Scroll untuk melanjutkan membaca

PARENTING
22 Agustus 2022

Daftar Teori Pembentukan Tata Surya yang Paling Logis

Yuk, cari tahu tentang teori pembentukan tata surya!
Daftar Teori Pembentukan Tata Surya yang Paling Logis

Teori pembentukan tata surya merupakan materi pelajaran di sekolah. Karena, materi ini sangat dekat dengan kehidupan ya, Moms.

Sejarah pemikiran ilmiah tentang pembentukan dan evolusi Tata Surya dimulai dengan Revolusi Copernicus. Sementara, istilah Tata Surya pertama kali tercatat sejak 1704 lalu.

Sejak abad ketujuh belas, para filsuf dan ilmuwan telah menyusun hipotesis tentang teori pembentukan tata surya dan mencoba prediksi bagaimana perubahannya di masa depan.

Ilmuan pertama yang mencetuskan tentang, teori pembentukan tata surya adalah René Descartes. Dalam pandangannya, semesta dipenuhi dengan pusaran partikel yang berputar-putar.

Ia menjelaskan, Matahari maupun planet-planet telah mengembun dari pusaran besar yang berkontraksi, yang menurutnya dapat menjelaskan gerakan melingkar planet-planet.

Namun, pendapat ini dipatahkan oleh teori gravitasi Newton, yang menjelaskan bahwa materi tidak berperilaku seperti ini.

Baca juga: Keindahan Svargabumi Borobudur, Wisata Tengah Sawah yang Mirip Ubud Bali

Daftar Teori Pembentukan Tata Surya

Teori Pembentukan Tata Surya

Foto: Teori Pembentukan Tata Surya (istockphoto.com)

Foto Gambar Urutan Planet di Tata Surya (Orami Photo Stock)

Seiring berkembangnya zaman, teori pembentukan tata surya juga mengalami perkembangan lho, Moms.

Para ilmuan memiliki bukti-bukti tertentu untuk menegaskan tentang penemuannya juga, Moms. Yuk simak.

1. Teori Nebula

Salah satu teori pembentkan tata surya yang paling terkenal adalah teori Nebula. Teori ini terdiri dari dua versi, yaitu berdasarkan Immanuel Kant dan Pierre Simon de Laplace.

Dalam karyanya, The Universal Natural History and Theories of the Heavens yang terbit pada 1755 Immanuel Kant menyebutkan, tata surya terbentuk dari kabut dan gas yang ada di angkasa berputar lambat dan membentuk cakram datar dengan beberapa inti massa.

Inti massa ini berada di tengah, memiliki suhu tinggi dan berpijar lalu membentuk matahari. Sementara, bagian inti massa yang ada di pinggirnya mengalami pendinginan dan perlahan berubah menjadi planet dan mengorbit pada inti yang kemudian disebut matahari.

Berbeda dengan Kant, Pierre Simon De Laplase pada 1796 melalui bukunya Exposition of a World System menjelaskan, tata surya berasal dari kabut gas yang berputar cepat dan mempunyai suhu sangat tinggi.

Kecepatan putaran itulah yang melemparkan berbagai materi bola gas ke sekelilingnya. Kemudian, perlahan bola-bola berbentuk padat ini berubah menjadi planet yang beredar di sekitar sumber panas atau matahari.

Di antara kedua teori tersebut disimpulkan bahwa tata surya terbentuk dari kabut pekat dan besar yang berputar, berpilin, kemudian terpadatkan menjadi matahari beserta planet-planet dan penyusun tata surya lainnya.

2. Teori Bintang Kembar

Seorang ilmuan bernama, R.A Lyttleton bependapat, terdapat dua ‘bintang raksasa’ di luar angkasa sebelum galaksi terbentuk. Pemahaman Lyttleton ini dikenal juga dengan nama, teori bintang kembar.

Salah satu dari bintang tersebut meledak dan hancur hingga membentuk serpihan berupa batuan, gas, debut dan berbagai material lainnya. Serpihan dari bintang di luar angkasa tersbeut mengorbit ke bintang yang masih utuh.

Perlahan-lahan, serpihan tersebut berubah menjadi planet beserta penyusun sistem tata lainnya, sementara bintang yang masih utuh berubah menjadi inti atau matahari.

Baca juga: 7 Rekomendasi Deodoran yang Bagus untuk Ketiak Basah dan Bau

3. Teori Pasang Surut

planet saturnus 1

Foto: planet saturnus 1 (istockphoto.com)

Foto Tata Surya (Orami Photo Stock)

Teori Pasang Surut dikenal sebagai salah satu teori pembetukan tata surya yang paling logis lho, Moms.

Dalam teori ini dijelaskan planet-planet awalnya terbentuk secara langsung oleh gas asli matahari yang tertarik oleh bintang yang melintas sangat dekat dan nyaris bersinggungan dengan matahari.

Saat bintang berada sangat dekat dengan matahari, terjadi penarikan massa matahari oleh gaya gravitasi bintang tersebut.

Kemudian, massa dari gas matahari yang tertarik akan membentuk seperti cerutu dan membentuk planet-planet dengan ukuran yang berbeda.

Di mana pada ujung tata surya ukuran planetnya lebih kecil dibanding yang berada di tengah tatasurya seperti Jupiter, Saturnus, dan Uranus.

4. Teori Planetesimal

Pada 1905 dua orang ilmuan, Thomas C. Chamberlin dan Forest R. Moulton berpendapat bahwa matahari pada mulanya adalah bintang yang memang sudah ada sebelum penyusun tata surya lainnya ditemukan.

Hanya saja pada saat itu, bintang tersebut belum disebut matahari.

Pada suatu waktu, bintang lain dengan ukuran sebesar matahari lewat dan mengorbit sangat dekat dengan matahari. Karena bintang besar ini memiliki gravitasi, beberapa material matahari ikut tertarik keluar.

Kemudian, material-material yang tertarik keluar ini mengambang di luar angkasa. Sampai akhirnya, mengumpul, menyatu, dan mengeras sehingga menjadi berbagai planet dan penyusun sistem tata surya lainnya.

Baca juga: Pernah Mengalami Halusinasi Pendengaran? Selain Karena Gangguan Mental, Ada Penyebab Lainnya!

5. Teori Orbit Planet

Teori Orbit Planet dikemukakan Johannes Kepler pada 1571 yang menjelaskan setiap planet mengitari Matahari dalam sebuah lintasan elips disebut orbit planet.

Ia telah meneliti gerak planet-planet dalam mengelilingi matahari atau dikenal dengan Hukum Kepler yang dibagi menjadi tiga, seperti berikut.

  • Hukum I Kepler

Orbit planet berbentuk elips dimana matahari terletak pada salah satu titik fokusnya.

  • Hukum II Kepler

Garis yang menghubungkan planet ke matahari dalam waktu yang sama menempuh luasan yang sama.

  • Hukum III Kepler

Kuadrat kala revolusi planet sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-rata planet ke matahari

6. Hipotesis Kuiper

Gerard Kuiper pada tahun 1944 berpendapat, bahwa tidak mungkin ada pusaran teratur dan mehelaskan bahwa ketidakstabilan gravitasi yang besar mungkin terjadi di nebula matahari, membentuk kondensasi.

Dalam hal ini, nebula surya bisa menjadi co-genetik dengan Matahari atau ditangkap olehnya. Distribusi kepadatan akan menentukan apa yang bisa terbentuk, sistem planet atau pendamping bintang.

Kedua jenis planet tersebut diasumsikan berasal dari batas Roche. Tidak ada penjelasan yang ditawarkan untuk rotasi lambat Matahari yang Kuiper lihat sebagai masalah bintang G yang lebih besar.

Baca juga: 7 Daftar Aktor Korea Terpopuler, Mulai dari Lee Min Ho hingga Song Joong Ki

7. Teori Awan Debu

galaksi bima sakti

Foto: galaksi bima sakti

Foto Galaksi (Orami Photo Stock)

Teori Awan Debu merupakan teori pembentukan tata pertama kali dicetuskan oleh Carl Friedrich von Weizsӓcker yang kemudian disempurnakan oleh Gerald Peter Kuiper.

Dalam teorinya dikatakan, tata surya terbentuk dari gumpalan awan dan debu dengan jumlah yang sangat banyak, yang berputar menyerupai cakram, lalu berubah bentuk menjadi planet dan matahari.

Proses yang terjadi pada teori Awan Debut ini adalah pemampatan atau penggumpalan yang pada prosesnya partikel debu tertarik ke bagian pusat awan, membentuk bola, dan lama-kelamaan menjadi cakram.

Selanjutnya partikel yang berada di tengah cakram saling menekan, lalu menimbulkan panas dan menjadi pijar. Bagian tengah ini dikenal dengan matahari.

Baca juga: Posisi Wheelbarrow, Gaya yang Berbeda dan Unik saat Bercinta!

Sementara, bagian luarnya yang berputar dengan cepat menjadi matahari dan penyusun tata surya.

Itu dia kumpulan teori pembentukan tata surya dari berbagai ahli. Semoga bermanfaat, ya.

https://sumber.belajar.kemdikbud.go.id/repos/FileUpload/SISTEM%20TATA%20SURYA%20Reformat/topik2.html

https://www.space.com/35526-solar-system-formation.html

https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Solar_System_formation_and_evolution_hypotheses#Kuiper's_hypothesis

https://watermark.silverchair.com/38-1-36.pdf?