27 Juni 2019

Jangan Andalkan Internet, Ini Bahaya Mendiagnosis Kesehatan Mental Sendiri

Meminta pertolongan kepada psikolog dan psikiater sudah jadi langkah tepat

Pada zaman di mana informasi mengalir dengan cepat, semakin banyak orang memiliki hasrat tinggi untuk mencari tahu sendiri apa yang terjadi pada dirinya.

Seperti ketika seseorang merasakan ketidaknyamanan pada salah satu bagian tubuhnya, ia langsung menggunakan mesin pencari dan mencari tahu penyakit yang kemungkinan cocok dengan gejala yang dialaminya.

Begitu juga dengan kesehatan mental, ada banyak tes yang mengklaim untuk memberikan diagnosis terhadap kondisi mental seseorang.

Hal ini tentu memancing banyak orang untuk mencari jawaban instan akan kondisi mental yang sedang dialaminya, tanpa perlu berkonsultasi ke pakar. Padahal, melakukan diagnosis sendiri akan berdampak buruk lho. Mari kita simak bahaya mendiagnosis kesehatan mental sendiri!

Baca Juga: Pertengkaran Orang Tua dan Dampaknya Terhadap Psikologi Anak

Bahaya Mendiagnosis Kesehatan Mental Sendiri

iritasi-konsultasi dokter.jpg
Foto: iritasi-konsultasi dokter.jpg (Health3-0.com)

Srini Pillay, M.D., Asisten Profesor Klinis di Harvard Medical School mengatakan bahwa mendiagnosis kesehatan mental sendiri bukanlah sesuatu yang dianjurkan.

"Ketika seseorang melakukan diagnosis sendiri, ia pada dasarnya mengasumsikan bahwa dirinya mengetahui seluk-beluk tentang diagnosis itu," ujarnya, mengutip dari Psychology Today.

Menurut Srini, ini bisa sangat berbahaya, karena orang dapat beranggapan bahwa mereka mampu menduga apa yang terjadi dengan diri mereka sendiri.

Padahal, mungkin gejala dan diagnosis yang mereka pahami sebenarnya bisa kurang sesuai dengan gangguan mental yang sebenarnya.

Misalnya, orang dengan perubahan suasana hati sering berpikir bahwa mereka memiliki manic-depression atau gangguan bipolar.

Namun, perubahan suasana hati adalah gejala yang dapat terjadi di banyak skenario klinis yang berbeda, seperti borderline personality disorder, atau depresi berat yang jadi dua contoh diagnosis lainnya.

"Kita dapat mengetahui dan melihat diri kita sendiri, tetapi kadang-kadang, kita membutuhkan cermin untuk melihat diri kita lebih jelas. Dokter adalah cermin itu. Dengan mendiagnosis kesehatan mental sendiri, Anda mungkin kehilangan sesuatu yang tidak dapat Anda lihat," jelas Srini.

Baca Juga: 4 Dampak Perceraian Pada Anak, Salah Satunya Gangguan Mental

Mendiagnosis Kesehatan Mental Seperti Spektrum Warna

dokter melahirkan (1)
Foto: dokter melahirkan (1)

Dalam satu jenis gangguan mental, bisa memiliki gejala yang juga ada di gangguan mental lainnya. Karenanya, mencari tahu diagnosis yang tepat pun bukan sekadar layaknya check-list semata.

Randy Withers, LPC, Penasihat Profesional Berlisensi, mengatakan "Diagnosis lebih dari sekadar daftar gejala, dan mendiagnosis orang itu sulit. Bahkan dokter dan profesional kesehatan lain bisa mengacaukannya."

"Jika Anda tidak memiliki pelatihan dan pengalaman yang tepat, mengapa Anda mau melakukannya? Saya mengerti bahwa orang-orang ingin tahu, tetapi penyakit mental bukanlah hobi," tegasnya.

Lebih lanjut, Randy mengatakan bahwa alasan utama mengapa diagnosis gangguan mental itu sulit karena semua gangguan mental ada pada spektrum.

"Pikirkan pelangi, dan semua warna yang mungkin Anda lihat. Itu spektrum. Jadi, seperti itu gambaran tentang gangguan mental yang ada," ungkapnya.

Melakukan diagnosis sendiri juga merupakan masalah ketika seseorang berada dalam rasa penolakan tentang gejala-gejala yang dimiliki.

"Anda mungkin menganggap terjadinya nyeri tubuh ketika suasana hati sedang memburuk, dan dokter memilih melakukan tes EKG untuk nyeri dada, dan terungkap adanya kemungkinan penyakit arteri koroner. Anda mungkin berusaha menghindari nyeri dada atau meminimalkannya," jelas Srini.

Mendiagnosis kesehatan mental diri sendiri dapat memiliki dampak negatif yang luar biasa pada pasien. Karenanya, walaupun bermanfaat dan informatif, sebaiknya selalu berdiskusi dengan psikolog, dokter, psikiater, dan ahli medis lainnya terkait gejala gangguan mental yang dialami.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.