18 Oktober 2023

5 Tahap Perkembangan Psikoseksual Anak Sesuai Usia

Moms juga harus memahami perilaku seksual normal dan bermasalah pada anak

Apakah Moms pernah melihat Si Kecil memegang alat kelaminnya dan terlihat "keenakan"? Jangan langsung dimarahi Moms. Itu adalah hal yang normal dan termasuk dalam tahapan perkembangan psikoseksual anak.

Psikoanalis terkenal Sigmund Freud, memiliki teori perkembangan psikoseksual.

“Teori ini berasal dari Freud pada awal 1900-an sebagai cara untuk memahami dan menjelaskan penyakit mental dan gangguan emosional,” jelas psikoterapis Dana Dorfman, PhD, New York, melansir dari Healhtline.

Baca Juga: Perkembangan Anak 2 Tahun, Apakah Sudah Sesuai dengan Si Kecil?

Tahapan Perkembangan Psikoseksual Anak

Tahapan Perkembangan Psikoseksual Anak
Foto: Tahapan Perkembangan Psikoseksual Anak (Orami Photo Stock)

Setiap tahapan perkembangan psikoseksual anak ini dikaitkan dengan bagian tubuh tertentu, atau lebih khusus lagi, zona sensitif seksual.

Setiap zona adalah sumber kesenangan dan konflik dalam setiap tahapan masing-masing.

“Kemampuan seorang anak untuk menyelesaikan konflik itu menentukan apakah mereka dapat melanjutkan ke tahap berikutnya atau tidak,” jelas konselor profesional berlisensi Dr. Mark Mayfield, pendiri dan CEO Mayfield Counseling Centers, melansir dari Healthline.

Jika dapat menyelesaikan konflik dalam tahap tertentu, anak akan maju ke tingkat perkembangan berikutnya. Jika tidak, maka anak akan berada dalam fase "terjebak".

Misalnya, seorang anak yang "terjebak" dalam tahap oral mungkin terlalu menikmati bila terdapat sesuatu di dalam mulutnya, dan ini akan memengaruhi perkembangannya.

Oleh karena itu, Moms perlu memperhatikan tahapan perkembangan psikoseksual anak, yakni:

1. Tahap Oral (0–1 Tahun)

Pada tahap ini, bayi mendapatkan kesenangan dari mulutnya.

Selain menyusui, bayi akan terus memainkan mulutnya dengan jari misalnya, dan terus mengeksplor bagian tersebut dengan memasukkan segala jenis benda ke dalam mulutnya.

Menurut Freud, selama tahap pertama perkembangan ini, libido manusia terletak di mulutnya.

Artinya mulut adalah sumber utama kesenangan. “Tahap ini terkait dengan menyusui, menggigit, mengisap, dan menjelajahi dunia dengan memasukkan sesuatu ke dalam mulut,” kata Dana.

Mengunyah permen karet berlebihan, menggigit kuku, dan mengisap jempol bisa terjadi bila bila kepuasan oral anak terlalu sedikit atau bahkan terlalu banyak pada tahapan ini.

“Makan berlebihan dan merokok juga berakar pada perkembangan yang buruk dari tahap pertama ini,” tambahnya.

Baca Juga:Mengenal Teori Piaget, 4 Tahapan Perkembangan Kognitif dan Kecerdasan Anak

2. Tahap Anal (1–3 Tahun)

Pada tahap ini, kesenangan anak tidak diperoleh dari memasukkan sesuatu ke dalam tubuh, melainkan mendorong keluar dari anus.

Ya, itu kode untuk buang air besar Moms.

Freud percaya bahwa selama tahap ini, menerapkan toilet training serta belajar mengendalikan buang air besar dan kandung kemih adalah sumber utama kesenangan dan ketegangan.

Teori tersebut mengatakan bahwa pendekatan orang tua terhadap proses toilet training akan memengaruhi bagaimana seorang anak berinteraksi seiring bertambahnya usia.

Misalnya, toilet training yang keras dianggap menyebabkan orang dewasa menjadi retensi anal, yakni perfeksionis dan terobsesi dengan kebersihan.

Baca Juga: Cara Bermain Pop It dan Manfaatnya untuk Perkembangan Anak

3. Tahap Phalik (3–6 Tahun)

Anak Mandi
Foto: Anak Mandi (Freepik.com/freepik)

Fase perkembangan ini terjadi saat anak berusia 3–6 tahun. Seorang anak akan suka mengamati dan menyentuh alat kelaminnya.

Hal tersebut terjadi karena zona sensitif seksual terletak di alat kelamin, dan fase ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki.

Pada tahap ini, anak mulai menyadari jenis kelaminnya sendiri.

Mereka mengenal diri mereka sendiri baik sebagai laki-laki atau perempuan dari visi mereka sendiri tentang alat kelamin maupun dari pendidikan seks yang diajarkan oleh orang tua tentang gender.

Orang tua tidak perlu khawatir jika pada fase ini anak cenderung menyentuh alat kelaminnya, karena perilakunya didasari oleh rasa ingin tahu dan kecenderungan anak untuk mengeksplorasi tubuhnya.

Ini tidak didasarkan pada hasrat seksual, sebab di usia ini, hasrat seksual anak sudah pasti belum terbentuk.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Alice Sterling Honig, dari Syracuse University mencatat bahwa anak-anak prasekolah sering bingung dengan perbedaan anatomi seksual.

Bahwa anak-anak membutuhkan nama untuk bagian tubuh seksual, sehingga menyentuh alat kelamin mereka sesekali adalah hal yang normal.

Sigmund Freud berpendapat bahwa ini adalah saat energi seksual disalurkan ke aktivitas aseksual...

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb