Parenting Islami

PARENTING ISLAMI
28 Desember 2020

Apakah Harus Keramas setelah Berhubungan? Ini Penjelasan Pemuka Agama!

Keramas setelah berhubungan, apalagi memakai sampo, tidak ada dalam sunnah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Apakah harus keramas setelah berhubungan? Simak penjelasan pemuka agama di bawah ini!

Dalam Islam, setelah perempuan selesai haid atau melakukan hubungan seksual, diharuskan mandi wajib. Mandi ini dilakukan untuk membersihkan diri dari hadast (kotoran), baik hadast kecil atau besar.

Sebab sebelum melakukan mandi wajib, seseorang masih terlarang melakukan ibadah.

Mandi wajib juga memiliki cara tersendiri, baik mandi wajib setelah berhubungan seksual ataupun setelah haid dan nifas. Dilansir NU Online, mandi wajib yang diyakini oleh masyarakat adalah mandi yang berbeda dengan mandi biasa.

Artinya, mandi keseharian adalah mandi yang biasa dilakukan untuk membersihkan dan menyegarkan badan. Sedangkan mandi wajib adalah mandi yang harus dilakukan untuk menghilangkan hadats besar karena bersetubuh atau keluar air mani.

Kedua hal inilah dalam istilah fiqih disebut al-jinabat, karena baik bersetbuh ataupun keluar air mani berarti menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah. Dalam keterangan al-Munawi, keduanya dinamakan jinabat karena jauh dari suci dan hanya bisa kembali suci setelah mandi.

Yang paling utama dalam mandi wajib adalah membasuh seluruh badan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Selama ini, banyak juga yang mandi wajib menggunakan sampo karena merasa lebih bersih.

Namun sebenarnya, apakah harus keramas setelah berhubungan seksual? Lalu, apakah mandi wajib dengan menggunakan sampo itu merupakan suatu kewajiban?

Baca Juga: 6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Mandi

Cara Mandi Wajib setelah Berhubungan Seksual

Apakah Harus Keramas Setelah Berhubungan -1

Foto: Orami Photo Stock

Sebelum mengetahui jawaban dari pertanyaan mengenai apakah harus keramas setelah berhubungan seksual, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dulu mengenai cara mandi wajib setelah berhubungan seksual yang benar dan sesuai syariat.

Saat mandi wajib, diwajibkan untuk membasuhkan air ke seluruh tubuh mulai dari rambut hingga ujung kaki. Tidak hanya itu, saat mandi juga perlu membersihkan setiap kotoran yang menempel di tubuh menggunakan air yang suci dan bersih.

Setelah itu, lakukan beberapa langkah di bawah ini:

  • Membaca niat mandi wajib. Doa niat inilah yang membedakan mandi wajib dengan mandi biasa. Doa niat mandi wajib setelah berhubungan ini bisa dibaca dalam hati.
  • Setelah itu, besihkan telapak tengan sebanyak 3 kali. Kemudian dilanjutkan dengan membersihkan kemaluan serta kotoran yang ada di sekitarnya hingga bersih dengan tangan kiri.
  • Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan. Ini dilakukan untuk menghilangkan najis dengan menggosok-gosoknya menggunakan sabun hingga bersih, baru dibilas.
  • Berwudu secara sempurna, mirip seperti wudu yang dilakukan saat akan shalat.
  • Menyiram kepala dengan air sebanyak 3 kali.
  • Sela pangkal rambut dengan jari-jari tangan yang basah sampai menyentuh kulit kepala agar seluruh bagian rambut terkena air.
  • Bilas seluruh tubuh dengan mengguyurkan air dari sisi kanan, lalu dilanjutkan dengan sisi tubuh bagian kiri.
  • Membersihkan area badan yang susah dijangkau. Saat mandi wajib, pastikan seluruh lipatan kulit dan bagian tersembunyi ikut dibersihkan.

Baca Juga: Berapa Kali Frekuensi Ideal Hubungan Seksual?

Apakah Harus Keramas setelah Berhubungan Seksual?

Apakah Harus Keramas Setelah Berhubungan -2

Foto: Orami Photo Stock

Dewan Pengawas Syariah (DPS) Lembaga Amil Zakat Nasional Inisiatif Zakat Indonesia (Laznas IZI), Ustadz Mohamad Suharsono menjawab pertanyaan mengenai apakah harus keramas setelah berhubungan seksual yang pasti ada di benak pasangan suami istri.

Dalam kajiannya yang diunggah di Youtube, Ustadz Suharsono mengatakan, membersihkan hadast sesungguhnya hanya diwajibkan menggunakan air saja.

Yaitu mulai dari membasahi rambut dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sedangkan keramas apalagi menggunakan shampo tidak ada dalam sunah.

"Kalau dia (sampo) menjadi keharusan artinya kalau nggak pakai sampo mandi junubnya nggak sah. Kalau mandi junubnya nggak sah, berarti nggak bisa melakukan ibadah yang lainnya. Tidak bisa salat tidak bisa baca quran, dan sebagainya," katanya, dilansir Muslim Okezone.

Ia menambahkan, Rasulullah SAW mencontohkan khususnya untuk kepala disebutkan dalam hadist, dalam bab kitab-kitab fikih yang ditulis oleh berbagai ulama tentang mandi wajib.

“Ketika beliau menyiramkan kepalanya dengan air, maka Rasulullah mencontohkan dengan apa? Dengan menyiramkan kepalanya. Lalu air itu sampai ke ruas-ruas kepalanya,” jelas dia.

Bagian yang paling penting adalah mengguyur kepala, bukan rambut. “Sebab kalau disebutkan rambut, maka kasian yang nggak ada rambutnya. Jadi nggak sah karena nggak ada rambutnya. Tapi kepalanya yang harus basah,” lanjutnya.

Ia menampik alasan kebiasaan memakai shampo saat keramas, karena bukan bagian yang disyariatkan.

“Maka dikesankan bahwa mandi wajib itu harus pakai shampo, padahal yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah air sampai ke seluruh kepalanya,” pungkasnya.

Selain itu, ada keterangan khusus mengenai mencuci rambut sampai bersih setiap kali mandi wajib. Ada konsesi dalam Hukum Islam jika seorang perempuan memiliki rambut yang dikepang. Perempuan tersebut tidak harus melepaskan kepangan untuk mandi wajib karena hubungan seksual. Namun, dia tetap harus mencuci rambutnya.

Ummu Salamah pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang tentang mandi wajib untuk seorang perempuan. Nabi SAW bersabda: “Jika seorang perempuan mandi setelah melakukan hubungan seksual, maka tidak perlu baginya untuk melepaskan rambutnya. Cukup dia menuangkan air ke atas kepalanya tiga kali. Tapi, kalau dia mandi setelah selesai haid, maka dia harus melepas rambutnya,” (HR Muslim)

Baca Juga: Cara Melakukan Phone Sex dengan Percaya Diri untuk Meningkatkan Hubungan Seksual

Bolehkan Menunda Mandi Wajib?

Apakah Harus Keramas Setelah Berhubungan -3

Foto: Orami Photo Stock

Berhubungan seksual adalah salah satu hal yang wajar dilakukan oleh sepasang suami istri untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya secara halal.

Namun, berkaitan tentang kewajiban mandi wajib dan keramas, bolehkan menunda mandi wajib setelah berhubungan seksual dengan alasan tertentu?

Setelah menjawab pertanyaan apakah harus keramas setelah berhubungan seksual, biasanya inilah yang menjadi pertanyaan selanjutnya. Sebab, banyak yang memiliki alasan tersendiri mengapa menunda mandi wajib, misalnya cuaca yang dingin atau ada keperluan mendesak dan ingin tahu jawabannya secara syariat.

Sebenarnya, diperbolehkan menunda mandi wajib. Ini karena mandi besar wajib itu tidak bersifat seketika harus dilaksanakan, tetapi bisa ditunda. Namun, mandi wajib benar-benar wajib dilakukan ketika hendak melaksanakan shalat.

Dalil diperbolehkannya menunda mandi wajib adalah hadis dari Abu Hurairah RA, yakni saat Nabi SAW suatu hari pernah menemuinya di salah satu jalan Madinah, sedangkan ia dalam keadaan junub. Maka, ia pun menghindari Nabi SAW dan kemudian mandi wajib.

Kemudian ia datang lagi dan Nabi SAW bertanya: “Di manakah kamu tadi wahai Abu Hurairah,?”. Abu Hurairah menjawab, “Saya dalam keadaan junub, saya malu duduk-dukuk bersamamu sedangkan aku dalam keadaan tidak suci,” Nabi Menjawab: “Maha Suci Allah, sungguh muslim itu tidak najis,”. (HR Bukhari Muslim)

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bolehnya menunda atau mengakhirkan mandi dari waktu pertama diwajibkannya. Imam Al-Bukhari pun mengambil dalil dengan ini untuk kebolehan orang junub untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas yang diperlukannya.

Dr. Muhammad Salama, PhD in Islamic Studies in English, Associate Professor di Fakultas Ilmu Islam al-Madinah International University (Mediu) menyatakan, hubungan intim biasanya memakan waktu beberapa menit, bukan jam.

“Jika Anda sulit mandi di malam hari, mungkin Anda akan mengalami hubungan intim ini setelah Shalat Subuh. Dengan cara ini, Anda akan memiliki banyak waktu sebelum sholat dzhuhr dan Anda akan mandi di pagi hari,” jelas dia.

Meski tidak harus langsung mandi wajib, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait hal-hal yang berkaitan dengan kebersihan area genital. Sebab dikutip Medical News Today, menunda membersihkan area genital setelah berhubungan seksual dapat meningkatkan risiko infeksi bagi sebagian orang.

Untuk menghindari infeksi saluran kemih, yang mempengaruhi 10 dari 25 perempuan dan 3 dari 25 pria ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan untuk:

  • Minum banyak air setelah berhubungan seks.
  • Buang air kecil sebelum dan sesudah berhubungan seks.
  • Mandi.
  • Menggunakan teknik yang benar untuk menyeka vagina, yakni dari depan ke belakang.
  • Mengenakan pakaian dalam katun yang longgar yang dapat membantu mencegah infeksi jamur.

Semoga jawaban dari pertanyaan apakah harus keramas setelah berhubungan seksual ini dapat menjadi acuan saat hendak membersihkan diri dan mandi wajib.

Artikel Terkait