Scroll untuk melanjutkan membaca

PARENTING ISLAMI
20 September 2022

Mengenal Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala di Rabu Terakhir Bulan Safar

Tradisi unik ini dipercaya dapat menghindari marabahaya
Mengenal Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala di Rabu Terakhir Bulan Safar

Foto: Freepik

Apakah Moms mengetahui tentang tradisi Rebo Wekasan? Jika belum mengetahuinya, yuk simak informasinya di bawah ini!

Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, pada Rabu terakhir bulan Safar sebagai permohonan tolak bala dan keselamatan.

Tradisi ini merujuk pada kitab Al-Jawahir Al-Khams karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar.

Syaikh al Kamil Fariduddin Sakarkanji berkata:

“Sesungguhnya dalam setiap tahun diturunkan 320.000 bencana atau bala dan semuanya diturunkan pada hari Rabu akhir di bulan Safar, maka hari itu merupakan hari yang paling berat dalam setahun.”

Dengan begitu, beberapa orang percaya akan ada bencana atau bala yang terjadi pada hari Rabu tersebut sehingga diselenggarakannya ibadah atau amalan.

Tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada hari Rabu 21 September 2022 atau 24 Safar 1444 hijriah.

Nah, ingin tahu lebih lanjut mengenai Rebo Wekasan? Simak penjelasannya di bawah ini.

Baca Juga: Tata Cara Salat Rebo Wekasan agar Terhindar dari Marabahaya dan Bencana, Yuk Lakukan!

Sejarah Tradisi Rebo Wekasan

doa-menyambut-ramadan

Menjadi sebuah tradisi yang kerap dilakukan oleh beberapa kalangan umat Islam di Indonesia.

Peringatan Rebo Wekasan dilakukan dengan menjalankan beberapa ritual keagamaan seperti salat, berdoa meminta keselamatan, bersedekah, dan bersilaturahmi.

Dalam Islam, tradisi Rebo Wekasan dimulai sejak tragedi Karbala yang terjadi akibat pembantaian keluarga Rasulullah.

Akhirnya sejak saat itu para umat Islam mengenangnya dengan melakukan ibadah dan ritual keagamaan untuk terhindar dari bala dan musibah.

Namun, ibadah ini dilakukan dengan adaptasi dan perkembangan yang berbeda di setiap negara, seperti di Indonesia tradisi ini dikenal dengan sebutan Rebo Wekasan.

Mengutip dari Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, tradisi Rebo Wekasan merupakan tradisi yang berasal dari kata 'Rebo' yang berarti hari 'Rabu'.

Lalu, kata 'wekasan' berasal dari kata 'wekas' yang berarti akhir.

Dalam peringatan Rebo Wekasan biasanya diadakan upacara pada malam hari mulai pukul 19.00-05.00.

Pelaksanaan Tradisi Rebo Wekasan

Pelaksanaan Tradisi Rebo Wekasan

Meski diperingati oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia, Rebo Wekasan memiliki tradisi yang berbeda setiap daerahnya, lho.

Di beberapa daerah di pulau Jawa, tradisi Rebo Wekasan dilakukan di pinggir pantai dengan memanjatkan doa-doa.

Selain itu, di Banten tradisi Rebo Wekasan dilakukan dengan ibadah salat berjemaah.

Kemudian di Bantul, tradisi Rebo Wekasan cukup unik, yaitu membuat lemper raksasa yang nantinya akan dibagikan ke masyarakat.

Jadi, umumnya tradisi Rebo Wekasan berjalan dengan salat sunah, lalu diiringi dengan kegiatan khas di setiap daerah masing-masing.

Seperti beberapa daerah di Kalimantan, mereka melakukan acara syukuran atau pengajian di kampung masing-masing.

Baca Juga: 13 Makanan Khas Lampung, Ada Seruit, Sambal Asam Kembang, dan Kue Sekubal yang Lezat

Tujuan Tradisi Rebo Wekasan

Seperti yang telah disebutkan di atas, tradisi ini dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar dihindarkan dari segala bala bencana.

Jadi, seringkali pelaksanaan tradisi Rebo Wekasan dilakukan dengan menjalankan ibadah keagamaan seperti salat hajat lidaf'il bala dan membaca doa tolak bala.

Amalan Rebo Wekasan

salat-istikharah.jpg

Terdapat 2 amalan yang bisa dilakukan saat Rebo Wekasan, yaitu salat hajat dan membaca doa.

Mengutip dari Nu Online, hal ini dijelaskan dalam hadis yang berbunyi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى أَوْفَى الأَسْلَمِىِّ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « مَنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى اللَّهِ أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ فَلْيَتَوَضَّأْ وَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لْيَقُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ أَسْأَلُكَ أَلاَّ تَدَعَ لِى ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ حَاجَةً هِىَ لَكَ رِضًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا لِى ثُمَّ يَسْأَلُ اللَّهَ مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ مَا شَاءَ فَإِنَّهُ يُقَدَّرُ ».

Artinya: “Barangsiapa punya hajat kepada Allah atau di antara makhluk Allah, maka wudu lah dan salat lah 2 rakaat, lalu baca doa ….” (HR Ibnu Majah)

Sebagian ulama menilai hadis ini dhaif, tetapi boleh diamalkan. Maupun salat sunah mutlak, dan salat tasbih, maka diperbolehkan. Setelah salat kemudian dilanjutkan dengan berdoa.

Jadi, jika ingin melaksanakan salat hajat, Moms dan Dads bisa membacakan niat salat hajat yang berbunyi,

“Ushall sunnatal hjati rak‘ataini ad’an lillhi ta‘l.”

Artinya, “Aku menyengaja salat sunah hajat dua rakaat tunai karena Allah SWT.”

Selain salat hajat, Moms juga bisa mengamalkan doa di malam Rabu Wekasan. Berikut penjelasan ulama ahli hadis Syekh Abdurrauf al-Munawi:

قَالَ ابْنُ رَجَبَ : الْمَشْرُوْعُ عِنْدَ وُجُوْدِ الْأَسْبَابِ الْمَكْرُوْهَةِ الْاِشْتِغَالُ بِمَا يُرْجَى بِهِ دَفْعُ الْعَذَابِ مِنْ أَعْمَالِ الطَّاعَةِ وَالدُّعَاءِ وَتَحْقِيْقِ التَّوَكُّلِ وَالثِّقَةِ بِاللهِ. فيض القدير – ج 6 / ص 562

Artinya: Ibnu Rajab berkata: Yang disyariatkan jika ada hal yang tidak disuka, adalah dengan memperbanyak doa tolak bala, yang terdiri dari perbuatan taat, doa, benar-benar pasrah, dan percaya pada Allah.

Baca Juga: 20+ Pilihan Nama yang Artinya Bulan untuk Bayi Perempuan

Demikian informasi lengkap mengenai tradisi Rebo Wekasan yang bisa Moms ketahui.

  • https://islam.nu.or.id/ubudiyah/penjelasan-mengenai-rebo-wekasan-SB92l
  • https://jatim.nu.or.id/keislaman/penjelasan-lebih-rinci-terkait-rabu-wekasan--SFk6O
  • https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/298-upacara-rebo-wekasan