Scroll untuk melanjutkan membaca

3-12 BULAN
07 Februari 2023

Cara Mengajarkan Toilet Training Untuk Bayi, Cek Ya!

Konon katanya jika terlalu dini bisa picu gangguan perilaku pada anak.
Cara Mengajarkan Toilet Training Untuk Bayi, Cek Ya!

Buang air kecil di toilet merupakan tahapan yang harus diajari orang tua dalam keseharian anak. Tak jarang, banyak orang tua melatih anak sejak usia dini untuk melakukan toilet training.

Ya, sebagian orang tua memulai toilet training untuk buah hatinya lebih awal, bahkan ada pula yang memulainya sejak beberapa minggu setelah kelahiran. Namun, ada juga yang memilih usia 1 tahun lebih.

Namun, mitos yang beredar jika memulai toilet training terlalu dini dapat menyebabkan masalah perilaku dan gangguan kepribadian pada anak.

Apa benar demikian mengingat bayi bahkan belum dapat berjalan sendiri dan masih memakai popok?

Baca Juga: 4 Faktor Penyebab Anak Masih Suka Ngompol dan Cara Mengatasinya

Waktu Terbaik Mengajarkan Toilet Training pada Si Kecil

Waktu Terbaik Toilet Training

Foto: Waktu Terbaik Toilet Training (Freepik.com)

Waktu terbaik untuk memulai toilet training adalah saat Si Kecil menunjukkan tanda kesiapan.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tidak ada usia yang pasti untuk memulai toilet training pada seorang anak.

Kesiapannya dilihat dari kematangan fisik dan psikologis yang secara umum timbul sekitar usia 18 bulan sampai 2,5 tahun.

Anak-anak yang sehat secara fisik dan emosional belum siap untuk mulai menggunakan toilet atau pispot sampai usianya sekitar 18 bulan – 3 tahun.

Di mana dalam hal ini, anak laki-laki cenderung memiliki kesiapan yang lebih lambat dibandingkan anak perempuan.

Kebanyakan orang tua memulai latihan saat buah hatinya berusia sekitar 2-3 tahun.

Si Kecil dapat meniru orang lain tanpa instruksi apa pun, selama Moms menjelaskan padanya apa yang perlu ia lakukan dan di mana ia harus melakukannya.

Moms tidak perlu memaksanya jika ia tidak mau, atau jika ia masih belum siap untuk memulainya.

Baca Juga: 6 Tips Agar Tidur Bayi Lebih Nyenyak dan Berkualitas

Beberapa orang tua yang memulai toilet training sejak usia bayi kurang dari empat bulan.

Biasanya, dengan memperhatikan tanda-tanda kotoran yang akan keluar, kemudian menampungnya dalam pispot atau toilet.

Metode ini disebut dengan komunikasi eliminasi.

Akan tetapi, sebagian besar ahli kesehatan tidak menyarankan hal ini, dan bahkan menyarankan bahwa anak-anak yang dilatih menggunakan cara ini cenderung memiliki masalah di kemudian hari.

Beberapa di antaranya seperti kesulitan menggunakan toilet sekolah atau saat berada dalam situasi mendesak.

Lebih baik menunggu sampai Si Kecil benar-benar siap untuk melakukannya.

Selain itu, anak di bawah dua tahun belum mampu mengontrol kapan mereka menangis dan buang air kecil dan/atau besar.

Otot-otot yang mengontrol kandung kemih dan rektum belum matang sampai usianya sekitar 18 bulan – 2 tahun.

Baca Juga: Ingin Anak Cepat Lulus Potty Training? Latih dengan Training Pants

Tanda Si Kecil Siap Memulai Toilet Training

Tanda Siap Toilet Training

Foto: Tanda Siap Toilet Training (Freepik.com)

Lia Asta, M.D., seorang profesor pediatri klinis di University of California, San Fransisco, sekaligus juru bicara American Academy of Pediatrics, mengatakan bahwa saat anak-anak ingin pergi ke toilet, maka tanpa disuruh pun mereka akan pergi ke toilet.

Terkadang hal itu mulai terjadi pada usia 18 bulan, namun tidak sampai melebihi usia 4 tahun.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar para Moms tidak terlalu stres memikirkan toilet training, karena pada akhirnya anak akan mengenal toilet dan melakukan tugasnya sendiri.

Namun, Moms tentunya dapat membantu memandu prosesnya.

Untuk dapat membantu Si Kecil belajar toilet training di waktu yang tepat, Moms perlu terlebih dahulu mengenali tanda–tanda kesiapannya.

Antara lain jika popok atau celana Si Kecil tetap kering setidaknya selama dua jam saat siang hari dan setelah tidur siang, ini bisa berarti bahwa ia siap untuk mulai buang air di toilet.

Setelah siap, ia pun dapat mulai mengikuti instruksi sederhana, seperti berjalan ke toilet, duduk, dan melepas celananya.

Pastikan juga ia tertarik untuk memakai pakaian dalam setelah belajar toilet training.

Bukan hanya itu, perhatikan pula apakah Si Kecil sadar saat mengompol atau BAB (buang air besar) di celananya?

Jika ia menangis, rewel, atau menunjukkan tanda–tanda lain ketidaknyamanan yang jelas saat popok atau celananya kotor, serta menunjukkan melalui postur, ekspresi wajah, atau bahasa yang menandakan sudah waktunya untuk menggunakan toilet, maka artinya ia sudah siap untuk memulai proses toilet training.

Baca Juga: Balita Susah BAB: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Kesalahan Toilet Training yang Harus Dihindari

Anak-Anak di Toilet

Foto: Anak-Anak di Toilet (Freepik.com)

Mengutip Cafe Mom, berikut ini kesalahan toilet training yang harus dihindari.

1. Memaksa Anak yang Belum Siap Melakukan Toilet Training

Kesalahan toilet training yang pertama adalah memaksa anak yang belum siap. Keinginan seorang anak untuk berhenti menggunakan popok adalah tonggak perkembangan.

Sama halnya Moms tidak akan memaksa anak untuk bisa berjalan, Moms tidak dapat memaksa mereka untuk melakukan toilet training sebelum mereka siap.

"Kesalahan terbesar orang tua dalam toilet training yaitu tidak memahami prinsip-prinsip dasar bahwa anak terlebih dahulu harus dapat mengendalikan keinginan mereka untuk buang air agar mereka mau melakukannya sendiri," kata Charles Shubin, MD, direktur pediatri di Family Health Centers, Baltimore.

2. Menggunakan Pakaian Dalam Biasa

Kesalahan toilet training yang selanjutnya adalah menggunakan pakaian dalam biasa.

Si Kecil mungkin bersemangat untuk mengenakan pakaian dalam dengan ukuran yang lebih besar dan ragam motif menarik.

Namun, masalahnya adalah celana dalam biasa ini terbuat dari bahan yang sangat tipis, sehingga mudah ditembus oleh air kencing jika ia lupa harus ke kamar mandi.

Cara yang bisa dilakukan adalah membeli pakaian dalam dengan bahan yang sedikit lebih tebal.

"Gunakan pakaian dalam yang tebal. Orang tua ingin anak merasakan sensasi saat kencing keluar, tetapi ingin menghindari 'kebocoran' yang dapat terjadi di rumah," jelas Heather Criswell, yang sudah melakukan toilet training terhadap ratusan anak, dan pendiri RaiseaHappyChild.com.

3. Orang Tua Marah Karena Terjadi 'Kecelakaan'

Kesalahan toilet training yang selanjutnya adalah orang tua marah.

Wajar jika dalam proses toilet training akan terjadi 'kecelakaan' di mana Si Kecil akan mengompol, tetapi Moms juga tidak perlu marah atau mempermalukannya.

"Mempermalukan seorang anak karena mengompol dapat menimbulkan rasa takut akan penghinaan pada," ungkap Wanda Draper, PhD, penulis "Your Child Is Smarter Than You Think!"

Ketakutan ini dapat membuat anak memilih untuk menahan saat hendak buang air, bahkan ketika dia duduk di toilet.

Dampaknya, tujuan toilet training pun menjadi lebih sulit dicapai.

4. Tidak Ada Persiapan dari Orang Tua

Kesalahan toilet training yang selanjutnya adalah tidak ada persiapan dari orang tua.

"Jika Anda tidak siap bangun jam 2 pagi untuk mengganti seprai, membersihkan karpet tempat ompol anak, dan melakukan cucian 5 kali sehari, mungkin sebaiknya tahan keinginan untuk toilet training," kata Criswell.

Ini karena toilet training memerlukan komitmen dan menghabiskan waktu, jadi Moms akan melakukan banyak pekerjaan yang berkaitan dengan hal ini.

Bila ada proyek kerja yang sudah menyita waktu, Moms mungkin tergiur untuk meninggalkan toilet training dan kembali membuat Si Kecil mengenakan popok.

Namun, dampaknya akan membingungkan anak, dan membuat proses toilet training lebih lama.

5. Beralih ke Popok saat Momen-momen Tertentu

Kesalahan toilet training yang selanjutnya adalah tidak konsisten. Berkaitan dengan poin sebelumnya, melakukan toilet training membutuhkan komitmen yang tidak mudah.

Menurut National Health Service, mulailah toilet training ketika Si Kecil dan seluruh keluarga siap. Sangat penting untuk tetap konsisten saat Si Kecil toilet training agar ia tidak bingung.

Moms mungkin tergoda membuat Si Kecil memakai popok sebelum tidur, pada perjalanan panjang, atau saat-saat lain yang lebih mudah.

"Ketika kita plin-plan dalam toilet training, anak akan merasa kebingungan dan kehilangan sensasi saat basah, buang air besar, atau rasa tidak nyaman," kata Criswell.

Walaupun Moms tergoda untuk kembali menggunakan popok, konsistensi penting dalam toilet training.

Baca Juga: 5 Cara Menghentikan Diare Tanpa Obat, Catat Moms!

Kendala Mengajarkan Toilet Training Pada Anak dan Solusinya

Toilet Training Pada Anak

Foto: Toilet Training Pada Anak (Freepik.com)

Kendala toilet training bisa karena ketakutan, penolakan, juga terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan.

Ada beberapa kendala yang umum terjadi saat mulai mengajarkan toilet training. Yuk, simak!

1. Menolak ke Toilet

Penolakan bisa menjadi petunjuk ini bukanlah saat yang tepat untuk memulai latihan. Menurut Parents.com, sebaiknya bawa anak ke toilet saat ia tampak perlu buang air kecil atau besar.

Penolakan anak terkadang hanya rasa takut akan sesuatu yang baru. Terkadang anak-anak memiliki ketakutan khusus tentang toilet.

Banyak juga anak-anak yang memiliki pengalaman sembelit, infeksi saluran kemih, atau masalah medis lainnya sehingga membuat mereka mengasosiasikan toileting dengan rasa sakit.

Menurut Parenting Science, saat memulai toitlet training, penting untuk memastikan anak sedang tidak sembelit, feses yang keras, atau kondisi yang berpotensi menyakitkan lainnya.

2. Anak Tidak Menyadari Perlunya Buang Air Kecil

Seringkali anak tidak menyadari jika perlu buang air kecil, meskipun ia menyadari perlu buang air besar. Hal semacam ini lumrah saja, Moms.

Sebagian anak belum bisa mengontrol kandung kemih sepenuhnya, bahkan berbulan-bulan setelah belajar mengendalikan buang air besar. Tak perlu khawatir, Moms, lanjutkan saja toilet training.

3. Mengompol Saat Tidur

Sebagian balita membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan toilet trainingnya saat tidur siang dan malam hari. Jika balita masih mengompol di kasur, cobalah untuk tidak marah.

Hukuman dan omelan akan membuat anak merasa tidak enak. Akibatnya, toilet training akan berlangsung lebih lama.

Jangan terlalu berharap segalanya sempurna. Bahkan setelah proses belajar selesai, mengompol masih bisa terjadi.

Oleh karena itu, Parent Science menyebut peneliti pada studi anak-anak Amerika Serikat menganggap toilet training sudah selesai jika anak mengompol kurang dari empat kali dalam seminggu dan dua atau kurang buang air besar di celana dalam sebulan.

Balita perlu didorong untuk menggunakan pispot sebelum tidur dan segera setelah ia bangun. Katakan padanya, jika tengah malam perlu ke toilet, Moms siap untuk membantunya atau ia bisa ke toilet sendiri.

4. Takut Tersedot Kloset

Suara derasnya air saat menyiram kloset bisa menimbulkan rasa takut anak. Mereka khawatir bisa tersedot air yang mengalir saat duduk di atasnya.

Anak perlu diberi keyakinan bahwa ia memegang kendali. Moms bisa membiarkan ia menyiram kertas toilet. Cara itu akan mengurangi rasa takutnya terhadap suara derasnya air dan melihat kertas yang hilang.

5. Memainkan Fesesnya

Hal ini terjadi karena rasa penasarannya. Moms bisa menghentikannya tanpa harus membuatnya marah. Misalnya dengan mengatakan, “Ini bukan untuk dimainkan.”

Sebagian balita merasa kotorannya merupakan bagian dari tubuhnya. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang menakutkan dan belum dipahami. Moms perlu jelaskan mengapa tubuh kita perlu mengeluarkan kotoran.

6. Hanya Mau ke Toilet dengan Orang yang Sama

Ini sesuatu yang wajar. Jika balita hanya mau ke toilet dengan Moms. Perlahan tariklah diri dari proses ini.

Misalnya dengan menawarkan membantu membuka celana, namun hanya akan menunggu di pintu.

Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun kerap enggan menggunakan toilet umum.

Solusi sederhananya, bisa dengan menggunakan dudukan toilet portabel, yang bisa dipasang di atas toilet standar. Pakailah saat berlatih di rumah dan bawalah ketika bepergian.

7. Meminta Popok Saat Ingin BAB

Hal ini menunjukkan secara fisik, balita siap toilet training, meski secara emosional belum siap. Jangan menganggap hal ini sebagai suatu kegagalan.

Pujilah dia karena telah mampu mengenali sinyal dari ususnya. Sarankan agar ia buang air besar di kamar mandi sambil mengenakan popok.

Baca Juga: Anak Susah Tidur? Inilah Penyebab dan Cara Mengatasinya

Cara Atasi Stres Akibat Toilet Training yang Gagal

Mengajarkan Anak Toilet Training

Foto: Mengajarkan Anak Toilet Training (Freepik.com)

Saat toilet training anak tidak berhasil, Moms pasti uring-uringan. Padahal, kunci keberhasilan toilet training hanya satu lho Moms, yakni santai saja

Memang usia anak dalam memulai toilet training, berbeda-beda dalam setiap budaya atau negara. Jadi, tidak mengherankan juga keberhasilan toilet training berbeda setiap anaknya.

Namun banyak orang tua merasa frustrasi ketika anaknya tidak berhasil melakukan toilet training.

Namun jangan sedih, karena kesedihan atau sikap uring-uringan Moms tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya, Si Kecil malah bisa jadi ogah-ogahan.

Bagaimana cara atasi stres jika toilet training gagal? Simak caranya di bawah ini.

1. Mengingat Toilet Training Butuh Waktu

Ingatkan diri sendiri secara berulang kali bahwa hal yang tidak berjalan lancar sering terjadii dan pelatihan untuk melakukan apa pun membutuhkan waktu.

Terus mengingat bahwa diri kita bisa melakukannya dan tetap percaya diri. Jangan menyerah saat toilet training anak tidak berhasil, dan tetap latih anak dengan penuh kesabaran.

2. Tetap Sabar dan Konsisten

Karena kekacauan dapat membuat orang semakin cemas dan gelisah, memutuskan bagaimana ingin melatih toilet training anak sebelum kita mulai adalah kunci dalam membantu semua orang tetap tenang.

Mulailah secara perlahan dengan membaca buku atau artikel dan memilih metode yang ingin diikuti.

"Jika orang tua melakukannya dengan perasaan urgensi, stres, atau ketidakpastian, maka anak yang paling siap pun akan merasakan kecemasan dan stres itu," kata Maria Darcy, psikolog berlisensi di Newport Beach, California, dan pencipta Sistem Pelatihan Potty Positif PoGO.

Ia menambahkan bahwa yang paling penting adalah bersiap diri saja dan lakukan dalam waktu yang fleksibel.

"Toilet training bukanlah alat ukur cara asuh orang tua dan inilah kuncinya,” kata Jamie Glowacki, penulis Oh Crap! Potty Training: Everything Modern Parents Need to Know to Do It Once and Do It Right.

Begitu banyak orang yang memandang keberhasilan latihan toilet sebagai bukti pengasuhan anak mereka yang baik. Namun mereka tidak paham, bahwa hal ini bukanlah untuk dibanding-bandingkan.

Apa yang terjadi pada anak lain, belum tentu bisa berhasil dengan anak kita. Makanya, jangan dibandingkan.

Akan jauh lebih mudah bila disesuaikan dengan anak kita sendiri dan pola asuh kita. Jika kita terus-menerus mendengarkan arahan orang lain atau cara orang lain, belum tentu akan berhasil.

Baca Juga: Moms Wajib Tahu, Ini Dia 10 Ciri Hamil Anak Kembar

Kiat Jitu Toilet Training Untuk Balita Kembar

Anak Kembar

Foto: Anak Kembar (Freepik.com)

Melatih buang air di toilet atau toilet training balita kembar sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan lho, Moms.

Seperti dikatakan Jamie Glowacki dalam bukunya Oh Crap! Potty Training, toilet training balita kembar itu tidak ribet asalkan Moms dan Dads mau meluangkan sedikit waktu dan energi untuk bekerja sama.

1. Mulai Saat Sudah Siap

Menurut psikolog sekaligus penulis buku Let’s Get This Potty Started!, Heather Wittenberg, Psy.D, sebaiknya toilet training balita kembar dimulai setelah Si Kecil menunjukkan tanda-tanda kesiapan, seperti:

  • Sudah punya jadwal buang air besar dan kecil yang bisa diprediksi.
  • Sudah bisa duduk tegak dan membuka pakaian sendiri.
  • Sudah mengenali fungsi tubuh dan menunjukkan tanda ingin buang air, seperti mengejan, jongkok, atau pergi ke pojok ruangan.
  • Bisa tetap kering selama 2-3 jam dan bangun tidur tanpa mengompol.
  • Sudah merasa mandiri dan ingin melakukan segala sesuatu sendiri seperti anak besar.

Biasanya tanda kesiapan tadi mulai terlihat di antara usia 18 bulan sampai 3 tahun. Walau kembar, tanda kesiapan setiap anak tidak selalu muncul di waktu yang bersamaan.

2. Sepakati Metode yang Dilakukan Bersama Dads

Menurut Fran Walfish, Psy,D., psikoterapis keluarga dan penulis buku Self-Aware Parent, toilet training balita kembar akan lebih mudah dilakukan kalau Moms dan Dads kompak, baik soal metode maupun dalam setiap langkah prosesnya.

Ada beberapa metode toilet training balita kembar yang direkomendasikan oleh para pakar, termasuk juga oleh American Academy of Pediatrics, di antaranya:

  • Pelan Tapi Pasti. Dengan metode ini, balita dibiasakan untuk mengendalikan buang air besar dan buang air kecil secara bertahap dalam jangka waktu beberapa minggu atau beberapa bulan.
  • Pejuang Akhir Minggu. Metode toilet training yang dilakukan selama dua sampai tiga hari di akhir minggu, dan perlu dilakukan dengan pengawasan dan kesigapan penuh dari Moms dan Dads.
  • Kilat. Metode toilet training intensif yang dilakukan hanya dalam 1 hari, namun paling efektif bila dilakukan pada balita yang siap secara fisik dan bisa cepat mengikuti instruksi.

3. Bila Mungkin, Lakukan Bersamaan

Menurut Pamela Prindle Fierro, penulis buku Mommy Rescue Guide Twins, Triplets, and More, sebaiknya toilet training balita kembar dilakukan secara bersamaan kalau keduanya memang menunjukkan tanda kesiapan di waktu yang sama.

Selain memiliki jadwal metabolisme yang hampir bersamaan, balita kembar juga bisa saling mendukung, menemani, dan bersaing untuk latihan menggunakan toilet.

Meski begitu, tetap pertimbangkan karakter dan temperamen setiap anak dan pastikan Moms dibantu oleh Dads maupun orang dewasa lain.

Nah, itulah penjelasan lengkap seputar toilet training yang bisa Moms dan Dads lakukan untuk Si Kecil. Semoga berhasil, ya!

  • https://cafemom.com/tag/toilet%20training
  • https://www.nhs.uk/conditions/baby/babys-development/potty-training-and-bedwetting/how-to-potty-train/
  • http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/toilet-training

Copyright © 2023 Orami. All rights reserved.