14 Januari 2022

Mengenal Tes Kadar Ureum, Deteksi Dini Penyakit Ginjal

Tes skrining untuk evaluasi fungsi ginjal di dalam tubuh
Mengenal Tes Kadar Ureum, Deteksi Dini Penyakit Ginjal

Foto: Orami Photo Stocks

Salah satu organ yang memiliki fungsi penting ini adalah ginjal. Maka dari itu, Moms harus rutin melakukan tes kadar ureum.

Tes kadar ureum berperan penting untuk memberikan informasi tentang seberapa baik kondisi kesehatan ginjal dan hati bekerja. Tes ini mengukur jumlah nitrogen urea yang ada dalam darah.

Ureum adalah zat sisa metabolisme protein yang seharusnya dibuang melalui urine. Hal ini berhubungan dengan fungsi ginjal di dalam tubuh.

Tugas utama ginjal adalah membuang cairan ekstra dari tubuh. Jika Moms menderita penyakit ginjal, cairan ini dapat menumpuk di darah dan menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk tekanan darah tinggi, anemia, dan penyakit jantung.

Nah Moms untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tes kadar ureum, simak penjelasannya di bawah ini yuk.

Baca Juga: 5 Minuman untuk Dehidrasi, Bantu Gantikan Cairan Tubuh dengan Cepat

Pengertian Tes Kadar Ureum

test kadar ureum.jpg
Foto: test kadar ureum.jpg (biologydictionary.net)

Foto: biologydictionary.net

Tes kadar ureum menganalisis tingkat urea melalui deteksi nitrogen di dalam molekul. Kadar urea yang tinggi di dalam darah dapat menjadi tanda bahwa sistem tubuh tertentu tidak berfungsi dengan baik, terutama ginjal.

Jika ginjal Moms tidak dapat mengeluarkan urea dari darah secara normal, tingkat ureum akan meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan gagal jantung, dehidrasi, dan ginjal rusak.

Tes kadar ureum dapat dilakukan karena beberapa alasan, yaitu

  • Menentukan apakah ginjal itu sehat.
  • Melihat apakah ginjal yang rusak memburuk atau membaik.
  • Mengetahui apakah pengobatan penyakit ginjal berhasil.
  • Menganalisis faktor-faktor lain seperti dehidrasi parah.

Hasil tes kadar ureum juga dapat memberikan informasi tentang kesehatan sistem pernafasan, sistem pencernaan, atau sistem peredaran darah.

Tes ini sering dilakukan bersamaan dengan tes kreatinin serum karena penentuan simultan dari 2 senyawa ini membantu dalam diagnosis banding hiperuremia prerenal, ginjal, dan postrenal.

Jika dokter mencurigai Moms mungkin mengalami masalah ginjal, mereka mungkin menyarakan untuk melakukan tes ini

Batas normal kadar ureum dibedakan berdasarkan usia dan jenis kelamin.

Berikut adalah rinciannya:

  • Pria dewasa: 8-24 mg/dL
  • Wanita dewasa: 6-21 mg/dL
  • Anak usia 1-17 tahun: 7-20 mg/dL
  • Bayi baru lahir: 3-12 mg / dL

Melansir Critical Care Nephrology, kematian secara signifikan lebih besar ketika dialisis dimulai dengan tingkat kadar ureum lebih tinggi dari 76 mg / dL, daripada seseorang dengan tingkat kadar ureum yang lebih rendah.

Baca Juga: 12 Manfaat Arang Aktif untuk Kesehatan, Salah Satunya Bantu Melindungi Ginjal

Penyebab Ureum Tinggi

ginjal
Foto: ginjal (Lupus.org)

Foto: Orami Photo Stock

Tes kadar ureum dapat dilakukan dengan tes kreatinin darah. Tingkat kreatinin dalam darah juga menunjukkan seberapa baik ginjal bekerja. Tingkat kreatinin yang tinggi mengartikan bahwa ginjal Moms tidak bekerja dengan baik.

Kadar nitrogen urea cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Bayi memiliki tingkat yang lebih rendah daripada orang dewasa dan kisaran pada anak-anak bervariasi.

Penyakit yang mempengaruhi ginjal atau hati dapat mengubah jumlah urea dalam darah. Hati dapat menghasilkan terlalu banyak urea atau ginjal mungkin tidak dapat menyaring limbah keluar dari darah, yang dapat menyebabkan kadarnya menjadi tinggi

Tetapi peningkatan nitrogen ureum darah juga bisa disebabkan oleh:

  • Obstruksi saluran kemih.
  • Pendarahan gastrointestinal.
  • Dehidrasi, akibat tidak minum cukup cairan atau karena alasan lain.
  • Obat-obatan tertentu, seperti beberapa antibiotik.
  • Diet tinggi protein.
  • Aliran darah menurun ke ginjal, yang disebabkan oleh kondisi, seperti gagal jantung kongestif,syok, stres, serangan jantung baru-baru ini, atau luka bakar parah.
  • Kondisi yang bisa menghalangi aliran urin, seperti batu ginjal
  • Peningkatan pemecahan protein atau peningkatan protein secara signifikan dalam makanan
  • Demam atau infeksi, yang meningkatkan pemecahan protein. Pemecahan protein yang meningkat adalah ciri umum dari suatu penyakit. Pemecahan protein dirangsang oleh hormon (seperti glukagon, epinefrin, dan kortisol) dan sitokin inflamasi. Produksi protein, di sisi lain, berkurang dengan menurunkan kadar hormon pertumbuhan, insulin, dan testosteron.
  • Peradangan atau latihan interval, yang menyebabkan pemecahan protein dari otot.
  • Pendarahan usus.
  • Sirkulasi yang buruk, yang mengakibatkan aliran darah yang lebih rendah ke ginjal dan karena itu kurang dari kemampuan untuk membersihkan urea.
  • Kelainan tiroid, yang mengakibatkan fungsi ginjal abnormal: hipotiroidisme, dan hipertiroidisme.
  • Glukokortikoid, Tetrasiklin (kecuali doksisiklin) dan obat anti anabolik lainnya.

Jika kerusakan ginjal menjadi perhatian, tanyakan kepada dokter faktor apa yang mungkin berkontribusi terhadap kerusakan dan langkah apa yang dapat Moms ambil untuk mencoba mengendalikannya.

Baca Juga: Penyakit Ginjal pada Anak: Jenis, Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Cara Menurunkan Ureum yang Tinggi

Kondisi ketika kadar ureum dalam darah terlalu tinggi (> 50 mg/dl) disebut uremia. Melansir Molecular Nutrition & Food Research uremia adalah kondisi medis berbahaya yang menyebabkan urea menumpuk di dalam darah.

Uremia menjadi gejala gagal ginjal. Ketika ginjal tidak dapat menyaring limbah dengan baik, ia dapat memasuki aliran darah.

Seseorang yang menderita uremia biasanya memiliki protein, kreatin, dan zat lain dalam darahnya. Kontaminasi ini dapat mempengaruhi hampir setiap sistem tubuh.

Jika kadar ureum terlalu tinggi, Moms bisa menurunkannya dengan berbagai cara, yaitu:

1. Batasi Asupan Protein

menjaga protein
Foto: menjaga protein (impactguru.com)

Foto: Orami Photo Stock

Asupan protein memang baik untuk kesehatan tubuh. Namun, mengonsumsi protein yang terlalu tinggi juga membahayakan tubuh. Hal ini karena proses pemecahan protein akan meningkatkan kadar ureum dalam darah.

Seseorang yang menjalani diet tinggi protein juga sering kali memiliki kadar nitrogen urea darah yang tinggi karena liver mereka bekerja terlalu keras untuk memproses dan membuang kelebihan protein.

Melansir Dietary guidelines for Americans, menyarankan bahwa pria dan wanita dewasa mengonsumsi antara 10 dan 35% dari total kalori mereka. Artinya, membutuhkan sekitar 50-60 gram protein per harinya.

2. Terhidrasi

Minum Air Putih
Foto: Minum Air Putih

Foto: Orami Photo Stock

Kekurangan asupan cairan bukan hanya membuat Moms mengalami dehidrasi, tetapi juga menyebabkan tingginya kadar ureum.

Hal ini karena air bertugas untuk membawa zat-zat sisa dari darah yang akan disaring oleh ginjal menjadi urine. Jika Moms kekurangan cairan, penyaringan zat sisa pada ginjal akan terhambat.

Untuk itu, penting menjaga asupan cairan harian. Untuk pria 3,7 liter cairan sehari, sedangkan wanita 2,7 liter cairan sehari.

3. Mengonsumsi Serat

makana berserat
Foto: makana berserat

Foto: Orami Photo Stock

Makanan kaya akan serat terbukti mampu menurunkan tingginya kadar ureum dalam darah.

Moms bisa mengonsumsi makanan serat tinggi, seperti buah-buahan, sayur, gandum, dan kacang-kacangan. Tak hanya itu, makanan serat juga bagus untuk mencegah sembeli lho Moms.

Nah itu dia Moms mengenai tes kadar ureum. Moms bisa melakukan tes tersebut bahkan jika tidak memiliki gejala yang jelas atau kondisi yang mendasarinya.

Selamat mencoba ya Moms. Ayo mulai sekarang, perhatikan kesehatan ginjal dan tubuh.

  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23450842/
  • sciencedirect.com/science/article/pii/B9781416042525502252
  • https://biologydictionary.net/blood-urea-nitrogen/
  • https://www.dietaryguidelines.gov/sites/default/files/2020-12/Dietary_Guidelines_for_Americans_2020-2025.pdf
  • https://www.healthline.com/health/bun
  • https://www.webmd.com/a-to-z-guides/blood-urea-nitrogen-test
  • https://www.verywellhealth.com/bun-blood-urea-nitrogen-1087387

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.