2-3 tahun

9 Juni 2021

7 Tips Jitu Ajarkan Potty Training pada Si Kecil

Cek dulu kesiapan balita sebelum memulai potty training
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Karla Farhana
Disunting oleh Adeline Wahyu

Semakin bertambahnya umur Si Kecil, akan semakin banyak hal baru dan tanggung jawab yang akan dipelajarinya. Salah satunya adalah belajar buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) sendiri di kamar mandi atau yang kerap disebut dengan potty training.

Ini artinya buah hati tidak lagi bergantung pada popok untuk menampung air pipis atau poop-nya. Pengajaran ini dikenal juga dengan istilah potty training atau toilet training.

Potty training pada balita merupakan salah satu lompatan besar dalam perjalanan hidupnya. Jadi, siapkan diri Mama dan Si Kecil untuk memulai petualangan dan pengalaman baru ini sebagai bekal balita ke depannya.

Potty training pada balita seperti yang tertulis dalam situs Stanford Childrens, baiknya dilakukan jika Mama sudah melihat tanda-tanda kesiapan balita untuk potty training.

Tidak ada waktu atau umur terbaik yang dapat dijadikan patokan dalam memulai potty training. Perhatikan tandanya dan mulailah potty training pada balita jika balita sudah siap.

Jika balita dirasa belum siap, jangan memaksakan proses ini karena hanya akan membuat Mama dan anak menjadi tidak nyaman dan stres.

Baca Juga: 5 Tips Traveling Bersama Balita yang Sedang Potty Training

Pentingnya Potty Training

3 Penyebab Balita Harus Mengulang Potty Training

Foto: Orami Photo Stock

Potty training sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Bukan hanya mengajarkan agar Si Kecil tak lagi ngompol, namun potty training juga memiliki manfaat positif secara psikologis pada anak.

Dilansir dari Tigers Child Care, potty training dapat meningkatkan kemandirian pada anak untuk mengontrol kebutuhannya untuk menggunakan toilet. Ketika Si Kecil sudah bisa mengontrolnya dan tahu kapan harus ke toilet, mereka akan merasa lebih percaya diri dalam menjalani hari-harinya.

Bahkan, ketika anak sudah memahami potty training, Si Kecil tak lagi akan menangis dan kebingungan ketika 'kecelakaan kecil' terjadi. Misalnya, Si Kecil terlambat untuk masuk ke toilet dan akhirnya buang air di dalam popok celana. Karena, Si Kecil sudah tahu apa yang harus dia lakukan.

Tanpa menangis dan meminta bantuan, Si Kecil akan dengan mandiri mengganti popok celana atau celana dalamnya dengan yang baru dan akan membersihkan dirinya sendiri di toilet. Karena itulah, potty training begitu penting dalam tumbuh kembang anak.

Tips Mengajarkan Si Kecil Buang Air

toilet training anak-2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Lalu bagaimana cara membuat potty training pada balita sukses dan tidak membebankan anak serta orangtua?

Mama memang bisa mengajarkan Si Kecil menggunakan adapter seat. Namun, bagaimana ketika malam hari? Balita biasanya lebih sulit mengontrol diri untuk bangun dan pipis di toilet.

Untuk itu, Mama bisa memanfaatkan popok celana sebagai transisi sebelum Si Kecil benar-benar lancar menggunakan toilet setiap hari.

Bagaimana caranya? Ikuti beberapa langkah berikut ini!

Baca Juga: Ingin Anak Cepat Lulus Potty Training? Latih dengan Training Pants

1. Cek Kesiapan Balita

Karena potty training ditargetkan pada Si Kecil, Mama perlu memastikan apakah balita sudah siap untuk diajarkan BAB dan BAK sendiri.

Namun, sebelum memulai potty training, Mama perlu memeriksa apakah Si Kecil sudah siap atau belum. Hal ini sangat penting karena bagaimana pun, Si Kecil yang harus memutuskan kapan dia siap untuk menggunakan toilet dan bisa lepas dari diapers.

Dalam jurnal berjudul Toilet Training Children: When to Start and How to Train, Brazelton pertama kali membuat sebuah metode standar untuk mengajarkan anak potty training pada tahun 1962.

Dalam metode itu, dia mengembangkan pendekatan child readiness atau kesiapan Si Kecil, dimana potty training harus dimulai pada saat Si Kecil sudah siap.

Dalam sebuah jurnal lain berjudul Toilet Training Guidelines: Parents—The Role of the Parents in Toilet Training yang diterbitkan American Academy of Pediatrics menunjukkan tidak ada patokan usia kapan anak harus diajarkan potty training. Setiap anak memiliki waktu kesiapannya sendiri.

Namun disarankan Mama tidak mengajarkan potty training kepada Si Kecil di bawah usia 2 tahun, ya Mama. Pasalnya, secara fisik anak di bawah usia 2 tahun belum siap untuk buang air menggunakan toilet secara mandiri dan masih butuh pengawasan Mama yang cukup ketat.

Baca Juga: Kapan Saat Terbaik Beralih dari Popok Bayi Ke Popok Celana?

Jika dilihat dari usia, Mama sudah boleh memeriksa kesiapan Sang Buah Hati ketika anak sudah memasuki usia paling tidak 2,5 tahun.

Untuk mempermudah Mama melihat kesiapan sang balita, berikut tanda-tanda Si Kecil sudah siap untuk melakukan potty training, dilansir dari Stanford Children.

  • Jika balita sudah dapat berjalan dan menunjukkan keinginan untuk duduk di toilet seat-nya
  • Sudah dapat membedakan rasa atau sensasi ingin BAK dan BAB
  • Dapat memberitahu kapan ingin BAB dan BAK pada Mama
  • Menunjukkan ketidaknyamanan jika popoknya penuh atau kotor dan minta segera diganti
  • Mengikuti dan mengimitasi perilaku BAB atau BAK Mama atau ayah saat di kamar mandi
  • Mama mendapati popok balita kering dalam 2 jam di siang hari atau kering sepanjang malam

Jika Mama banyak mendapati tanda-tanda seperti di atas, artinya balita siap untuk memulai potty training!

Baca Juga: 6 Tips Potty Training untuk Balita dengan Autisme

2. Ajak Si Kecil Berdiskusi

Sebelum mulai 'berperang' Mama perlu menyiapkan senjatanya. Namun, jangan dulu buru-buru membeli barang-barang untuk mendukung proses potty training pada balita. Karena, Mama perlu mengajak Si Kecil berdiskusi terlebih dahulu.

Jelaskan pada Si Kecil pentingnya potty training secara sederhana. Dengan membangun pemahaman, Si Kecil akan lebih siap untuk belajar potty training. Jika sudah, Mama bisa menyiapkan barang-barang yang diperlukan, seperti adapter seat dan popok celana sebagai transisi dari popok biasa ke celana dalam, Mama.

3. Traning Pants

Selama masa potty training berlangsung, Mama akan menemukan banyak sekali momen tak terlupakan, termasuk 'kecelakaan kecil.' Hal ini mungkin menjadi hal yang paling dikhawatirkan Mama, ya?

Demi menghindari hal tersebut, Mama dapat mengganti popok anak biasa dengan training pants.

Training pants berbentuk seperti celana dalam, namun pada bagian tengahnya terdapat mictofiber yang dapat menampung air seni anak sementara.

Baca Juga: Ingin Anak Cepat Lulus Potty Training? Latih dengan Training Pants

Meski mirip seperti popok, namun area penampungan pada training pants tidaklah kering seperti menggunakan popok. Biasanya balita akan merasa risih karena area vitalnya yang lembap dan basah.

Ini akan membuat Si Kecil lebih peka dan mau berkomunikasi jika ingin ke kamar mandi, Mama.

4. Beri Contoh pada Balita

Anak adalah peniru ulung. Mama dan Dads sebagai orangtua akan selalu menjadi role model bagi Si Kecil. Balita akan dengan cepat meniru apa saja yang dilakukan Mama dan Dads.

Untuk itu, Mama bisa memanfaatkan momen ini untuk mengajarkan Si Kecil cara pipis dan BAB yang benar.

Untuk anak laki-laki, minta Dads untuk mengajarkan dan memperlihatkan proses bagaimana cara BAK yang benar.

Untuk anak perempuan, biar Mama yang mengajarkannya dengan duduk di kursi toilet.

Dibutuhkan konsistensi untuk selalu mengajarkan pada balita cara BAK dan BAB di tempatnya.

Jangan bosan-bosan untuk mengajarkan balita, sehingga anak akan termotivasi dan terinspirasi dari kebiasaan orangtua di rumah.

5. Susun Jadwal Mengajak Anak BAK dan BAB

Buat rutinitas yang sama setiap hari untuk mengajak anak BAK dan BAB.

Pastikan ajak balita ke kamar mandi untuk pipis tepat sebelum tidur malam, setelah bangun tidur, sebelum mandi, serta sebelum dan sesudah makan. Mama juga bisa mengajak balita untuk BAB sesaat sebelum mandi, lho!

Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Kebiasaan Mengompol Anak TK

Mungkin di awal proses, anak akan gelisah duduk di toilet seat, namun terus alihkan perhatian Si Kecil untuk membuatnya mau duduk lebih lama.

6. Pakaikan Popok Celana saat Tidur Malam

Jika balita sudah berhasil melalui pagi hingga sore hari tanpa mengompol, artinya sebentar lagi Mama perlu mulai mengajarkan balita tidur malam tanpa menggenakan popok lagi.

Untuk proses potty training di malam hari memang tidak semudah siang hari, Mama. Balita cenderung belum bisa menahan keinginannya untuk BAK saat malam hari.

Pelan-pelan saja, ya Mama. Tetap pakaikan popok pada balita saat tidur malam jika balita masih belum siap. Salah satu jenis popok yang praktis adalah popok celana. Popok jenis ini akan memudahkan Mama saat menggantinya di tengah malam hari, dibandingkan dengan popo berperekat.

Nah, balita dirasa sudah mulai siap jika Mama mendapati popoknya tetap kering di sepanjang malam.

Jika balita sudah siap, Mama hanya perlu memastikan anak tidak banyak minum sebelum tidur malam untuk meminimalisir mengompol di malam hari. Pasangkan juga perlak atau seprai anti air pada tempat tidur sebagai langkah antisipasi anak mengompol.

7. Berikan Reward pada Si Kecil

Anak tentunya akan semakin senang dengan pencapaian yang ia lakukan bila kita memberikan reward padanya.

Reward ini berfungsi agar ia merasa bangga pada dirinya sendiri dan makin termotivasi untuk bisa BAB atau BAK di toilet.

Dilansir dari Kids Health, hadiah ini bisa berupa stiker, membacakan cerita favorit untuknya, atau membiarkannya memilih celana dalam baru dengan motif-motif lucu.

Agar potty training untuk balita lebih efektif, pastikan semua mengikuti rutinitas yang sama. Misalnya, babysitter, kakek nenek, atau guru di daycare.

Baca Juga: 3 Penyebab Balita Harus Mengulang Potty Training

Beri tahu mereka cara Mama mengajari anak BAK dan BAB sendiri di rumah, supaya mereka bisa melakukan pendekatan yang sama agar anak tidak bingung.

Popok Celana yang Tepat untuk Potty Training

Ada begitu banyak pilihan popok bayi yang bisa Mama pilih sebagai transisi selama masa potty training. Namun, yang paling nyaman bagi sang balita dan juga praktis bagi Mama adalah popok celana.

Jangan asal pilih popok celana, Mama. Pastikan juga popok celana yang Mama pilih untuk Si Kecil memenuhi syarat agar potty training sukses dalam waktu yang cukup singkat.

Salah satu popok celana yang bisa Mama pilihan adalah GOO.N Smile Baby Wonderline. Popok celana ini memiliki banyak kelebihan yang membuat balita nyaman selama tidur sepanjang malam.

GOO.N Smile Baby Wonderline dilengkapi dengan 5 Wonder Line yang merupakan Garis Penyebar Pipis yang berfungsi untuk menyebarkan pipis ke seluruh permukaan popok sehingga popok tetap tipis setelah pipis dan tidak menggembung. Selain itu, popok celana ini juga akan tetap kering sehingga mencegah iritasi dan membuat Si Kecil nyaman selama tidur.

GOO.N Smile Baby Wonderline juga memiliki lapisan berpori sehingga dapat menjaga kulit bayi tetap kering dan mencegah iritasi kulit.

Dengan desain popok celana yang menggunakan karet pinggang dan paha yang elastis, popok ini didesain dapat mengikuti bentuk tubuh Si Kecil, sehingga ia tetap nyaman sepanjang malam.

Mama juga tak perlu khawatir soal keamanannya, karena GOO.N Smile Baby Wonderline merupakan popok pertama yang mendapat setifikasi Halal dari MUI usai dilakukan serangkaian pengecekan dan pengujian, mulai dari pengecekan supplier dan bahan baku, hingga proses produksi dan sistem penyimpanan di gudang barang. Sehingga popok celana GOO.N Smile Baby Wonderline sudah diproses sesuai dengan syariat Islam.

Mama bisa mendapatkan popok GOO.N Smile Baby Wonderline yang tersedia dalam beragam ukuran, yaitu S, M, L, XL dan juga XXL.

Jadi, Mama kini sudah tahu, kan, popok celana yang paling cocok untuk membantu Si Kecil melakukan potty training? Jangan lupa untuk tetap memeriksa kesiapan Si Kecil sebelum menerapkan potty training ini, ya, Mama! Semoga Si Kecil berhasil!

(ADV)

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait