Parenting

PARENTING
14 Mei 2020

Bersyukur Punya Waktu 'Bonus' Bersama Keluarga, Ini Cerita Pandemi COVID-19 di Singapura

Sebagai working Moms, saya harus kompak atur jadwal WFH dengan suami
placeholder

Foto: dok. Viony Handojo

placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Viony Handojo (36 tahun), Market Research di sebuah MNC untuk chemical manufaturing, ibu dari 1 anak perempuan usia 4 tahun, tinggal di Singapura

Pandemi virus corona (COVID-19) tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun hampir negara di seluruh dunia turut merasakan kondisi ini. Bahkan ada beberapa yang terinfeksi COVID-19 sejak awal tahun 2020 lalu. Sedangkan kasus COVID-19 di Indonesia baru tercium sejak awal Maret lalu.

Adalah negara Singapura yang bergerak cepat menangani COVID-19 sejak wabah virus corona merebak pertama kali di Wuhan. Singapura langsung memperketat pengawasan di pintu masuk negara itu seperti bandara dan pelabuhan.

Seperti apa kondisi Singapura di tengah pandemi saat ini? Yuk kita simak ceritanya di bawah ini, Moms.

Baca Juga: Kesempatan Quality Time dengan Keluarga, Kisah Pandemi COVID-19 di Inggris

Singapura di Tengah Pandemi Virus Corona

cerita corona di Singapura

Foto: Ee Ming Toh/AP Photo

Dua kata yang menggambarkan keadaan di Singapura adalah: jelas dan teratur. Jelas karena kondisi serta peraturan dibagikan secara konsisten dari berbagai macam medium.

Termasuk TV, radio, media sosial dan WhatsApp official dari Pemerintah Singapura. Sanksi juga jelas, karena semua instansi pemerintah satu suara.

Masyarakat Singapura yang terbiasa dengan peraturan pemerintah (hampir semua) dengan turut menaati. Ada tentunya panic buying di awal-awal. Tetapi pemerintah konsisten menenangkan keadaan. Bukan hanya itu, berbagai jenis bantuan juga di gelontorkan untuk masyarakat yang kurang mampu.

Selama 12 tahun saya dan keluarga tinggal di Singapura, perbedaan paling terasa untuk saya sendiri adalah saat diadakan penutupan sekolah/penitipan anak. Karena harus WFH dan memastikan keseharian anak diisi hal-hal yang bermanfaat.

Satu perbedaan lagi adalah ditutupnya taman-taman publik. Ini adalah kegiatan kami di hampir setiap akhir pekan.

Ketatnya Peraturan yang Diberikan, Hingga Dilarang Berjualan dari Rumah

Yang membedakan Singapura dan negara lainnya dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini mungkin saya bisa bilang ada dalam penerapan peraturannya yang ketat.

Social distancing sudah pasti. Tidak hanya masyarakat yang dituntut mentaati. Mereka yang memiliki toko juga dituntut untuk menerapkan ini secara tegas. Lalu ada pembatasan jumlah pembelanja di satu toko.

Berbicara mengenai toko, semua toko dan kantor non-esensial ditutup. Perusahaan yang dinilai bisa mengirimkan karyawannya untuk WFH tapi memilih untuk tidak melakukannya akan didenda. Dan pengecekannya pun dilakukan secara berkala.

Baca Juga: Pandemi COVID-19 di Australia, Saya Ajak Anak Berdiskusi Demi Kesehatannya

Peraturan lainnya, keluar rumah hanya boleh satu orang saja, dan harus memakai masker jika keluar rumah. Setiap masuk gedung (kantor/mal/supermarket/pasar) diharuskan scan online barcode yang langsung terhubung ke IC (Identity Card) di aplikasi handphone kita, namanya SingPass.

Berbagai proses karantina untuk mereka yang baru pulang dari luar negeri juga dengan tegas dilakukan. Pemerintah membiayai mereka tinggal di hotel. Diberi makan dan alat personal care yang cukup.

Bila di Indonesia menjual makanan secara online atau di rumah masih diperbolehkan, di Singapura usaha penjualan makanan yang berbasis di rumah juga tidak diperbolehkan. Namun kedai makan (restoran/kafe/hawker) boleh tetap beroperasi. Tapi hanya untuk take away dan delivery.

Baru-baru saja definisi esensial service diperketat. Hasilnya Bubble tea, coffee shop, dan beberapa bentuk toko penjual snack dinilai tidak esensial pun harus ditutup. Sedih memang.

Untungnya imbauan dari KBRI selalu sejalan dengan pemerintah Singapura, jadi kami sebagai WNI pun terbantu.

Kompak Mengatur Jadwal Bersama Suami selama WFH

cerita corona di Singapura

Foto: dok. Viony Handojo

Kantor saya mulai WFH di pertengahan Maret kemarin. Waktu itu masih sistem rotasi, saya dapat giliran ke kantor Senin-Selasa. Sedangkan suami sudah mulai full WFH dari awal Maret.

Produktivitas menurut saya kurang lebih sama. Saat anak saya masih aktif saya biasanya duduk bersebelahan. Walaupun ada helper, saya ingin involve di pendidikannya. Lagipula ada pelajaran bahasa Chinese yang wajib, jadi lebih tepat jika kami orang tuanya yang hands on.

Saat dia tidur siang, itu saat kami bisa benar-benar full ngebut kerja. Saya dan suami juga kompak mengatur jadwal conference call kami. Diusahakan tidak bentrok, supaya bisa salah satu tetap menjaga Si Kecil. Untungnya dia sudah diusia di mana dia bisa mengerti dan mengikuti instruksi kami.

Menurut saya pribadi ada beberapa cara yang bisa orang tua lakukan agar bisa nyaman WFH. Pertama, harus kompak sama suami yah. Kompak untuk kerjaan, atur jadwal anak, jadwal me time, juga untuk makan.

Kedua, saya tiba-tiba bagaikan Princess Elsa. Prinsip let it go, menjadi solusi. Semisal anak main iPad di hari hari biasa (biasa hanya weekend), tapi tetap dibatasi. Atau saat tulisan anak tidak 100 persen rapih. Atau hari ini menolak makan veggie, atau si mbak lupa sesuatu.

Baca Juga: Memasak bersama Anak adalah Kegiatan Favorit Kami selama Pandemi COVID-19 di Korea Selatan

Arts and Crafts, Olahraga Online, PS4, Memasak Jadi Kegiatan Penyelamat

cerita corona di Singapura

Foto: dok. Viony Handojo

Saya memang suka arts and craft. Jadi memang di rumah selalu ada kertas-kertas, pom-pom, glitter dan berbagai macam perlengkapan arts and craft.

Dan kebetulan anak saya suka sekali painting dan arts and craft. Jadi saya suka menyelingi pelajaran menulis, membaca dan berhitung dengan arts and craft. Jadi dia juga semangat menyelesaikan tugasnya.

Untuk saya sendiri, saya juga menyempatkan diri mengikuti olahraga online. Didahulukan yang gratis karena banyak sekali saat ini para instruktur atau brand terkenal yang memfasilitasi hal ini. Saya juga mendahulukan yang ada sisi amalnya. Jadi sebagian akan disisihkan untuk amal.

Saya juga mulai bermain PS4 bersama suami. Ada game yang namanya Overcook 2. Seru juga. Kadang jadi rebutan, karena dia mau main NBA tapi saya paksa menemani saya main.

Saya juga memberanikan diri memasak hidangan baru. Seperti gyoza, bakpao, dan jacket potato contohnya. Walaupun di rumah tidak ada oven, air fryer jadi sahabat saya.

Cuci Tangan Adalah Wajib!

cerita corona di Singapura

Foto: Orami Photo Stock (ilustrasi)

Untuk cuci tangan memang kita sudah membiasakan setiap pulang ke rumah harus cuci. Sekarang karena dia lagi suka berhitung, saya ajak dia berhitung sampai 20 saat mencuci tangan.

Anak kecil juga jangan dianggap remeh lho. Mereka bisa dengan cepat memahami kejadian di sekitar kita. Kadang kita nonton berita bersama, dan kita bisa menjelaskan atau mensimplifi apa yg ada di berita. Mereka akan merasa terlibat dan merasa turut berpartisipasi dalam menjaga kesehatannya.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Ini yang Keluarga Kami Lewati di Negeri Jiran Malaysia

Bagi Jadwal Belanja dengan Helper

cerita corona di Singapura

Foto: 99.co (ilustrasi)

Helper kami ke pasar tradisional setiap dua hari sekali. Setelah pulang dia langsung cuci tangan dan ganti baju.

Saya sendiri untuk keperluan snack dan masak di hari minggu (karena di sini helper libur tiap hari minggu), saya ke supermarket setiap minggu.

Kadang sendiri, kadang bersama Si Kecil kalau mesti dibawa ikut. Tapi duduk di dalam troli saja, tentunya menggunakan masker dan tidak boleh turun.

Mungkin ada yang mendengar jika di Singapura dibuat kebijakan belanja ganjil dan genap mengikuti no. ID. Namun ini tidak di semua pasar. Hanya empat pasar besar. Mereka yang terletak di Geylang, Marsiling, Chong Pang (Yishun), dan Jurong West.

Pesan Saya untuk Moms di Masa Pandemi

Pesan saya adalah take it slow saja. Ada saat di mana kita mendambakan bisa sarapan atau dinner bersama keluarga, sekarang kita diberikan kesempatan itu, maka manfaatkanlah dengan baik.

Fokuslah pada hal-hal yang positif saja. Karena suatu saat tentu kondisi ini akan berakhir dan kita akan kembali lagi ke seharian dulu. Anggap aja ini libur dari rutinitas yang dulu kita lakukan

Penting diingat untuk jangan terlalu stress melihat media sosial. Semua ibu-ibu olahraga setiap hari atau baking setiap hari. Karena semua hanya menunjukkan yang bagus-bagus saja.

Semua orang ada bebannya masing-masing. Jadi tidak perlu dibandingkan ya, Moms. Good luck, Moms!

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait