembali barang bekas, plus mencegah gigitan nyamuk (3M plus), dengan cara mengimplementasikan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).
  • Meningkatkan surveilans kasus dan surveilans faktor risiko terhadap kejadian demam berdarah dengue, diantaranya melalui kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) dan mengaktifkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik).
  • Mengaktifkan kembali Kelompok Kerja Operasional penanggulangan DBD (Pokjanal DBD) pada berbagai tingkatan RT/RW, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi.
  • Meningkatkan kapasitas sumber daya pencegahan dan pengendalian DBD, meliputi peningkatan kapasitas SDM, biaya serta bahan dan peralatan.
  • Menerbitkan Surat Edaran Gubernur kepada Bupati/Walikota dalam rangka kesiapsiagaan peningkatan kasus DBD.

Disamping itu, Kementerian Kesehatan juga telah melakukan upaya:

  • Mengimbau seluruh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi seluruh Indonesia untuk ikut mendukung dan menggerakan pelaksanaan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus di wilayahnya, serta mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada untuk upaya antisipasi dan penanggulangan KLB DBD.
  • Sosialisasi kepada masyarakat untuk melaksanakan kegiatan PSN 3M Plus melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik.
  • Dukungan Tim Terpadu kementerian Kesehatan dalam asistensi upaya penanggulangan KLB di beberapa daerah
  • Mendistribusikan dukungan bahan dan alat pengendalian vektor ke seluruh provinsi berupa insektisida, larvasida, Jumantik Kit, Mesin fogging, dan media KIE.

Selain itu, Kemenkes juga menghimbau seluruh masyarakat untuk ikut dalam upaya mencegah penyebaran DBD.

Antara lain dengan menjaga kebersihan lingkungan, melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan tempat tinggal masing-masing, tempat kerja, sekolah dan tempat ibadah.

Baca Juga: Cari Tahu Fakta-Fakta Penting Fogging untuk Basmi Nyamuk DBD

Cara Mencegah Penyakit DBD Versi Kemenkes

Cara Mencegah Penyakit DBD
Foto: Cara Mencegah Penyakit DBD (Kemenkes RI)

Salah satu alasan mengapa kasus demam berdarah dapat terjadi, biasanya karena perilaku hidup masyarakat yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan.

Padahal, DBD merupakan salah satu penyakit yang harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kematian. Kementrian Kesehatan (Kemenkes) telah mengkampanyekan 3M Plus sebagai cara mencegah penyakit DBD.

Menurut laman Kemenkes RI, 3M tersebut yakni:

1. Menguras

Saat melakukannya, Moms dapat membersihkan atau menguras tempat yang sering menjadi penampungan air seperti bak mandi, kendi, toren air, drum dan tempat penampungan air lainnya.

Saat menguras, jangan lupa untuk menggosok dinding bak maupun penampungan air juga untuk membersihkan dan membuang telur nyamuk yang menempel erat pada dinding.

Saat musim hujan maupun pancaroba, Moms harus lebih sering mengurasnya bahkan Kemenkes menekankan untuk melakukannya setiap hati.

Hal ini dimaksudkan untuk memutus siklus hidup nyamuk yang dapat bertahan di tempat kering selama 6 bulan, sehingga menjadi lebih efektif untuk dilakukan.

2. Menutup

Cara mencegah penyakit DBD selanjutnya ini bisa dilakukan dengan menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum penampungan air.

Bukan hanya tempat menyimpan air, Moms juga harus menutup rapat barang-barang lain seperti mengubur barang bekas di dalam tanah.

Ini dilakukan agar tidak membuat lingkungan semakin kotor, dan malah dapat berpotensi menjadi sarang nyamuk yang akan berbahaya.

3. Memanfaatkan

Kemenkes juga menyarankan untuk memanfaatkan kembali limbah atau sampah barang bekas yang bernilai ekonomis untuk didaur ulang.

Selain akan bernilai ekonomis dan mengajak Si Kecil untuk berkarya, hal ini juga menjadi cara mencegah penyakit DBD.

Padahal, DBD merupakan salah satu penyakit yang harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kematian.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengkampanyekan 3M Plus sebagai cara mencegah penyakit DBD.

Kata "Plus" yang menjadi kampanye dari Kemenkes adalah bentuk upaya cara mencegah penyakit DBD tahap selanjutnya, yang berupa:

  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk. Diharapkan ikan-ikan ini akan memakan jentik nyamuk sehingga tidak akan berkembang biak menjadi nyamuk yang menyebabkan demam berdarah
  • Menggunakan obat antinyamuk. Moms bis memilih obat anti nyamuk ini sesuai kebutuhan. Di pasaran terdapat obat yang berbentuk semprotan, dibakar, lotion, dan sebagainya.
  • Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi. Ini dapat menjadi filter agar tidak ada nyamuk dari luar yang masuk ke rumah. Jangan lupa untuk mengecek kondisi pintu agar tidk terlalu sering terbuka untuk membantu memaksimalkan filter dari nyamuk tersebut.
  • Gotong Royong membersihkan lingkungan. Selain menjadi sarana bersilaturahmi, bergotong royong akan menghasilkan lingkungan yang lebih bersih dan menambah keakraban, hingga pekerjaan pembersihan dapat berjalan lebih cepat.
  • Periksa tempat-tempat penampungan air. Ini dilakukan untuk memastikan apakah ditemui jentik nyamuk atau tidak. Jika ya, segera lakukan pengurasan.
  • Meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup. Jika pakaian yang sudah digunakan hanya digantung dalam waktu yang lama, ini akan menjadi sarang nyamuk, juga menimbulkan bau tidak sedap.
  • Memberikan larvasida pada penampungan air yang susah dikuras. Obat ini dapat dengan mudah ditemui di apotek dan digunakan di tempat yang biasanya berada di luar rumah.
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar. Jika ada kerusakan, ini akan mengakibatkan air tertampung di talang tersebut dan bisa saja berubah menjadi tempat bagi nyamuk untuk berkembang biak.
  • Menanam tanaman pengusir nyamuk. Selain akan meninggalkan kesan cantik dan wangi di dalam rumah, tanaman seperti Lavender, Rosemary, dan Peppermint juga tidak disukai oleh nyamuk.

Baca Juga: 13 Jenis Tanaman Pengusir Nyamuk, Efektif untuk di Rumah

Wabah DBD biasanya mulai meningkat saat pertengahan musim hujan.

Hal tersebut disebabkan oleh semakin bertambahnya tempat-tempat nyamuk berkembang biak karena meningkatnya curah hujan.

Oleh karena itu, Moms harus bersiap saat musim hujan tiba dengan mencari cara mencegah penyakit DBD.

Dengan demikian, risiko tertular penyakit berbahaya tersebut bisa berkurang.

Semoga dan Moms keluarga terhindar dari DBD maupun penyakit berbahaya lainnya, ya!

  • http://p2p.kemkes.go.id/kesiapsiagaan-menghadapi-peningkatan-kejadian-demam-berdarah-dengue-tahun-2019/#:~:text=Kementerian%20Kesehatan%20menghimbau%20seluruh%20lapisan,kerja%2C%20sekolah%20dan%20tempat%20ibadah
  • https://promkes.kemkes.go.id/upaya-pencegahan-dbd-dengan-3m-plus

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.