KESEHATAN UMUM
04 September 2022

Kenali Cara Penularan DBD dan Pencegahannya yang Wajib Diperhatikan

Harus mulai waspada ya, Moms!
Kenali Cara Penularan DBD dan Pencegahannya yang Wajib Diperhatikan

Apakah Moms sudah tahu seperti apa cara penularan DBD atau demam berdarah?

Saat musim hujan, selain banjir salah satu momok yang kerap terjadi di Indonesia saat curah hujan tinggi adalah penularan demam berdarah dengue alias DBD.

Melansir StatPearls Journal, demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang sering sekali ditemukan di negara beriklim tropis dan sub tropis.

Utamanya di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Hal ini mungkin membuat bertanya-tanya, seperti apa cara penularan DBD.

Bahkan, menurut data yang dihimpun laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kasus demam berdarah di Indonesia cenderung terus naik tiap tahunnya.

Hingga bulan Juli 2020, kasus demam berdarah mencapai 71.633. Angka yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan tren kenaikan dari tahun sebelumnya.

Yakni 59.000 kasus pada tahun 2017 dan meningkat menjadi 65.602 kasus di tahun 2018. Sementara angka tertinggi terjadi pada tahun 2019 dengan 112.954 kasus dengan 751 kematian.

Untuk itu, sangat penting mengetahui cara penularan DBD sehingga Moms dan Dads bisa mengantisispasi serta melakukan pencegahan terhadap penyebaran nyamuk DBD.

Baca Juga: Tak Hanya Mencegah Kehamilan, Cari Tahu Manfaat dan Bahaya Kondom

Cara Penularan DBD atau Demam Berdarah

mosquitoes-spread-dengue-fever.jpg

Foto: mosquitoes-spread-dengue-fever.jpg

Foto Nyamuk DBD (medicalnewstoday.com)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada sekitar 50-100 juta orang terinfeksi penyakit DBD di seluruh dunia setiap tahunnya.

Secara umum, ada empat jenis virus yang dapat menyebabkan demam berdarah.

Namun, kasus yang paling umum adalah demam berdarah dengue atau DBD.

DBD merupakan salah satu penyakit menular yang diakibatkan virus dengue.

Dalam kata lain, nyamuk merupakan carrier dari virus ini.

Berikut tiga cara penularan DBD, menurut keterangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

1. Penularan dari Nyamuk ke Manusia

Virus dengue ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi, terutama nyamuk Aedes aegypti.

Setelah menginfeksi, virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk dalam kelenjar ludah.

Sekitar 8-12 hari setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik).

Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya.

2. Penularan dari Manusia ke Nyamuk

Sebaliknya, cara penularan DBD juga bisa membuat nyamuk tertular virus dengue dari manusia.

Penularan ini bisa berasal dari seseorang yang memiliki gejala infeksi dengue.

Seseorang yang belum memiliki gejala infeksi (pre-symptomatic), tetapi juga orang yang tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit (mereka asimtomatik).

Penularan dari manusia ke nyamuk dapat terjadi hingga 2 hari sebelum seseorang menunjukkan gejala penyakit, hingga 2 hari setelah demam mereda.

3. Penularan dari Ibu Hamil ke Bayinya

Cara penularan DBD yang utama adalah antar manusia dengan nyamuk.

Namun, ada bukti kemungkinan penularan ibu (dari ibu hamil ke bayinya).

Sementara tingkat penularan tampak rendah, dengan risiko penularan vertikal tampaknya terkait dengan waktu infeksi dengue selama kehamilan.

Ketika seorang ibu memiliki infeksi DBD saat dia hamil, bayi mungkin menderita kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan gawat janin.

Cara Menangani Penularan Penyakit DBD

downtoearth.org.in.jpg

Foto: downtoearth.org.in.jpg

Foto Ilustrasi DBD (downtoearth.org.in)

Dilansir dari Centre for Health Protection, manusia tidak bisa menularkan DBD kepada manusia lainnya.

Seseorang bisa terkena DBD karena digigit nyamuk yang terinfeksi virus dengue.

Moms sudah mengetahui seperti apa cara penularan DBD. Lalu, bagaimana dengan cara menanganinya?

Sebetulnya tak ada perawatan yang spesifik untuk menangani demam berdarah atau DBD.

Namun ada beberapa cara agar gejala yang dirasakan penderita dapat berkurang.

Langkah ini bertujuan untuk mencegah virus makin menyebar dengan cepat dalam tubuh.

Jika intervensi yang tepat dilakukan sedini mungkin, tingkat kematian akibat DBD bahkan tidak mencapai 1 persen.

1. Istirahat Cukup

Ketika demam mulai terasa, beri tubuh lebih banyak waktu untuk beristirahat.

Kelelahan akan memperlambat kerja imun tubuh dalam menyerang virus yang masuk.

2. Perbanyak Cairan

Ketua UKK Infeksi dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Anggraini Alam, Sp.A(K) menyarankan, saat alami demam tinggi harus perhatikan cairan.

Memenuhi asupan cairan sangat penting dilakukan selama fase demam berdarah.

Perbanyak air putih maupun cairan elektrolit jika dibutuhkan agar tubuh terhindar dari dehidrasi.

Selain itu, pantau frekuensi buang air kecil dan volume urin untuk memastikan kita dalam keadaan terhidrasi dengan baik.

"Kalau banyak minum kan harapannya nanti buang air kecilnya juga banyak," kata dokter Anggraini.

3. Konsumsi Obat Pereda Nyeri

Demam, nyeri kepala, serta nyeri otot, dan sendi yang dirasakan saat terkena demam berdarah tentu terasa sangat tidak nyaman.

Hal ini dapat mengganggu istirahat.

Untuk itu, mengonsumsi obat pereda nyeri boleh dilakukan.

Namun perlu diingat, hindari jenis pereda nyeri seperti ibuprofen dan dan aspirin karena kedua jenis obat tersebut dapat menyebabkan pendarahan.

Sebaiknya gunakan pereda nyeri dengan kandungan acetaminophen atau sesuai dengan anjuran dokter.

Baca Juga: Punya Gejala Hampir Sama, Kenali Perbedaan Gejala Tifus dan DBD

Cara Mencegah Penularan DBD

reason.com.jpg

Foto: reason.com.jpg

Foto Ilustrasi Cara Mencegah Penularan DBD (reason.com)

Sayangnya, hingga kini belum tersedia vaksin khusus DBD.

Sehingga melakukan pencegahan adalah hal terbaik yang dapat dilakukan agar perkembangan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus dapat diminimalisir.

Cara penularan DBD dapat diantisipasi selama kita tahu bagaimana langkah yang tepat.

Mengutip situs Kementerian Kesehatan RI, beberapa di antaranya adalah:

1. Lakukan Vaksinasi

dr. Asik Surya, MPPM, Koordinator Substansi Arbovirosis, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RepubIik Indonesia menyatakan bahwa vaksinasi merupakan salah satu strategi pencegahan penyebaran dengue.

Hal ini tidak terlepas dari program vaksinasi COVID-19 yang telah diselenggarakan sebanyak 3 kali secara gratis oleh Pemerintah.

"Kami berharap opsi untuk vaksinasi dengue bisa menjadi semakin luas dan angka kasus Dengue maupun kematian akibat dengue dapat turun sejalan dengan target Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025" ucapnya.

2. Hindari Munculnya Genangan Air

Genangan air merupakan ekosistem yang ideal bagi perkembangbiakan nyamuk.

Karena itu sebisa mungkin cegah munculnya genangan air.

Tutup rapat wadah penampung air seperti tandon atau penampungan air hingga sumur.

Buang botol bekas maupun kaleng di tempat sampah tertutup agar air tak menggenang.

Perhatikan pula detail-detail kecil seperti pot maupun vas bunga, pastikan tak ada air menggenang di dalam pot bunga dan jika memiliki vas verisi air, ganti airnya minimal seminggu sekali.

Genangan air di halaman yang terbentuk setelah hujan juga berpotensi menjadi tempat tumbuh nyamuk.

Jika memungkinkan, ratakan permukaan tanah untuk mencegah air tergenang.

Baca Juga: 10 Cara Membuat Anak Laki-Laki dan Perempuan, Pasutri Patut Coba!

3. Gunakan Obat Anti Nyamuk

Nyalakan obat anti nyamuk baik dalam bentuk bakar, cair, maupun elektrik terutama pada area yang ditemukan banyak nyamuk.

Moms dan anggota keluarga juga bisa menggunakan lotion anti nyamuk.

Untuk memastikan Moms dan anggota keluarga lainnya tidak alergi dengan bahan-bahan obat nyamuk, tes dulu dengan menotolkan sedikit krim pada kulit punggung tangan sehari atau dua hari sebelum pemakaian.

Kalau Moms melihat ada tanda-tanda alergi, hentikan pemakaian dan basuh area kulit yang dioles sampai bersih. Hubungi dokter jika perlu.

4. Gunakan Pakaian Panjang

baju bayi.jpg

Foto: baju bayi.jpg (pinterest.com)

Foto Bayi dengan Pakaian Panjang (Orami Photo Stock)

Gunakan pakaian berlengan dan celana panjang terutama saat malam hari.

Selain itu, Moms dan Dads bisa menggunakan lotion anti nyamuk agar terhindar dari gigitan nyamuk pada area yang tak tertutup baju.

5. Taburkan Abate

Membasmi jentik-jentik nyamuk dapat dilakukan dengan menaburkan bubuk abate pada bak mandi hingga saluran air dan got.

Hal ini sangat ampuh mengendalikan jumlah jentik-jentik dan perkembangan nyamuk.

6. Pengasapan atau Fogging

Mintalah petugas kesehatan setempat di tempat Moms dan Dads tinggal untuk melakukan fogging atau pengasapan.

Biasanya pemerintah daerah akan mengakomodir kegiatan fogging di seluruh daerah hingga ke perkampungan.

Baca Juga: Anak 1 Tahun Belum Bisa Jalan Wajarkah? Ini Penjelasannya!

7. Menjaga Daya Tahan Tubuh

Langkah terpenting lainnya yang perlu dilakukan sebagai pencegahan DBD atau demam berdarah adalah meningkatkan daya tahan tubuh.

Dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, risiko Moms terkena penyakit pun dapat dikurangi.

Moms dapat melindungi daya tahan tubuh dengan menerapkan kebiasaan hidup sehat.

Mencegah demam berdarah dengan cara banyak mengonsumsi berbagai jenis makanan sehat dapat meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

Aturlah menu makanan yang kaya akan vitamin dan mineral seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, serta daging.

8. Jangan Menumpuk atau Menggantung Pakaian Terlalu Lama

Kebiasaan menunda-nunda melipat cucian dan membiarkannya menumpuk begitu saja dapat menjadi tempat favorit untuk dihinggapi nyamuk.

Hal ini dikarenakan nyamuk menyukai aroma tubuh manusia.

Jika Moms memang harus menyimpan kembali baju yang baru dipakai, lipat kemudian simpan pada tempat yang bersih dan tertutup.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Thalasemia Pada Anak, Mulai dari Minor hingga Mayor

Itulah sekilas tentang cara penularan DBD dan juga langkah penanganan serta pencegahannya.

Karena gejala DBD umumnya mirip dengan penyakit flu biasa, diagnosis medis melalui tes darah mungkin saja diperlukan untuk mengetahui secara pasti adanya virus dengue dalam tubuh.

Sehingga, akan lebih baik jika Moms dan Dads segera memeriksakan diri ke dokter jika merasakan lebih dari satu gejala DBD yang telah disebutkan di atas.

Selain itu, tentunya jangan lupa untuk mencegah penyebaran nyamuk terutama pada musim hujan seperti saat ini.

Apabila terjadi tanda perburukan infeksi Dengue, sebaiknya segera bawa anak ke rumah sakit agar mendapat perawatan medis.

Dokter Anggraini mengatakan, keterlambatan perawatan Dengue bisa menyebabkan kematian.

"Tanda bahaya Dengue seperti lemas jadi tiduran saja atau sulit dibangunkan, minumnya kurang, muntah di satu episode lebih dari tiga kali, ada pendarahan, sesak nafas, pucat, tangan dan kaki dingin." tuturnya.

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430732/
  • https://www.kemkes.go.id/article/view/20070900004/hingga-juli-kasus-dbd-di-indonesia-capai-71-ribu.html
  • https://ptvz.kemkes.go.id/berita/situasi-dengue-dbd-di-indonesia-pada-minggu-ke-14-tahun-2022
  • https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
  • https://www.chp.gov.hk/en/features/102301.html
  • https://ptvz.kemkes.go.id/berita/situasi-dengue-dbd-di-indonesia-pada-minggu-ke-14-tahun-2022