13 Juli 2020

Dampak Pakai Masker Terlalu Lama Bisa Sebabkan Hiperkapnia? ini Penjelasannya!

Pemakaian masker terlalu lama dipercaya bisa menyebabkan hiperkapnia pemakainya. Benarkah?

Saat ini beberapa negara telah melonggarkan aturan pembatasan sosial atau masa isolasi di rumah. Tetapi, semua orang tetap diminta menjaga jarak sosial, mencuci tangan dan memakai masker wajah.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga menyarankan pemakaian masker untuk mencegah penyebaran COVID-19 lebih meluas, terutama di tempat yang sulit untuk menerapkan jarak sosial.

Tapi dilansir dari USA Today, penggunaan masker wajah tengah menimbulkan kontroversi, salah satunya hiperkapnia.

Lalu, apakah benar pemakaian masker dalam waktu lama bisa menyebabkan hiperkapnia? Berikut ini penjelasannya.

Dampak Pemakaian Masker yang Lama Bisa Sebabkan Hiperkapnia?

Sebuah postingan di Facebook mengklaim bahwa mengenakan masker dalam waktu lama dapat mengurangi tingkat oksigen dan mengakibatkan keracunan karbon dioksida.

Menurutnya, pemakaian masker terlalu lama bisa mengurangi oksigen hingga 60 persen dan meningkatkan risiko keracunan karbon dioksida.

Tapi, CDC maupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak mengeluarkan peringatan yang menunjukkan penggunaan masker akan mengakibatkan penurunan tingkat oksigen berbahaya.

Pihak CDC hanya meminta masker N95 untuk pekerja kesehatan, tetapi masyarakat umum juga tak dilarang memakai masker N95.

Sementara itu, CDC justru tidak menyarankan penggunaan masker kain pada anak-anak di bawah usia 2 tahun. Karena, mereka bisa mengalami kesulitan bernapas dan tidak bisa melepas masker yang benar tanpa bantuan.

Sebuah penelitian dalam jurnal Respitory Care, menemukan bahwa masker dapat menghambat pernapasan jika dikenakan dalam jangka waktu lama, terutama pada orang yang memiliki penyakit pernapasan.

Lalu, seperti apa pengertian dari hiperkapnia dan apa saja dampaknya? Berikut ini penjelasannya.

Baca Juga: Anjuran WHO Terbaru, Pakai Masker Kain 3 Lapis

Apa Itu Hiperkapnia?

Hypercapnia - masker wajah sebabkan keracunan karbon dioksida.jpg
Foto: Hypercapnia - masker wajah sebabkan keracunan karbon dioksida.jpg (shutterstock.com)

Foto: shutterstock.com

Toksisitas karbon dioksida atau hiperkapnia adalah suatu kondisi yang terjadi akibat terlalu banyak karbon dioksida dalam aliran darah. Kondisi ini bisa disebabkan oleh menghirup kembali karbon dioksida yang dihembuskan.

Dalam hal ini, pemakaian masker bisa menyebabkan pemakai menghembuskan dan menghirup lagi karbon dioksida, terutama bila mereka memakai masker yang terlalu ketat.

Seiring berjalannya waktu, kondisi ini bisa menyebabkan pemakai keracunan karbon dioksida atau hiperkapnia.

CDC menjelaskan karbon dioksida memang bisa menumpuk di dalam masker seiring berjalannya waktu. Namun, penumpukkan CO2 masih aman dan tidak akan menyebab hiperkapnia.

Baca Juga: Cara Menggunakan Masker yang Benar untuk Mencegah Virus, Simak di Sini!

Apa Penyebab Hiperkapnia?

Hypercapnia - penyebab.jpg
Foto: Hypercapnia - penyebab.jpg (shutterstock.com)

Foto: shutterstock.com

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) atau yang juga dikenal dengan COPD adalah istilah umum untuk beberapa kondisi yang memengaruhi pernapasan. Bentuk umum dari COPD termasuk bronkitis kronis dan emfisema.

Bronkitis kronis menyebabkan peradangan dan lendir di saluran udara, sementara emfisema melibatkan kerusakan pada kantung udara atau alveoli di paru-paru.

Dikutip dari National Heart, Lung, and Blood Institute, kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan kadar karbon dioksida dalam aliran darah.

Penyebab utama PPOK adalah paparan jangka panjang terhadap iritasi paru-paru. Asap rokok merupakan iritasi paru-paru yang paling umum yang menyebabkan PPOK di Amerika Serikat.

Meskipun tidak semua orang dengan PPOK akan mengembangkan hiperkapnia, risiko seseorang meningkat seiring dengan perkembangan PPOK yang dialami.

Baca Juga: Apakah Bayi Harus Memakai Masker Saat Pandemi Covid-19?

Bagaimana Gejala Hiperkapnia?

Hypercapnia - gejala.jpg
Foto: Hypercapnia - gejala.jpg (shutterstock.com)

Foto: shutterstock.com

Jika seseorang mengalami hiperkapnia, gejalanya akan bermula dari ringan lalu berkembang lebih parah seiring berjalannya waktu. Karena itu dilansir dari Medical News Today, penting untuk mewaspadai gejala ringan dan parah.

Gejala Ringan

Gejala ringan hiperkapnia termasuk, pusing, rasa kantuk, kelelahan yang berlebihan, sakit kepala, kebingungan dan sesak napas. Gejala ini bisa timbul selama periode pernapasan yang dangkal atau lambat yang lebih pendek, seperti saat tidur nyenyak.

Biasanya tubuh bisa meringankan gejala dan menyeimbangkan kadar karbon dioksida dalam aliran darah tanpa intervensi.

Namun, jika gejala ringan hiperkapnia bertahan selama beberapa hari, disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Gejala Parah

Gejala hiperkapnia berat memerlukan perhatian medis segera, karena bisa menyebabkan komplikasi jangka panjang. Pada beberapa kasus hiperkapnia mungkin bisa berakibat fatal.

Adapun gejala hiperkapnia berat meliputi kebingungan, koma, depresi atau paranoia, hiperventilasi atau pernapasan berlebihan, detak jantung tidak teratur atau aritmia, hilang kesadaran, otot berkedut, serangan panik dan kejang.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.