22 September 2020

Anemia Defisiensi Besi pada Anak: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegah

Menu makan yang kurang zat besi dapat menjadi penyebabnya

Moms mungkin sudah familiar dengan anemia, yang merupakan kondisi di mana seseorang kekurangan sel darah merah sehat untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh. Dampaknya, seseorang akan merasa lelah dan lemas.

Tetapi, anemia memiliki banyak jenis lho, Moms. Jenis-jenis anemia ini disebabkan oleh berbagai macam hal juga. Salah satunya anemia defisiensi besi pada anak.

Melansir Mayo Clinic, anemia defisiensi besi adalah jenis anemia umum, ketika darah tidak punya sel darah merah sehat yang memadai. Seperti namanya, anemia defisiensi besi disebabkan oleh kekurangan zat besi.

Tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak dapat memproduksi cukup zat hemoglobin (untuk membawa oksigen) dalam sel darah merah. Akibatnya, Si Kecil bisa lelah dan kehabisan napas.

Ketahui lebih lanjut tentang gejala, penyebab, diagnosis, dan perawatan mengenai kondisi anemia defisiensi besi pada anak berikut ini, Moms.

Baca Juga: Ini Gejala Anemia pada Anak dan Cara Menanganinya, Wajib Tahu!

Penyebab Anemia Defisiensi Besi pada Anak

anemia defisiensi besi pada anak-2
Foto: anemia defisiensi besi pada anak-2

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip Cleveland Clinic, anemia defisiensi besi umum dialami anak, disebabkan ketika hemoglobin dalam darah kurang. Kondisi ini terjadi karena tiga faktor utama:

1. Menu Makan yang Buruk

Anak-anak berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi karena kebutuhan zat besi mereka lebih tinggi, dan makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi asupan zat besi tersebut.

Karena itu, pola makan buruk dan minim zat besi bisa memicu kondisi anemia defisiensi besi pada anak.

Anak yang konsumsi lebih banyak susu juga bisa mengalami anemia defisiensi besi.

Ini karena susu merupakan sumber zat besi yang buruk, sehingga Si Kecil berisiko kekurangan zat besi.

2. Kehilangan Darah

Kondisi yang menjadi penyebab kehilangan darah dapat menyebabkan anemia defisiensi besi pada anak.

Beberapanya seperti tukak lambung (yang jarang terjadi pada anak-anak), peradangan usus kronis, hingga parasit dalam tubuh seperti cacing kait.

3. Kondisi Penyakit Tertentu

Ada beberapa jenis penyakit tertentu yang bisa menyebabkan anemia defisiensi besi pada anak.

Penyakit ini membuat tubuh tidak mampu menyerap zat besi dari makanan. Misalnya penyakit celiac atau penyakit Crohn.

Baca Juga: 6 Makanan Sumber Zat Besi untuk Anak, Bisa Cegah Anemia!

Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak

anemia defisiensi besi pada anak-1.jpg
Foto: anemia defisiensi besi pada anak-1.jpg (health.clevelandclinic.org)

Foto: health.clevelandclinic.org

Ada beberapa gejala anemia defisiensi besi pada anak yang perlu diperhatikan.

Menurut situs Better Health Channel, tanda dan gejala anemia defisiensi besi pada anak-anak dapat meliputi:

  • Masalah perilaku
  • Infeksi berulang
  • Kehilangan selera makan
  • Tubuh lesu
  • Mengalami sesak napas
  • Berkeringat lebih banyak
  • Mengidam hal yang aneh (pica)
  • Kegagalan untuk tumbuh pada tahapan yang sesuai usia

Jika Si Kecil mengalami gejala anemia defisiensi besi, lebih baik langsung berkonsultasi ke dokter.

Anemia defisiensi besi harus diobati oleh dokter, dan tidak bisa hanya sekadar mengonsumsi suplemen zat besi.

Baca Juga: Kapan Anak Harus Diberikan Vitamin Zat Besi?

Perawatan Anemia Defisiensi Besi pada Anak

anemia defisiensi besi pada anak-3
Foto: anemia defisiensi besi pada anak-3 (bitesforfoodies.com)

Foto: Orami Photo Stock

Dalam jurnal Turk Pediatri Arsivi, disebutkan bahwa prinsip utama pengobatan anemia defisiensi besi pada anak dengan membuat diagnosis, menyelidiki kondisi yang menyebabkannya, melakukan peningkatan nutrisi, dan pemberian pendidikan pada pasien dan keluarga.

Pada situs University of Rochester Medical Center Rochester, mengobati anemia defisiensi besi pada anak meliputi hal-hal berikut:

1. Suplemen Zat Besi

Suplemen zat besi diminum selama beberapa bulan untuk meningkatkan kadar zat besi dalam darah. Tetapi, efek sampingnya dapat mengiritasi lambung dan mengubah gerakan usus.

Konsumsi suplemen zat besi ini bisa dilakukan pada saat perut kosong atau dengan jus jeruk untuk meningkatkan penyerapan.

Jika Si Kecil tidak dapat meminumnya, zat besi dalam bentuk bius mungkin diperlukan, meski jarang dilakukan.

2. Pola Makan Kaya Zat Besi

Makan makanan kaya zat besi dapat membantu mengobati anemia defisiensi besi pada anak.

Sumber zat besi meliputi non-heme dan heme. Zat besi heme ditemukan pada produk daging, sementara non-heme dalam produk nabati.

Beberapa contoh makanan kaya zat besi yang bisa dikonsumsi adalah:

  • Sereal kaya zat besi, roti, pasta, dan nasi
  • Daging sapi, hati, dan organ lainnya
  • Unggas, seperti ayam, bebek
  • Makanan laut, seperti ikan, kerang, sarden, dan ikan teri
  • Sayuran hijau, seperti kubis, brokoli, kangkung, lobak, dan sawi
  • Legum, seperti kacang hijau, kacang polong
  • Roti dan roti gandum dengan ragi

Tetapi, penting untuk diingat bahwa konsumsi zat besi yang berlebihan juga bisa menjadi racun bagi tubuh.

Hindari memberikan anak suplemen zat besi yang dijual bebas, karena overdosis zat besi dapat menyebabkan kematian.

Pada bayi dan anak kecil, 20 mg per hari adalah batas zat besi yang aman. Kebanyakan suplemen zat besi mengandung sekitar 100 mg per tabletnya.

Baca Juga: Jangan Sampai Terjadi, Ini 4 Dampak Anak Kekurangan Zat Besi

Pencegahan Anemia Defisiensi Besi pada Anak

anemia defisiensi besi pada anak-4
Foto: anemia defisiensi besi pada anak-4

Foto: Orami Photo Stock

Brian Thompson, dalam paper Food and Agriculture Organization (FAO), menyebutkan bahwa kekurangan zat besi dan anemia punya dampak yang signifikan pada kesejahteraan manusia.

Kekurangan zat besi pada individu punya beberapa efek negatif pada fungsi-fungsi penting tubuh, seperti pertumbuhan terlambat, menghambat perkembangan fisik dan mental, dan melemahkan imunitas tubuh.

Karena itu, penting untuk melakukan pencegahan terkait kondisi anemia defisiensi besi pada anak. Untuk mencegah anemia defisiensi besi pada anak, jurnal American Academy of Pediatrics menjelaskan:

  • Mulai dari usia 4 bulan, bayi yang disusui total atau disusui sebagian harus diberi suplemen zat besi setiap hari sampai mulai sanggup makan makanan kaya zat besi.
  • Bayi yang diberi susu formula tidak perlu suplemen zat besi. Susu formula mengandung zat besi. Pemberian susu murni sebaiknya tidak dilakukan untuk bayi usia di bawah 12 bulan.
  • Bayi dan balita dari usia 1-3 tahun harus konsumsi makanan kaya zat besi. Seperti sereal dengan kandungan zat besi, daging merah, dan sayuran kaya zat besi. Buah-buahan kaya vitamin C juga penting untuk membantu tubuh menyerap zat besi.

Baca Juga: 7 Makanan Pereda Asam Lambung Bagi Anak

Itu dia Moms, penjelasan rinci mengenai kondisi anemia defisiensi besi pada anak mulai dari penyebab, gejala, pengobatan, dan pencegahan yang bisa dilakukan. Konsultasikan ke dokter jika Si Kecil mengalami kondisi ini, ya.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.